<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>unatoshiru</title>
    <link>https://unatoshiru.writeas.com/</link>
    <description>Hope you like what you find</description>
    <pubDate>Fri, 03 Apr 2026 22:38:24 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Burnout</title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/burnout?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;— Painter Suguru Geto x fem!reader 🔞&#xA;&#xA;---&#xA;  📝 2,042 words&#xA;  ⚠️ explicit sexual content, harsh words, adult language, not safe for work, nipple play, nipple teasing, breastfeeding, hand job, vaginal sex, raw sex, sex with consent, body fluids, squirting, etc (possible kink exploration)&#xA;&#xA;---&#xA;!--more--&#xA;Aroma cat begitu kentara ketika kamu memasuki studio dengan luas sedang milik Suguru. Sekeliling tembok dipenuhi pajangan berupa lukisan-lukisan cantik yang seluruhnya menyajikan keindahan alam atau hiruk pikuk perkotaan, tampaknya sang pelukis hanya ingin menggoreskan kuasnya untuk menyimpan pemandangan cantik yang ia lihat di atas kanvas putih. &#xA;&#xA;Matamu terpaku pada salah satu lukisan berukuran agak besar yang dipajang di tengah-tengah dinding kosong. Seorang gadis cantik bermahkotakan untaian bunga warna warni tengah tersenyum riang dengan tiga ekor kolibri yang terbang di sebelahnya, berwarna hitam, putih, dan cokelat. &#xA;&#xA;Kamu menoleh ke arah Suguru yang berdiri di belakangmu, seolah memintanya untuk menjelaskan makna dibalik lukisan cantik yang ada di hadapanmu. &#xA;&#xA;Suguru menorehkan senyum di wajahnya, terlampau indah untuk kamu abaikan hingga debaran jantungmu sempat terhenti karenanya. Jemari panjanganya mulai menunjuk satu persatu burung kolibri dengan warna-warna yang berbeda itu, &#34;Ini aku, Satoru, Shoko.&#34; &#xA;&#xA;Suguru kembali bicara ketika jarimu menunjuk sosok wanita cantik dengan senyum sumringah yang membuat hatimu berdebar dan wajahmu memanas, &#34;Cantik, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Itu aku?&#34; tanyamu memastikan. &#xA;&#xA;Suguru mengangguk, &#34;Aku udah lama mau nunjukin ke kamu, tapi belum sempet.&#34; Seulas senyum terpatri di wajah letihnya, kentara sekali bahwa jam tidurnya sangat berantakan hingga membuat kantung matanya terlihat jelas. &#xA;&#xA;Campur aduk, hatimu menghangat karena merasa Suguru begitu sayangnya kepadamu hingga mengabadikan dirimu dalam sebuah lukisan indah. Kamu sedikit salah tingkah dibuatnya, sehingga alih-alih memujinya, kalimat yang terlontar dari mulutmu adalah, &#34;Emang aku secantik itu ya?&#34; &#xA;&#xA;Tidak lantas menjawab, Suguru berjalan mendekati lukisan itu. Tangannya mulai bersedekap dan memasang wajah serius seolah-olah tengah berpikir keras untuk mencari letak perbedaan antara sosokmu yang nyata dengan yang ada dalam lukisannya. &#34;Udah lima menit aku lihatin, tapi kayaknya gak ada bedanya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu emang secantik itu di mataku,&#34; sambung Suguru. &#xA;&#xA;Hubunganmu dengan Suguru sudah berjalan lebih dari dua tahun, dan sekarang, hatimu masih tetap berdebar-debar tidak karuan setiap kali mendengarnya memujimu seperti itu. Kamu akan selalu seperti anak remaja yang sedang kasmaran ketika bersamanya. Seperti gadis yang pertama kali merasakan jatuh cinta begitu hebatnya pada jumpa pertama. &#xA;&#xA;&#34;Idih, gombal mulu,&#34; balasmu, sedikit salah tingkah. &#xA;&#xA;Suguru hanya meringis, lalu berjalan melewatimu menuju sudut ruangan dan merapikan kuas-kuas lukisnya yang berada di atas meja kayu berukuran sedang. Tampaknya ia telah mencuci semua kuas dengan berbagai macam ukuran itu dan merapikan studio lukisnya sebelum pergi menjemputmu. &#xA;&#xA;&#34;Kamu yakin gak mau ke luar aja? Di sini bosen banget, loh. Gak ada apa-apa,&#34; tanya Suguru yang skeptis dengan pilihanmu yang ingin berkencan di studio lukisnya alih-alih pergi ke tempat-tempat seru dan romantis. Terlebih, seperti yang ia katakan, di sana tidak ada apapun selain kanvas seputih gading, botol-botol gemuk berisikan cairan pewarna, tatakan kayu yang berdiri di beberapa sisi, lukisan-lukisan yang bersemangat ingin menyampaikan kisahnya setiap kali matamu memandang, serta dua genggam kuas lukis yang baru saja Suguru rapikan dan ia letakkan di bagian pinggir meja. &#xA;&#xA;&#34;Aku tau kamu lagi sibuk, kak. Aku mau nemenin kamu ngelukis aja di sini,&#34; ujarmu lalu duduk di pinggir sofa dan mengambil bantal yang kamu posisikan di atas pahamu. &#xA;&#xA;Suguru menyusulmu duduk, lalu ia merebahkan tubuhnya dan memposisikan kepalanya di atas bantal yang berada di pahamu sembari menampilkan senyum memikatnya, &#34;Aku mau santai.&#34; &#xA;&#xA;Tanganmu menyusuri wajah lelahnya dan sesekali merapihkan anak-anak rambut yang menutupi dahinya. Suguru memejamkan matanya seolah tengah menikmati setiap sentuhanmu yang mungkin saja mampu menyembuhkan rasa letihnya. &#xA;&#xA;Seulas senyum tertoreh di bibirmu kala memandanginya yang tampak damai bersantai di pahamu, membuatmu tidak mampu menahan diri untuk tidak mengecup bibirnya dan membuatnya kembali terjaga hingga bibir dan lidahnya membalas kecupanmu itu dengan liarnya. Bahkan tangannya menahan tengkukmu agar kamu tidak cepat-cepat melepas ciuman itu meski paru-parumu sudah mulai terasa sesak karena minimnya pasokan oksigen di dalamnya. &#xA;&#xA;Napasmu tersengal-sengal, begitu pula Suguru yang dadanya naik turun dengan tempo yang cepat seolah tengah berusaha memompa masuk udara ke dalam paru-parunya. Namun, ia tampak belum puas hingga lagi-lagi tangannya menekan tengkukmu dan bibir basahnya kembali memagut bibirmu. Bahkan kini tangannya mulai menyusup ke dalam kaos yang tengah kamu kenakan, menyusuri punggungmu yang sedikit membungkuk, dan membuatmu makin terhanyut dalam ciuman memabukkan itu. &#xA;&#xA;Denyar aneh seperti sengatan listrik membuatmu merinding ketika gumpalan kenyal di dadamu ia remas-remas sebelum menyibak kaos yang kamu kenakan hingga menampilkan kedua buah dadamu yang masih berbalut bra. Dengan terampil ia turunkan kedua tali tipis yang bertengger di bahumu, lalu ia turunkan bra yang kamu kenakan dan membuat dua bongkahan kenyal itu menggantung indah di depan matanya. &#xA;&#xA;Lenguhan dan desahan mencelos keluar dari mulutmu yang basah oleh saliva usai Suguru melepaskan ciumannya dan beralih memberikan afeksi pada gumpalan lemak yang ujungnya sudah menguncup malu-malu di hadapannya. &#xA;&#xA;&#34;Kak.. kak.. aku napas dulu,&#34; ujarmu berusaha menahannya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu kan napasnya pake hidung, bukan tetek,&#34; jawab Suguru enteng. Agak menyebalkan memang, tapi ucapannya tidak ada yang salah. &#xA;&#xA;Napasmu kian memburu ketika lidah hangatnya membelai areola dan putingmu hingga menguncup dan mengeras. Sedangkan tangannya sibuk dengan membelai, menggesek, memilin, dan mencubiti putingmu yang berada di sisi sebelah. &#xA;&#xA;&#34;Keliatannya kecil, tapi mantep juga, Yang,&#34; komentar Suguru yang mulutnya masih sibuk menjilati putingmu yang merona. &#xA;&#xA;Matamu menangkap basah miliknya yang sudah membesar hingga terlihat begitu menonjol seolah-olah ingin merobek celana bahan berwarna hitam yang tengah Suguru kenakan. Membuatmu berbaik hati memberikannya sebuah kebebasan hingga kejantanannya itu mampu berdiri tegak—tidak sepenuhnya, karena agak sedikit melengkung— dan menampilkan denyut-denyut bahagia ketika tanganmu menyentuhnya. &#xA;&#xA;&#34;Punyamu juga mantep, Kak,&#34; balasmu dengan komentar singkat yang mampu membuat telinganya memerah menahan malu. &#xA;&#xA;Tanganmu bergerak lihai melayani kejantanannya layaknya seorang bartender yang tengah mencampurkan beberapa macam bahan dengan mengocoknya untuk menyajikan koktail segar yang menggelitik lidah. Tampaknya Suguru benar-benar menikmatinya hingga kuluman dan hisapan mulutnya pada payudaramu terasa semakin menjadi-jadi. &#xA;&#xA;&#34;Kak.. jangan kenceng-kenceng,&#34; ujarmu di sela-sela desahmu. Namun Suguru malah semakin kuat menghisap puting susumu dan menarik sisi sebelahnya seiring dengan keluarnya cairan kental hangat yang menyembur dari penisnya hingga membasahi tanganmu. &#xA;&#xA;Suguru bangkit dan membantumu melepaskan kaos yang kamu kenakan, menyisakan bra yang kini sudah merosot hingga ke perut. Lalu, dengan jahil kamu memintanya untuk melepasnya yang tentu saja ia lakukan dengan sukarela. &#xA;&#xA;&#34;Kamu juga lepas bajunya, biar impas,&#34; titahmu. Namun, bukannya mengiyakan, ia malah menelengkan kepalanya seolah ia tengah menimang-nimang titahmu barusan. &#xA;&#xA;&#34;Aku mau cari inspirasi dulu lewat kamu,&#34; jawab Suguru yang telah melepaskan bawahan yang tengah kamu kenakan hingga membuatmu telanjang sepenuhnya di atas sofa berwarna kelabu miliknya. Benar-benar berbanding terbalik dengannya yang masih mengenakan pakaian lengkap, bahkan ia sudah kembali membenarkan posisi celananya. &#xA;&#xA;Suguru membungkuk, jemarinya menangkup rahangmu lalu meraup bibirmu yang warnanya beberapa tingkat lebih merah akibat ia ciumi beberapa saat lalu. Sebelah kakinya naik ke atas sofa dengan lutut menumpu tubuhnya kala memperdalam ciumannya hingga membuat punggung telanjangmu menempel pada sandaran sofa. Napasmu terengah namun kamu membiarkannya menjarah bibir dan lidahmu hingga kepala dan tubuhmu seolah melebur karenanya. &#xA;&#xA;Kedut makin terasa seakan-akan otot pada vaginamu tengah memompa keluar cairan kental hingga membuat pangkal pahamu basah dan licin akibat afeksi gila yang ia berikan pada mulut dan juga payudaramu tadi. Suguru menjilati ujung bibirnya usai ia lepaskan ciumannya, tampak begitu menikmati sajian yang baru saja ia sesapi dengan laparnya. &#xA;&#xA;Kamu memperbaiki posisi dudukmu dengan tangan gemetar sebelum Suguru kembali mengunci mata sipitnya pada tubuhmu yang tampak sedikit berkilau akibat lembab oleh keringat dan bias cahaya lampu temaram yang hanya Suguru nyalakan di beberapa bagian saja dalam studionya. Kuas lukis bergagang cokelat tua dengan bulu-bulu halus berwarna kekuningan sudah berada di tangannya, tidak mengira bahwa ia akan benar-benar melukis dengan tubuh telanjangmu sebagai modelnya. &#xA;&#xA;Namun, ia tidak mengambil kanvas yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari posisinya berdiri. Suguru langsung menyapukan kuasnya pada garis rahangmu dengan gerakan lembut, lalu bergeser ke telinga hingga membuat kepalamu merinding menahan geli yang aneh. Geli yang membuat perutmu berjumpalitan dan jantungmu seperti merosot alih-alih membuatmu tertawa terbahak-bahak. &#xA;&#xA;&#34;Geli, kak,&#34; cicitmu dengan suara bergetar akibat rasa geli yang membuatmu meliuk ingin menghindar. &#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34; Alih-alih menenangkan, ia hanya membalasmu dengan gumaman seakan-akan ia benar-benar tengah fokus menghapalkan bentuk, tekstur, dan warna dari setiap bagian tubuhmu dengan sapuan kuasnya. &#xA;&#xA;Jika seseorang mencoba memeriksa denyut jantungmu pada saat ini menggunakan stetoskop, orang itu pasti akan terlonjak dari kursinya. Sungguh, debaran jantungmu kian menggila hingga membuatmu kesulitan bernapas, bahkan rongga dadamu terlihat naik turun tidak beraturan seperti tengah mencari limpahan udara ketika Suguru mulai menyapukan kuasnya turun perlahan-lahan menuju dadamu. &#xA;&#xA;Geli. Rasanya benar-benar geli ketika bulu-bulu halus pada ujung kuas itu ia sapukan melingkar di sekeliling gundukan kenyal di dadamu, lalu perlahan-lahan bergerak memutar dan terfokus pada putingmu yang sudah berereksi. &#xA;&#xA;&#34;Kak.. jangan,&#34; ujarmu sembari menahan tangannya dengan susah payah sebab tubuhmu sudah bergetar hebat menahan geli dan sensasi seperti sengatan listrik yang menjalar dari kepala hingga ujung kakimu. &#xA;&#xA;&#34;Jangan apa? Jangan berhenti?&#34; balasnya yang terdengar sangat usil. &#xA;&#xA;Suguru beralih dari payudaramu yang sebelah kanan ke sisi sebelahnya. Dengan telaten ia sapukan kuasnya pada gundukan itu dan memfokuskannya pada titik tengah yang sudah menguncup. Terlebih keringat yang mengembun membuat bulu-bulu halus pada kuasnya itu menjadi sedikit padat hingga menambah stimulasinya ketika bersentuhan dengan putingmu yang menjadi sangat sensitif ketika berereksi. Bahkan, tubuhmu seolah tidak lagi mampu menahan diri untuk menggeliat dan beberapa kali mengangkat pinggulmu di hadapannya. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Sayang? Hm?&#34; tanya Suguru yang makin liar memoles kedua putingmu dengan kuas yang ia pegang. &#xA;&#xA;Entah mengapa suhu di dalam ruangan itu lambat laun menjadi panas, bahkan Suguru sendiri pun dahinya mulai tampak berkelip oleh keringat. Ah, sepertinya bukan suhu dalam ruangan yang meningkat, sebab AC di dalam sana telah Suguru nyalakan sebelumnya. Melainkan tubuhmu sendiri dan Suguru lah yang sama-sama mulai memanas akibat permainan gila yang entah akan berlangsung sampai kapan. &#xA;&#xA;Kamu benar-benar tidak sanggup menjawab sepatah dua patah kata, mulutmu hanya mampu meracau dan mendesah tiap kali kuasnya membelai putingmu lalu turun menyusuri perut, pusar, lalu berakhir pada klitorismu hingga membuatmu memuncratkan cairan bening tanpa sengaja. &#xA;&#xA;Suguru menggesek-gesek klitorismu dengan kecepatan berbeda-beda menggunakan kuasnya hingga membuat tubuhmu menggelinjang hebat dan cairan bening membanjiri sofa miliknya. Tubuhmu mulai melemas, namun sebagian dalam dirimu inginkan lebih dari sekadar belaian gila dari bulu-bulu kuas miliknya yang rasanya seolah-olah tengah menyiksamu alih-alih memanjakan. &#xA;&#xA;&#34;Kak..&#34; cicitmu. &#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34; balasnya dengan gumaman. &#xA;&#xA;&#34;Please... just fuck me already..&#34; ujarmu dengan suara lemah namun begitu menggelitik dan menggoda kejantanan pria itu. &#xA;&#xA;&#34;Finally you&#39;re begging for it,&#34; bisiknya sebelum ia lepas celananya dan menyodok vaginamu yang sudah benar-benar basah dan mendamba kehadiran penis padat miliknya itu. &#xA;&#xA;Suguru menahan pinggulmu dengan kedua tangan besarnya, membantumu agar tidak kewalahan dengan tempo sodokannya yang menggila seolah-olah ia baru saja menemukan oasis ketika tersesat di tengah padang pasir yang tandus. Sedangkan kedua tanganmu tampak tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyusup ke dalam kaos hitam polos miliknya, menyusuri punggung dan juga otot-otot padat pada perut serta dadanya. &#xA;&#xA;Rona wajah sang pria benar-benar membuatmu makin mabuk kepayang. Ia bahkan menyuguhkan senyum paling menawan ketika ia menghujammu dengan penisnya yang terasa makin sesak di dalam lubang senggamamu. &#xA;&#xA;Lenguhan, racauan, serta desahan terdengar menggema memenuhi penjuru ruangan layaknya lantunan musik yang menyemarakkan suasana malam hari yang sepi. Suguru memejamkan matanya, rona pada wajah dan telinganya makin terlihat memerah, mulutnya terkatup rapat hingga rahangnya terlihat begitu tegas ketika tanganmu memainkan dadanya dan menekan-nekan puting kecilnya yang mengeras seperti penisnya di bawah sana. &#xA;&#xA;Pekikan mulai meluncur dari mulutmu ketika ia membalasnya. Tangannya bergerak naik menuju dadamu, meremas-remasnya, lalu memilin, mencubit, dan menarik puting susumu di tengah-tengah sodokannya yang masih membombardir kewanitaanmu dengan penisnya hingga membuat tubuhmu mengejang dan gemetar. Ia benar-benar tidak mau kalah darimu. Ia bahkan menghadiahimu dengan semburan sperma di atas dada dan perutmu setelah ia capai klimaks. &#xA;&#xA;&#34;Sekali lagi, Yang,&#34; bisik Suguru sembari meraih pinggulmu yang sudah melemas. &#xA;&#xA;Omong kosong. Tidak mungkin ia akan berhenti sebelum tubuhnya kelelahan hingga tidak mampu berdiri tegak. Ia akan terus menghujam vaginamu sepanjang penisnya masih mampu berdiri, tidak peduli bahwa nantinya air kencing yang akan keluar alih-alih sperma kental dengan aroma khas yang membuatmu pusing namun candu. &#xA;&#xA;&#34;Tau gini... kita ke hotel...&#34; cicitmu yang terkulai lemah. &#xA;&#xA;&#34;Siapa tadi, yang ngide mau kesini?&#34; balas Suguru dengan napas tersengal, mulai kelelahan. &#xA;&#xA;&#34;Siapa juga... yang kepikiran... bakal dientot?&#34; sahutmu yang menuai kekehan darinya, mengingat kamu benar-benar pergi ke studionya tanpa mempersiapkan apa pun. Naif memang jika berpikir hanya akan berbincang dan makan bersama dengannya. &#xA;&#xA;Bahkan, tadi pun kamu memilih pakaian dalam secara asal. Alih-alih memilih bra dan celana dalam yang seksi dan memikat, kamu memakai bra dan celana dalam yang warnanya benar-benar tidak serasi satu sama lain. Walau sebenarnya Suguru tidak peduli-peduli amat. Toh, nantinya kamu pasti akan ia telanjangi.&#xA;&#xA;---&#xA;  ©️ unatoshiru &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><strong><em>— Painter Suguru Geto x fem!reader</em></strong> 🔞</p>

<hr/>

<blockquote><p>📝 2,042 words
⚠️ <strong><em>explicit sexual content, harsh words, adult language, not safe for work, nipple play, nipple teasing, breastfeeding, hand job, vaginal sex, raw sex, sex with consent, body fluids, squirting, etc (possible kink exploration)</em></strong></p></blockquote>

<hr/>



<p>Aroma cat begitu kentara ketika kamu memasuki studio dengan luas sedang milik Suguru. Sekeliling tembok dipenuhi pajangan berupa lukisan-lukisan cantik yang seluruhnya menyajikan keindahan alam atau hiruk pikuk perkotaan, tampaknya sang pelukis hanya ingin menggoreskan kuasnya untuk menyimpan pemandangan cantik yang ia lihat di atas kanvas putih.</p>

<p>Matamu terpaku pada salah satu lukisan berukuran agak besar yang dipajang di tengah-tengah dinding kosong. Seorang gadis cantik bermahkotakan untaian bunga warna warni tengah tersenyum riang dengan tiga ekor kolibri yang terbang di sebelahnya, berwarna hitam, putih, dan cokelat.</p>

<p>Kamu menoleh ke arah Suguru yang berdiri di belakangmu, seolah memintanya untuk menjelaskan makna dibalik lukisan cantik yang ada di hadapanmu.</p>

<p>Suguru menorehkan senyum di wajahnya, terlampau indah untuk kamu abaikan hingga debaran jantungmu sempat terhenti karenanya. Jemari panjanganya mulai menunjuk satu persatu burung kolibri dengan warna-warna yang berbeda itu, “Ini aku, Satoru, Shoko.”</p>

<p>Suguru kembali bicara ketika jarimu menunjuk sosok wanita cantik dengan senyum sumringah yang membuat hatimu berdebar dan wajahmu memanas, “Cantik, ya?”</p>

<p>“Itu aku?” tanyamu memastikan.</p>

<p>Suguru mengangguk, “Aku udah lama mau nunjukin ke kamu, tapi belum sempet.” Seulas senyum terpatri di wajah letihnya, kentara sekali bahwa jam tidurnya sangat berantakan hingga membuat kantung matanya terlihat jelas.</p>

<p>Campur aduk, hatimu menghangat karena merasa Suguru begitu sayangnya kepadamu hingga mengabadikan dirimu dalam sebuah lukisan indah. Kamu sedikit salah tingkah dibuatnya, sehingga alih-alih memujinya, kalimat yang terlontar dari mulutmu adalah, “Emang aku secantik itu ya?”</p>

<p>Tidak lantas menjawab, Suguru berjalan mendekati lukisan itu. Tangannya mulai bersedekap dan memasang wajah serius seolah-olah tengah berpikir keras untuk mencari letak perbedaan antara sosokmu yang nyata dengan yang ada dalam lukisannya. “Udah lima menit aku lihatin, tapi kayaknya gak ada bedanya.”</p>

<p>“Kamu emang secantik itu di mataku,” sambung Suguru.</p>

<p>Hubunganmu dengan Suguru sudah berjalan lebih dari dua tahun, dan sekarang, hatimu masih tetap berdebar-debar tidak karuan setiap kali mendengarnya memujimu seperti itu. Kamu akan selalu seperti anak remaja yang sedang kasmaran ketika bersamanya. Seperti gadis yang pertama kali merasakan jatuh cinta begitu hebatnya pada jumpa pertama.</p>

<p>“Idih, gombal mulu,” balasmu, sedikit salah tingkah.</p>

<p>Suguru hanya meringis, lalu berjalan melewatimu menuju sudut ruangan dan merapikan kuas-kuas lukisnya yang berada di atas meja kayu berukuran sedang. Tampaknya ia telah mencuci semua kuas dengan berbagai macam ukuran itu dan merapikan studio lukisnya sebelum pergi menjemputmu.</p>

<p>“Kamu yakin gak mau ke luar aja? Di sini bosen banget, loh. Gak ada apa-apa,” tanya Suguru yang skeptis dengan pilihanmu yang ingin berkencan di studio lukisnya alih-alih pergi ke tempat-tempat seru dan romantis. Terlebih, seperti yang ia katakan, di sana tidak ada apapun selain kanvas seputih gading, botol-botol gemuk berisikan cairan pewarna, tatakan kayu yang berdiri di beberapa sisi, lukisan-lukisan yang bersemangat ingin menyampaikan kisahnya setiap kali matamu memandang, serta dua genggam kuas lukis yang baru saja Suguru rapikan dan ia letakkan di bagian pinggir meja.</p>

<p>“Aku tau kamu lagi sibuk, kak. Aku mau nemenin kamu ngelukis aja di sini,” ujarmu lalu duduk di pinggir sofa dan mengambil bantal yang kamu posisikan di atas pahamu.</p>

<p>Suguru menyusulmu duduk, lalu ia merebahkan tubuhnya dan memposisikan kepalanya di atas bantal yang berada di pahamu sembari menampilkan senyum memikatnya, “Aku mau santai.”</p>

<p>Tanganmu menyusuri wajah lelahnya dan sesekali merapihkan anak-anak rambut yang menutupi dahinya. Suguru memejamkan matanya seolah tengah menikmati setiap sentuhanmu yang mungkin saja mampu menyembuhkan rasa letihnya.</p>

<p>Seulas senyum tertoreh di bibirmu kala memandanginya yang tampak damai bersantai di pahamu, membuatmu tidak mampu menahan diri untuk tidak mengecup bibirnya dan membuatnya kembali terjaga hingga bibir dan lidahnya membalas kecupanmu itu dengan liarnya. Bahkan tangannya menahan tengkukmu agar kamu tidak cepat-cepat melepas ciuman itu meski paru-parumu sudah mulai terasa sesak karena minimnya pasokan oksigen di dalamnya.</p>

<p>Napasmu tersengal-sengal, begitu pula Suguru yang dadanya naik turun dengan tempo yang cepat seolah tengah berusaha memompa masuk udara ke dalam paru-parunya. Namun, ia tampak belum puas hingga lagi-lagi tangannya menekan tengkukmu dan bibir basahnya kembali memagut bibirmu. Bahkan kini tangannya mulai menyusup ke dalam kaos yang tengah kamu kenakan, menyusuri punggungmu yang sedikit membungkuk, dan membuatmu makin terhanyut dalam ciuman memabukkan itu.</p>

<p>Denyar aneh seperti sengatan listrik membuatmu merinding ketika gumpalan kenyal di dadamu ia remas-remas sebelum menyibak kaos yang kamu kenakan hingga menampilkan kedua buah dadamu yang masih berbalut bra. Dengan terampil ia turunkan kedua tali tipis yang bertengger di bahumu, lalu ia turunkan bra yang kamu kenakan dan membuat dua bongkahan kenyal itu menggantung indah di depan matanya.</p>

<p>Lenguhan dan desahan mencelos keluar dari mulutmu yang basah oleh saliva usai Suguru melepaskan ciumannya dan beralih memberikan afeksi pada gumpalan lemak yang ujungnya sudah menguncup malu-malu di hadapannya.</p>

<p>“Kak.. kak.. aku napas dulu,” ujarmu berusaha menahannya.</p>

<p>“Kamu kan napasnya pake hidung, bukan tetek,” jawab Suguru enteng. Agak menyebalkan memang, tapi ucapannya tidak ada yang salah.</p>

<p>Napasmu kian memburu ketika lidah hangatnya membelai areola dan putingmu hingga menguncup dan mengeras. Sedangkan tangannya sibuk dengan membelai, menggesek, memilin, dan mencubiti putingmu yang berada di sisi sebelah.</p>

<p>“Keliatannya kecil, tapi mantep juga, <em>Yang,”</em> komentar Suguru yang mulutnya masih sibuk menjilati putingmu yang merona.</p>

<p>Matamu menangkap basah miliknya yang sudah membesar hingga terlihat begitu menonjol seolah-olah ingin merobek celana bahan berwarna hitam yang tengah Suguru kenakan. Membuatmu berbaik hati memberikannya sebuah kebebasan hingga kejantanannya itu mampu berdiri tegak—tidak sepenuhnya, karena agak sedikit melengkung— dan menampilkan denyut-denyut bahagia ketika tanganmu menyentuhnya.</p>

<p>“Punyamu juga mantep, Kak,” balasmu dengan komentar singkat yang mampu membuat telinganya memerah menahan malu.</p>

<p>Tanganmu bergerak lihai melayani kejantanannya layaknya seorang bartender yang tengah mencampurkan beberapa macam bahan dengan mengocoknya untuk menyajikan koktail segar yang menggelitik lidah. Tampaknya Suguru benar-benar menikmatinya hingga kuluman dan hisapan mulutnya pada payudaramu terasa semakin menjadi-jadi.</p>

<p>“Kak.. jangan kenceng-kenceng,” ujarmu di sela-sela desahmu. Namun Suguru malah semakin kuat menghisap puting susumu dan menarik sisi sebelahnya seiring dengan keluarnya cairan kental hangat yang menyembur dari penisnya hingga membasahi tanganmu.</p>

<p>Suguru bangkit dan membantumu melepaskan kaos yang kamu kenakan, menyisakan bra yang kini sudah merosot hingga ke perut. Lalu, dengan jahil kamu memintanya untuk melepasnya yang tentu saja ia lakukan dengan sukarela.</p>

<p>“Kamu juga lepas bajunya, biar impas,” titahmu. Namun, bukannya mengiyakan, ia malah menelengkan kepalanya seolah ia tengah menimang-nimang titahmu barusan.</p>

<p>“Aku mau cari inspirasi dulu lewat kamu,” jawab Suguru yang telah melepaskan bawahan yang tengah kamu kenakan hingga membuatmu telanjang sepenuhnya di atas sofa berwarna kelabu miliknya. Benar-benar berbanding terbalik dengannya yang masih mengenakan pakaian lengkap, bahkan ia sudah kembali membenarkan posisi celananya.</p>

<p>Suguru membungkuk, jemarinya menangkup rahangmu lalu meraup bibirmu yang warnanya beberapa tingkat lebih merah akibat ia ciumi beberapa saat lalu. Sebelah kakinya naik ke atas sofa dengan lutut menumpu tubuhnya kala memperdalam ciumannya hingga membuat punggung telanjangmu menempel pada sandaran sofa. Napasmu terengah namun kamu membiarkannya menjarah bibir dan lidahmu hingga kepala dan tubuhmu seolah melebur karenanya.</p>

<p>Kedut makin terasa seakan-akan otot pada vaginamu tengah memompa keluar cairan kental hingga membuat pangkal pahamu basah dan licin akibat afeksi gila yang ia berikan pada mulut dan juga payudaramu tadi. Suguru menjilati ujung bibirnya usai ia lepaskan ciumannya, tampak begitu menikmati sajian yang baru saja ia sesapi dengan laparnya.</p>

<p>Kamu memperbaiki posisi dudukmu dengan tangan gemetar sebelum Suguru kembali mengunci mata sipitnya pada tubuhmu yang tampak sedikit berkilau akibat lembab oleh keringat dan bias cahaya lampu temaram yang hanya Suguru nyalakan di beberapa bagian saja dalam studionya. Kuas lukis bergagang cokelat tua dengan bulu-bulu halus berwarna kekuningan sudah berada di tangannya, tidak mengira bahwa ia akan benar-benar melukis dengan tubuh telanjangmu sebagai modelnya.</p>

<p>Namun, ia tidak mengambil kanvas yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari posisinya berdiri. Suguru langsung menyapukan kuasnya pada garis rahangmu dengan gerakan lembut, lalu bergeser ke telinga hingga membuat kepalamu merinding menahan geli yang aneh. Geli yang membuat perutmu berjumpalitan dan jantungmu seperti merosot alih-alih membuatmu tertawa terbahak-bahak.</p>

<p>“Geli, kak,” cicitmu dengan suara bergetar akibat rasa geli yang membuatmu meliuk ingin menghindar.</p>

<p>“Hm?” Alih-alih menenangkan, ia hanya membalasmu dengan gumaman seakan-akan ia benar-benar tengah fokus menghapalkan bentuk, tekstur, dan warna dari setiap bagian tubuhmu dengan sapuan kuasnya.</p>

<p>Jika seseorang mencoba memeriksa denyut jantungmu pada saat ini menggunakan stetoskop, orang itu pasti akan terlonjak dari kursinya. Sungguh, debaran jantungmu kian menggila hingga membuatmu kesulitan bernapas, bahkan rongga dadamu terlihat naik turun tidak beraturan seperti tengah mencari limpahan udara ketika Suguru mulai menyapukan kuasnya turun perlahan-lahan menuju dadamu.</p>

<p>Geli. Rasanya benar-benar geli ketika bulu-bulu halus pada ujung kuas itu ia sapukan melingkar di sekeliling gundukan kenyal di dadamu, lalu perlahan-lahan bergerak memutar dan terfokus pada putingmu yang sudah berereksi.</p>

<p>“Kak.. jangan,” ujarmu sembari menahan tangannya dengan susah payah sebab tubuhmu sudah bergetar hebat menahan geli dan sensasi seperti sengatan listrik yang menjalar dari kepala hingga ujung kakimu.</p>

<p>“Jangan apa? Jangan berhenti?” balasnya yang terdengar sangat usil.</p>

<p>Suguru beralih dari payudaramu yang sebelah kanan ke sisi sebelahnya. Dengan telaten ia sapukan kuasnya pada gundukan itu dan memfokuskannya pada titik tengah yang sudah menguncup. Terlebih keringat yang mengembun membuat bulu-bulu halus pada kuasnya itu menjadi sedikit padat hingga menambah stimulasinya ketika bersentuhan dengan putingmu yang menjadi sangat sensitif ketika berereksi. Bahkan, tubuhmu seolah tidak lagi mampu menahan diri untuk menggeliat dan beberapa kali mengangkat pinggulmu di hadapannya.</p>

<p>“Kenapa, Sayang? Hm?” tanya Suguru yang makin liar memoles kedua putingmu dengan kuas yang ia pegang.</p>

<p>Entah mengapa suhu di dalam ruangan itu lambat laun menjadi panas, bahkan Suguru sendiri pun dahinya mulai tampak berkelip oleh keringat. Ah, sepertinya bukan suhu dalam ruangan yang meningkat, sebab AC di dalam sana telah Suguru nyalakan sebelumnya. Melainkan tubuhmu sendiri dan Suguru lah yang sama-sama mulai memanas akibat permainan gila yang entah akan berlangsung sampai kapan.</p>

<p>Kamu benar-benar tidak sanggup menjawab sepatah dua patah kata, mulutmu hanya mampu meracau dan mendesah tiap kali kuasnya membelai putingmu lalu turun menyusuri perut, pusar, lalu berakhir pada klitorismu hingga membuatmu memuncratkan cairan bening tanpa sengaja.</p>

<p>Suguru menggesek-gesek klitorismu dengan kecepatan berbeda-beda menggunakan kuasnya hingga membuat tubuhmu menggelinjang hebat dan cairan bening membanjiri sofa miliknya. Tubuhmu mulai melemas, namun sebagian dalam dirimu inginkan lebih dari sekadar belaian gila dari bulu-bulu kuas miliknya yang rasanya seolah-olah tengah menyiksamu alih-alih memanjakan.</p>

<p>“Kak..” cicitmu.</p>

<p>“Hm?” balasnya dengan gumaman.</p>

<p><em>“Please... just fuck me already..”</em> ujarmu dengan suara lemah namun begitu menggelitik dan menggoda kejantanan pria itu.</p>

<p><em>“Finally you&#39;re begging for it,”</em> bisiknya sebelum ia lepas celananya dan menyodok vaginamu yang sudah benar-benar basah dan mendamba kehadiran penis padat miliknya itu.</p>

<p>Suguru menahan pinggulmu dengan kedua tangan besarnya, membantumu agar tidak kewalahan dengan tempo sodokannya yang menggila seolah-olah ia baru saja menemukan oasis ketika tersesat di tengah padang pasir yang tandus. Sedangkan kedua tanganmu tampak tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyusup ke dalam kaos hitam polos miliknya, menyusuri punggung dan juga otot-otot padat pada perut serta dadanya.</p>

<p>Rona wajah sang pria benar-benar membuatmu makin mabuk kepayang. Ia bahkan menyuguhkan senyum paling menawan ketika ia menghujammu dengan penisnya yang terasa makin sesak di dalam lubang senggamamu.</p>

<p>Lenguhan, racauan, serta desahan terdengar menggema memenuhi penjuru ruangan layaknya lantunan musik yang menyemarakkan suasana malam hari yang sepi. Suguru memejamkan matanya, rona pada wajah dan telinganya makin terlihat memerah, mulutnya terkatup rapat hingga rahangnya terlihat begitu tegas ketika tanganmu memainkan dadanya dan menekan-nekan puting kecilnya yang mengeras seperti penisnya di bawah sana.</p>

<p>Pekikan mulai meluncur dari mulutmu ketika ia membalasnya. Tangannya bergerak naik menuju dadamu, meremas-remasnya, lalu memilin, mencubit, dan menarik puting susumu di tengah-tengah sodokannya yang masih membombardir kewanitaanmu dengan penisnya hingga membuat tubuhmu mengejang dan gemetar. Ia benar-benar tidak mau kalah darimu. Ia bahkan menghadiahimu dengan semburan sperma di atas dada dan perutmu setelah ia capai klimaks.</p>

<p>“Sekali lagi, Yang,” bisik Suguru sembari meraih pinggulmu yang sudah melemas.</p>

<p>Omong kosong. Tidak mungkin ia akan berhenti sebelum tubuhnya kelelahan hingga tidak mampu berdiri tegak. Ia akan terus menghujam vaginamu sepanjang penisnya masih mampu berdiri, tidak peduli bahwa nantinya air kencing yang akan keluar alih-alih sperma kental dengan aroma khas yang membuatmu pusing namun candu.</p>

<p>“Tau gini... kita ke hotel...” cicitmu yang terkulai lemah.</p>

<p>“Siapa tadi, yang ngide mau kesini?” balas Suguru dengan napas tersengal, mulai kelelahan.</p>

<p>“Siapa juga... yang kepikiran... bakal dientot?” sahutmu yang menuai kekehan darinya, mengingat kamu benar-benar pergi ke studionya tanpa mempersiapkan apa pun. Naif memang jika berpikir hanya akan berbincang dan makan bersama dengannya.</p>

<p>Bahkan, tadi pun kamu memilih pakaian dalam secara asal. Alih-alih memilih bra dan celana dalam yang seksi dan memikat, kamu memakai bra dan celana dalam yang warnanya benar-benar tidak serasi satu sama lain. Walau sebenarnya Suguru tidak peduli-peduli amat. Toh, nantinya kamu pasti akan ia telanjangi.</p>

<hr/>

<blockquote><p><strong><em>©️ unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/burnout</guid>
      <pubDate>Sat, 03 Aug 2024 15:33:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hidden Melody</title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/hidden-melody?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;Semi Eita x fem!reader as singers&#xA;---&#xA;&#xA;  📝 2,064 words&#xA;  ⚠️ Idol au, NSFW, not safe for works, not safe for minors, harsh words, explicit sexual content, blow job, deep throat, hidden sex&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sorak sorai terdengar bergemuruh dan hampir memekakkan telinga ketika kamu menyudahi lagu ketigamu dengan nada tinggi yang disambut oleh teriakan beruntun dari penonton yang sejak tadi terlihat bersemangat menyanyikan lagu bersamamu. &#xA;&#xA;&#34;Red Cherry!&#34; riuh suara yang meneriakkan nama panggungmu terdengar seolah menggema hingga membuatmu kembali menoleh dan melambaikan tangan sembari berjalan menuju belakang panggung. &#xA;&#xA;Kamu menghembuskan napas lega usai menampilkan tiga buah lagu milikmu tanpa hambatan yang berarti. Meski cuaca panas, ditambah dengan lampu sorot yang seolah membakar dan membuat tubuhmu banjir keringat, kamu cukup puas telah menampilkan yang terbaik yang kamu bisa. &#xA;&#xA;Manajermu, Yachi, tergopoh-gopoh menghampirimu sembari menyodorkan sebotol air mineral dingin dan satu kotak kecil tisu untuk mengeringkan kulit wajah dan lehermu dari keringat. &#xA;&#xA;&#34;That was an amazing performance, Cher! Langsung balik ke waiting room ya, istirahat dulu,&#34; ujar Yachi lalu menghambur pergi menghampiri beberapa staff setelah menyodorkan sebotol air dan tisu yang semula ia bawa kepadamu. &#xA;&#xA;&#34;Jangan macem-macem selama aku nggak ada!&#34; sambungnya dengan nada mengancam yang hanya kamu balas dengan tawa lebar dan memberikan acungan jempol kepadanya. &#xA;&#xA;Kamu dapat menangkap kekhawatirannya yang takut kamu diam-diam akan menemui kekasihmu, Semi Eita, di sela-sela acara festival musik yang menjadikanmu dan Eita sebagai salah satu pengisi acara. Namun, jika kamu sudah berusaha menghindar tetapi lelaki itu malah menunggumu di koridor sepi dekat ruang tunggu khusus yang disediakan untukmu, kamu bisa apa selain tersenyum senang? &#xA;&#xA;&#34;Can I steal your kiss?&#34; bisik Eita ketika kamu tiba. &#xA;&#xA;Bibirmu melengkung tanpa sadar, menampilkan seulas senyum tipis usai mendengarnya berkata demikian beraninya di tempat yang berpotensi membuat kalian tertangkap basah tengah berduaan. &#xA;&#xA;&#34;Is that all I get for my performance?&#34; guraumu. &#xA;&#xA;Eita terkekeh mendengar responmu, &#34;Darl, you have no idea how much I was holding back from coming on stage, terus cium kamu di depan semua orang.&#34; &#xA;&#xA;Dia habis mabuk kecubung atau apa, sih? Benar-benar tidak ada takut-takutnya berkata seperti itu di tempat seramai ini. &#xA;&#xA;Kamu melihat sekeliling, memastikan tidak ada seorang pun yang menyaksikan maupun mendengar ucapannya barusan. Lalu kamu menarik lengannya untuk masuk ke dalam ruang tunggu milikmu dan membanjirinya dengan omelan. &#xA;&#xA;&#34;Sem? Lu udah gila, ya? Kalo kedengeran staff gimana?&#34; ocehmu yang mendapat respon lain darinya. &#xA;&#xA;Bukannya merasa bersalah atau apa, Eita malah meraih lehermu yang terekspos sempurna, membelainya dengan tangannya yang sedikit kasar akibat bermain gitar dan voli, meninggalkan sensasi geli yang sedikit membuatmu bergidik. Jarinya bergerak menyusuri rahang dan pipimu sebelum ia memagut bibirmu guna mencegahmu mengoceh terlalu panjang kepadanya. &#xA;&#xA;Kamu mendorong dadanya dan melepaskan ciumannya yang berbahaya sekaligus menggoda, &#34;Eita...&#34; &#xA;&#xA;Bukan Eita namanya jika berhenti menggodamu. Ia tertawa dan menjilati bibirnya yang masih sedikit basah bekas menciummu, lalu ia menekan tubuhmu hingga punggungmu bersentuhan dengan daun pintu yang telah kamu tutup sepenuhnya. &#xA;&#xA;&#34;Eita, please jangan sekarang,&#34; ujarmu sembari menatap wajahnya yang hanya berjarak dua jengkal saja dari wajahmu. Sedangkan netra cokelatnya menatapmu dalam-dalam seolah telah terkunci pada sosokmu yang tengah terpojok. &#xA;&#xA;&#34;Darl, no one will find us here. Semuanya lagi sibuk masing-masing, sebentar aja,&#34; tuturnya berusaha meyakinkanmu. &#xA;&#xA;Bukannya kamu tidak menginginkan waktu berduaan dengannya, mengingat kesibukan kalian berdua yang semakin menguras waktu dan tenaga hingga membuat kalian jarang bertatap wajah dan bersentuhan hingga membuat saat-saat seperti ini begitu mahal dan langka. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bemesraan, sangat riskan bila seseorang menyadari dan menemukanmu tengah berduaan dengannya dalam ruangan tertutup seperti ini. &#xA;&#xA;&#34;Sumpah, cuma sebentar,&#34; imbuhnya sembari membelai suraimu yang semerah buah ceri matang. &#xA;&#xA;Kamu membuang napasmu kasar, menolaknya mati-matian dan beradu debat dengannya hanya akan memperlebar peluang untuk tertangkap basah oleh staff yang sesekali berkeliaran di lorong. Terlebih, ruangan khusus artist yang disediakan untukmu tengah kosong, Yachi, manajer sekaligus sahabat karibmu itu tampaknya sedang sibuk mengurus hal lain, jadi ini adalah satu-satunya kesempatan untukmu dan Eita bemesraan sebelum kembali terpisah oleh kesibukan. &#xA;&#xA;Eita tersenyum lebar, matanya mengerling nakal ketika kamu mengiyakan permintaannya yang benar-benar ceroboh dan gila ini. Kentara sekali bahwa ia benar-benar senang dapat mencium dan menyentuhmu sesuka hati. &#xA;&#xA;Kedua tangannya menangkup kedua pipimu lalu mencium bibir meronamu sembari lidahnya meliuk dan berdansa dengan lidahmu seolah diiringi oleh lantunan melodi indah. Perlahan sebelah tangannya bergerak, turun ke rahang, leher, lalu berhenti di tengkukmu dan menekannya. Sedangkan tangannya yang sebelah turun hingga mendapat posisi yang pas di punggungmu dan mendorongnya perlahan guna merapatkan tubuhmu padanya, membuat ciuman kali ini terasa panas hingga membuat kepalamu meleleh dan tanpa sadar kedua tanganmu telah mengalung manja pada bahunya. &#xA;&#xA;Semi Eita benar-benar mampu membuatmu tergila-gila. Tidak hanya lantunan musiknya yang mampu memanjakan indera pendengaranmu hingga membuat tubuhmu merinding dan merona, tapi segala hal pada dirinya mampu membuatmu terpesona dan makin jatuh cinta. &#xA;&#xA;Ciumannya yang terasa manis dan indah, sentuhan tangannya yang dengan lembut menyentuhmu, dan segala perlakuannya yang penuh sayang membuatmu kembali merasa hidup. Hari-hari yang memuakkan dan melelahkan seolah terobati olehnya. &#xA;&#xA;Begitu pula bagi Eita. Hadirmu memberikan goresan warna baru dalam dinding hidupnya yang terasa hambar dan kelabu. Meski ia memiliki segalanya, mulai dari uang hingga popularitas, namun kehidupannya sebagai public figure membuatnya merasa kesepian dan terkekang. Ia tidak bisa bepergian sesuka hati, bertemu dengan sembarang orang hanya untuk duduk mengobrol sembari menyesap kopi, memposting hal-hal yang disukai, bahkan ia tidak bisa meluapkan isi hati meski rasanya ingin memaki sebab segala gerak gerik dan tutur katanya akan dilihat oleh penggemar dan wartawan, dan bukannya tidak mungkin bahwa ada segelintir orang yang benar-benar memantaunya hanya untuk memastikan kejatuhannya dalam berkarir. &#xA;&#xA;Saliva yang menyatu telah membasahi bibir hingga dagumu ketika lidahnya menyudahi dansa menawannya yang hampir membuatmu hilang akal. &#xA;&#xA;Pakaianmu yang serba mini tentu saja juga memengaruhi akal sehatnya. Terlebih ketika pinggulmu turun hingga membuat salah satu pahanya yang berada diantara kedua pangkal pahamu terasa hangat. &#xA;&#xA;&#34;Eita, fans lu kalo tau lu jago ciuman pasti makin gila?&#34; ucapmu yang menuai kekehan darinya. Ia sedikit paham bahwa ketika kamu memanggilnya &#34;Eita&#34; alih-aliah &#34;Sem&#34; atau &#34;Semi&#34;, artinya kamu tengah marah, terkejut, atau ingin bercumbu mesra dengannya. &#xA;&#xA;&#34;Fans lu juga bakal makin gila kalo liat lu kayak gini, Cher,&#34; balasnya sembari menyingkap rok mini yang kamu kenakan dan membelai lembut pahamu yang terbalut oleh kain stocking tipis berwarna hitam, namun segera menuai tepisan darimu. &#xA;&#xA;&#34;Gue kira cuma mau ciuman?&#34; ujarmu. &#xA;&#xA;&#34;Emang lu puas kalo cuma ciuman?&#34; balasnya dengan balik bertanya. &#xA;&#xA;Kamu tertawa kecil mendengarnya, &#34;At least, gue masih bisa nahan.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Really? Gua juga bisa,&#34; jawabnya yang sepenuhnya dusta. &#xA;&#xA;&#34;Eita, kita masih ada last perform, loh. Lu yakin bakal tampil begini di depan fans lu?&#34; tanyamu sembari menyentuh pangkal pahanya yang menonjol dan padat. Ia hanya meringis ketika kejantanannya mendapat perhatian dan belaian lembut darimu, tidak lagi mampu membantah. &#xA;&#xA;&#34;Kali ini di mulut aja, ya,&#34; ujarmu yang perlahan mulai berjongkok hingga kepalamu sejajar dengan pinggul ramping pria berambut ash blonde di hadapanmu itu. &#xA;&#xA;&#34;Yakin?&#34; tanyanya sembari mengangkat dagumu dengan sebelah tangannya yang mendapat anggukan darimu. Kemudian Eita mulai melepaskan gesper, kancing, dan resleting pada celana hitam miliknya, lalu dengan liarnya tanganmu menurunkan celana dalam yang ia kenakan hingga menampilkan kejantanannya yang sudah mengeras, hangat, dan lembab. &#xA;&#xA;Kamu merasakan miliknya dengan kedua tanganmu. Merabanya, memijitnya, mengendus aroma khas miliknya yang begitu kuat hingga membuat kepalamu sedikit berkunang, lalu lidahmu terjulur untuk menjilati ujung penisnya yang sudah sedikit basah. &#xA;&#xA;Miliknya tidak terlalu besar, tapi selalu terasa penuh dalam genggaman maupun mulutmu. Dan ukurannya yang panjang sering kali membuatmu tersedak dan terkadang membuatmu menjerit dan menggelinjang ketika menyodok bagian terdalam dari lubang vaginamu. &#xA;&#xA;Pandanganmu seolah mengabur dan hanya terfokus pada gumpalan daging tebal yang ujungnya sudah memasuki mulutmu yang hangat dan penuh akan saliva. Namun, sesekali kamu mendongak menatap sang kekasih yang wajahnya merona dan dadanya naik turun seakan kesulitan bernapas. Tangannya menyentuh kepalamu, dan ibu jarinya mengusap pucuk kepalamu, membuatmu seolah-olah menjadi anak baik dalam situasi yang menyalahi moral seperti ini. &#xA;&#xA;Kondisi cuaca yang panas dan gerah ini membuat aroma tubuh milik Eita menguar lebih pekat, dan entah kenapa malah membuatmu makin terangsang untuk melumat kejantanannya, dari ujung kepala penisnya, batang, pangkal, dan berujung pada dua gundukan di bawahnya yang kini kamu hisap dengan mulut basahmu hingga membuat Eita mengerang dan melenguh. Bahkan tangan kirinya ia gunakan untuk menumpu tubuh gemetarnya pada daun pintu yang tetutup, dan sebelah tangannya sedikit mencengkeram kepalamu hingga membuat rambutmu sedikit berantakan. &#xA;&#xA;&#34;Gua mau keluar...&#34; ujar Eita sembari berusaha menjauhkan kepalamu. Namun bukannya menjauh, kamu malah makin menyiksanya dengan menempelkan bibirmu selagi kamu berbicara menanggapi ucapannya. &#xA;&#xA;&#34;Ke mana?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ke luar negeri,&#34; sahut Eita tanpa pikir panjang. &#xA;&#xA;Kamu merespon candaannya dengan memasukkan kembali ujung penisnya hingga separuhnya memenuhi mulutmu sembari tanganmu memainkan gundukan buah zakarnya, membuatmu kesenangan ketika mendengar desahannya mencelos keluar dari tenggorokannya. &#xA;&#xA;&#34;Sumpah, ini mau muncrat,&#34; imbuhnya. &#xA;&#xA;&#34;Mungah aha,&#34; sahutmu dengan gumaman yang tidak jelas sebab mulutmu tengah tersumpal oleh penisnya yang penuh. (&#34;Muncrat aja&#34;) &#xA;&#xA;Eita mengerang namun ia tak lantas mengeluarkan cairan hangat kental miliknya, melainkan ia pegangi kepalamu dan menekannya selagi ia gerakkan pinggulnya hingga membuat ujung penisnya menyodok tenggorokanmu beberapa kali, membuatmu kesulitan bernapas dan hampir muntah hingga air mata dan keringatmu bercucuran. &#xA;&#xA;Eita tidak banyak bicara, membuatmu hanya mempu mendengar suara becek mulutmu yang tengah dijejali oleh penisnya, debaran jantungmu yang rasanya berdetak hingga ke kepala, erangan dan deru napas Eita yang berat, serta suara ketukan di pintu yang membuat jantungmu nyaris meledak. &#xA;&#xA;&#34;Cher? Pintunya kok dikunci? Tidur kah?&#34; tanya seorang perempuan yang kamu yakini adalah manajermu sendiri, Yachi, dari balik pintu. &#xA;&#xA;&#34;Fuck,&#34; gumam Eita yang penisnya menyemburkan cairan kental hangat dalam mulutmu hingga membuatmu terbatuk-batuk. &#xA;&#xA;Eita menarik keluar penisnya dari mulutmu yang masih ternganga dengan lidah terjulur usai menelan sperma miliknya yang terasa sedikit asin. Kakimu yang semula berlutut kini melemas hingga terduduk dengan celana dalam yang basah kuyup, dan mungkin telah merembes ke luar hingga stocking yang kamu kenakan cukup lembab di bagian selangkangan. &#xA;&#xA;Netra cokelat milik Eita mengedar ke sepenjuru ruangan hingga menemukan sekotak tisu di atas meja riasmu lalu memelesat pergi mengambilnya guna mengelap penis basahnya dan juga wajah hingga lehermu dari bukti-bukti kenakalan kalian berdua di tempat ini. &#xA;&#xA;Lagi-lagi Yachi menggedor pintu dan meneriaki namamu, namun tentu saja kamu tidak meresponnya hingga terdengar suaranya berbincang dengan salah satu staff perihal kunci cadangan untuk membuka ruanganmu, lalu lorong kembali sunyi. &#xA;&#xA;Kamu memutar kunci dan membuka pintu perlahan-lahan lalu kepalamu melongok keluar, melihat kanan dan kiri guna memastikan kondisi cukup aman untuk Eita keluar dari ruanganmu tanpa ketahuan. &#xA;&#xA;&#34;Kayaknya aman,&#34; bisikmu memberinya kode untuk menyelinap keluar. &#xA;&#xA;Tentu saja, Eita segera bergegas pergi dan kembali ke ruangannya sendiri yang berada di lorong lain dengan lancar dan aman. Semuanya terasa begitu mulus hingga tiba-tiba Yachi datang dengan seorang staff yang kamu duga telah membawa kunci cadangan. &#xA;&#xA;&#34;Astaga, kamu bikin orang panik aja! Ayo siap-siap, abis ini kamu perform lagi bareng Eita,&#34; ujarnya sembari memberi kode kepada seorang staff tersebut untuk pergi setelah meminta maaf telah membuatnya sedikit kerepotan karena ulahmu yang Yachi sempat duga tertidur dalam ruangan. &#xA;&#xA;&#34;Hah? Sama Eita?&#34; cetusmu dengan suara sedikit serak. Seingatmu, kamu beserta artists lainnya akan kembali tampil di penghujung acara dengan diiringi lantunan musik yang dimainkan oleh seorang Disc Jockey bernama Oikawa. &#xA;&#xA;&#34;DJ Oik masih prepare, pada minta kamu sama Eita buat ngisi dulu sambil nunggu,&#34; jelas Yachi yang masih belum kamu pahami sepenuhnya. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa harus sama Eita?&#34; tanyamu, menuntut penjelasan darinya. &#xA;&#xA;&#34;Di medsos sempet rame soal Eita yang pengen collab sama kamu,&#34; jawabnya. &#xA;&#xA;&#34;Jadi, ya.. ini momen bagus buat ngasih fans kalian kejutan. Lagian, bayarannya ditambah kok. Terus, nantinya kalian bakal lebih gampang ngasih alasan kalo ketahuan jalan berdua,&#34; Yachi menambahkan ucapannya dan kini mulai terdengar masuk akal. &#xA;&#xA;&#34;Oke? Berarti gue ganti baju dulu, abis itu—&#34; &#xA;&#xA;Yachi menahanmu, &#34;Gak usah, langsung ke panggung aja. Ini, minum dulu biar gak serak suaranya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah gila ya? Mau bawain lagu apa aja gue gak tau.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Coba obrolin sama Eita sana. Kalian sering nyanyi bareng kalo ketemu, kan?&#34; balas Yachi. &#xA;&#xA;Ya, memang benar ucapannya. Namun terkadang melodi-melodi indah yang kalian lantunkan bersama tidak melulu lirik lagu penuh makna dan emosi yang biasa dinyanyikan di atas panggung maupun di studio rekaman. Melainkan juga melodi-melodi rahasia yang memang sengaja ingin kalian sembunyikan dari dunia. Cukup kalian berdua saja yang mendengarnya, cukup kamu dan Eita yang menikmati lantunan melodi indah satu sama lain yang mampu membelai jiwa hingga membuat tubuh bergetar dan dimabuk oleh cinta. &#xA;&#xA;Tampaknya ini akan menjadi pengalaman gila selama kamu tampil di atas panggung. Kamu harus kembali berhadapan dengan kekasihmu yang baru saja memenuhi mulutmu dengan kejantanannya, menaiki panggung dan bersikap ceria meski celana dalammu dalam keadaan super basah dan lengket dengan lendir, ditambah lagi sekian banyak pasang mata akan memerhatikanmu. Sungguh, memikirkannya saja sudah membuat perutmu melilit dan bagian pangkal pahamu terasa kembali berdenyut-denyut.&#xA;&#xA;---&#xA;  ©️ unatoshiru]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><strong><em>Semi Eita x fem!reader as singers</em></strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>📝 2,064 words
⚠️ <strong><em>Idol au, NSFW, not safe for works, not safe for minors, harsh words, explicit sexual content, blow job, deep throat, hidden sex</em></strong></p></blockquote>

<hr/>



<p>Sorak sorai terdengar bergemuruh dan hampir memekakkan telinga ketika kamu menyudahi lagu ketigamu dengan nada tinggi yang disambut oleh teriakan beruntun dari penonton yang sejak tadi terlihat bersemangat menyanyikan lagu bersamamu.</p>

<p><em>“Red Cherry!”</em> riuh suara yang meneriakkan nama panggungmu terdengar seolah menggema hingga membuatmu kembali menoleh dan melambaikan tangan sembari berjalan menuju belakang panggung.</p>

<p>Kamu menghembuskan napas lega usai menampilkan tiga buah lagu milikmu tanpa hambatan yang berarti. Meski cuaca panas, ditambah dengan lampu sorot yang seolah membakar dan membuat tubuhmu banjir keringat, kamu cukup puas telah menampilkan yang terbaik yang kamu bisa.</p>

<p>Manajermu, Yachi, tergopoh-gopoh menghampirimu sembari menyodorkan sebotol air mineral dingin dan satu kotak kecil tisu untuk mengeringkan kulit wajah dan lehermu dari keringat.</p>

<p><em>“That was an amazing performance, Cher!</em> Langsung balik ke <em>waiting room</em> ya, istirahat dulu,” ujar Yachi lalu menghambur pergi menghampiri beberapa <em>staff</em> setelah menyodorkan sebotol air dan tisu yang semula ia bawa kepadamu.</p>

<p>“Jangan macem-macem selama aku nggak ada!” sambungnya dengan nada mengancam yang hanya kamu balas dengan tawa lebar dan memberikan acungan jempol kepadanya.</p>

<p>Kamu dapat menangkap kekhawatirannya yang takut kamu diam-diam akan menemui kekasihmu, Semi Eita, di sela-sela acara festival musik yang menjadikanmu dan Eita sebagai salah satu pengisi acara. Namun, jika kamu sudah berusaha menghindar tetapi lelaki itu malah menunggumu di koridor sepi dekat ruang tunggu khusus yang disediakan untukmu, kamu bisa apa selain tersenyum senang?</p>

<p><em>“Can I steal your kiss?”</em> bisik Eita ketika kamu tiba.</p>

<p>Bibirmu melengkung tanpa sadar, menampilkan seulas senyum tipis usai mendengarnya berkata demikian beraninya di tempat yang berpotensi membuat kalian tertangkap basah tengah berduaan.</p>

<p><em>“Is that all I get for my performance?”</em> guraumu.</p>

<p>Eita terkekeh mendengar responmu, <em>“Darl, you have no idea how much I was holding back from coming on stage,</em> terus cium kamu di depan semua orang.”</p>

<p>Dia habis mabuk kecubung atau apa, sih? Benar-benar tidak ada takut-takutnya berkata seperti itu di tempat seramai ini.</p>

<p>Kamu melihat sekeliling, memastikan tidak ada seorang pun yang menyaksikan maupun mendengar ucapannya barusan. Lalu kamu menarik lengannya untuk masuk ke dalam ruang tunggu milikmu dan membanjirinya dengan omelan.</p>

<p>“Sem? Lu udah gila, ya? Kalo kedengeran <em>staff</em> gimana?” ocehmu yang mendapat respon lain darinya.</p>

<p>Bukannya merasa bersalah atau apa, Eita malah meraih lehermu yang terekspos sempurna, membelainya dengan tangannya yang sedikit kasar akibat bermain gitar dan voli, meninggalkan sensasi geli yang sedikit membuatmu bergidik. Jarinya bergerak menyusuri rahang dan pipimu sebelum ia memagut bibirmu guna mencegahmu mengoceh terlalu panjang kepadanya.</p>

<p>Kamu mendorong dadanya dan melepaskan ciumannya yang berbahaya sekaligus menggoda, “Eita...”</p>

<p>Bukan Eita namanya jika berhenti menggodamu. Ia tertawa dan menjilati bibirnya yang masih sedikit basah bekas menciummu, lalu ia menekan tubuhmu hingga punggungmu bersentuhan dengan daun pintu yang telah kamu tutup sepenuhnya.</p>

<p>“Eita, <em>please</em> jangan sekarang,” ujarmu sembari menatap wajahnya yang hanya berjarak dua jengkal saja dari wajahmu. Sedangkan netra cokelatnya menatapmu dalam-dalam seolah telah terkunci pada sosokmu yang tengah terpojok.</p>

<p><em>“Darl, no one will find us here.</em> Semuanya lagi sibuk masing-masing, sebentar aja,” tuturnya berusaha meyakinkanmu.</p>

<p>Bukannya kamu tidak menginginkan waktu berduaan dengannya, mengingat kesibukan kalian berdua yang semakin menguras waktu dan tenaga hingga membuat kalian jarang bertatap wajah dan bersentuhan hingga membuat saat-saat seperti ini begitu mahal dan langka. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bemesraan, sangat riskan bila seseorang menyadari dan menemukanmu tengah berduaan dengannya dalam ruangan tertutup seperti ini.</p>

<p>“Sumpah, cuma sebentar,” imbuhnya sembari membelai suraimu yang semerah buah ceri matang.</p>

<p>Kamu membuang napasmu kasar, menolaknya mati-matian dan beradu debat dengannya hanya akan memperlebar peluang untuk tertangkap basah oleh <em>staff</em> yang sesekali berkeliaran di lorong. Terlebih, ruangan khusus <em>artist</em> yang disediakan untukmu tengah kosong, Yachi, manajer sekaligus sahabat karibmu itu tampaknya sedang sibuk mengurus hal lain, jadi ini adalah satu-satunya kesempatan untukmu dan Eita bemesraan sebelum kembali terpisah oleh kesibukan.</p>

<p>Eita tersenyum lebar, matanya mengerling nakal ketika kamu mengiyakan permintaannya yang benar-benar ceroboh dan gila ini. Kentara sekali bahwa ia benar-benar senang dapat mencium dan menyentuhmu sesuka hati.</p>

<p>Kedua tangannya menangkup kedua pipimu lalu mencium bibir meronamu sembari lidahnya meliuk dan berdansa dengan lidahmu seolah diiringi oleh lantunan melodi indah. Perlahan sebelah tangannya bergerak, turun ke rahang, leher, lalu berhenti di tengkukmu dan menekannya. Sedangkan tangannya yang sebelah turun hingga mendapat posisi yang pas di punggungmu dan mendorongnya perlahan guna merapatkan tubuhmu padanya, membuat ciuman kali ini terasa panas hingga membuat kepalamu meleleh dan tanpa sadar kedua tanganmu telah mengalung manja pada bahunya.</p>

<p>Semi Eita benar-benar mampu membuatmu tergila-gila. Tidak hanya lantunan musiknya yang mampu memanjakan indera pendengaranmu hingga membuat tubuhmu merinding dan merona, tapi segala hal pada dirinya mampu membuatmu terpesona dan makin jatuh cinta.</p>

<p>Ciumannya yang terasa manis dan indah, sentuhan tangannya yang dengan lembut menyentuhmu, dan segala perlakuannya yang penuh sayang membuatmu kembali merasa hidup. Hari-hari yang memuakkan dan melelahkan seolah terobati olehnya.</p>

<p>Begitu pula bagi Eita. Hadirmu memberikan goresan warna baru dalam dinding hidupnya yang terasa hambar dan kelabu. Meski ia memiliki segalanya, mulai dari uang hingga popularitas, namun kehidupannya sebagai <em>public figure</em> membuatnya merasa kesepian dan terkekang. Ia tidak bisa bepergian sesuka hati, bertemu dengan sembarang orang hanya untuk duduk mengobrol sembari menyesap kopi, memposting hal-hal yang disukai, bahkan ia tidak bisa meluapkan isi hati meski rasanya ingin memaki sebab segala gerak gerik dan tutur katanya akan dilihat oleh penggemar dan wartawan, dan bukannya tidak mungkin bahwa ada segelintir orang yang benar-benar memantaunya hanya untuk memastikan kejatuhannya dalam berkarir.</p>

<p>Saliva yang menyatu telah membasahi bibir hingga dagumu ketika lidahnya menyudahi dansa menawannya yang hampir membuatmu hilang akal.</p>

<p>Pakaianmu yang serba mini tentu saja juga memengaruhi akal sehatnya. Terlebih ketika pinggulmu turun hingga membuat salah satu pahanya yang berada diantara kedua pangkal pahamu terasa hangat.</p>

<p>“Eita, fans lu kalo tau lu jago ciuman pasti makin gila?” ucapmu yang menuai kekehan darinya. Ia sedikit paham bahwa ketika kamu memanggilnya “Eita” alih-aliah “Sem” atau “Semi”, artinya kamu tengah marah, terkejut, atau ingin bercumbu mesra dengannya.</p>

<p>“Fans lu juga bakal makin gila kalo liat lu kayak gini, <em>Cher,”</em> balasnya sembari menyingkap rok mini yang kamu kenakan dan membelai lembut pahamu yang terbalut oleh kain <em>stocking</em> tipis berwarna hitam, namun segera menuai tepisan darimu.</p>

<p>“Gue kira cuma mau ciuman?” ujarmu.</p>

<p>“Emang lu puas kalo cuma ciuman?” balasnya dengan balik bertanya.</p>

<p>Kamu tertawa kecil mendengarnya, <em>“At least,</em> gue masih bisa nahan.”</p>

<p><em>“Really?</em> Gua juga bisa,” jawabnya yang sepenuhnya dusta.</p>

<p>“Eita, kita masih ada <em>last perform</em>, loh. Lu yakin bakal tampil begini di depan fans lu?” tanyamu sembari menyentuh pangkal pahanya yang menonjol dan padat. Ia hanya meringis ketika kejantanannya mendapat perhatian dan belaian lembut darimu, tidak lagi mampu membantah.</p>

<p>“Kali ini di mulut aja, ya,” ujarmu yang perlahan mulai berjongkok hingga kepalamu sejajar dengan pinggul ramping pria berambut <em>ash blonde</em> di hadapanmu itu.</p>

<p>“Yakin?” tanyanya sembari mengangkat dagumu dengan sebelah tangannya yang mendapat anggukan darimu. Kemudian Eita mulai melepaskan gesper, kancing, dan resleting pada celana hitam miliknya, lalu dengan liarnya tanganmu menurunkan celana dalam yang ia kenakan hingga menampilkan kejantanannya yang sudah mengeras, hangat, dan lembab.</p>

<p>Kamu merasakan miliknya dengan kedua tanganmu. Merabanya, memijitnya, mengendus aroma khas miliknya yang begitu kuat hingga membuat kepalamu sedikit berkunang, lalu lidahmu terjulur untuk menjilati ujung penisnya yang sudah sedikit basah.</p>

<p>Miliknya tidak terlalu besar, tapi selalu terasa penuh dalam genggaman maupun mulutmu. Dan ukurannya yang panjang sering kali membuatmu tersedak dan terkadang membuatmu menjerit dan menggelinjang ketika menyodok bagian terdalam dari lubang vaginamu.</p>

<p>Pandanganmu seolah mengabur dan hanya terfokus pada gumpalan daging tebal yang ujungnya sudah memasuki mulutmu yang hangat dan penuh akan saliva. Namun, sesekali kamu mendongak menatap sang kekasih yang wajahnya merona dan dadanya naik turun seakan kesulitan bernapas. Tangannya menyentuh kepalamu, dan ibu jarinya mengusap pucuk kepalamu, membuatmu seolah-olah menjadi anak baik dalam situasi yang menyalahi moral seperti ini.</p>

<p>Kondisi cuaca yang panas dan gerah ini membuat aroma tubuh milik Eita menguar lebih pekat, dan entah kenapa malah membuatmu makin terangsang untuk melumat kejantanannya, dari ujung kepala penisnya, batang, pangkal, dan berujung pada dua gundukan di bawahnya yang kini kamu hisap dengan mulut basahmu hingga membuat Eita mengerang dan melenguh. Bahkan tangan kirinya ia gunakan untuk menumpu tubuh gemetarnya pada daun pintu yang tetutup, dan sebelah tangannya sedikit mencengkeram kepalamu hingga membuat rambutmu sedikit berantakan.</p>

<p>“Gua mau keluar...” ujar Eita sembari berusaha menjauhkan kepalamu. Namun bukannya menjauh, kamu malah makin menyiksanya dengan menempelkan bibirmu selagi kamu berbicara menanggapi ucapannya.</p>

<p>“Ke mana?”</p>

<p>“Ke luar negeri,” sahut Eita tanpa pikir panjang.</p>

<p>Kamu merespon candaannya dengan memasukkan kembali ujung penisnya hingga separuhnya memenuhi mulutmu sembari tanganmu memainkan gundukan buah zakarnya, membuatmu kesenangan ketika mendengar desahannya mencelos keluar dari tenggorokannya.</p>

<p>“Sumpah, ini mau muncrat,” imbuhnya.</p>

<p>“Mungah aha,” sahutmu dengan gumaman yang tidak jelas sebab mulutmu tengah tersumpal oleh penisnya yang penuh. <em>(“Muncrat aja”)</em></p>

<p>Eita mengerang namun ia tak lantas mengeluarkan cairan hangat kental miliknya, melainkan ia pegangi kepalamu dan menekannya selagi ia gerakkan pinggulnya hingga membuat ujung penisnya menyodok tenggorokanmu beberapa kali, membuatmu kesulitan bernapas dan hampir muntah hingga air mata dan keringatmu bercucuran.</p>

<p>Eita tidak banyak bicara, membuatmu hanya mempu mendengar suara becek mulutmu yang tengah dijejali oleh penisnya, debaran jantungmu yang rasanya berdetak hingga ke kepala, erangan dan deru napas Eita yang berat, serta suara ketukan di pintu yang membuat jantungmu nyaris meledak.</p>

<p><em>“Cher?</em> Pintunya kok dikunci? Tidur kah?” tanya seorang perempuan yang kamu yakini adalah manajermu sendiri, Yachi, dari balik pintu.</p>

<p><em>“Fuck,”</em> gumam Eita yang penisnya menyemburkan cairan kental hangat dalam mulutmu hingga membuatmu terbatuk-batuk.</p>

<p>Eita menarik keluar penisnya dari mulutmu yang masih ternganga dengan lidah terjulur usai menelan sperma miliknya yang terasa sedikit asin. Kakimu yang semula berlutut kini melemas hingga terduduk dengan celana dalam yang basah kuyup, dan mungkin telah merembes ke luar hingga <em>stocking</em> yang kamu kenakan cukup lembab di bagian selangkangan.</p>

<p>Netra cokelat milik Eita mengedar ke sepenjuru ruangan hingga menemukan sekotak tisu di atas meja riasmu lalu memelesat pergi mengambilnya guna mengelap penis basahnya dan juga wajah hingga lehermu dari bukti-bukti kenakalan kalian berdua di tempat ini.</p>

<p>Lagi-lagi Yachi menggedor pintu dan meneriaki namamu, namun tentu saja kamu tidak meresponnya hingga terdengar suaranya berbincang dengan salah satu <em>staff</em> perihal kunci cadangan untuk membuka ruanganmu, lalu lorong kembali sunyi.</p>

<p>Kamu memutar kunci dan membuka pintu perlahan-lahan lalu kepalamu melongok keluar, melihat kanan dan kiri guna memastikan kondisi cukup aman untuk Eita keluar dari ruanganmu tanpa ketahuan.</p>

<p>“Kayaknya aman,” bisikmu memberinya kode untuk menyelinap keluar.</p>

<p>Tentu saja, Eita segera bergegas pergi dan kembali ke ruangannya sendiri yang berada di lorong lain dengan lancar dan aman. Semuanya terasa begitu mulus hingga tiba-tiba Yachi datang dengan seorang <em>staff</em> yang kamu duga telah membawa kunci cadangan.</p>

<p>“Astaga, kamu bikin orang panik aja! Ayo siap-siap, abis ini kamu <em>perform</em> lagi bareng Eita,” ujarnya sembari memberi kode kepada seorang <em>staff</em> tersebut untuk pergi setelah meminta maaf telah membuatnya sedikit kerepotan karena ulahmu yang Yachi sempat duga tertidur dalam ruangan.</p>

<p>“Hah? Sama Eita?” cetusmu dengan suara sedikit serak. Seingatmu, kamu beserta <em>artists</em> lainnya akan kembali tampil di penghujung acara dengan diiringi lantunan musik yang dimainkan oleh seorang <em>Disc Jockey</em> bernama Oikawa.</p>

<p>“DJ Oik masih <em>prepare</em>, pada minta kamu sama Eita buat ngisi dulu sambil nunggu,” jelas Yachi yang masih belum kamu pahami sepenuhnya.</p>

<p>“Kenapa harus sama Eita?” tanyamu, menuntut penjelasan darinya.</p>

<p>“Di medsos sempet rame soal Eita yang pengen <em>collab</em> sama kamu,” jawabnya.</p>

<p>“Jadi, ya.. ini momen bagus buat ngasih <em>fans</em> kalian kejutan. Lagian, bayarannya ditambah kok. Terus, nantinya kalian bakal lebih gampang ngasih alasan kalo ketahuan jalan berdua,” Yachi menambahkan ucapannya dan kini mulai terdengar masuk akal.</p>

<p>“Oke? Berarti gue ganti baju dulu, abis itu—”</p>

<p>Yachi menahanmu, “Gak usah, langsung ke panggung aja. Ini, minum dulu biar gak serak suaranya.”</p>

<p>“Udah gila ya? Mau bawain lagu apa aja gue gak tau.”</p>

<p>“Coba obrolin sama Eita sana. Kalian sering nyanyi bareng kalo ketemu, kan?” balas Yachi.</p>

<p>Ya, memang benar ucapannya. Namun terkadang melodi-melodi indah yang kalian lantunkan bersama tidak melulu lirik lagu penuh makna dan emosi yang biasa dinyanyikan di atas panggung maupun di studio rekaman. Melainkan juga melodi-melodi rahasia yang memang sengaja ingin kalian sembunyikan dari dunia. Cukup kalian berdua saja yang mendengarnya, cukup kamu dan Eita yang menikmati lantunan melodi indah satu sama lain yang mampu membelai jiwa hingga membuat tubuh bergetar dan dimabuk oleh cinta.</p>

<p>Tampaknya ini akan menjadi pengalaman gila selama kamu tampil di atas panggung. Kamu harus kembali berhadapan dengan kekasihmu yang baru saja memenuhi mulutmu dengan kejantanannya, menaiki panggung dan bersikap ceria meski celana dalammu dalam keadaan super basah dan lengket dengan lendir, ditambah lagi sekian banyak pasang mata akan memerhatikanmu. Sungguh, memikirkannya saja sudah membuat perutmu melilit dan bagian pangkal pahamu terasa kembali berdenyut-denyut.</p>

<hr/>

<blockquote><p><strong><em>©️ unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/hidden-melody</guid>
      <pubDate>Wed, 17 Jul 2024 15:52:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Wet</title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/wet?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;Toji Fushiguro x fem!reader&#xA;---&#xA;&#xA;  📝 3,460 words&#xA;  ⚠️ NSFW, explicit sexual content, foreplay, body fluids, squirting, penetration&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Langit bergemuruh, awan-awan kelabu menyebar menghalangi keriaan sang surya pada petang itu. Rintik-rintik hujan mulai membasahi jalanan, tidak peduli dengan orang-orang yang masih berlalu lalang mencari tempat untuk berteduh. &#xA;&#xA;Tiga puluh menit berlalu, sedangkan langit masih kelabu dan awan sendu semakin meneteskan airnya dengan deras, masih tampak enggan untuk membiarkan matahari bersinar kembali. Hal itu tentu saja membuatmu gusar, entah sampai kapan kamu akan menunggu hingga hujan reda sedangkan tubuhmu yang basah kuyup sudah mulai menggigil kedinginan. &#xA;&#xA;Kamu berteduh seorang diri di emperan sebuah ruko yang tutup, menunggu angkutan umum yang sudah lebih dari tiga puluh menit tidak kunjung tiba untuk kamu tumpangi. Sungguh sial dirimu hari ini, jika saja siang tadi kamu memastikan baterai ponselmu dalam keadaan penuh, mungkin saja sekarang kamu sudah merebahkan diri di kasur setelah melalui perjalanan menggunakan ojek online alih-alih menunggu dengan tidak pasti di bawah derasnya air hujan dan dinginnya terpaan angin. &#xA;&#xA;Menit demi menit berlalu, langit pun semakin gelap. Hujan yang terus mengguyur dan hembusan angin yang terasa menusuk hingga tulang makin membuat tubuhmu yang sudah sedingin es itu gemetar. Tanpa melihat cermin pun kamu sudah dapat memperkirakan sepucat apa wajahmu saat ini. &#xA;&#xA;Sempat terpikir olehmu untuk nekat berjalan kaki, namun kamu urungkan sebab khawatir akan membuat barang bawaanmu menjadi semakin basah dan rusak, dan lagi pula jarak yang perlu kamu tempuh terbilang cukup jauh. Bisa-bisa bukannya kembali pulang dengan selamat, kamu malah kembali pulang dengan kasihan di tangan Tuhan. &#xA;&#xA;Pasrah. Langit tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali tersenyum cerah dalam waktu dekat, membuatmu yang sudah sepucat bunga mawar seputih gading yang hampir layu hanya mampu menggosok-gosokkan kedua tangan demi menciptakan percikan-percikan kehangatan. &#xA;&#xA;Di kala hatimu sudah memasrahkan diri, Tuhan seperti memberimu sebuah pertolongan yang tidak pernah kamu sangka-sangka. &#xA;&#xA;Dari kejauhan, matamu menangkap sosok pria yang sangat kamu kenal tengah melajukan motor bertangki merah miliknya di bawah derasnya guyuran hujan, lalu ia lambatkan laju motornya dan berhenti tepat di depan emperan ruko kosong tempatmu berteduh. &#xA;&#xA;Pria itu sama kuyupnya denganmu dan hanya mengenakan helm untuk melindungi kepalanya dari derasnya hujan. Tampaknya kemeja putih yang ia kenakan benar-benar tidak ada gunanya. Kemeja putih tersebut tampak sedikit transparan akibat dibasahi hujan, dan tentu saja menyeplak jelas bentuk tubuhnya yang tegap, besar, dan berotot. Bahkan, beberapa kancing teratasnya lepas hingga mengekspos dada bidangnya yang terlihat padat, sekal, dan hangat. &#xA;&#xA;Sial, bukankah sebaiknya ia melepas saja pakaiannya yang benar-benar tidak berguna itu? &#xA;&#xA;&#34;Naik. Saya anter,&#34; titah pria itu dengan suara bariton yang berat hingga membuatmu gugup. &#xA;&#xA;&#34;Nggak usah, Mas,&#34; jawabmu meski gigimu sudah gemeletak menahan gigil. &#xA;&#xA;Mas Toji. &#xA;&#xA;Pria matang berstatus duda dengan wajah dan perawakan tubuh yang benar-benar memesona dan memanjakan mata, dan mungkin juga akan mampu memanjakan tubuhmu yang kedinginan itu dengan kehangatan yang mendebarkan dari setiap sentuhannya. Oh, tidak. Bukannya kamu ingin memfantasikan hal-hal cabul seperti itu dengannya, hanya saja, tubuhmu yang kedinginan ini benar-benar mendamba sebuah kehangatan. &#xA;&#xA;Dengan sembrononya ia tarik tanganmu yang tampak memucat itu agar kamu berdiri lebih dekat dengannya, membuat kehangatan kembali menyeruak dari dalam dadamu. &#xA;&#xA;&#34;Dingin banget tanganmu. Udah nunggu berapa lama?&#34; tanyanya sedikit terkejut dan masih memegangi pergelangan tanganmu. &#xA;&#xA;Kamu menggeleng pelan, tidak yakin ingin menjawab apa. &#xA;&#xA;Tanpa diduga, ia malah melepaskan helmnya dan memasangkannya ke kepalamu yang setengah basah. Lalu suara serak dan beratnya terdengar seperti tengah memerintahmu, &#34;Naik. Saya anter kamu pulang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Rumahku jauh, nanti Mas malah masuk angin kalo nganterin aku,&#34; cicitmu. &#xA;&#xA;&#34;Mending saya masuk angin, daripada lihat kamu mati kedinginan di sini,&#34; ucapnya sembari menarik gas pada stang motornya setelah kamu duduk di jok belakangnya. &#xA;&#xA;Dinginnya angin yang semula menusuk hingga tulang belulang tidak lagi kamu rasa, suara keras bulir-bulir air hujan yang begitu deras menghantam helm yang kamu kenakan juga tidak lagi kamu hiraukan. Satu-satunya yang kamu dengar hanyalah suara debaran jantungmu yang bertalu-talu hingga membuatmu sedikit kesulitan bernapas &#xA;&#xA;Tubuhmu merinding, entah karena gigil akibat dingin yang mencengkeram tubuhmu, atau karena kupu-kupu yang sayap-sayapnya terasa seolah menggelitik rongga perutmu ketika Toji memintamu untuk memegang pinggangnya yang sekokoh beton? Kamu tidak begitu mengerti. &#xA;&#xA;Kamu benar-benar tidak mengerti sikap pria yang pinggangnya tengah kamu rangkul di bawah guyuran hujan. Biasanya ia tampak tidak peduli dan hanya bercakap-cakap seperlunya saja denganmu. Sedangkan kali ini, tangan dinginnya menyentuh punggung tanganmu yang masih membelit pinggangnya seakan berusaha memberimu sedikit kehangatan. &#xA;&#xA;Gawat. Yang ia berikan bukanlah sekadar kehangatan, melainkan tubuhmu kini terasa seolah-olah terbakar. Panas. Membuat darahmu yang seperti terbakar itu berdesir-desir meski kulitmu masih sama dinginnya dengan balok-balok es setiap kali Toji menggenggam punggung tanganmu dengan tangan kirinya. &#xA;&#xA;&#34;Neduh di rumah saya dulu, ya,&#34; ucapnya yang tidak mampu kamu bantah sebab bibirmu sudah kaku akibat dinginnya udara petang kelabu itu. &#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Toji memarkirkan motornya di teras berukuran mungil di depan rumah kontrakan sederhana miliknya. Kamu mengekorinya masuk ke dalam dengan langkah gemetar dan gigi gemeletak menahan dingin yang rasanya kian menyiksa. &#xA;&#xA;Kamu mematung di depan pintu setelah Toji menutupnya, bingung ingin melakukan apa selain ingin cepat-cepat mencari kehangatan. Sedangkan Toji, ia segera melangkah cepat-cepat menuju kamarnya lalu kembali dengan membawakan handuk bersih dan kaos hitam berlengan panjang miliknya untukmu berganti. &#xA;&#xA;&#34;Ganti bajumu pakai ini, saya rebus air dulu buat kamu mandi,&#34; ujarnya yang ulurannya kamu terima dengan tangan gemetar. &#xA;&#xA;Demi Tuhan, saking dinginnya, kulitmu seperti mati rasa. Meski sudah mengeringkan tubuh basahmu dengan handuk dan berganti dengan pakaian kering, tubuhmu masih menggigil. Bahkan, mungkin saja membalut tubuhmu dengan selimut tebal juga tidak akan begitu membantu. &#xA;&#xA;Kamu bergelung di sudut sofa sederhana berwarna merah maroon, dengan kedua kaki telanjang yang kamu naikkan dan rapatkan ke dada lalu menutupinya dengan baju hitam kebesaran milik Toji yang tengah kamu kenakan. Mungkin rasanya akan lebih nyaman jika Toji yang merengkuh tubuhmu alih-alih harus meringkuk seperti ini. &#xA;&#xA;Menit demi menit berlalu hingga akhirnya Toji kembali dengan bertelanjang dada dan handuk yang membelit pinggangnya sembari membawa segelas minuman hangat yang uapnya mengepul-ngepul. Tampaknya ia segera menghampirimu setelah mandi, sebab aroma sabun masih tercium lembut dari kulitnya. &#xA;&#xA;Hangat. Rasanya hangat sekali tangannya ketika menyentuh pipimu. Andai ia menyentuh tubuhmu yang lain, pasti rasa dingin ini akan sirna. &#xA;&#xA;Ia duduk di sebelahmu, membantumu untuk meminum segelas minuman hangat yang semula ia bawakan. Aroma jahe menguar ketika kepulan asapnya menyentuh indera penciumanmu. Sejujurnya, kamu tidak begitu menyukai minuman rempah-rempah seperti ini. Namun, jika Toji, mungkin racun pun akan kamu minum jika ia yang menyuapi. &#xA;&#xA;Kehangatan terasa mengalir dari kerongkongan dan turun hingga lambung setelah kamu menyesapnya sedikit demi sedikit. Matamu mencuri-curi pandang ke arahnya hanya untuk melihat wajah tampan pria berusia matang itu, leher tebalnya, bahu tegapnya, dada bidangnya yang naik turun dengan ritmis, otot perutnya yang menggoda untuk disentuh, lalu belitan handuk yang melingkar di pinggangnya dan menutupi miliknya seperti sebuah rahasia yang entah mengapa membuat jantungmu berdebar-debar hebat hingga tersedak. &#xA;&#xA;&#34;Kamu gakpapa?&#34; tanya Toji dengan khawatir. &#xA;&#xA;Jangan. Jangan pedulikan jika tidak benar-benar khawatir. &#xA;&#xA;Kamu hanya mengangguk pelan dan makin merapatkan lututmu ke dada. &#xA;&#xA;&#34;Kamu duduk kaya gitu emang enak?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;Dengan malu-malu dan kamu menjawab, &#34;Mas Toji cuma kasih aku baju.&#34; &#xA;&#xA;Awalnya Toji tidak begitu paham maksudmu, tapi setelah matanya mendapati sebagian pahamu terekspos, ia baru menyadari bahwa kamu tidak mengenakan apa pun selain kaos hitam berlengan panjang miliknya yang tampak kebesaran di tubuhmu. &#xA;&#xA;&#34;Oh, maaf,&#34; ucapnya &#xA;&#xA;Toji memalingkan wajahnya, berusaha mengalihkan pikirannya dari fakta bahwa seorang gadis meringkuk tanpa busana di kediamannya dan hanya berbalutkan pakaian miliknya. Membuatnya teringat kepada seorang wanita yang dulu mengisi relung hatinya dengan kehangatan, cinta, dan kesenangan, sebelum akhirnya ia bakar hatinya hingga menjadi abu dan tak lagi mampu mencinta. &#xA;&#xA;Dulu, wanita itu kerap menggodanya dengan mengenakan pakaian-pakaian miliknya yang selalu saja tampak kebesaran tanpa memakai apapun lagi di dalamnya, bahkan celana. Benar-benar mirip sekali dengan yang kamu lakukan saat ini, meski tentu saja kamu mengenakannya tidak untuk menggodanya, hanya saja keadaan yang begitu memaksa. &#xA;&#xA;Toji bangkit dari duduknya, hendak pergi entah ke mana. Namun dengan tidak tahu dirinya, kamu menahan lengannya dan membuatnya menoleh ke arahmu yang masih meringkuk kedinginan. &#xA;&#xA;&#34;Saya mau ambil selimut, sekalian nyiapin air buat kamu mandi nanti,&#34; ucapnya. &#xA;&#xA;Kamu melepaskan lengannya yang terasa hangat dalam genggamanmu dengan berat. Lalu membiarkannya pergi. &#xA;&#xA;Kamu merenung dalam diam dengan posisi masih meringkuk mencari kehangatan dari sepotong pakaian milik Toji dan handuk yang menjadi sedikit basah setelah kamu pakai untuk mengeringkan tubuh dan juga rambutmu. &#xA;&#xA;Matamu mulai berat, lelah menahan gigil yang tiada usainya meski sudah berganti pakaian dan meminum rebusan jahe. Tetap dingin meski selimut tebal melingkar di tubuhmu. &#xA;&#xA;&#34;Masih dingin?&#34; tanya Toji yang baru saja melapisi tubuhmu dengan selimut. &#xA;&#xA;&#34;Dingin..&#34; cicitmu dengan lemah. &#xA;&#xA;Lagi-lagi Toji menyentuh pipimu, merasakan betapa dinginnya kulitmu dengan telapak tangannya. Bibirmu yang biasa secerah buah ceri, kini tampak pucat membiru. Bahkan bahumu yang biasa tegar dan tampak kokoh di matanya, meski dihujani banyak masalah, kini bergetar nyaris tumbang oleh dinginnya hujan dan angin yang menusuk-nusuk tulang. Dan kedua matamu yang biasa menatapnya dengan binar-binar cemerlang, kini tampak kuyu dan nyaris padam. &#xA;&#xA;Satu-satunya yang Toji pikirkan adalah gadis di hadapannya bisa saja mati akibat hipotermia setelah kuyup diterpa hujan dan disiksa oleh dinginnya angin dalam waktu yang lama. Bahkan minuman hangat tidak cukup ampuh untuk membuat tubuhnya kembali capai suhu normal. &#xA;&#xA;Tidak. Toji menepis pikirannya untuk memeluk tubuhmu dan memberikan sedikit kehangatan dari tubuhnya agar suhu tubuhmu kembali normal. Bisa-bisa kamu mengecap dirinya adalah seorang pria tua yang cabul! &#xA;&#xA;&#34;Hangat... tangan Mas Toji hangat,&#34; gumammu dengan suara bergetar sembari meraih tangannya yang masih menangkup pipimu, membuat Toji tekejut hingga matanya melebar. &#xA;&#xA;&#34;Maaf,&#34; ujarnya sebelum melepaskan tangannya dari genggamanmu dan menjauhkannya dari pipimu. &#xA;&#xA;Kelu. Jantungmu terasa mencelos akibat rasa malu atas kebodohanmu yang dengan tidak tahu dirinya menggenggam tangannya dan mencari-cari kehangatan darinya. Hingga tiba-tiba Toji menarik kembali selimut yang semula ia gunakan untuk menutupi tubuh gemetarmu, membuang handuk setengah basah yang semula bertengger di kepalamu, dan mencoba melepas kaos hitam berlengan panjang miliknya yang tengah kamu gunakan. &#xA;&#xA;Toji mengabaikan pandangan penuh keterkejutan darimu. Akal sehatnya mulai berkecamuk dan dadanya kembali berdegup seakan bara api pada hatinya kembali hidup. Luluh. Ia luluh melihatmu yang tampak demikian inginnya kehangatan darinya. Hatinya luluh dan inginkan kembali binaran matamu yang selalu curi-curi pandang padanya. Binaran mata yang tampak berani sekaligus malu-malu jika bertemu pandang dengannya. &#xA;&#xA;Ia duduk di sebelahmu, melepas handuk yang sejak tadi membelit pinggangnya, lalu menarik tubuh telanjangmu dan merapatkan punggungmu pada dada bidangnya. Kemudian ia gunakan kembali selimut yang semula ia bawa untuk membalut tubuh telanjang kalian berdua hingga kehangatan mulai menggelenyar pada tubuhmu. &#xA;&#xA;Perlakuan Toji tidak hanya memantik api kehangatan, tapi membuat tubuhmu mulai terasa seolah terbakar. Terbakar. Dan semakin terbakar ketika lengan kekarnya mendekap tubuhmu, dan deru napasnya yang hangat mulai menyapu tengkukmu. &#xA;&#xA;&#34;Hangat?&#34; bisiknya tepat di telingamu, membuat semburat merah muda timbul di telinga dan juga pipimu. &#xA;&#xA;&#34;Iya..&#34; jawabmu. &#xA;&#xA;Toji tidak melakukan hal lain selain memeluk erat tubuhmu. Ia terus memelukmu dan memastikan bahwa rasa hangat telah menganggantikan rasa dingin yang semula menyiksamu. Sedangkan kamu, pikiranmu sudah dipenuhi dengan berbagai macam adegan erotis bersama pria itu. &#xA;&#xA;Bagaimana tidak? Berduaan dengan seorang pria yang diam-diam kamu sukai dan dipeluk erat-erat olehnya dalam keadaan tanpa busana, bukankah wajar jika kamu berpikir ia akan melakukan hal lain selain berpelukan? &#xA;&#xA;Jantungmu bertalu-talu hingga napasmu menjadi berat dan memburu kala pikiranmu dengan gilanya membayangkan tangan kekarnya yang besar dan hangat membekap kedua bongkahan kenyal di dadamu seperti sekarang ini. Tunggu. Tampaknya ini bukanlah khayalanmu semata. Tangannya benar-benar berada di dadamu, membuatmu sedikit sesak karena jantungmu terasa seakan ingin meledak. &#xA;&#xA;Sesuatu yang terasa lembut, hangat, dan sedikit basah menyentuh tengkuk dan bahumu. Dan sedetik kemudian rasa nyeri yang tiba-tiba mendera membuatmu sedikit memekik, namun ia tidak lantas melepas gigitannya. &#xA;&#xA;&#34;Mas..&#34; panggilmu yang tidak mendapat respon darinya. &#xA;&#xA;&#34;Mas Toji..&#34; panggilmu lagi. &#xA;&#xA;&#34;Jangan panggil nama saya lagi, kalo kamu gak mau lihat saya lepas kendali,&#34; ujarnya usai melepas gigitannya dan mengendurkan pelukannya. &#xA;&#xA;Ia tidak berbohong. Ia benar-benar akan lepas kendali jika kamu memanggil namanya dengan suara lembut dalam rengkuhannya seperti ini. Mungkin tidak hanya kecupan dan gigitan di bahu yang akan kamu terima, mungkin ia akan membuatmu merasakan hal lain. Hal-hal lain yang sejak tadi mengusik pikiranmu hingga membuat tubuhmu seolah terbakar oleh gairah gila bercinta dengannya. Benar-benar pikiran yang gila hingga membuat bagian bawah tubuhmu berkedut dengan hebatnya. &#xA;&#xA;Sehingga tentu saja kamu kembali memanggil namanya seolah menguji kebenaran atas ucapannya barusan, &#xA;&#xA;&#34;Mas Toji..&#34; &#xA;&#xA;Panggilan singkat yang memiliki arti bahwa kamu memang menginginkannya lepas kendali hingga membuat pikiranmu kacau dan hanya diisi oleh dirinya. &#xA;&#xA;Lantas saja, Toji segera memagut bibirmu dan melumatnya seolah ia telah lama menunggu untuk itu. &#xA;&#xA;&#34;Saya duda,&#34; ujarnya di sela-sela ciuman. &#xA;&#xA;&#34;Aku tau,&#34; jawabmu lalu mengecup bibir basahnya. &#xA;&#xA;Ia kembali melumat bibirmu dengan lembut hingga membuat kepala dan tubuhmu seolah meleleh karenanya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu masih muda. Banyak laki-laki muda yang lebih pantas sama kamu,&#34; ucapnya ketika melepas ciumannya, memberimu jeda untuk menghirup kembali oksigen yang hampir menipis. &#xA;&#xA;&#34;Saya udah tua,&#34; sambungnya. &#xA;&#xA;Kamu tidak lantas menimpali karena paru-parumu masih perlu lebih banyak oksigen. &#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34; Toji menjilati bibirmu yang masih terasa dingin meski warna cantiknya sudah kembali menghiasi. &#xA;&#xA;&#34;Aku maunya Mas Toji..&#34; jawabmu lalu menerima uluran lidahnya untuk berdansa hingga bibir dan dagumu sedikit basah oleh saliva. &#xA;&#xA;Tubuhmu tidak lagi merasa kedinginan. Suhu panas pada tubuh kalian yang berada di bawah balutan selimut benar-benar membuatmu merasa hangat, bahkan tubuhmu mulai sedikit berkeringat. Entah karena selimut yang membalut atau karena aktifitas gila yang tengah kalian lakukan bersama. &#xA;&#xA;Rasa merinding merayap dari ujung kepala hingga ujung kaki ketika tangannya meremas-remas payudaramu, lalu sebelah tangannya bergerak turun hingga ke pusar, dan terus turun sampai jarinya menemukan sesuatu yang hangat, berdenyut-denyut liar, dan basah oleh cairan lendir. &#xA;&#xA;Benar-benar tega. Ia biarkan tubuhmu menggelinjang hebat akibat rangsangan gila yang ia berikan pada mulutmu yang terus ia buat sibuk dengan lidahnya, pada payudaramu yang ia mainkan dengan tangan kanannya, dan pada klitoris serta lubang vaginamu yang berkedut gila-gilaan ketika jarinya menjamah bagian dalam secara bersamaan. &#xA;&#xA;Sepertinya, pria berusia matang dengan segudang pengalaman benar-benar mampu memorak-porandakan pikiranmu hingga tidak lagi bisa memikirkan apapun selain sosoknya. &#xA;&#xA;&#34;Mas..nghhh... Mas Toji...&#34; lenguhmu sembari memegangi lengannya yang sama berkeringatnya denganmu. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa? Enak?&#34; tanyanya yang masih sibuk memanjakan putingmu yang mengeras, klitorismu yang memerah, dan vaginamu yang terus meluapkan cairan kental berwarna bening. &#xA;&#xA;&#34;Mas.. udah..&#34; cicitmu yang menuai tawa renyah darinya. &#xA;&#xA;&#34;Apanya yang udah? Kamu keenakan sampe ngangkang lebar gini, loh. Masa udahan?&#34; balasnya yang terus menerus menggerakkan jari-jarinya dalam lubang senggamamu. &#xA;&#xA;&#34;Akhh.. Mas.. udah–nghh.. nanti pipis,&#34; racaumu yang menahan rasa merinding di kepala dan seluruh tubuh, rasa seperti ingin mengeluarkan cairan kencing saat itu juga. &#xA;&#xA;Toji tidak menghiraukannya dan malah semakin memberimu stimulasi seperti mencubit klitoris dan putingmu hingga membuat tubuhmu mengejang dan lubang senggamamu memuncratkan cairan bening hingga membuat tangan, sofa, serta selimutnya basah. &#xA;&#xA;Tubuhmu limbung, terkulai lemas dalam rengkuhannya yang sangat kokoh menyangga tubuh basahmu. Kepalamu bersandar di dadanya yang tampak mengilap oleh keringat, sedangkan Toji sekali lagi melumat bibirmu yang tampak lembab oleh saliva. &#xA;&#xA;Nikmat, setiap sentuhannya pada tubuhmu sudah membuatmu dimabuk kepayang hingga bergetar dan mengejang penuh gairah dalam dekapannya. Pikiranmu mulai menerawang jauh, kenikmatan seperti apa lagi yang mampu ia berikan dengan miliknya yang sudah menegang dan terasa hangat menyentuh bokong telanjangmu itu? &#xA;&#xA;&#34;Jangan gerak-gerak,&#34; bisiknya sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu. &#xA;&#xA;Bagaimana bisa pinggulmu diam tanpa menggeliat seolah menggoda penisnya yang terus bergesekan dengan belahan bokongmu, jika jemarinya terus meremas-remas dan memainkan putingmu dengan liarnya? &#xA;&#xA;&#34;Mas.. hhh.. jangan dipelintir..&#34; cicitmu dengan suara parau dan patah-patah. &#xA;&#xA;&#34;Terus maunya diapain? Dicubit? Ditarik? Apa mau diemut?&#34; tanyanya sembari mencubit dan menarik putingmu hingga membuat tubuhmu bergetar dan punggungmu meliuk-liuk diatas dadanya. &#xA;&#xA;Kamu hampir gila, tubuhmu memanas, debaran jantungmu semakin keras, napasmu menjadi berat dan tersengal-sengal. Tubuhmu mulai bergerak seenaknya sendiri meski mulutmu terus berkata untuk berhenti. Pinggulmu menggeliat hingga bokongmu terus menerus memberikan stimulasi gila pada kejantanan milik Toji yang semakin menegang dan berkedut seakan siap untuk memuaskan pikiran-pikiran erotis yang sejak tadi memenuhi kepalamu. &#xA;&#xA;Suara lenguhan yang berat dari Toji menggelitik telinga dan juga perutmu seolah ada kupu-kupu yang mengepakkan sayap lembutnya di sana, membuatmu merasa merasa senang karena tahu bahwa tidak hanya dirimu yang menikmati momen gila ini. &#xA;&#xA;Telapak tangan milik Toji yang basah dan licin oleh lendir mulai merayap menyusuri lekuk pinggangmu, perutmu, pinggulmu, lalu berhenti di pahamu dan mencengkramnya. &#xA;&#xA;Penuh, rasanya rongga vaginamu sangat penuh ketika Toji menjejalkan kejantanannya setelah ia angkat kedua pahamu yang sejak tadi memang sudah terentang akibat jemari nakalnya yang memainkan liang vagina dan klitorismu tanpa ampun. &#xA;&#xA;Toji mengeraskan rahangnya, sedangkan kamu merintih dan melenguh sebab kewanitaanmu tengah dijajah oleh rudal besar miliknya. &#xA;&#xA;&#34;Mas Toji..&#34; rintihmu yang mendapat sambutan hangat oleh mulutnya yang melumat bibirmu agar tidak terus meracau dan hanya fokus dengannya. &#xA;&#xA;Tampaknya tidak hanya bibir yang saling melumat, vaginamu turut melumat penis besar milik Toji yang bertengger di dalamnya. Membuat Toji memejamkan matanya dan semakin terbakar oleh gairah hingga tangannya tidak berhenti menggerayangi tubuh licinmu dan memainkan kedua gundukan kembar yang sekal dan sensitif di dadamu. &#xA;&#xA;Toji kini meletakkan kembali tangannya di pangkal kedua pahamu, mengangkatnya sedikit dan menggerakkan pinggulnya naik turun, menciptakan sensasi gila seakan dilubangi oleh miliknya yang besar dan tebal itu hingga memenuhi seluruh rongga vaginamu. Tidak, bahkan miliknya berhasil membuat lubang sempitmu itu meregang menyesuaikan ukuran miliknya. &#xA;&#xA;Tubuhmu menggelinjang hingga beberapa kali punggungmu terantuk dada bidangnya yang padat dan basah oleh keringat. &#xA;&#xA;Selimut yang semula menyelimuti kedua tubuh telanjangmu dan Toji kini tersingkap, luruh hingga mengekspos posisi dan kegiatan penuh nafsu kalian di bawah cahaya lampu yang berpendar cerah. Toji semakin gila-gilaan menghujam lubang sempitmu hingga membuat otakmu mendadak kosong dan kesulitan berbicara. &#xA;&#xA;Toji menggeram dan lenguhan darimu seakan menyahutinya untuk terus membuat tubuhmu kelimpungan tak berdaya oleh kenikmatan dan kehangatan yang ia ciptakan. &#xA;&#xA;&#34;Mas—nghh.. Mas Toji..&#34; desahmu yang membuat Toji makin hilang akal dan makin mempercepat hujamannya. &#xA;&#xA;Baginya, suara lemahmu yang bergetar saat memanggil namanya terdengar sangat menggairahkan, membuat hatinya yang sudah lama padam kembali memanas, hangat, dan terbakar. Sangat menggoda hingga ia tidak mampu menahan dirinya untuk tidak membuat tubuhmu menggelinjang kenikmatan dan menyuguhi ekspresi cantik yang erotis di hadapannya. &#xA;&#xA;&#34;Lagi, panggil nama saya lagi,&#34; pintanya. &#xA;&#xA;&#34;Mas Toji..&#34; panggilmu sekali lagi yang menuai erangan darinya dan seketika lubang sensitifmu yang tengah ia jajaki semakin terasa sesak, penuh, dan hangat dengan cairan kental miliknya. Semakin penuh hingga cairannya meluap ketika Toji menarik keluar penisnya yang melemas. &#xA;&#xA;Tubuhmu menggelinjang diatas dadanya. Desahan mencelos keluar dari mulutmu yang sedikit menganga, dan cairan bening mengalir dari sudut matamu yang menatap langit-langit dengan lelahnya. &#xA;&#xA;Toji melepas cengkraman pada pangkal pahamu dan meninggalkan bekas kemerahan diatasnya. Lalu kedua lengan kekarnya mendekap tubuh basah dan hangatmu yang bergetar menahan rasa merinding di sekujur tubuh, mencium pucuk kepalamu yang masih setengah basah, yang mungkin kali ini tidak hanya basah oleh hujan, melainkan telah bercampur dengan keringat. &#xA;&#xA;Selesai? &#xA;&#xA;Apakah malam yang terasa lebih panas dari jilatan api unggun, lebih menggairahkan dari ciuman pertama, dan lebih menyenangkan dari melihat tanggal merah di kalender ini harus selesai? &#xA;&#xA;Ah, rasanya kamu tidak ingin malam ini usai. Tidak ingin kehangatan dari tubuhnya, rasa nyaman dari dekapannya, dan rasa aman dari rengkuhan tangan kokohnya ini lenyap bersamaan dengan suara rintik hujan yang perlahan menghilang. &#xA;&#xA;Tangan gemetar dan lemahmu mulai bergerak menyusuri otot lengan miliknya yang masih mendekap tubuhmu lalu memeluknya seolah-olah ia akan menghilang jika kamu tidak menahannya. Tidak ada sepatah kata yang mampu kamu lontarkan, begitu pula Toji. Kalian sama-sama termangu oleh pikiran masing-masing, hanya membiarkan tubuh kalian saling berbicara dalam kebisuan. &#xA;&#xA;Rasa nyeri mulai menggelayuti hatimu, begitu tidak rela ketika Toji melonggarkan pelukannya. Tidak. Rasanya benar-benar tidak rela hingga membuat kedua matamu berkaca-kaca. Lidahmu terasa kelu meski jari tangan milik Toji mengajakmu bermain-main mesra. &#xA;&#xA;Tunggu. &#xA;&#xA;Toji benar-benar memasukkan kedua jari tangan kanannya ke dalam mulutmu! Ke dalam mulutmu yang terus akan merespon apapun yang Toji berikan. Mulutnya, lidahnya, jari-jari tangannya, dan bahkan kejantanannya yang kini terasa kembali menegang diantara belahan bokongmu. &#xA;&#xA;&#34;Air hangatnya keburu dingin,&#34; bisiknya, mengacu pada air hangat yang telah ia siapkan sebelumnya untukmu mandi. &#xA;&#xA;&#34;Mau saya mandikan sekarang?&#34; imbuhnya yang mendapat anggukan darimu. &#xA;&#xA;Tentu, bukan mandi namanya jika tubuhmu yang seharusnya dipenuhi busa dan harum sabun, malah dipenuhi oleh cairan mani yang membuat tubuhmu licin dan lengket dengan aroma khas yang sedikit membuat kepalamu sedikit pusing. &#xA;&#xA;Alih-alih duduk tenang sembari duguyuri air seperti calon pengantin, kamu malah berdiri dengan tangan Toji yang menahan sebelah pahamu yang terangkat dan yang sebelah lagi menahan pinggulmu sembari penisnya terus menghujammu hingga membuat vaginamu meluapkan cairan pelumas yang seolah tidak ada habisnya &#xA;&#xA;Sungguh. Bukan mandi namanya jika suara guyuran air yang seharusnya terdengar malah tergantikan oleh suara erotis dari penisnya yang sedang bercinta dengan vaginamu, suara erangannya, suara lenguhan, desahan, dan suara lemahmu ketika memekik atau memanggil namanya. &#xA;&#xA;Sang Waktu seolah menghentikan langkahnya dan membuatmu benar-benar tidak mampu menebak berapa lama pastinya kamu bersenggama dengan Toji di malam yang dingin dan basah oleh rintik hujan ini. Yang jelas, air hangat yang mulanya mengepulkan uap-uap panas kini telah kehilangan kehangatannya. Dan rasa dingin yang semula menyelimuti tubuhmu kini berganti dengan rasa hangat dan panas oleh kegiatan bercintamu dengannya. &#xA;&#xA;Bercinta, meski kamu sendiri tidak mengerti seperti apa perasaannya terhadapmu yang selalu mencinta dan mendambanya dalam diam.&#xA;&#xA;---&#xA;  ©️ unatoshiru]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><strong><em>Toji Fushiguro x fem!reader</em></strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>📝 <em>3,460 words</em>
⚠️ <strong><em>NSFW, explicit sexual content, foreplay, body fluids, squirting, penetration</em></strong></p></blockquote>

<hr/>



<p>Langit bergemuruh, awan-awan kelabu menyebar menghalangi keriaan sang surya pada petang itu. Rintik-rintik hujan mulai membasahi jalanan, tidak peduli dengan orang-orang yang masih berlalu lalang mencari tempat untuk berteduh.</p>

<p>Tiga puluh menit berlalu, sedangkan langit masih kelabu dan awan sendu semakin meneteskan airnya dengan deras, masih tampak enggan untuk membiarkan matahari bersinar kembali. Hal itu tentu saja membuatmu gusar, entah sampai kapan kamu akan menunggu hingga hujan reda sedangkan tubuhmu yang basah kuyup sudah mulai menggigil kedinginan.</p>

<p>Kamu berteduh seorang diri di emperan sebuah ruko yang tutup, menunggu angkutan umum yang sudah lebih dari tiga puluh menit tidak kunjung tiba untuk kamu tumpangi. Sungguh sial dirimu hari ini, jika saja siang tadi kamu memastikan baterai ponselmu dalam keadaan penuh, mungkin saja sekarang kamu sudah merebahkan diri di kasur setelah melalui perjalanan menggunakan ojek online alih-alih menunggu dengan tidak pasti di bawah derasnya air hujan dan dinginnya terpaan angin.</p>

<p>Menit demi menit berlalu, langit pun semakin gelap. Hujan yang terus mengguyur dan hembusan angin yang terasa menusuk hingga tulang makin membuat tubuhmu yang sudah sedingin es itu gemetar. Tanpa melihat cermin pun kamu sudah dapat memperkirakan sepucat apa wajahmu saat ini.</p>

<p>Sempat terpikir olehmu untuk nekat berjalan kaki, namun kamu urungkan sebab khawatir akan membuat barang bawaanmu menjadi semakin basah dan rusak, dan lagi pula jarak yang perlu kamu tempuh terbilang cukup jauh. Bisa-bisa bukannya kembali pulang dengan selamat, kamu malah kembali pulang dengan kasihan di tangan Tuhan.</p>

<p>Pasrah. Langit tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali tersenyum cerah dalam waktu dekat, membuatmu yang sudah sepucat bunga mawar seputih gading yang hampir layu hanya mampu menggosok-gosokkan kedua tangan demi menciptakan percikan-percikan kehangatan.</p>

<p>Di kala hatimu sudah memasrahkan diri, Tuhan seperti memberimu sebuah pertolongan yang tidak pernah kamu sangka-sangka.</p>

<p>Dari kejauhan, matamu menangkap sosok pria yang sangat kamu kenal tengah melajukan motor bertangki merah miliknya di bawah derasnya guyuran hujan, lalu ia lambatkan laju motornya dan berhenti tepat di depan emperan ruko kosong tempatmu berteduh.</p>

<p>Pria itu sama kuyupnya denganmu dan hanya mengenakan helm untuk melindungi kepalanya dari derasnya hujan. Tampaknya kemeja putih yang ia kenakan benar-benar tidak ada gunanya. Kemeja putih tersebut tampak sedikit transparan akibat dibasahi hujan, dan tentu saja menyeplak jelas bentuk tubuhnya yang tegap, besar, dan berotot. Bahkan, beberapa kancing teratasnya lepas hingga mengekspos dada bidangnya yang terlihat padat, sekal, dan hangat.</p>

<p>Sial, bukankah sebaiknya ia melepas saja pakaiannya yang benar-benar tidak berguna itu?</p>

<p>“Naik. Saya anter,” titah pria itu dengan suara bariton yang berat hingga membuatmu gugup.</p>

<p>“Nggak usah, Mas,” jawabmu meski gigimu sudah gemeletak menahan gigil.</p>

<p>Mas Toji.</p>

<p>Pria matang berstatus duda dengan wajah dan perawakan tubuh yang benar-benar memesona dan memanjakan mata, dan mungkin juga akan mampu memanjakan tubuhmu yang kedinginan itu dengan kehangatan yang mendebarkan dari setiap sentuhannya. Oh, tidak. Bukannya kamu ingin memfantasikan hal-hal cabul seperti itu dengannya, hanya saja, tubuhmu yang kedinginan ini benar-benar mendamba sebuah kehangatan.</p>

<p>Dengan sembrononya ia tarik tanganmu yang tampak memucat itu agar kamu berdiri lebih dekat dengannya, membuat kehangatan kembali menyeruak dari dalam dadamu.</p>

<p>“Dingin banget tanganmu. Udah nunggu berapa lama?” tanyanya sedikit terkejut dan masih memegangi pergelangan tanganmu.</p>

<p>Kamu menggeleng pelan, tidak yakin ingin menjawab apa.</p>

<p>Tanpa diduga, ia malah melepaskan helmnya dan memasangkannya ke kepalamu yang setengah basah. Lalu suara serak dan beratnya terdengar seperti tengah memerintahmu, “Naik. Saya anter kamu pulang.”</p>

<p>“Rumahku jauh, nanti Mas malah masuk angin kalo nganterin aku,” cicitmu.</p>

<p>“Mending saya masuk angin, daripada lihat kamu mati kedinginan di sini,” ucapnya sembari menarik gas pada stang motornya setelah kamu duduk di jok belakangnya.</p>

<p>Dinginnya angin yang semula menusuk hingga tulang belulang tidak lagi kamu rasa, suara keras bulir-bulir air hujan yang begitu deras menghantam helm yang kamu kenakan juga tidak lagi kamu hiraukan. Satu-satunya yang kamu dengar hanyalah suara debaran jantungmu yang bertalu-talu hingga membuatmu sedikit kesulitan bernapas</p>

<p>Tubuhmu merinding, entah karena gigil akibat dingin yang mencengkeram tubuhmu, atau karena kupu-kupu yang sayap-sayapnya terasa seolah menggelitik rongga perutmu ketika Toji memintamu untuk memegang pinggangnya yang sekokoh beton? Kamu tidak begitu mengerti.</p>

<p>Kamu benar-benar tidak mengerti sikap pria yang pinggangnya tengah kamu rangkul di bawah guyuran hujan. Biasanya ia tampak tidak peduli dan hanya bercakap-cakap seperlunya saja denganmu. Sedangkan kali ini, tangan dinginnya menyentuh punggung tanganmu yang masih membelit pinggangnya seakan berusaha memberimu sedikit kehangatan.</p>

<p>Gawat. Yang ia berikan bukanlah sekadar kehangatan, melainkan tubuhmu kini terasa seolah-olah terbakar. Panas. Membuat darahmu yang seperti terbakar itu berdesir-desir meski kulitmu masih sama dinginnya dengan balok-balok es setiap kali Toji menggenggam punggung tanganmu dengan tangan kirinya.</p>

<p>“Neduh di rumah saya dulu, ya,” ucapnya yang tidak mampu kamu bantah sebab bibirmu sudah kaku akibat dinginnya udara petang kelabu itu.</p>

<hr/>

<p>Toji memarkirkan motornya di teras berukuran mungil di depan rumah kontrakan sederhana miliknya. Kamu mengekorinya masuk ke dalam dengan langkah gemetar dan gigi gemeletak menahan dingin yang rasanya kian menyiksa.</p>

<p>Kamu mematung di depan pintu setelah Toji menutupnya, bingung ingin melakukan apa selain ingin cepat-cepat mencari kehangatan. Sedangkan Toji, ia segera melangkah cepat-cepat menuju kamarnya lalu kembali dengan membawakan handuk bersih dan kaos hitam berlengan panjang miliknya untukmu berganti.</p>

<p>“Ganti bajumu pakai ini, saya rebus air dulu buat kamu mandi,” ujarnya yang ulurannya kamu terima dengan tangan gemetar.</p>

<p>Demi Tuhan, saking dinginnya, kulitmu seperti mati rasa. Meski sudah mengeringkan tubuh basahmu dengan handuk dan berganti dengan pakaian kering, tubuhmu masih menggigil. Bahkan, mungkin saja membalut tubuhmu dengan selimut tebal juga tidak akan begitu membantu.</p>

<p>Kamu bergelung di sudut sofa sederhana berwarna merah maroon, dengan kedua kaki telanjang yang kamu naikkan dan rapatkan ke dada lalu menutupinya dengan baju hitam kebesaran milik Toji yang tengah kamu kenakan. Mungkin rasanya akan lebih nyaman jika Toji yang merengkuh tubuhmu alih-alih harus meringkuk seperti ini.</p>

<p>Menit demi menit berlalu hingga akhirnya Toji kembali dengan bertelanjang dada dan handuk yang membelit pinggangnya sembari membawa segelas minuman hangat yang uapnya mengepul-ngepul. Tampaknya ia segera menghampirimu setelah mandi, sebab aroma sabun masih tercium lembut dari kulitnya.</p>

<p>Hangat. Rasanya hangat sekali tangannya ketika menyentuh pipimu. Andai ia menyentuh tubuhmu yang lain, pasti rasa dingin ini akan sirna.</p>

<p>Ia duduk di sebelahmu, membantumu untuk meminum segelas minuman hangat yang semula ia bawakan. Aroma jahe menguar ketika kepulan asapnya menyentuh indera penciumanmu. Sejujurnya, kamu tidak begitu menyukai minuman rempah-rempah seperti ini. Namun, jika Toji, mungkin racun pun akan kamu minum jika ia yang menyuapi.</p>

<p>Kehangatan terasa mengalir dari kerongkongan dan turun hingga lambung setelah kamu menyesapnya sedikit demi sedikit. Matamu mencuri-curi pandang ke arahnya hanya untuk melihat wajah tampan pria berusia matang itu, leher tebalnya, bahu tegapnya, dada bidangnya yang naik turun dengan ritmis, otot perutnya yang menggoda untuk disentuh, lalu belitan handuk yang melingkar di pinggangnya dan menutupi miliknya seperti sebuah rahasia yang entah mengapa membuat jantungmu berdebar-debar hebat hingga tersedak.</p>

<p>“Kamu gakpapa?” tanya Toji dengan khawatir.</p>

<p>Jangan. Jangan pedulikan jika tidak benar-benar khawatir.</p>

<p>Kamu hanya mengangguk pelan dan makin merapatkan lututmu ke dada.</p>

<p>“Kamu duduk kaya gitu emang enak?” tanyanya.</p>

<p>Dengan malu-malu dan kamu menjawab, “Mas Toji cuma kasih aku baju.”</p>

<p>Awalnya Toji tidak begitu paham maksudmu, tapi setelah matanya mendapati sebagian pahamu terekspos, ia baru menyadari bahwa kamu tidak mengenakan apa pun selain kaos hitam berlengan panjang miliknya yang tampak kebesaran di tubuhmu.</p>

<p>“Oh, maaf,” ucapnya</p>

<p>Toji memalingkan wajahnya, berusaha mengalihkan pikirannya dari fakta bahwa seorang gadis meringkuk tanpa busana di kediamannya dan hanya berbalutkan pakaian miliknya. Membuatnya teringat kepada seorang wanita yang dulu mengisi relung hatinya dengan kehangatan, cinta, dan kesenangan, sebelum akhirnya ia bakar hatinya hingga menjadi abu dan tak lagi mampu mencinta.</p>

<p>Dulu, wanita itu kerap menggodanya dengan mengenakan pakaian-pakaian miliknya yang selalu saja tampak kebesaran tanpa memakai apapun lagi di dalamnya, bahkan celana. Benar-benar mirip sekali dengan yang kamu lakukan saat ini, meski tentu saja kamu mengenakannya tidak untuk menggodanya, hanya saja keadaan yang begitu memaksa.</p>

<p>Toji bangkit dari duduknya, hendak pergi entah ke mana. Namun dengan tidak tahu dirinya, kamu menahan lengannya dan membuatnya menoleh ke arahmu yang masih meringkuk kedinginan.</p>

<p>“Saya mau ambil selimut, sekalian nyiapin air buat kamu mandi nanti,” ucapnya.</p>

<p>Kamu melepaskan lengannya yang terasa hangat dalam genggamanmu dengan berat. Lalu membiarkannya pergi.</p>

<p>Kamu merenung dalam diam dengan posisi masih meringkuk mencari kehangatan dari sepotong pakaian milik Toji dan handuk yang menjadi sedikit basah setelah kamu pakai untuk mengeringkan tubuh dan juga rambutmu.</p>

<p>Matamu mulai berat, lelah menahan gigil yang tiada usainya meski sudah berganti pakaian dan meminum rebusan jahe. Tetap dingin meski selimut tebal melingkar di tubuhmu.</p>

<p>“Masih dingin?” tanya Toji yang baru saja melapisi tubuhmu dengan selimut.</p>

<p>“Dingin..” cicitmu dengan lemah.</p>

<p>Lagi-lagi Toji menyentuh pipimu, merasakan betapa dinginnya kulitmu dengan telapak tangannya. Bibirmu yang biasa secerah buah ceri, kini tampak pucat membiru. Bahkan bahumu yang biasa tegar dan tampak kokoh di matanya, meski dihujani banyak masalah, kini bergetar nyaris tumbang oleh dinginnya hujan dan angin yang menusuk-nusuk tulang. Dan kedua matamu yang biasa menatapnya dengan binar-binar cemerlang, kini tampak kuyu dan nyaris padam.</p>

<p>Satu-satunya yang Toji pikirkan adalah gadis di hadapannya bisa saja mati akibat hipotermia setelah kuyup diterpa hujan dan disiksa oleh dinginnya angin dalam waktu yang lama. Bahkan minuman hangat tidak cukup ampuh untuk membuat tubuhnya kembali capai suhu normal.</p>

<p>Tidak. Toji menepis pikirannya untuk memeluk tubuhmu dan memberikan sedikit kehangatan dari tubuhnya agar suhu tubuhmu kembali normal. Bisa-bisa kamu mengecap dirinya adalah seorang pria tua yang cabul!</p>

<p>“Hangat... tangan Mas Toji hangat,” gumammu dengan suara bergetar sembari meraih tangannya yang masih menangkup pipimu, membuat Toji tekejut hingga matanya melebar.</p>

<p>“Maaf,” ujarnya sebelum melepaskan tangannya dari genggamanmu dan menjauhkannya dari pipimu.</p>

<p>Kelu. Jantungmu terasa mencelos akibat rasa malu atas kebodohanmu yang dengan tidak tahu dirinya menggenggam tangannya dan mencari-cari kehangatan darinya. Hingga tiba-tiba Toji menarik kembali selimut yang semula ia gunakan untuk menutupi tubuh gemetarmu, membuang handuk setengah basah yang semula bertengger di kepalamu, dan mencoba melepas kaos hitam berlengan panjang miliknya yang tengah kamu gunakan.</p>

<p>Toji mengabaikan pandangan penuh keterkejutan darimu. Akal sehatnya mulai berkecamuk dan dadanya kembali berdegup seakan bara api pada hatinya kembali hidup. Luluh. Ia luluh melihatmu yang tampak demikian inginnya kehangatan darinya. Hatinya luluh dan inginkan kembali binaran matamu yang selalu curi-curi pandang padanya. Binaran mata yang tampak berani sekaligus malu-malu jika bertemu pandang dengannya.</p>

<p>Ia duduk di sebelahmu, melepas handuk yang sejak tadi membelit pinggangnya, lalu menarik tubuh telanjangmu dan merapatkan punggungmu pada dada bidangnya. Kemudian ia gunakan kembali selimut yang semula ia bawa untuk membalut tubuh telanjang kalian berdua hingga kehangatan mulai menggelenyar pada tubuhmu.</p>

<p>Perlakuan Toji tidak hanya memantik api kehangatan, tapi membuat tubuhmu mulai terasa seolah terbakar. Terbakar. Dan semakin terbakar ketika lengan kekarnya mendekap tubuhmu, dan deru napasnya yang hangat mulai menyapu tengkukmu.</p>

<p>“Hangat?” bisiknya tepat di telingamu, membuat semburat merah muda timbul di telinga dan juga pipimu.</p>

<p>“Iya..” jawabmu.</p>

<p>Toji tidak melakukan hal lain selain memeluk erat tubuhmu. Ia terus memelukmu dan memastikan bahwa rasa hangat telah menganggantikan rasa dingin yang semula menyiksamu. Sedangkan kamu, pikiranmu sudah dipenuhi dengan berbagai macam adegan erotis bersama pria itu.</p>

<p>Bagaimana tidak? Berduaan dengan seorang pria yang diam-diam kamu sukai dan dipeluk erat-erat olehnya dalam keadaan tanpa busana, bukankah wajar jika kamu berpikir ia akan melakukan hal lain selain berpelukan?</p>

<p>Jantungmu bertalu-talu hingga napasmu menjadi berat dan memburu kala pikiranmu dengan gilanya membayangkan tangan kekarnya yang besar dan hangat membekap kedua bongkahan kenyal di dadamu seperti sekarang ini. Tunggu. Tampaknya ini bukanlah khayalanmu semata. Tangannya benar-benar berada di dadamu, membuatmu sedikit sesak karena jantungmu terasa seakan ingin meledak.</p>

<p>Sesuatu yang terasa lembut, hangat, dan sedikit basah menyentuh tengkuk dan bahumu. Dan sedetik kemudian rasa nyeri yang tiba-tiba mendera membuatmu sedikit memekik, namun ia tidak lantas melepas gigitannya.</p>

<p>“Mas..” panggilmu yang tidak mendapat respon darinya.</p>

<p>“Mas Toji..” panggilmu lagi.</p>

<p>“Jangan panggil nama saya lagi, kalo kamu gak mau lihat saya lepas kendali,” ujarnya usai melepas gigitannya dan mengendurkan pelukannya.</p>

<p>Ia tidak berbohong. Ia benar-benar akan lepas kendali jika kamu memanggil namanya dengan suara lembut dalam rengkuhannya seperti ini. Mungkin tidak hanya kecupan dan gigitan di bahu yang akan kamu terima, mungkin ia akan membuatmu merasakan hal lain. Hal-hal lain yang sejak tadi mengusik pikiranmu hingga membuat tubuhmu seolah terbakar oleh gairah gila bercinta dengannya. Benar-benar pikiran yang gila hingga membuat bagian bawah tubuhmu berkedut dengan hebatnya.</p>

<p>Sehingga tentu saja kamu kembali memanggil namanya seolah menguji kebenaran atas ucapannya barusan,</p>

<p>“Mas Toji..”</p>

<p>Panggilan singkat yang memiliki arti bahwa kamu memang menginginkannya lepas kendali hingga membuat pikiranmu kacau dan hanya diisi oleh dirinya.</p>

<p>Lantas saja, Toji segera memagut bibirmu dan melumatnya seolah ia telah lama menunggu untuk itu.</p>

<p>“Saya duda,” ujarnya di sela-sela ciuman.</p>

<p>“Aku tau,” jawabmu lalu mengecup bibir basahnya.</p>

<p>Ia kembali melumat bibirmu dengan lembut hingga membuat kepala dan tubuhmu seolah meleleh karenanya.</p>

<p>“Kamu masih muda. Banyak laki-laki muda yang lebih pantas sama kamu,” ucapnya ketika melepas ciumannya, memberimu jeda untuk menghirup kembali oksigen yang hampir menipis.</p>

<p>“Saya udah tua,” sambungnya.</p>

<p>Kamu tidak lantas menimpali karena paru-parumu masih perlu lebih banyak oksigen.</p>

<p>“Hm?” Toji menjilati bibirmu yang masih terasa dingin meski warna cantiknya sudah kembali menghiasi.</p>

<p>“Aku maunya Mas Toji..” jawabmu lalu menerima uluran lidahnya untuk berdansa hingga bibir dan dagumu sedikit basah oleh saliva.</p>

<p>Tubuhmu tidak lagi merasa kedinginan. Suhu panas pada tubuh kalian yang berada di bawah balutan selimut benar-benar membuatmu merasa hangat, bahkan tubuhmu mulai sedikit berkeringat. Entah karena selimut yang membalut atau karena aktifitas gila yang tengah kalian lakukan bersama.</p>

<p>Rasa merinding merayap dari ujung kepala hingga ujung kaki ketika tangannya meremas-remas payudaramu, lalu sebelah tangannya bergerak turun hingga ke pusar, dan terus turun sampai jarinya menemukan sesuatu yang hangat, berdenyut-denyut liar, dan basah oleh cairan lendir.</p>

<p>Benar-benar tega. Ia biarkan tubuhmu menggelinjang hebat akibat rangsangan gila yang ia berikan pada mulutmu yang terus ia buat sibuk dengan lidahnya, pada payudaramu yang ia mainkan dengan tangan kanannya, dan pada klitoris serta lubang vaginamu yang berkedut gila-gilaan ketika jarinya menjamah bagian dalam secara bersamaan.</p>

<p>Sepertinya, pria berusia matang dengan segudang pengalaman benar-benar mampu memorak-porandakan pikiranmu hingga tidak lagi bisa memikirkan apapun selain sosoknya.</p>

<p>“Mas..nghhh... Mas Toji...” lenguhmu sembari memegangi lengannya yang sama berkeringatnya denganmu.</p>

<p>“Kenapa? Enak?” tanyanya yang masih sibuk memanjakan putingmu yang mengeras, klitorismu yang memerah, dan vaginamu yang terus meluapkan cairan kental berwarna bening.</p>

<p>“Mas.. udah..” cicitmu yang menuai tawa renyah darinya.</p>

<p>“Apanya yang udah? Kamu keenakan sampe ngangkang lebar gini, loh. Masa udahan?” balasnya yang terus menerus menggerakkan jari-jarinya dalam lubang senggamamu.</p>

<p>“Akhh.. Mas.. udah–nghh.. nanti pipis,” racaumu yang menahan rasa merinding di kepala dan seluruh tubuh, rasa seperti ingin mengeluarkan cairan kencing saat itu juga.</p>

<p>Toji tidak menghiraukannya dan malah semakin memberimu stimulasi seperti mencubit klitoris dan putingmu hingga membuat tubuhmu mengejang dan lubang senggamamu memuncratkan cairan bening hingga membuat tangan, sofa, serta selimutnya basah.</p>

<p>Tubuhmu limbung, terkulai lemas dalam rengkuhannya yang sangat kokoh menyangga tubuh basahmu. Kepalamu bersandar di dadanya yang tampak mengilap oleh keringat, sedangkan Toji sekali lagi melumat bibirmu yang tampak lembab oleh saliva.</p>

<p>Nikmat, setiap sentuhannya pada tubuhmu sudah membuatmu dimabuk kepayang hingga bergetar dan mengejang penuh gairah dalam dekapannya. Pikiranmu mulai menerawang jauh, kenikmatan seperti apa lagi yang mampu ia berikan dengan miliknya yang sudah menegang dan terasa hangat menyentuh bokong telanjangmu itu?</p>

<p>“Jangan gerak-gerak,” bisiknya sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu.</p>

<p>Bagaimana bisa pinggulmu diam tanpa menggeliat seolah menggoda penisnya yang terus bergesekan dengan belahan bokongmu, jika jemarinya terus meremas-remas dan memainkan putingmu dengan liarnya?</p>

<p>“Mas.. hhh.. jangan dipelintir..” cicitmu dengan suara parau dan patah-patah.</p>

<p>“Terus maunya diapain? Dicubit? Ditarik? Apa mau diemut?” tanyanya sembari mencubit dan menarik putingmu hingga membuat tubuhmu bergetar dan punggungmu meliuk-liuk diatas dadanya.</p>

<p>Kamu hampir gila, tubuhmu memanas, debaran jantungmu semakin keras, napasmu menjadi berat dan tersengal-sengal. Tubuhmu mulai bergerak seenaknya sendiri meski mulutmu terus berkata untuk berhenti. Pinggulmu menggeliat hingga bokongmu terus menerus memberikan stimulasi gila pada kejantanan milik Toji yang semakin menegang dan berkedut seakan siap untuk memuaskan pikiran-pikiran erotis yang sejak tadi memenuhi kepalamu.</p>

<p>Suara lenguhan yang berat dari Toji menggelitik telinga dan juga perutmu seolah ada kupu-kupu yang mengepakkan sayap lembutnya di sana, membuatmu merasa merasa senang karena tahu bahwa tidak hanya dirimu yang menikmati momen gila ini.</p>

<p>Telapak tangan milik Toji yang basah dan licin oleh lendir mulai merayap menyusuri lekuk pinggangmu, perutmu, pinggulmu, lalu berhenti di pahamu dan mencengkramnya.</p>

<p>Penuh, rasanya rongga vaginamu sangat penuh ketika Toji menjejalkan kejantanannya setelah ia angkat kedua pahamu yang sejak tadi memang sudah terentang akibat jemari nakalnya yang memainkan liang vagina dan klitorismu tanpa ampun.</p>

<p>Toji mengeraskan rahangnya, sedangkan kamu merintih dan melenguh sebab kewanitaanmu tengah dijajah oleh rudal besar miliknya.</p>

<p>“Mas Toji..” rintihmu yang mendapat sambutan hangat oleh mulutnya yang melumat bibirmu agar tidak terus meracau dan hanya fokus dengannya.</p>

<p>Tampaknya tidak hanya bibir yang saling melumat, vaginamu turut melumat penis besar milik Toji yang bertengger di dalamnya. Membuat Toji memejamkan matanya dan semakin terbakar oleh gairah hingga tangannya tidak berhenti menggerayangi tubuh licinmu dan memainkan kedua gundukan kembar yang sekal dan sensitif di dadamu.</p>

<p>Toji kini meletakkan kembali tangannya di pangkal kedua pahamu, mengangkatnya sedikit dan menggerakkan pinggulnya naik turun, menciptakan sensasi gila seakan dilubangi oleh miliknya yang besar dan tebal itu hingga memenuhi seluruh rongga vaginamu. Tidak, bahkan miliknya berhasil membuat lubang sempitmu itu meregang menyesuaikan ukuran miliknya.</p>

<p>Tubuhmu menggelinjang hingga beberapa kali punggungmu terantuk dada bidangnya yang padat dan basah oleh keringat.</p>

<p>Selimut yang semula menyelimuti kedua tubuh telanjangmu dan Toji kini tersingkap, luruh hingga mengekspos posisi dan kegiatan penuh nafsu kalian di bawah cahaya lampu yang berpendar cerah. Toji semakin gila-gilaan menghujam lubang sempitmu hingga membuat otakmu mendadak kosong dan kesulitan berbicara.</p>

<p>Toji menggeram dan lenguhan darimu seakan menyahutinya untuk terus membuat tubuhmu kelimpungan tak berdaya oleh kenikmatan dan kehangatan yang ia ciptakan.</p>

<p>“Mas—nghh.. Mas Toji..” desahmu yang membuat Toji makin hilang akal dan makin mempercepat hujamannya.</p>

<p>Baginya, suara lemahmu yang bergetar saat memanggil namanya terdengar sangat menggairahkan, membuat hatinya yang sudah lama padam kembali memanas, hangat, dan terbakar. Sangat menggoda hingga ia tidak mampu menahan dirinya untuk tidak membuat tubuhmu menggelinjang kenikmatan dan menyuguhi ekspresi cantik yang erotis di hadapannya.</p>

<p>“Lagi, panggil nama saya lagi,” pintanya.</p>

<p>“Mas Toji..” panggilmu sekali lagi yang menuai erangan darinya dan seketika lubang sensitifmu yang tengah ia jajaki semakin terasa sesak, penuh, dan hangat dengan cairan kental miliknya. Semakin penuh hingga cairannya meluap ketika Toji menarik keluar penisnya yang melemas.</p>

<p>Tubuhmu menggelinjang diatas dadanya. Desahan mencelos keluar dari mulutmu yang sedikit menganga, dan cairan bening mengalir dari sudut matamu yang menatap langit-langit dengan lelahnya.</p>

<p>Toji melepas cengkraman pada pangkal pahamu dan meninggalkan bekas kemerahan diatasnya. Lalu kedua lengan kekarnya mendekap tubuh basah dan hangatmu yang bergetar menahan rasa merinding di sekujur tubuh, mencium pucuk kepalamu yang masih setengah basah, yang mungkin kali ini tidak hanya basah oleh hujan, melainkan telah bercampur dengan keringat.</p>

<p>Selesai?</p>

<p>Apakah malam yang terasa lebih panas dari jilatan api unggun, lebih menggairahkan dari ciuman pertama, dan lebih menyenangkan dari melihat tanggal merah di kalender ini harus selesai?</p>

<p>Ah, rasanya kamu tidak ingin malam ini usai. Tidak ingin kehangatan dari tubuhnya, rasa nyaman dari dekapannya, dan rasa aman dari rengkuhan tangan kokohnya ini lenyap bersamaan dengan suara rintik hujan yang perlahan menghilang.</p>

<p>Tangan gemetar dan lemahmu mulai bergerak menyusuri otot lengan miliknya yang masih mendekap tubuhmu lalu memeluknya seolah-olah ia akan menghilang jika kamu tidak menahannya. Tidak ada sepatah kata yang mampu kamu lontarkan, begitu pula Toji. Kalian sama-sama termangu oleh pikiran masing-masing, hanya membiarkan tubuh kalian saling berbicara dalam kebisuan.</p>

<p>Rasa nyeri mulai menggelayuti hatimu, begitu tidak rela ketika Toji melonggarkan pelukannya. Tidak. Rasanya benar-benar tidak rela hingga membuat kedua matamu berkaca-kaca. Lidahmu terasa kelu meski jari tangan milik Toji mengajakmu bermain-main mesra.</p>

<p>Tunggu.</p>

<p>Toji benar-benar memasukkan kedua jari tangan kanannya ke dalam mulutmu! Ke dalam mulutmu yang terus akan merespon apapun yang Toji berikan. Mulutnya, lidahnya, jari-jari tangannya, dan bahkan kejantanannya yang kini terasa kembali menegang diantara belahan bokongmu.</p>

<p>“Air hangatnya keburu dingin,” bisiknya, mengacu pada air hangat yang telah ia siapkan sebelumnya untukmu mandi.</p>

<p>“Mau saya mandikan sekarang?” imbuhnya yang mendapat anggukan darimu.</p>

<p>Tentu, bukan mandi namanya jika tubuhmu yang seharusnya dipenuhi busa dan harum sabun, malah dipenuhi oleh cairan mani yang membuat tubuhmu licin dan lengket dengan aroma khas yang sedikit membuat kepalamu sedikit pusing.</p>

<p>Alih-alih duduk tenang sembari duguyuri air seperti calon pengantin, kamu malah berdiri dengan tangan Toji yang menahan sebelah pahamu yang terangkat dan yang sebelah lagi menahan pinggulmu sembari penisnya terus menghujammu hingga membuat vaginamu meluapkan cairan pelumas yang seolah tidak ada habisnya</p>

<p>Sungguh. Bukan mandi namanya jika suara guyuran air yang seharusnya terdengar malah tergantikan oleh suara erotis dari penisnya yang sedang bercinta dengan vaginamu, suara erangannya, suara lenguhan, desahan, dan suara lemahmu ketika memekik atau memanggil namanya.</p>

<p>Sang Waktu seolah menghentikan langkahnya dan membuatmu benar-benar tidak mampu menebak berapa lama pastinya kamu bersenggama dengan Toji di malam yang dingin dan basah oleh rintik hujan ini. Yang jelas, air hangat yang mulanya mengepulkan uap-uap panas kini telah kehilangan kehangatannya. Dan rasa dingin yang semula menyelimuti tubuhmu kini berganti dengan rasa hangat dan panas oleh kegiatan bercintamu dengannya.</p>

<p>Bercinta, meski kamu sendiri tidak mengerti seperti apa perasaannya terhadapmu yang selalu mencinta dan mendambanya dalam diam.</p>

<hr/>

<blockquote><p>©️ <strong><em>unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/wet</guid>
      <pubDate>Wed, 03 Jul 2024 14:03:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kuroo</title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/kuroo?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;  Kuroo Tetsuro x older fem!reader&#xA;&#xA;---&#xA;  ### Tags&#xA;  ⚠️ explicit sexual content, harsh words, adult language, NSFW, bleeding&#xA;&#xA;---&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Rasa penat setelah seharian berkutat dengan setumpuk kertas, layar monitor, serta berbagai tipe orang yang kamu temui baik di tempatmu bekerja maupun di perjalanan, menggelayuti tubuhmu. Bahu hingga tengkuk rasanya seperti ditimpa satu batu besar, terasa berat, kaku, pegal, dan sakit. Bahkan, punggung dan kakimu tidak kalah letihnya. &#xA;&#xA;Biasanya, sepulang bekerja, pada jam-jam seperti malam ini, kamu sudah berbaring di tempat tidur. Benar, berbaring bukan berarti tidur. Tentu saja kamu akan terjaga hingga larut malam untuk memainkan ponsel atau menonton tayangan favoritmu. &#xA;&#xA;Bukannya egois, kamu hanya tidak rela jika harus cepat-cepat tidur tanpa menikmati waktu santaimu seusai bekerja seharian penuh. Ya, walaupun sejatinya itu memang egois, sangatlah egois bagi kesehatan tubuhmu sendiri. &#xA;&#xA;Berkat kekasihmu, Kuroo Tetsuro, seorang pria maniak bola voli yang usianya beberapa tahun lebih muda darimu, membuatmu sibuk berkutat di dapur sederhana milikmu untuk menyiapkan minuman, makanan, camilan, dan memotongkan buah setelah beberapa saat lalu ia mengirimu pesan bahwa ia akan mengunjungimu malam ini. &#xA;&#xA;Bukan tanpa alasan kamu begitu bersemangat hingga menyiapkan bermacam-macam suguhan untuknya. Selain karena ini adalah kunjungan pertamanya setelah hampir satu bulan lamanya kalian tidak berjumpa karena kesibukan masing-masing, hari ini ia telah menghabiskan hampir seluruh tenaganya dalam pertandingan voli. Kamu memang tidak melihatnya langsung, tapi kamu cukup mengenal bahwa ia akan melakukan apapun dengan maksimal, bahkan terkadang ia terkesan memaksakan diri semata-mata agar tidak ada penyesalan di kemudian hari yang akan menghantuinya. &#xA;&#xA;Bahkan, ia juga menerapkan hal itu dalam hubungan kalian. Meski sering kali ia bertindak menyebalkan, ia benar-benar berusaha menampilkan dan memberikan yang terbaik untukmu. Kenyataan bahwa usianya yang lebih muda, kerap membuatnya merasa tidak cukup layak untukmu. Apalagi saat ini dia masih berkuliah, masih sibuk-sibuknya mengenyam pendidikan dan menikmati masa muda bersama teman-temannya. Sedangkan kamu, sudah mati-matian bertahan hidup di tengah gempuran permasalahan kehidupan dewasa yang melelahkan. &#xA;&#xA;Memikirkan pria muda itu, membuat seulas senyum merekah di wajahmu tanpa kamu sadari. Kamu teringat ketika pertama kali berkencan dengannya, saat itu dia masih duduk di bangku SMA, sedangkan kamu tengah dipusingkan oleh tugas-tugas kuliah. Ia mangajakmu ke warung bakso dan mie ayam pinggir jalan, tidak terlalu ramai, dan rasanya sangat enak, terlebih kamu menyantapnya dengan Kuroo. Dia selalu melarangmu untuk membayar dan berkata, &#34;Maaf ya, Kak. Aku cuma bisa ajak kamu kesini, tadi uangnya habis buat bayar jersey. Kalo aku ada uang, nanti kita makan enak lagi, ya.&#34; &#xA;&#xA;Bahkan, hingga kamu bekerja, kamu masih tidak dia bolehkan untuk membayar ketika berkencan, bahkan untuk sekadar membayar makanan milikmu sendiri saja ia larang. Alasannya, &#34;Aku bukan anak kecil, don&#39;t spoil me. Lagian kan aku yang ngajak kamu keluar, apalagi aku cowok. Masa aku ngebiarin kamu yang bayar? Gini-gini aku punya uang.&#34; &#xA;&#xA;Jadi, sebisa mungkin kamu menghargainya. Namun, tentu saja sesekali kamu akan memberinya hadiah atau menyiapkannya bermacam-macam makanan jika ia datang menemuimu. Setidaknya, agar ia tahu bahwa usahanya untuk menyenangkanmu itu terbalaskan. &#xA;&#xA;Tidak lama, beberapa ketukan terdengar dari pintu kosanmu dan membuyarkan lamunanmu. Lagi-lagi senyummu mengembang dan jantungmu bertalu-talu memikirkan bahwa sosok Kuroo lah yang berdiri di balik pintu itu dengan senyum menawan dan wangi maskulinnya yang menjadi favoritmu. Segera saja, kamu berlari menuju pintu dan membukanya hingga menampilkan sosoknya yang tinggi tegap berbalut kaos hitam dengan jaket kulit hitam yang ia sampirkan di bahu dan celana panjang berbahan denim yang terdapat sedikit robekan di lututnya. Ia tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, berharap kamu menghambur ke pelukannya yang terlihat nyaman dan hangat. &#xA;&#xA;Namun, kamu mengabaikaannya dan membuat Kuroo sedikit cemberut ketika kamu malah memintanya untuk masuk bukannya memeluknya terlebih dulu. Bukannya tidak ingin, hanya saja kamu sedikit khawatir ada tetangga usil yang melihatmu berpelukan dengannya di luar pada malam hari seperti sekarang ini. &#xA;&#xA;&#34;Kamu emangnya gak capek abis voli malah kesini?&#34; tanyamu sembari membawakan semangkuk potongan-potongan buah yang tadi sudah kamu siapkan untuknya. &#xA;&#xA;Kuroo meraih mangkuk di tanganmu dan meletakkannya di meja yang letaknya tidak jauh darinya berdiri, &#34;Capek, lah. Tapi obat capekku kan kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bisa aja nih bocah gombalnya!&#34; serumu seraya mencubiti pipinya. &#xA;&#xA;Ia mengaduh kesakitan, lalu tangannya menangkap pergelangan tanganmu, &#34;Bisa gak, berhenti manggil aku &#39;bocah&#39;?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kenapa sih? Kan emang masih bocah,&#34; balasmu seraya menghindari tatapannya yang menusuk, membuat jantungmu berdegup tak beraturan. &#xA;&#xA;&#34;I&#39;m not,&#34; ucapnya lalu menarik tanganmu, membuat tubuhmu sedikit terhuyung namun sebelah tangannya dengan cekatan menahan pinggangmu. &#xA;&#xA;Merinding. &#xA;&#xA;Perutmu terasa geli seolah tengah digelitik oleh ribuan kupu-pupu. Wajahmu terasa panas, tanda bahwa rona merah tengah menjalar. Kuroo merapatkan rengkuhannya hingga membuat tubuhmu hanya berjarak satu jengkal saja, dan mungkin dia dapat mendengar degup jantungmu yang mulai terdengar tidak masuk akal dengan jarak sedekat itu. &#xA;&#xA;&#34;Kuroo?&#34; panggilmu takut-takut. &#xA;&#xA;Kamu benar-benar tidak terbiasa dengan situasi ini. Berduaan dengannya saja sudah bisa memuatmu salah tingkah, bahkan bergandengan tangan dengannya juga masih membuat tanganmu gemetar dan jantungmu berdebar-debar. Dan untuk ciuman, dia mencium pipi atau dahimu saja sudah berhasil membuatmu demam dua hari! Lalu, akan seperti apa dampaknya jika ia memagut bibirmu dan lidahnya mengajakmu berdansa? Tidak, tidak, apa yang baru saja kamu bayangkan? &#xA;&#xA;Kuroo menatapmu lekat-lekat. Tubuhnya yang jangkung membuatnya mau tidak mau menunduk, dan semakin menunduk hingga wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari wajahmu yang semerah tomat. &#xA;&#xA;Saat ia mengirimimu pesan dan melampirkan foto dirinya dalam balutan jersey merah, kamu berpikir tubuhnya tampak sudah tumbuh besar dan lebih tinggi. Dan sekarang, dalam rengkuhannya, kamu semakin sadar bahwa dia bukan lagi seorang remaja jangkung yang kurus. Kamu menelan salivamu, tubuhnya benar-benar tumbuh besar dengan otot-otot sekal yang membuatnya tampak gagah berisi. &#xA;&#xA;&#34;Kak, do I still look like a kid to you?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;&#34;Ya? Walaupun badan kamu udah lebih gede, you&#39;re still younger than me, Kuroo,&#34; jawabmu sedikit bohong. Karena, dia tidak tampak seperti remaja ingusan yang menyebalkan lagi! &#xA;&#xA;&#34;But, I&#39;m not a kid anymore, Kak. I&#39;m a man now! Want me to prove it to you? Hm?&#34; ucap Kuroo seraya menekan punggungmu perlahan-lahan dan bibirnya mengecup lembut bibirmu, membuat jantungmu ingin meledak saat itu juga. &#xA;&#xA;&#34;After this, you won&#39;t call me a &#39;kid&#39; ever again.&#34; imbuhnya sebelum kembali melumat bibirmu. &#xA;&#xA;Lumatan bibirnya benar-benar lembut dan seakan mampu menghipnotismu hingga membuatmu terbuai dan menerima ajakan lidahnya untuk berdasa. Kamu tidak tahu, ini adalah debaran jantungmu sendiri atau debaran jantungnya yang terasa begitu kencang ketika dada bidangnya menekan dadamu. Tubuhmu memanas hingga bulir-bulir keringat merembes dari punggung dan dahimu. &#xA;&#xA;Gawat. Ciuman ini membuat kepalamu seperti mentega yang meleleh. Kamu tidak dapat memikirkan hal lain lagi selain lidahnya yang tengah memadu kasih dengan milikmu, lengan kekarnya yang merengkuh pinggang dan menekan punggungmu dengan posesif, tubuh besarnya yang sekal dengan otot, dan wangi maskulin yang bercampur dengan aroma sabun pada tubuhnya. Bahkan, rasanya kamu seperti hampir melupakan bagaimana caranya untuk bernapas. Tidak, sepertinya kamu benar-benar sudah lupa sekarang. &#xA;&#xA;Kamu meremas kaos hitamnya kuat-kuat, dan sesekali memukuli dada bidangnya dengan tanganmu yang lemah hingga membuatnya melepas ciumannya. &#xA;&#xA;Rupanya tidak hanya dirimu. Ia juga hampir kehabisan oksigen hingga membuat napasnya tersengal-sengal dan berat. Ia masih merengkuh tubuhmu, lalu tersenyum hingga nenampilkan deretan giginya yang rapi ketika melihat wajahmu benar-benar merah dan napasmu menjadi tidak beraturan karena ulahnya. &#xA;&#xA;Kamu tidak berkomentar, hanya memandangnya sembari mengatur napas dan jantungmu yang semakin tidak karuan. &#xA;&#xA;&#34;You&#39;re so cute, Kak,&#34; pujinya sembari mengecup pipi merahmu. Dan dengan nakalnya, tangannya menepuk bokongmu pelan hingga membuatmu memekik. &#xA;&#xA;&#34;Kuroo!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ada apa Kakak cantik?&#34;  balasnya yang kini menaruh kedua tangannya yang kokoh itu di atas gundukan kenyal milikmu di bawah sana dan meremas-remasnya. &#xA;&#xA;Belum sempat kamu komplain, ia lebih dulu menyumpal mulutmu dengan ciumannya yang terasa manis, candu, dan mendebarkan. Kali ini ciumannya berlangsung lebih lama hingga membuat tubuhmu mulai berani untuk bertindak semaunya sendiri, seperti mengalungkan kedua lenganmu ke lehernya dan kedua tungkaimu melingkar di pinggangnya ketika Kuroo mulai mengangkat tubuhmu yang lebih pendek darinya hingga kepala kalian hampir sejajar. &#xA;&#xA;Seperti dugaanmu, ia memang memiliki kekuatan dan stamina yang bagus hingga mampu menggendongmu dalam waktu yang lama seperti ini. &#xA;&#xA;&#34;Kuroo, aku berat tau,&#34; ujarmu usai Kuroo melepaskan ciumannya. &#xA;&#xA;&#34;Lebih berat porsi latihanku, Kak,&#34; jawabnya sembari tertawa. &#xA;&#xA;&#34;Kuroo..&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mau diturunin sekarang?&#34; tawarnya yang kamu jawab dengan anggukan. &#xA;&#xA;Namun, tentu saja Kuroo tidak lantas menurunkanmu dari gendongannya. Ia malah membawamu menuju ranjang dan menurunkanmu diatasnya. Membuatmu diam seribu bahasa, salah tingkah, dan jantungmu seperti berlari-lari kencang mengelilingi rongga dadamu. &#xA;&#xA;Ia raih sebelah tanganmu dan meletakkannya tepat diatas miliknya yang sudah menojol ingin menerobos resleting jeansnya yang sudah tampak sesak. &#xA;&#xA;&#34;Kaya yang aku bilang tadi, Kak. Yang ini juga udah gede,&#34; ujarnya. &#xA;&#xA;Kuroo bodoh! Jadi ini yang ia maksud ketika ia berkata bahwa miliknya yang lain juga tumbuh besar dalam pesan singkatnya tadi? &#xA;&#xA;Tanganmu sedikit gemetar menyentuhnya. Wajar &#39;kan, jika kamu gemetar menyentuh kejantanan milik seorang pria? Meskipun itu adalah milik Kuroo, kekasihmu sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Kamu elus-elus gitu malah makin sesak, Kak,&#34; komentarnya sembari mengatupkan rahangnya. &#xA;&#xA;&#34;Terus gimana? Mau aku buka?&#34; tawarmu, bodoh sekali jika kamu mengira Kuroo akan menolaknya. Tentu saja ia akan senang hati menerima tawaranmu untuk membebaskan kejantanannya yang sudah menegang dari belenggu celana jeans yang kian membuatnya sesak itu. &#xA;&#xA;Kamu meneguk salivamu dengan berat ketika melakukannya. &#xA;&#xA;Untuk pertama kalinya kamu melihat milik seorang pria secara langsung dalam jarak sedekat ini. Kamu bahkan dapat menghirup aroma hangat yang khas darinya. &#xA;&#xA;&#34;Gimana, Kak? Gede kan?&#34; tanyanya dengan bangga meski telinganya terlihat memerah. Sebuah bukti bahwa sebenarnya ia juga malu mengatakan hal sekonyol itu. &#xA;&#xA;Melihatnya yang demikian, entah mengapa malah menggelitik nalurimu dan membuatmu ingin menggodanya. &#xA;&#xA;Jarimu menyentuh pucuk penisnya yang berwarna lebih gelap, lebih sensitif, dan sedikit licin dengan pre-cum. Membuat tubuh Kuroo merinding hingga membuat rahang dan lehernya menegang menahan rangsangan yang kamu berikan. &#xA;&#xA;&#34;Kamu terakhir coli kapan?&#34; tanyamu sembari mengelus batang keperjakaannya. Bukan apa-apa, kamu hanya penasaran karena miliknya terlihat begitu sensitif terhadap sentuhanmu. &#xA;&#xA;&#34;Dua bulan yang lalu? Mungkin?&#34; jawabnya sembari memejamkan mata ketika lidahmu menyentuh miliknya dan memeberinya sensasi hangat yang menggairahkan dan mendebarkan. &#xA;&#xA;Namun, ketika kamu ingin benar-benar memasukkannya ke dalam mulutmu dan memanjakannya, ia menahan bahumu, &#34;No! Mulut kamu yang manis buat ciuman.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Yang ini.. tempatnya di mulut kamu yang becek di bawah sini,&#34; imbuh Kuroo sembari mendorong tubuhmu pelan hingga terbaring di atas ranjang dan tangannya menarik karet celana pendek yang tengah kamu kenakan. &#xA;&#xA;Gila. Gila. Gila! &#xA;&#xA;Isi kepalamu seperti berlarian panik kesana kemari hingga membuat debaran jantungmu menggila ketika Kuroo menindihmu dengan tubuhnya yang otot-ototnya tampak menonjol dari balik kaos polos hitamnya. &#xA;&#xA;Ia menahan tubuhnya dengan kedua lengannya di samping tubuhmu. Iris mata kelabunya membuatmu terperangkap dan tersesat dalam pesonanya. Ia kecup singkat bibirmu sebelum bertanya dengan nada rendah dan sedikit serak, &#34;So, can I prove to you that I&#39;m not a kid anymore?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Do whatever you want, Kuroo,&#34; jawabmu yang benar-benar sudah terhipnotis olehnya. &#xA;&#xA;Mendengar jawabanmu, Kuroo segera melepas kaos hitamnya yang membalut tubuh kokoh dan berototnya. Tidak lupa, ia juga melepas celana jeans yang membelenggunya. Dan tidak hanya itu, ia bahkan membantumu untuk melepaskan pakaian, membuatmu berkali-kali lipat merasa malu, namun kamu nemilih pasrah karena sudah memberinya kebebasan untuk berlaku sesukanya. &#xA;&#xA;Ia ciumi leher dan tulang selangkamu hingga meninggalkan bercak-bercak kemerahan di atasnya. Lalu ia kembali melumat bibirmu sembari tangannya menggerayangi dadamu hingga membuat tubuhmu menggeliat di bawahnya. &#xA;&#xA;Setelah ia menyudahi ciuman panjang yang sudah cukup membuat tubuhmu bergetar menahan rangsangan yang mendebarkan, ia memegang kedua pahamu dan melebarkannya hingga menampilkan milikmu yang sudah basah dengan lendir kenikmatan. &#xA;&#xA;&#34;Bener kan, Kak? Mulutmu yang satu ini udah becek banget,&#34; komentarnya, membuatmu malu setengah mati. &#xA;&#xA;Melihatmu yang memalingkan wajahmu yang memerah dan malu-malu, ia mulai gesek-gesekkan batang miliknya dengan kemaluanmu, dan membuat pinggulmu menggeliat dan vaginamu semakin berkedut. Begitu erotis hingga Kuroo tidak lagi mampu menahan diri untuk memasukkan keperjakaannya ke dalam milikmu yang juga masih perawan. &#xA;&#xA;Ketika kepala penisnya berusaha masuk, kamu nyaris menjerit karena rasa sakit yang tiba-tiba terasa menusuk. &#xA;&#xA;&#34;Maaf,&#34; ujarnya tanpa penyesalan karena ia masih berusaha menjejalkan miliknya. &#xA;&#xA;&#34;Ah! Kuroo, pelan-pelan..&#34; ucapmu lirih. &#xA;&#xA;&#34;Tahan, Kak. Kamu sempit banget, susah masuknya,&#34; titahnya sembari mengecup dahimu. &#xA;&#xA;Dahinya berkerut, alisnya hampir bertaut, matanya terpejam, rahangnya mengeras, dan otot lehernya terlihat mengencang, ia begitu fokus ingin memasukkan miliknya kedalam vaginamu yang terus menerus menjepitnya dengan liar, mengabaikan sedikit cairan kental berwarna merah yang merembes keluar. &#xA;&#xA;Keperawananmu berhasil ia terobos masuk dengan penisnya yang tegak dan besar, membuat bagian bawah pada tubuhmu terasa nyeri yang luar biasa hingga membuatmu menangis menahannya. &#xA;&#xA;&#34;Kuroo... sakit...&#34; cicitmu. &#xA;&#xA;&#34;Maaf...&#34; balasnya dan kembali menciummu sembari tangannya mencari-cari titik sensitifmu yang lain agar vaginamu terus mengeluarkan pelumas alaminya dan mengurangi rasa nyerimu. &#xA;&#xA;Setelah beberapa saat berlalu dan kamu tampak sudah berhasil mengalihkan rasa sakitmu, Kuroo mulai menarik pinggulnya dengan perlahan, lalu kembali mendorongnya hingga membuat milikmu familiar dengan batang miliknya. &#xA;&#xA;Kamu memegangi kedua lengan kokohnya yang berada di samping tubuhmu, mencoba mencari-cari kekuatan ketika ia menghujammu. &#xA;&#xA;Kuroo tidak begitu pandai, dan begitu pula kamu yang tidak tahu harus bergerak seperti apa, karena ini adalah kali pertama kalian melakukannya setelah bertahun-tahun memadu kasih dan merasa sudah dewasa untuk mengambil sebuah pilihan beserta risiko yang harus dihadapi bersama setelahnya. &#xA;&#xA;Ketika hasratnya membumbung tinggi dan penisnya menegang, biasanya Kuroo hanya akan menyelesaikannya di dalam kamar mandi menggunakan tangannya sendiri, tanpa bantuan dari film maupun majalah dewasa yang menampilkan perempuan-perempuan berbadan seksi. Namun, sesekali ia berfantasi melakukan aktifitas seperti ini denganmu. Tidak, sepertinya kurang tepat jika dilakukan berulang kali disebut dengan &#39;sesekali&#39;. Sehingga, wajar sekali jika Kuroo masih belum ahli dalam melakukan ini, apalagi untuk memuaskanmu. &#xA;&#xA;Sedangkan kamu, hanya seorang wanita dengan keseharian membosankan, yang terlampau lelah untuk melakukan aktifitas lain selain tidur dan mencari penghiburan dengan makanan enak, tontonan lucu, atau sekadar berjalan-jalan santai bersama kekasihmu atau sahabatmu, Alisa. Tentu saja meski usiamu lebih dewasa darinya, kamu juga sama sekali tidak memiliki pengalaman. Bahkan memikirkan melakukannya seperti ini saja tidak pernah. Bukannya sok suci, pikiranmu sudah terlanjur dipenuhi dengan urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya dan tagihan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin membuatmu pusing mengatur pendapatan. &#xA;&#xA;Dan ketika dua orang tanpa pengalaman tengah memadu cinta diatas ranjang, mereka hanya akan menggunakan insting dan nafsu sebagai pembimbingnya. &#xA;&#xA;Seperti saat ini, Kuroo menahan kedua pergelangan tanganmu dengan tangan kirinya, mulutnya sibuk melumat bibirmu, tangan kanannya memainkan dadamu, dan penisnya bergerak ritmis dalam lubang vaginamu, itu semua ia lakukan berdasarkan instingnya sebagai pria dan nafsunya yang makin memuncak ketika mendengarmu memanggil namanya berulang kali di tengah desahanmu yang terdengar candu di telinganya. &#xA;&#xA;&#34;Hhh... Kuroo... Kuroo...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dikit lagi, Kak..&#34; ujarnya. &#xA;&#xA;&#34;Jangan.... hhh... Kuroo... Jangan di dalem-nghhh...&#34; &#xA;&#xA;Kuroo menarik penisnya dan menyemburkan cairan putih kental yang hangat diatas tubuh lemasmu yang mengkilap dengan keringat. Ia terpesona melihatmu yang tak berdaya di bawahnya dengan tubuh penuh peluh dan mani miliknya, dengan wajah merona dan mata sembab menerima sodokan darinya, dan dengan bibir ranum yang sedikit berdarah akibat ia lumati berkali-kali dan gigit lembut beberapa kali. Hingga sekali lagi, membuat penisnya kembali menegang dan hendak menghujam lubang yang telah ia ambil keperawanannya. &#xA;&#xA;Kali ini ia ia tidak lagi menindih tubuhmu, melainkan berbaring di samping kananmu. Lalu, ia angkat paha kananmu dan ia masukkan penisnya dengan posisi menyamping agar tubuhnya tidak terlalu kelelahan. &#xA;&#xA;Beruntung, tetangga kanan dan kirimu sedang tidak berada di dalam kosan. Yang satu tengah menjalani shift malam, dan yang satunya lagi tengah kembali ke rumah orang tuanya untuk berlibur, sehingga tidak akan ada yang mendengar aktifitas sensualmu bersama Kuroo pada malam ini. &#xA;&#xA;Kuroo menyodokmu lebih keras dibanding sebelumnya, dan kamu tidak lagi merasakan sakit seperti beberapa saat yang lalu. Justru, kamu malah menikmatinya hingga tanpa sadar tanganmu menyentuh payudaramu sendiri dan memainkannya ketika Kuroo menyodok lubang vaginamu yang semakin basah dengan lendir. &#xA;&#xA;Pinggulmu bergerak-gerak liar tanpa henti, dan desahan-desahan yang kamu keluarkan membuatnya makin bersemangat hingga membuat pegas-pegas di dalam kasurmu terdengar begitu keras akibat guncangan dari Kuroo yang menggenjotmu makin kencang di atas ranjang berukuran sedang milikmu. &#xA;&#xA;Sungguh gila, tubuhmu benar-benar berlumuran cairan mani miliknya sekarang ini. Dan lagi-lagi bagian bawah tubuhmu turut memancarkan cairan bening kental yang akan membuatmu kesulitan mencucinya apabila terkena spreimu, yang walaupun memang sudah basah bercampur cairan mani milikmu dan Kuroo, dan juga keringat kalian berdua. &#xA;&#xA;Setelahnya, Kuroo memelukmu tubuhmu yang sudah terkulai lemas setelah dua kali ia gempur dan membuat cairan kenikmatan tumpah ruah dari tubuhmu. Kamu dapat merasakan debaran jantungnya ketika dada bidangnya yang hangat menyentuh punggungmu, lalu berbisik tepat di telingamu, &#34;I love you, Kakak cantik.&#34; &#xA;&#xA;Ia berbaring sejenak di sebelahmu untuk memulihkan energinya sebelum akhirnya bangkit untuk mandi. Lalu, ia kembali dengan sebaskom air hangat dan handuk basah untuk membersihkan tubuhmu yang sudah terkulai dan terlelap di atas ranjang akibat kelelahan. &#xA;&#xA;Tangannya terulur untuk merapihkan anak-anak rambut yang menutupi wajahmu yang tampak cantik dan lugu ketika tertidur pulas. Ia tersenyum simpul, lalu menyeka lembut wajahmu yang basah oleh keringat, saliva, dan bekas air mata dengan handuk basah yang ia bawa. &#xA;&#xA;&#34;Maaf ya, Kak. Padahal kamu juga lagi capek habis pulang kerja,&#34; gumamnya sembari menyeka wajah dan lehermu. &#xA;&#xA;Ia bersihkan tubuhmu dengan telaten, lalu mengganti spreimu yang basah dengan selimut. Ia tidak tahu dimana kamu menyimpan sprei bersih, sehingga ia hanya memilih menggunakan kain apa saja yang setidaknya bersih dan cukup nyaman untuk berbaring istirahat malam ini. &#xA;&#xA;Kuroo kembali berbaring di sampingmu setelah ia mengucek sprei kotormu dengan tangannya supaya bekas-bekas cairan kental yang berbau khas itu tidak meninggalkan jejak noda, dan memudahkannya untuk mencucinya keesokan harinya. &#xA;&#xA;Ia rangkul pinggangmu, lalu menarik tubuh telanjangmu agar lebih rapat dengannya, dengan dada bidangnya yang juga tidak terbalut satu kain pun. Dengan lembut, ia belai-belai suraimu hingga kantuk menyerangnya dan jatuh terlelap dengan tangannya yang masih mendekapmu hingga fajar menyingsing dan membangunkan kalian berdua yang tertidur dibalik selimut tipis dengan tubuh tanpa busana.&#xA;&#xA;---&#xA;  ©️ unatoshiru]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<blockquote><p><strong><em>Kuroo Tetsuro x older fem!reader</em></strong></p></blockquote>

<hr/>

<blockquote><h3 id="tags" id="tags">Tags</h3>

<p>⚠️ <strong><em>explicit sexual content, harsh words, adult language, NSFW, bleeding</em></strong></p></blockquote>

<hr/>



<p>Rasa penat setelah seharian berkutat dengan setumpuk kertas, layar monitor, serta berbagai tipe orang yang kamu temui baik di tempatmu bekerja maupun di perjalanan, menggelayuti tubuhmu. Bahu hingga tengkuk rasanya seperti ditimpa satu batu besar, terasa berat, kaku, pegal, dan sakit. Bahkan, punggung dan kakimu tidak kalah letihnya.</p>

<p>Biasanya, sepulang bekerja, pada jam-jam seperti malam ini, kamu sudah berbaring di tempat tidur. Benar, berbaring bukan berarti tidur. Tentu saja kamu akan terjaga hingga larut malam untuk memainkan ponsel atau menonton tayangan favoritmu.</p>

<p>Bukannya egois, kamu hanya tidak rela jika harus cepat-cepat tidur tanpa menikmati waktu santaimu seusai bekerja seharian penuh. Ya, walaupun sejatinya itu memang egois, sangatlah egois bagi kesehatan tubuhmu sendiri.</p>

<p>Berkat kekasihmu, Kuroo Tetsuro, seorang pria maniak bola voli yang usianya beberapa tahun lebih muda darimu, membuatmu sibuk berkutat di dapur sederhana milikmu untuk menyiapkan minuman, makanan, camilan, dan memotongkan buah setelah beberapa saat lalu ia mengirimu pesan bahwa ia akan mengunjungimu malam ini.</p>

<p>Bukan tanpa alasan kamu begitu bersemangat hingga menyiapkan bermacam-macam suguhan untuknya. Selain karena ini adalah kunjungan pertamanya setelah hampir satu bulan lamanya kalian tidak berjumpa karena kesibukan masing-masing, hari ini ia telah menghabiskan hampir seluruh tenaganya dalam pertandingan voli. Kamu memang tidak melihatnya langsung, tapi kamu cukup mengenal bahwa ia akan melakukan apapun dengan maksimal, bahkan terkadang ia terkesan memaksakan diri semata-mata agar tidak ada penyesalan di kemudian hari yang akan menghantuinya.</p>

<p>Bahkan, ia juga menerapkan hal itu dalam hubungan kalian. Meski sering kali ia bertindak menyebalkan, ia benar-benar berusaha menampilkan dan memberikan yang terbaik untukmu. Kenyataan bahwa usianya yang lebih muda, kerap membuatnya merasa tidak cukup layak untukmu. Apalagi saat ini dia masih berkuliah, masih sibuk-sibuknya mengenyam pendidikan dan menikmati masa muda bersama teman-temannya. Sedangkan kamu, sudah mati-matian bertahan hidup di tengah gempuran permasalahan kehidupan dewasa yang melelahkan.</p>

<p>Memikirkan pria muda itu, membuat seulas senyum merekah di wajahmu tanpa kamu sadari. Kamu teringat ketika pertama kali berkencan dengannya, saat itu dia masih duduk di bangku SMA, sedangkan kamu tengah dipusingkan oleh tugas-tugas kuliah. Ia mangajakmu ke warung bakso dan mie ayam pinggir jalan, tidak terlalu ramai, dan rasanya sangat enak, terlebih kamu menyantapnya dengan Kuroo. Dia selalu melarangmu untuk membayar dan berkata, “Maaf ya, Kak. Aku cuma bisa ajak kamu kesini, tadi uangnya habis buat bayar jersey. Kalo aku ada uang, nanti kita makan enak lagi, ya.”</p>

<p>Bahkan, hingga kamu bekerja, kamu masih tidak dia bolehkan untuk membayar ketika berkencan, bahkan untuk sekadar membayar makanan milikmu sendiri saja ia larang. Alasannya, “Aku bukan anak kecil, <em>don&#39;t spoil me.</em> Lagian kan aku yang ngajak kamu keluar, apalagi aku cowok. Masa aku ngebiarin kamu yang bayar? Gini-gini aku punya uang.”</p>

<p>Jadi, sebisa mungkin kamu menghargainya. Namun, tentu saja sesekali kamu akan memberinya hadiah atau menyiapkannya bermacam-macam makanan jika ia datang menemuimu. Setidaknya, agar ia tahu bahwa usahanya untuk menyenangkanmu itu terbalaskan.</p>

<p>Tidak lama, beberapa ketukan terdengar dari pintu kosanmu dan membuyarkan lamunanmu. Lagi-lagi senyummu mengembang dan jantungmu bertalu-talu memikirkan bahwa sosok Kuroo lah yang berdiri di balik pintu itu dengan senyum menawan dan wangi maskulinnya yang menjadi favoritmu. Segera saja, kamu berlari menuju pintu dan membukanya hingga menampilkan sosoknya yang tinggi tegap berbalut kaos hitam dengan jaket kulit hitam yang ia sampirkan di bahu dan celana panjang berbahan denim yang terdapat sedikit robekan di lututnya. Ia tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, berharap kamu menghambur ke pelukannya yang terlihat nyaman dan hangat.</p>

<p>Namun, kamu mengabaikaannya dan membuat Kuroo sedikit cemberut ketika kamu malah memintanya untuk masuk bukannya memeluknya terlebih dulu. Bukannya tidak ingin, hanya saja kamu sedikit khawatir ada tetangga usil yang melihatmu berpelukan dengannya di luar pada malam hari seperti sekarang ini.</p>

<p>“Kamu emangnya gak capek abis voli malah kesini?” tanyamu sembari membawakan semangkuk potongan-potongan buah yang tadi sudah kamu siapkan untuknya.</p>

<p>Kuroo meraih mangkuk di tanganmu dan meletakkannya di meja yang letaknya tidak jauh darinya berdiri, “Capek, lah. Tapi obat capekku kan kamu.”</p>

<p>“Bisa aja nih bocah gombalnya!” serumu seraya mencubiti pipinya.</p>

<p>Ia mengaduh kesakitan, lalu tangannya menangkap pergelangan tanganmu, “Bisa gak, berhenti manggil aku &#39;bocah&#39;?”</p>

<p>“Kenapa sih? Kan emang masih bocah,” balasmu seraya menghindari tatapannya yang menusuk, membuat jantungmu berdegup tak beraturan.</p>

<p><em>“I&#39;m not,”</em> ucapnya lalu menarik tanganmu, membuat tubuhmu sedikit terhuyung namun sebelah tangannya dengan cekatan menahan pinggangmu.</p>

<p>Merinding.</p>

<p>Perutmu terasa geli seolah tengah digelitik oleh ribuan kupu-pupu. Wajahmu terasa panas, tanda bahwa rona merah tengah menjalar. Kuroo merapatkan rengkuhannya hingga membuat tubuhmu hanya berjarak satu jengkal saja, dan mungkin dia dapat mendengar degup jantungmu yang mulai terdengar tidak masuk akal dengan jarak sedekat itu.</p>

<p>“Kuroo?” panggilmu takut-takut.</p>

<p>Kamu benar-benar tidak terbiasa dengan situasi ini. Berduaan dengannya saja sudah bisa memuatmu salah tingkah, bahkan bergandengan tangan dengannya juga masih membuat tanganmu gemetar dan jantungmu berdebar-debar. Dan untuk ciuman, dia mencium pipi atau dahimu saja sudah berhasil membuatmu demam dua hari! Lalu, akan seperti apa dampaknya jika ia memagut bibirmu dan lidahnya mengajakmu berdansa? Tidak, tidak, apa yang baru saja kamu bayangkan?</p>

<p>Kuroo menatapmu lekat-lekat. Tubuhnya yang jangkung membuatnya mau tidak mau menunduk, dan semakin menunduk hingga wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari wajahmu yang semerah tomat.</p>

<p>Saat ia mengirimimu pesan dan melampirkan foto dirinya dalam balutan jersey merah, kamu berpikir tubuhnya tampak sudah tumbuh besar dan lebih tinggi. Dan sekarang, dalam rengkuhannya, kamu semakin sadar bahwa dia bukan lagi seorang remaja jangkung yang kurus. Kamu menelan salivamu, tubuhnya benar-benar tumbuh besar dengan otot-otot sekal yang membuatnya tampak gagah berisi.</p>

<p>“Kak, <em>do I still look like a kid to you?”</em> tanyanya.</p>

<p>“Ya? Walaupun badan kamu udah lebih gede, <em>you&#39;re still younger than me,</em> Kuroo,” jawabmu sedikit bohong. Karena, dia tidak tampak seperti remaja ingusan yang menyebalkan lagi!</p>

<p><em>“But, I&#39;m not a kid anymore,</em> Kak. <em>I&#39;m a man now! Want me to prove it to you? Hm?”</em> ucap Kuroo seraya menekan punggungmu perlahan-lahan dan bibirnya mengecup lembut bibirmu, membuat jantungmu ingin meledak saat itu juga.</p>

<p><em>“After this, you won&#39;t call me a &#39;kid&#39; ever again.”</em> imbuhnya sebelum kembali melumat bibirmu.</p>

<p>Lumatan bibirnya benar-benar lembut dan seakan mampu menghipnotismu hingga membuatmu terbuai dan menerima ajakan lidahnya untuk berdasa. Kamu tidak tahu, ini adalah debaran jantungmu sendiri atau debaran jantungnya yang terasa begitu kencang ketika dada bidangnya menekan dadamu. Tubuhmu memanas hingga bulir-bulir keringat merembes dari punggung dan dahimu.</p>

<p>Gawat. Ciuman ini membuat kepalamu seperti mentega yang meleleh. Kamu tidak dapat memikirkan hal lain lagi selain lidahnya yang tengah memadu kasih dengan milikmu, lengan kekarnya yang merengkuh pinggang dan menekan punggungmu dengan posesif, tubuh besarnya yang sekal dengan otot, dan wangi maskulin yang bercampur dengan aroma sabun pada tubuhnya. Bahkan, rasanya kamu seperti hampir melupakan bagaimana caranya untuk bernapas. Tidak, sepertinya kamu benar-benar sudah lupa sekarang.</p>

<p>Kamu meremas kaos hitamnya kuat-kuat, dan sesekali memukuli dada bidangnya dengan tanganmu yang lemah hingga membuatnya melepas ciumannya.</p>

<p>Rupanya tidak hanya dirimu. Ia juga hampir kehabisan oksigen hingga membuat napasnya tersengal-sengal dan berat. Ia masih merengkuh tubuhmu, lalu tersenyum hingga nenampilkan deretan giginya yang rapi ketika melihat wajahmu benar-benar merah dan napasmu menjadi tidak beraturan karena ulahnya.</p>

<p>Kamu tidak berkomentar, hanya memandangnya sembari mengatur napas dan jantungmu yang semakin tidak karuan.</p>

<p><em>“You&#39;re so cute,</em> Kak,” pujinya sembari mengecup pipi merahmu. Dan dengan nakalnya, tangannya menepuk bokongmu pelan hingga membuatmu memekik.</p>

<p>“Kuroo!”</p>

<p>“Ada apa Kakak cantik?“  balasnya yang kini menaruh kedua tangannya yang kokoh itu di atas gundukan kenyal milikmu di bawah sana dan meremas-remasnya.</p>

<p>Belum sempat kamu komplain, ia lebih dulu menyumpal mulutmu dengan ciumannya yang terasa manis, candu, dan mendebarkan. Kali ini ciumannya berlangsung lebih lama hingga membuat tubuhmu mulai berani untuk bertindak semaunya sendiri, seperti mengalungkan kedua lenganmu ke lehernya dan kedua tungkaimu melingkar di pinggangnya ketika Kuroo mulai mengangkat tubuhmu yang lebih pendek darinya hingga kepala kalian hampir sejajar.</p>

<p>Seperti dugaanmu, ia memang memiliki kekuatan dan stamina yang bagus hingga mampu menggendongmu dalam waktu yang lama seperti ini.</p>

<p>“Kuroo, aku berat tau,” ujarmu usai Kuroo melepaskan ciumannya.</p>

<p>“Lebih berat porsi latihanku, Kak,” jawabnya sembari tertawa.</p>

<p>“Kuroo..”</p>

<p>“Mau diturunin sekarang?” tawarnya yang kamu jawab dengan anggukan.</p>

<p>Namun, tentu saja Kuroo tidak lantas menurunkanmu dari gendongannya. Ia malah membawamu menuju ranjang dan menurunkanmu diatasnya. Membuatmu diam seribu bahasa, salah tingkah, dan jantungmu seperti berlari-lari kencang mengelilingi rongga dadamu.</p>

<p>Ia raih sebelah tanganmu dan meletakkannya tepat diatas miliknya yang sudah menojol ingin menerobos resleting jeansnya yang sudah tampak sesak.</p>

<p>“Kaya yang aku bilang tadi, Kak. Yang ini juga udah gede,” ujarnya.</p>

<p>Kuroo bodoh! Jadi ini yang ia maksud ketika ia berkata bahwa miliknya yang lain juga tumbuh besar dalam pesan singkatnya tadi?</p>

<p>Tanganmu sedikit gemetar menyentuhnya. Wajar &#39;kan, jika kamu gemetar menyentuh kejantanan milik seorang pria? Meskipun itu adalah milik Kuroo, kekasihmu sendiri.</p>

<p>“Kamu elus-elus gitu malah makin sesak, Kak,” komentarnya sembari mengatupkan rahangnya.</p>

<p>“Terus gimana? Mau aku buka?” tawarmu, bodoh sekali jika kamu mengira Kuroo akan menolaknya. Tentu saja ia akan senang hati menerima tawaranmu untuk membebaskan kejantanannya yang sudah menegang dari belenggu celana jeans yang kian membuatnya sesak itu.</p>

<p>Kamu meneguk salivamu dengan berat ketika melakukannya.</p>

<p>Untuk pertama kalinya kamu melihat milik seorang pria secara langsung dalam jarak sedekat ini. Kamu bahkan dapat menghirup aroma hangat yang khas darinya.</p>

<p>“Gimana, Kak? Gede kan?” tanyanya dengan bangga meski telinganya terlihat memerah. Sebuah bukti bahwa sebenarnya ia juga malu mengatakan hal sekonyol itu.</p>

<p>Melihatnya yang demikian, entah mengapa malah menggelitik nalurimu dan membuatmu ingin menggodanya.</p>

<p>Jarimu menyentuh pucuk penisnya yang berwarna lebih gelap, lebih sensitif, dan sedikit licin dengan <em>pre-cum</em>. Membuat tubuh Kuroo merinding hingga membuat rahang dan lehernya menegang menahan rangsangan yang kamu berikan.</p>

<p>“Kamu terakhir coli kapan?” tanyamu sembari mengelus batang keperjakaannya. Bukan apa-apa, kamu hanya penasaran karena miliknya terlihat begitu sensitif terhadap sentuhanmu.</p>

<p>“Dua bulan yang lalu? Mungkin?” jawabnya sembari memejamkan mata ketika lidahmu menyentuh miliknya dan memeberinya sensasi hangat yang menggairahkan dan mendebarkan.</p>

<p>Namun, ketika kamu ingin benar-benar memasukkannya ke dalam mulutmu dan memanjakannya, ia menahan bahumu, <em>“No!</em> Mulut kamu yang manis buat ciuman.”</p>

<p>“Yang ini.. tempatnya di mulut kamu yang becek di bawah sini,” imbuh Kuroo sembari mendorong tubuhmu pelan hingga terbaring di atas ranjang dan tangannya menarik karet celana pendek yang tengah kamu kenakan.</p>

<p>Gila. Gila. Gila!</p>

<p>Isi kepalamu seperti berlarian panik kesana kemari hingga membuat debaran jantungmu menggila ketika Kuroo menindihmu dengan tubuhnya yang otot-ototnya tampak menonjol dari balik kaos polos hitamnya.</p>

<p>Ia menahan tubuhnya dengan kedua lengannya di samping tubuhmu. Iris mata kelabunya membuatmu terperangkap dan tersesat dalam pesonanya. Ia kecup singkat bibirmu sebelum bertanya dengan nada rendah dan sedikit serak, <em>“So, can I prove to you that I&#39;m not a kid anymore?”</em></p>

<p><em>“Do whatever you want,</em> Kuroo,” jawabmu yang benar-benar sudah terhipnotis olehnya.</p>

<p>Mendengar jawabanmu, Kuroo segera melepas kaos hitamnya yang membalut tubuh kokoh dan berototnya. Tidak lupa, ia juga melepas celana jeans yang membelenggunya. Dan tidak hanya itu, ia bahkan membantumu untuk melepaskan pakaian, membuatmu berkali-kali lipat merasa malu, namun kamu nemilih pasrah karena sudah memberinya kebebasan untuk berlaku sesukanya.</p>

<p>Ia ciumi leher dan tulang selangkamu hingga meninggalkan bercak-bercak kemerahan di atasnya. Lalu ia kembali melumat bibirmu sembari tangannya menggerayangi dadamu hingga membuat tubuhmu menggeliat di bawahnya.</p>

<p>Setelah ia menyudahi ciuman panjang yang sudah cukup membuat tubuhmu bergetar menahan rangsangan yang mendebarkan, ia memegang kedua pahamu dan melebarkannya hingga menampilkan milikmu yang sudah basah dengan lendir kenikmatan.</p>

<p>“Bener kan, Kak? Mulutmu yang satu ini udah becek banget,” komentarnya, membuatmu malu setengah mati.</p>

<p>Melihatmu yang memalingkan wajahmu yang memerah dan malu-malu, ia mulai gesek-gesekkan batang miliknya dengan kemaluanmu, dan membuat pinggulmu menggeliat dan vaginamu semakin berkedut. Begitu erotis hingga Kuroo tidak lagi mampu menahan diri untuk memasukkan keperjakaannya ke dalam milikmu yang juga masih perawan.</p>

<p>Ketika kepala penisnya berusaha masuk, kamu nyaris menjerit karena rasa sakit yang tiba-tiba terasa menusuk.</p>

<p>“Maaf,” ujarnya tanpa penyesalan karena ia masih berusaha menjejalkan miliknya.</p>

<p>“Ah! Kuroo, pelan-pelan..” ucapmu lirih.</p>

<p>“Tahan, Kak. Kamu sempit banget, susah masuknya,” titahnya sembari mengecup dahimu.</p>

<p>Dahinya berkerut, alisnya hampir bertaut, matanya terpejam, rahangnya mengeras, dan otot lehernya terlihat mengencang, ia begitu fokus ingin memasukkan miliknya kedalam vaginamu yang terus menerus menjepitnya dengan liar, mengabaikan sedikit cairan kental berwarna merah yang merembes keluar.</p>

<p>Keperawananmu berhasil ia terobos masuk dengan penisnya yang tegak dan besar, membuat bagian bawah pada tubuhmu terasa nyeri yang luar biasa hingga membuatmu menangis menahannya.</p>

<p>“Kuroo... sakit...” cicitmu.</p>

<p>“Maaf...” balasnya dan kembali menciummu sembari tangannya mencari-cari titik sensitifmu yang lain agar vaginamu terus mengeluarkan pelumas alaminya dan mengurangi rasa nyerimu.</p>

<p>Setelah beberapa saat berlalu dan kamu tampak sudah berhasil mengalihkan rasa sakitmu, Kuroo mulai menarik pinggulnya dengan perlahan, lalu kembali mendorongnya hingga membuat milikmu familiar dengan batang miliknya.</p>

<p>Kamu memegangi kedua lengan kokohnya yang berada di samping tubuhmu, mencoba mencari-cari kekuatan ketika ia menghujammu.</p>

<p>Kuroo tidak begitu pandai, dan begitu pula kamu yang tidak tahu harus bergerak seperti apa, karena ini adalah kali pertama kalian melakukannya setelah bertahun-tahun memadu kasih dan merasa sudah dewasa untuk mengambil sebuah pilihan beserta risiko yang harus dihadapi bersama setelahnya.</p>

<p>Ketika hasratnya membumbung tinggi dan penisnya menegang, biasanya Kuroo hanya akan menyelesaikannya di dalam kamar mandi menggunakan tangannya sendiri, tanpa bantuan dari film maupun majalah dewasa yang menampilkan perempuan-perempuan berbadan seksi. Namun, sesekali ia berfantasi melakukan aktifitas seperti ini denganmu. Tidak, sepertinya kurang tepat jika dilakukan berulang kali disebut dengan &#39;sesekali&#39;. Sehingga, wajar sekali jika Kuroo masih belum ahli dalam melakukan ini, apalagi untuk memuaskanmu.</p>

<p>Sedangkan kamu, hanya seorang wanita dengan keseharian membosankan, yang terlampau lelah untuk melakukan aktifitas lain selain tidur dan mencari penghiburan dengan makanan enak, tontonan lucu, atau sekadar berjalan-jalan santai bersama kekasihmu atau sahabatmu, Alisa. Tentu saja meski usiamu lebih dewasa darinya, kamu juga sama sekali tidak memiliki pengalaman. Bahkan memikirkan melakukannya seperti ini saja tidak pernah. Bukannya sok suci, pikiranmu sudah terlanjur dipenuhi dengan urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya dan tagihan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin membuatmu pusing mengatur pendapatan.</p>

<p>Dan ketika dua orang tanpa pengalaman tengah memadu cinta diatas ranjang, mereka hanya akan menggunakan insting dan nafsu sebagai pembimbingnya.</p>

<p>Seperti saat ini, Kuroo menahan kedua pergelangan tanganmu dengan tangan kirinya, mulutnya sibuk melumat bibirmu, tangan kanannya memainkan dadamu, dan penisnya bergerak ritmis dalam lubang vaginamu, itu semua ia lakukan berdasarkan instingnya sebagai pria dan nafsunya yang makin memuncak ketika mendengarmu memanggil namanya berulang kali di tengah desahanmu yang terdengar candu di telinganya.</p>

<p>“Hhh... Kuroo... Kuroo...”</p>

<p>“Dikit lagi, Kak..” ujarnya.</p>

<p>“Jangan.... hhh... Kuroo... Jangan di dalem-nghhh...”</p>

<p>Kuroo menarik penisnya dan menyemburkan cairan putih kental yang hangat diatas tubuh lemasmu yang mengkilap dengan keringat. Ia terpesona melihatmu yang tak berdaya di bawahnya dengan tubuh penuh peluh dan mani miliknya, dengan wajah merona dan mata sembab menerima sodokan darinya, dan dengan bibir ranum yang sedikit berdarah akibat ia lumati berkali-kali dan gigit lembut beberapa kali. Hingga sekali lagi, membuat penisnya kembali menegang dan hendak menghujam lubang yang telah ia ambil keperawanannya.</p>

<p>Kali ini ia ia tidak lagi menindih tubuhmu, melainkan berbaring di samping kananmu. Lalu, ia angkat paha kananmu dan ia masukkan penisnya dengan posisi menyamping agar tubuhnya tidak terlalu kelelahan.</p>

<p>Beruntung, tetangga kanan dan kirimu sedang tidak berada di dalam kosan. Yang satu tengah menjalani <em>shift</em> malam, dan yang satunya lagi tengah kembali ke rumah orang tuanya untuk berlibur, sehingga tidak akan ada yang mendengar aktifitas sensualmu bersama Kuroo pada malam ini.</p>

<p>Kuroo menyodokmu lebih keras dibanding sebelumnya, dan kamu tidak lagi merasakan sakit seperti beberapa saat yang lalu. Justru, kamu malah menikmatinya hingga tanpa sadar tanganmu menyentuh payudaramu sendiri dan memainkannya ketika Kuroo menyodok lubang vaginamu yang semakin basah dengan lendir.</p>

<p>Pinggulmu bergerak-gerak liar tanpa henti, dan desahan-desahan yang kamu keluarkan membuatnya makin bersemangat hingga membuat pegas-pegas di dalam kasurmu terdengar begitu keras akibat guncangan dari Kuroo yang menggenjotmu makin kencang di atas ranjang berukuran sedang milikmu.</p>

<p>Sungguh gila, tubuhmu benar-benar berlumuran cairan mani miliknya sekarang ini. Dan lagi-lagi bagian bawah tubuhmu turut memancarkan cairan bening kental yang akan membuatmu kesulitan mencucinya apabila terkena spreimu, yang walaupun memang sudah basah bercampur cairan mani milikmu dan Kuroo, dan juga keringat kalian berdua.</p>

<p>Setelahnya, Kuroo memelukmu tubuhmu yang sudah terkulai lemas setelah dua kali ia gempur dan membuat cairan kenikmatan tumpah ruah dari tubuhmu. Kamu dapat merasakan debaran jantungnya ketika dada bidangnya yang hangat menyentuh punggungmu, lalu berbisik tepat di telingamu, <em>“I love you,</em> Kakak cantik.”</p>

<p>Ia berbaring sejenak di sebelahmu untuk memulihkan energinya sebelum akhirnya bangkit untuk mandi. Lalu, ia kembali dengan sebaskom air hangat dan handuk basah untuk membersihkan tubuhmu yang sudah terkulai dan terlelap di atas ranjang akibat kelelahan.</p>

<p>Tangannya terulur untuk merapihkan anak-anak rambut yang menutupi wajahmu yang tampak cantik dan lugu ketika tertidur pulas. Ia tersenyum simpul, lalu menyeka lembut wajahmu yang basah oleh keringat, saliva, dan bekas air mata dengan handuk basah yang ia bawa.</p>

<p>“Maaf ya, Kak. Padahal kamu juga lagi capek habis pulang kerja,” gumamnya sembari menyeka wajah dan lehermu.</p>

<p>Ia bersihkan tubuhmu dengan telaten, lalu mengganti spreimu yang basah dengan selimut. Ia tidak tahu dimana kamu menyimpan sprei bersih, sehingga ia hanya memilih menggunakan kain apa saja yang setidaknya bersih dan cukup nyaman untuk berbaring istirahat malam ini.</p>

<p>Kuroo kembali berbaring di sampingmu setelah ia mengucek sprei kotormu dengan tangannya supaya bekas-bekas cairan kental yang berbau khas itu tidak meninggalkan jejak noda, dan memudahkannya untuk mencucinya keesokan harinya.</p>

<p>Ia rangkul pinggangmu, lalu menarik tubuh telanjangmu agar lebih rapat dengannya, dengan dada bidangnya yang juga tidak terbalut satu kain pun. Dengan lembut, ia belai-belai suraimu hingga kantuk menyerangnya dan jatuh terlelap dengan tangannya yang masih mendekapmu hingga fajar menyingsing dan membangunkan kalian berdua yang tertidur dibalik selimut tipis dengan tubuh tanpa busana.</p>

<hr/>

<blockquote><p>©️ <strong><em>unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/kuroo</guid>
      <pubDate>Sat, 22 Jun 2024 01:43:13 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Writer&#39;s Secret 2</title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/writers-secret-2?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Suguru Geto x writer fem!reader x Sukuna Ryomen&#xA;&#xA;  5,558 words&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  ⚠️ Tags: explicit sexual content, harsh words, adult language, NSFW, foreplay, mmf, threesome, rough sex, spanking, licking, biting, blowjob, double penetration, body fluids, squirting, etc (possible kink exploration)&#xA;&#xA;---&#xA;!--more--&#xA;Suara papan ketik yang kamu tekan terdengar seakan memenuhi penjuru ruangan, begitu jelas betapa sepinya suasana saat ini dibandingkan dengan semalam ketika Suguru dengan tanpa ampun menggagahimu. &#xA;&#xA;Kali ini kamu lebih memilih untuk duduk bersila di lantai dan menggunakan meja lantai berukuran kecil guna menaruh laptop yang tengah kamu pakai untuk melanjutkan naskah ceritamu yang sempat mangkrak di bagian draft. Sedangkan Suguru, ia duduk tepat di belakangmu, membiarkan dirinya sebagai sandaran untukmu yang duduk diantara kedua pahanya. Tentu saja, tidak mungkin ia hanya diam menjadi sandaran. Tangan dan mulutnya tidak ada henti-hentinya menjahilimu seperti meraba-raba kulitmu dan mencium tengkukmu dengan dalih, &#34;Sebagai penulis, kamu harus bertahan di setiap situasi, Sayang.&#34; &#xA;&#xA;Suguru merangkul perutmu dengan posesif dan menaruh dagunya di bahumu. Kamu bisa merasakan deru napasnya yang menyapu kulit lehermu, dan tidak lama mulai terasa sesuatu yang hangat dan basah menempel diatasnya. Ia menjilati lehermu dan menghisapnya hingga meninggalkan bekas-bekas kemerahan di sana sambil berkata, &#34;Ini punya Suguru.&#34; &#xA;&#xA;Kamu terkekeh pelan, merasa lucu dengan tingkahnya yang hari ini terlihat lebih clingy dan posesif daripada biasanya. Hingga membuatmu bertanya-tanya, hal apa yang membuatnya seperti ini padahal ia tahu jelas bahwa kamu adalah miliknya. Dan akan selalu menjadi miliknya satu-satunya. &#xA;&#xA;&#34;Kak, aku mau nulis dulu sebentar,&#34; ujarmu. &#xA;&#xA;&#34;Nulis aja, aku gak ganggu,&#34; balasnya sembari meraba-raba dadamu yang hanya berbalut tanktop dengan jarinya. Sungguh, itu adalah jawaban yang sangat bertentangan dengan tingkahnya. &#xA;&#xA;&#34;Kak, please..&#34; pintamu. &#xA;&#xA;&#34;Kamu mau lanjut nulis yang ngewe bertiga itu?&#34; tebaknya. &#xA;&#xA;Tentu saja kamu terkejut, berarti ia diam-diam sudah membaca salah satu dari beberapa draft yang kamu tulis. Fantasi tentang dua pria dan satu wanita yang bercumbu di suatu malam yang panjang, tentunya pernah membayangi pikiranmu sehingga kamu langsung menuangkannya dalam bentuk tulisan. Namun, kamu tidak begitu yakin dengan apa yang kamu tulis, sebab kamu benar-benar menulis tanpa adanya pengalaman dan hanya berdasarkan fantasimu semata. Fantasi liar bahwa dua Suguru menggagahimu dengan nafsu yang luar biasa besar. &#xA;&#xA;&#34;Kamu baca draft ku lagi?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya, kamu kan udah ngizinin aku buat baca-baca dan kasih kamu masukan?&#34; jawabnya. &#xA;&#xA;Kamu terdiam dan tidak bisa menyanggahnya, karena kamu memang benar-benar melakukannya. Namun kamu tidak tahu bahwa dia juga akan serius dan terus membaca apa pun yang kamu tulis tanpa merasa jijik ataupun memandangnya rendah. Justru ia malah dengan senang hati membahasnya denganmu atau melakukan reka adegan seperti yang kamu tulis untuk membantumu menemukan suasana dan feel yang tepat dengan apa yang kamu tulis. &#xA;&#xA;&#34;Sayang, are you want to actually try it yourself?&#34; &#xA;&#xA;Kamu sedikit terkejut dengan ucapannya. Tidak menyangka ia akan menanyaimu hal yang kamu sendiri tidak begitu yakin, apakah kamu ingin merasakannya sendiri atau akan membiarkannya terkubur dalam pikiranmu saja. Meski membayangkannya saja sudah cukup membuat vaginamu berkedut dan mendamba. &#xA;&#xA;&#34;Kak, I&#39;m a writer after all. I have to put myself in my characters&#39; shoes and fully immerse myself into their experiences,&#34; balasmu. &#xA;&#xA;Kamu kembali berbicara setelah jeda selama beberapa saat, &#34;But I don&#39;t know if I have the guts to actually do it in real life. It&#39;s just something I&#39;m exploring in my writing, Kak.&#34; &#xA;&#xA;Suguru tidak lantas menyahuti ucapanmu, ia malah membenamkan wajahnya di ceruk lehermu dan tangannya mulai menangkup kedua payudaramu dan meremas-remasnya. &#xA;&#xA;&#34;But.. what if you had the chance to experience it for real, Yang? Wouldn&#39;t it be tempting and exciting?&#34; bisiknya sembari tangannya masih menjamah dadamu hingga membuat kedua putingmu tampak menojol dari balik tanktop ketat yang tengah kamu kenakan. &#xA;&#xA;Bukannya menjawab, kamu malah melenguh pelan dan tubuhmu sedikit berjengit karena ulahnya. Tanganmu yang semula berada di atas papan ketik, kini beralih pada punggung tangan Suguru yang masih memainkan dadamu seenaknya sendiri. &#xA;&#xA;Tidak mungkin seorang pencemburu sepertinya mengizinkan pria lain untuk ikut bercinta denganmu, bukan? Ya, benar. Apalagi seorang pria baik-baik sepertinya, benar-benar tidak mungkin berpikir demikian. &#xA;&#xA;Kemudian ia memagut bibirmu, dan lidahnya mulai bergerak menjelajah ke dalam, yang tentu saja kamu terima dengan mulut terbuka. Tubuhmu mulai melemas dan sedikit panas, namun sebuah notifikasi pesan menginterupsi waktumu bermain lebih intim dengannya. &#xA;&#xA;Suguru melepaskan ciumannya tanpa melepaskan rangkulannya sedikit pun dan memintamu untuk mengecek ponselmu yang baru saja berbunyi. &#xA;&#xA;&#34;Siapa, Yang?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tetangga sebelah, katanya ada paket buat aku. Tapi.. seingetku, aku gak pesen apa-apa,&#34; jawabmu dengan napas tersengal-sengal. &#xA;&#xA;&#34;Oh, tadi pagi aku pesen sesuatu. Pake Same Day, kirain bakal sore nyampenya,&#34; sahutnya dengan tenang. &#xA;&#xA;&#34;Kak, Sukuna mau kesini..&#34; ucapmu yang kemudian disusul dengan suara ketukan pada pintu kamarmu. &#xA;&#xA;Mau tidak mau, kamu bangkit dari posisi dudukmu yang nyaman dalam rengkuhan hangat Suguru dengan malas dan berjalan mendekati pintu. Merepotkan sekali memiliki tetangga yang keras kepala seperti Sukuna, batinmu. &#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Sukuna berdiri di balik pintumu, menunggumu membukakan pintu dengan bermacam-macam pikiran. Terlebih kamarmu yang biasanya ia dengar ramai dengan suara-suara erotis, kini terbilang cukup sepi, bahkan kamu sendiri tidak kunjung keluar dari kamarmu meski sudah ia ketuk berkali-kali. &#xA;&#xA;Namun, ketika ia hendak mengetuk pintumu sekali lagi, pintumu terbuka dan membuat jantung Sukuna yang sudah lama mati dengan cinta, kembali berdegup. Rona merah di wajahmu yang tampak malu-malu, mata indah yang tampak seperti kaca, rambut yang kamu tata dengan asal hingga helaiannya menutupi sebagian dahimu, leher yang menawan dengan bekas-bekas kemerahan yang menghiasi, tanktop yang sedikit merosot hingga membuat payudaramu tampak ingin keluar, dan... puting susumu yang begitu kentara hingga dapat membuat seorang Sukuna diam mematung di hadapanmu. &#xA;&#xA;&#34;Sukuna?&#34; panggilmu, berusaha menyadarkan lamunannya. &#xA;&#xA;Ia menjadi sedikit salah tingkah di depanmu dan segera saja ia menyodorkan paket yang ada di tangannya kepadamu. Dan tanpa sengaja, ujung paket berukuran tipis itu malah menggesek putingmu yang sudah mengeras hingga membuatmu mendesah dan sukses membuat milik Sukuna menegang hebat. &#xA;&#xA;Tentu saja, kamu sendiri terkejut dengan tingkahmu sendiri hingga reflek menutup mulutmu sendiri dengan tangan. Malu, malu sekali. Rasanya kamu ingin membenamkan diri di dalam bagian terdalam bumi hingga tidak dapat ditemukan oleh siapapun lagi. Sedangkan Sukuna, matanya semakin terkunci padamu, memandangmu dengan nafsu menggebu yang selama ini ia tahan, dan tubuhnya benar-benar menginginkanmu. Sepertinya ia bahkan tidak lagi peduli dengan fakta bahwa kamu telah memiliki seorang kekasih. &#xA;&#xA;Jika bukan karena kekasihmu, Suguru Geto, yang tiba-tiba menghampirimu dan meminta Sukuna untuk singgah, mungkin kamu tadi sudah menutup pintu dan menghindar dari Sukuna sejauh-jauhnya. &#xA;&#xA;&#34;Sayang, gak apa-apa kan kalo Sukuna mampir di sini dulu?&#34; tanya Suguru dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. &#xA;&#xA;Demi Tuhan, kamu tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran kekasihmu itu. Tunggu, apa dia serius dengan ucapannya tadi denganmu? Tidak. Tidak mungkin. &#xA;&#xA;&#34;Gak usah, gua langsung balik aja. Gua cuma mau nganter paket lu aja kok,&#34; sanggah Sukuna, walau dalam hati ia sedikit menyesali ucapannya sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Yakin lu mau balik dalam keadaan ngaceng begitu?&#34; balas Suguru yang mendapat tatapan tajam dari Sukuna. &#xA;&#xA;&#34;Maksud lu apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gak mau ngerasain ini?&#34; ujar Suguru sembari meremas sebelah payudaramu di hadapan Sukuna yang urat di lehernya terlihat sedikit menegang, terlihat sekali ia mati-matian menahan nafsunya sendiri. &#xA;&#xA;Kamu memekik pelan ketika Suguru kembali meremas-remas payudaramu. Dan beruntungnya, lokasi kamarmu dan Sukuna berada di lantai paling atas dan hanya dihuni oleh kalian berdua, sehingga tidak ada penghuni kost lain yang mendengar pembicaraan kalian. &#xA;&#xA;Pikiranmu mulai tidak karuan, bahkan tubuhmu sendiri mulai sulit dikendalikan ketika berpikir bahwa dua pria di hadapanmu ini akan memangsamu di atas ranjang bersama-sama. Sial, tanpa sadar kamu merapatkan kedua pahamu karena memikirkan hal itu. &#xA;&#xA;Melihat tubuhmu yang mulai menggeliat dalam pelukan Suguru dan mendengar suaran desahanmu yang menggelitik telinganya, Sukuna menyeringai, memamerkan gigi-giginya seperti predator yang bersiap untuk menerkam mangsanya. Tentu saja ia tidak akan repot-repot mencari alasan untuk menolak, karena hal ini lah yang ia tunggu-tunggu setelah beberapa kali hanya dapat mendengar betapa hebatnya kamu dan kekasihmu bercinta dari balik kamarnya. &#xA;&#xA;&#34;Gasss!&#34; seru Sukuna yang melangkah masuk ke dalam kamarmu dan mengunci pintu, ia benar-benar sudah menyerahkan akal sehatnya pada nafsu. &#xA;&#xA;Suguru yang mulanya merangkulmu, kini mendorong pelan tubuhmu ke atas ranjang. Membiarkanmu menatap dua pria berbadan kekar itu melepas pakaiannya, bersiap memangsamu hidup-hidup hingga kamu menangis dan memohon. &#xA;&#xA;Ketika mereka mulai menurunkan celana, kamu hanya terpikirkan satu kata. Mati. Kamu mungkin akan mati jika kedua penis yang besar itu memasuki lubang senggamamu. &#xA;&#xA;Jika sebelumnya kamu berpikir bahwa milik Suguru besar, maka milik Sukuna lebih besar lagi. Rasa merinding dan ngeri mulai menjalar ke seluruh tubuhmu ketika terpikirkan sebuah kemungkinan, bahwa bisa saja kedua penis itu akan merobek alat kelaminmu dan menciptakan rasa sakit melebihi saat pertama kali kamu melakukannya dengan Suguru. &#xA;&#xA;Sukuna menghampirimu lebih dulu dengan penisnya yang setegak pedang, setebal tongkat kayu, berurat, berwarna lebih gelap dari milik Suguru, dan berdenyut-denyut seakan menggodamu untuk menyentuhnya. &#xA;&#xA;Tanganmu menyambut godaan itu. Miliknya terasa hangat dan padat sekali di dalam genggamanmu, dan cairan kental sedikit membasahi ujung penisnya. Kamu tahu, dia pasti tidak sabar ingin menjejalkan miliknya dan bermain-main denganmu. Namun sebelum itu terjadi, Suguru mulai berbicara untuk memeringati. &#xA;&#xA;&#34;Sukuna, gua ajak lu kesini buat bantu cewek gua eksplorasi suasana dan feel dari tema yang lagi dia tulis. Jangan ngarep lebih, apalagi baper, dan lu wajib pake kondom!&#34; ujarnya sembari melempar sebungkus kondom pada Sukuna. &#xA;&#xA;&#34;Hm? Writer? Writer bokep?&#34; sahut Sukuna sembari menangkap lemparan dari Suguru dan beralih menatapmu dengan ekspresi terkejut. Sedangkan kamu malah memalingkan wajah dengan malu dan Suguru menanggapi dengan kekehan pelan. &#xA;&#xA;&#34;Gak usah ngeliatin gue begitu,&#34; pintamu pada Sukuna. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa? Bikin lu tambah sange?&#34; balasnya. &#xA;&#xA;&#34;Gak! Gak mungkin gue sange sama cowok yang baru gue kenal!&#34; sanggahmu. Alih-alih untuk meyakinkan kedua pria disana, sanggahanmu barusan malah lebih terasa seperti kamu yang sedang berusaha meyakinkan dirimu sendiri. Tidak mungkin kamu terangsang karena tubuh atletis ataupun penis besar milik pria yang tampak menyebalkan itu, tidak di hadapan kekasihmu sendiri. &#xA;&#xA;Sukuna tertawa, kamu berkata demikian namun tanganmu masih saja memegangi kejantanannya yang kedutnya makin terasa seiring kamu membelainya. &#xA;&#xA;&#34;Your words say one thing, but your body tells a different story,&#34; ujarnya sembari menurunkan celana pendek yang kamu kenakan hingga menampilkan celana dalammu yang sudah terlihat sangat lembab. &#xA;&#xA;&#34;You can&#39;t deny that you&#39;re attracted to him, Sayang. Belum diapa-apain aja kamu udah becek banget,&#34; imbuh Suguru yang sama sekali tidak membantumu. Ia malah ikut menarik turun celana dalam yang kamu kenakan dan melepasnya bersamaan dengan celana pendek sepaha yang semula Sukuna turunkan dengan tangannya. Sungguh kerja sama yang menyebalkan! &#xA;&#xA;Lebih gilanya lagi, seingatmu mereka berdua tidak saling mengenal, bahkan Sukuna sendiri tampaknya tidak tahu nama kekasihmu itu. Tetapi, ajaibnya mereka malah terlihat sekompak ini untuk membuat tubuhmu menggila dan mendambakan atensi dari mereka berdua. &#xA;&#xA;Suguru mulai naik ke atas ranjang yang semakin terasa sempit karena kehadiran Sukuna. Ia mencium keningmu sebelum berbisik, &#34;Don&#39;t overthink it, Sayang. Just relax and let yourself enjoy the moment.&#34; &#xA;&#xA;Kemudian, ia memagut bibirmu. Melumatnya dengan lembut sebelum memadukan lidahnya denganmu seperti tarian sensual yang mempu membuat kepalamu seolah melebur dengan sensasi hangat dan mendebarkan. Tangannya yang terasa hangat membelai lembut perutmu, lalu merayap turun, turun, dan semakin turun hingga jarinya menyentuh klitorismu dan menggeseknya pelan, dan sesekali mencubitinya dengan lembut. &#xA;&#xA;Begitu saja rasanya tubuhmu sudah mulai menggila. Ditambah lagi dengan Sukuna yang tiba-tiba menarik turun tanktop yang sudah benar-benar mengetat di dadamu, membebaskan kedua gundukan yang putingnya sudah mengucup keras. Tubuhmu menggelinjang hebat kala lidahnya bergerak-gerak liar di atas kuncup sensitifmu itu, sedangkan tangannya menggesek-gesek dan menarik-narik kuncup di sisi lain. &#xA;&#xA;Kamu benar-benar tidak bisa berpikir rasional saat ini. Tubuhmu bertindak semaunya sendiri, pinggulmu sesekali terangkat dan menggeliat, jantungmu bertalu-talu yang bahkan debarannya terasa seperti menjalar hingga ke kepala, vaginamu berdenyut-denyut liar seakan tidak sabar untuk dihujam oleh penis-penis besar milik kedua pria itu, klitoris dan puting susumu yang dimainkan secara bersamaan mulai membengkak dan semakin membuatnya terasa lebih sensitif sehingga membuat cairan bening memancar keluar dari lubang kewanitaanmu dan membuat tangan milik Suguru basah. &#xA;&#xA;Suguru lantas melepaskan ciumannya, napasmu tersengal-sengal seperti ikan yang terdampar di atas daratan, sehingga ia membiarkanmu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum ciumanmu kembali dicuri. Tidak, kali ini bukan Suguru yang mencurinya. Mulutnya tengah sibuk menciumi lehermu yang sudah basah dengan keringat, meninggalkan jejak-jejak kepemilikannya di atas bekas-bekas kemerahan dan gigitan yang semalam telah ia berikan. Ia ciumi lehermu, tulang selangka yang menurutnya seksi, dan berhenti pada dadamu. Dada sekal yang putingnya memerah dan membengkak, sebab semalaman Suguru menghisapnya kuat-kuat, dan sekarang... bahkan Sukuna tampaknya juga tertarik untuk menyiksa kedua payudaramu sama seperti halnya Suguru. &#xA;&#xA;&#34;Ini dilepas aja, ya? Ganggu. Apa mau gua robek?&#34; tanya Sukuna sembari memegang tanktop-mu yang sudah memerosot hingga ke perut. Pakaian itu sepertinya benar-benar tidak ada lagi harga dirinya di situasi seperti ini. &#xA;&#xA;Kamu hanya mengisyaratkan padanya untuk membantumu melepasnya. Ia mengangguk dan tangannya mulai menarik tanktop-mu itu naik ke atas, melewati kepala dan lenganmu yang kamu angkat. Lalu dengan kurang ajarnya ia membaui ketiakmu yang masih sensitif karena waxing yang kamu lakukan pada beberapa hari yang lalu. Tiupan dari mulutnya membuatmu kegelian, dan lidah hangatnya yang basah dengan saliva malah menjilati. Membuatmu tanpa sadar merapatkan kedua pahamu karena rasa geli yang menggelenyar di pangkal paha. &#xA;&#xA;Dan kini, kamu sama bugilnya dengan kedua pria itu. Tidak ada sehelai pakaian pun yang menutupi bagian tubuhmu. &#xA;&#xA;Sukuna berbisik di telingamu, membuatmu merinding hingga tubuhmu begetar. Tidak. Bukan rasa takut yang  menghantui atau mengintimidasi yang kamu rasa, melainkan rasa takut bahwa kamu akan menyukai suara beratnya yang terdengar penuh dengan nafsu itu menggema di telingamu yang memerah, &#34;You&#39;re so damn sexy.. just as I imagined.&#34; &#xA;&#xA;Wajahmu terasa menghangat, tidak, sebenarnya seluruh tubuhmu kini terasa panas hingga keringat merembes keluar dari kulitmu, dan kamu dapat memastikan betapa merahnya wajahmu saat ini tanpa harus repot-repot mengeceknya di depan cermin. &#xA;&#xA;Kamu tidak tahu harus merespon pujian sensualnya itu seperti apa, selain dengan suara desahan yang keluar dari mulutmu kala Suguru memasukkan kedua jarinya ke dalam vaginamu yang sudah sangat basah dan berlendir. Pinggulmu menggeliat dan sedikit terangkat karena sensasi gila yang kamu rasakan ketika payudara kirimu yang dihisap kuat-kuat oleh Suguru dan yang sebelah kanannya diremas-remas oleh tangan kekar Sukuna, lidah Sukuna yang meliuk-liuk di dalam mulutmu setelah ia gigit lembut bibirmu, dan tangan Suguru yang tanpa belas kasih mengobok-obok lubang senggamamu dengan kedua jarinya secara bersamaan. &#xA;&#xA;Tubuhmu bergetar hebat karenanya, entah sudah berapa kali cairan pelumas memancar dari kewanitaanmu sehingga tubuhmu sudah mulai melemas, meski vaginamu tampaknya masih cukup bersemangat untuk mengapit dan memijit. Beruntung, Suguru sudah melapisi kasurmu dengan dua lapis selimut tebal di atasnya, sehingga kamu tidak perlu khawatir akan membasahi dan mengotori kasurmu lagi. Alasannya, tentu saja karena pada hari sebelumnya ia memang berniat untuk menggagahimu sebanyak seratus kali selama libur pada weekend ini, jadi dia sudah melakukan banyak sekali persiapan. Bahkan dia sampai membelikanmu beberapa vitamin, memastikan ada sayuran di dalam menu makanmu, dan ia juga memastikan tubuhmu cukup bergerak meski hanya berjalan kaki minimal tiga puluh menit perhari. Tampaknya ia ingin staminamu meningkat selama diatas ranjang bersamanya. &#xA;&#xA;Mulanya kamu hanya menganggapnya bercanda, tapi melihat keseriusannya membuatmu menjadi meragukan pendapatmu sendiri. &#xA;&#xA;Sukuna bangkit dari posisinya, ia rengkuh pinggangmu, dan menarikmu dalam dekapannya. Ia posisikan tubuhmu agar bersandar pada dada bidangnya dan menghadap ke depan, menghadap ke arah Suguru yang tengah merobek bungkus kondom dengan giginya, bersiap untuk menghunuskan penisnya yang tebal itu ke dalam lubang vagina yang sebelumnya sudah ia persiapkan dengan jari-jarinya. &#xA;&#xA;Tangan kekar Sukuna mulai menyentuh pahamu, lalu ia lebarkan ke samping dan membuat kewanitaanmu yang basah dengan lendir itu terekspos dengan sempurna. Tidak berhenti disitu, tangannya mulai bergerak ke atas, perlahan-lahan, dan berhenti tepat pada lubang vaginamu yang berkedut dan terlihat sudah sedikit memar akibat semalaman suntuk digagahi oleh kejantanan Suguru, lalu ia renggangkan lubang tersebut dengan kedua jarinya, seolah-olah membantu untuk menggoda kejantanan pria di hadapanmu agar segera menyumpal lubang elastis itu dengan penisnya. &#xA;&#xA;&#34;Udah ngangkang nih, Bos! Siap dientot!&#34; ujar Sukuna. &#xA;&#xA;Suguru sendiri sebenarnya tidak pernah mengira, bahkan ia sama sekali tidak pernah membayangkan dirinya akan bercinta denganmu bersama satu pria lain. Bahkan ia pun baru kali ini bertemu dengan pria itu, pria asing bernama Sukuna yang kini tengah merengkuh tubuhmu tanpa dihalangi oleh sehelai kain pun. &#xA;&#xA;Tanpa menunggu lama, Suguru segera memasukkan penisnya yang sudah kembali merindukan pijatan-pijatan sensual yang diberikan oleh vaginamu. Ia mengerang lega ketika penisnya telah berhasil masuk, &#34;Gila! Kamu udah semaleman dipake masih sempit aja, Yang.&#34; &#xA;&#xA;Tubuhmu mengejang dan menggeliat dalam dekapan Sukuna. Kamu semakin hilang akal ketika punggungmu yang sudah dibasahi peluh beradu dengan dada bidangnya yang terasa padat, jarinya menggesek-gesek klitorismu yang sudah membengkak kemerahan, sebelah tangannya memegangi payudaramu yang basah akibat peluh dan saliva dari kedua pria itu, dan lidahnya menari-nari pada daun telingamu. Sungguh stimulasi yang gila! &#xA;&#xA;&#34;Kak Sug.. nghh.. Kak Suguru..&#34; rintihmu pelan, tidak sanggup menahan rangsangan sebesar itu. Mendengarnya, sang pemilik nama tersenyum senang karena namanya kamu sebut di sela-sela desahanmu. &#xA;&#xA;Suguru menyugar rambut panjangnya yang sengaja ia gerai, mata sipitnya menatapmu dengan beragam pikiran cabul, dan seulas senyum masih bertengger di wajahnya yang berpeluh dan berona merah di kedua pipinya. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Sayang? Keenakan?&#34; tanyanya sembari menyodokmu dengan ritmis. &#xA;&#xA;Hanya lenguhan yang kamu keluarkan, kamu tidak mampu menjawab karena mulutmu sibuk bergulat dengan lidah Sukuna. &#xA;&#xA;Melihatmu yang tampak menikmati dan sibuk beradu lidah dengan pria lain, membuat Suguru merasa dilematis. Dadanya bergemuruh, tidak suka kamu menerima Sukuna dengan mudahnya. Kamu hanyalah miliknya. Milik Suguru satu-satunya. &#xA;&#xA;Suguru mencengkram pinggangmu, membuat tubuhmu sedikit terangkat hingga melepaskan ciumanmu dengan Sukuna, dan sodokannya menjadi lebih keras dengan ritme yang cukup cepat. &#xA;&#xA;Kamu tidak lagi didekap oleh Sukuna, melainkan oleh Suguru yang menopang tubuhnya dengan kedua lututnya di atas ranjang. Ia pegangi kedua pahamu yang melingkar di pinggulnya, dan tanganmu berpegangan pada bahunya yang lebar dan licin dengan keringat. &#xA;&#xA;Tentu saja, Sukuna tidak akan diam saja. Ia benar-benar sosok pria yang mampu mengambil kesempatan dalam segala situasi. Ia mendekat dan memasukkan satu jarinya ke dalam lubang anusmu. Beruntung, vaginamu terus menerus menumpahkan cairan kental sehingga dapat Sukuna gunakan sebagai lubricants alami untuk melonggarkan anusmu. Lalu ia masukkan satu jarinya lagi. Dan satu lagi, hingga ia rasa lubang sempit itu dapat menerima penis besarnya yang sudah menegang sejak tadi. &#xA;&#xA;Sejujurnya kamu tidak terlalu merasa, karena fokusmu kini adalah pada vaginamu yang seperti sedang dijajah oleh kejantanan Suguru. Kamu sendiri tidak begitu yakin seperti apa rasanya ketika jari-jari Sukuna meliuk-liuk di dalam anusmu karena hujaman dari Suguru terasa begitu mendominasi, selain perasaan seperti ada sesuatu yang mengganjal di rongga anusmu tentunya. &#xA;&#xA;Setelah memastikan cukup longgar dan tidak ada penolakan darimu, Sukuna mulai memasukkan penis besarnya yang tentu saja sudah ia balut dengan kondom pemberian Suguru. Ia masukkan dengan perlahan-lahan agar kamu tidak kesakitan, dan sedikit demi sedikit hingga masuk seluruhnya. &#xA;&#xA;Kamu menjerit, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Sukuna. Sedangkan Sukuna mengerang karena anusmu gila-gilaan menjepit miliknya, padahal ia baru berhasil memasukkan penisnya separuh saja. &#xA;&#xA;&#34;Akh! Robek! Nanti robek!&#34; jeritmu sembari merangkul tubuh Suguru yang sedikit licin dibanjiri keringat. &#xA;&#xA;&#34;Shhhh. Rileks, Sayang,&#34; bisiknya dengan lembut. &#xA;&#xA;&#34;Gak bisa! Gak bisa! Gak muat!&#34; racaumu. &#xA;&#xA;Sukuna memegangi pinggulmu, berusaha fokus untuk memasukkan miliknya yang sedari tadi sudah tidak sabar untuk menunggu gilirannya. &#xA;&#xA;&#34;Anjing, sempit banget!&#34; ujarnya sembari menggeram. &#xA;&#xA;Ini gila. Sangat gila. &#xA;&#xA;Dua pria berpenis besar ini benar-benar seperti tengah menjajah setiap lubang pada tubuhmu. Sungguh, melakukan anal sex tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranmu. Bahkan ide itu belum pernah sekalipun terbayangkan selama kamu menulis. &#xA;&#xA;Setelah dirasa anusmu sudah dapat menerima penisnya, ia mulai menggerakkan pinggulnya seirama dengan gerakan Suguru yang tengah menyodok lubang bagian depan. &#xA;&#xA;&#34;Sugus.. memeknya pasti sempit banget ya?&#34; tanya Sukuna &#xA;&#xA;&#34;Nama gua Suguru, goblok!&#34; sahut Suguru. &#xA;&#xA;&#34;Oke, Sugulol. Suguru tolol,&#34; balas Sukuna dengan tidak tahu malunya. &#xA;&#xA;&#34;Bacot lu, Sukuntol!&#34; jawab Suguru, tidak terima dikatai tolol oleh Sukuna. &#xA;&#xA;Sukuna tidak lagi menyahuti. Rahangnya mengeras, giginya terkatup rapat, dahinya berkerut, dan matanya terpejam. Ia merasa sesuatu akan muncrat dari penisnya sehingga ia hujam anusmu dengan tempo lebih cepat dari sebelumnya. Dan begitu pula dengan Suguru, mereka menggunakan tempo yang sama cepatnya demi capai klimaks yang akan membuat tubuh mereka seperti melayang dengan penuh kenikmatan duniawi. &#xA;&#xA;Tubuhmu seperti melayang di udara, namun sejatinya kamu memang benar-benar seperti melayang karena tubuhmu diangkat dan diapit oleh kedua pria berpenis besar yang menopang tubuh mereka dengan kedua lutut di atas ranjang. Tidak ada hal lain yang dapat kamu dengar selain suara becek yang erotis, deru napas berat kedua pria yang tengah menggenjotmu dari depan dan belakang secara bersamaan, serangkaian erangan penuh nikmat dan nafsu memuncak dari mereka, ranjang kayu yang berderit-derit keras, dan detak jantungmu yang meledak-ledak tidak karuan. &#xA;&#xA;&#34;Akh! Kak! Pelan-pelan... udah.. Sukuna!&#34; racaumu yang sudah kewalahan. Namun bukannya memelankan tempo, mereka malah makin menggempurmu dengan liar hingga tubuhmu mengejang dalam apitan tubuh berotot mereka, menengadah, mulut terbuka hingga lidah sedikit menjulur dan meneteskan saliva, bahkan kelopak matamu tidak sanggup menahan stimulasi yang begitu hebat sehingga sesekali terpejam menahan geli dan rasa nikmat yang sulit kamu gambarkan. &#xA;&#xA;&#34;Gimana, Sayang? Enak digenjot sama dua cowok?&#34; tanya Suguru. &#xA;&#xA;Kamu hanya menggumam tidak jelas hingga membuat Sukuna tertawa sembari menyampirkan rambutmu yang tergerai hingga leher dan bahumu yang mengkilap oleh keringat terekspos. &#xA;&#xA;&#34;Sampe merem melek gini masa gak enak?&#34; sahut Sukuna yang kini tangannya memainkan payudaramu, menggenggamnya, meremas-remas dengan gemas, dan sesekali mencubit serta menarik puting susumu yang berkali-kali lipat lebih sensitif saat ini. &#xA;&#xA;&#34;Ahh... stop.. aku gak kuat..&#34; cicitmu lirih dan terbata-bata. &#xA;&#xA;&#34;Gak bisa, Sayang. Memek kamu aja masih jepit-jepit minta digenjot sama kontolku,&#34; balas Suguru yang sama sekali enggan untuk berhenti meski cairan hangat dari vaginamu sudah mengalir membasahi kedua paha hingga lututnya. Bahkan, saking banyaknya, cairan licin itu juga mengalir hingga ke lubang anusmu dan membuat Sukuna basah, meski tidak sebasah Suguru yang penisnya memang sedang berada di dalam liang vaginamu. &#xA;&#xA;&#34;Aduh, anjing! Gua genjot boolnya aja udah enak banget! Gua mau juga ngerasain jepitan memeknya si lonte ini!&#34; seru Sukuna yang masih menggempur lubang pantatmu. &#xA;&#xA;&#34;Sayang? Kamu gak malu sampe dikatain lonte?&#34; bisik Suguru dengan napas berat dan suara yang serak. &#xA;&#xA;&#34;Hm? Apa malah bangga dikatain lonte?&#34; imbuhnya. &#xA;&#xA;&#34;Hngghh.. aku... ahh... bukan lonte...&#34; jawabmu dengan susah payah hingga berlinangan air mata yang malah mendapat sambutan tawa renyah dari kedua pria itu. Kedua pria yang stamina dan nafsunya seperti monster. &#xA;&#xA;&#34;Iya.. kamu bukan lonte, Sayang. Kamu pacarnya Kak Suguru,&#34; hibur Suguru sembari mengecup pipi dan kelopak matamu agar berhenti menangis. &#xA;&#xA;&#34;Lu pacar gua juga sekarang, nanti gua entot setiap hari,&#34; sahut Sukuna sambil mencium bahumu dan dihadiahi tepukan keras pada dahinya oleh Suguru. &#xA;&#xA;&#34;Gak usah ngimpi lu, setan! Ngocok aja lu sendiri!&#34; seru Suguru yang geram mendengar Sukuna tiba-tiba mengklaim dirimu adalah kekasihnya juga secara sepihak. &#xA;&#xA;&#34;Udah ngentot dahsyat gini masa gak lanjut, jing?&#34; protes Sukuna. &#xA;&#xA;Ah, diperebutkan oleh kedua pria bertubuh kekar dengan penis besar yang mampu memuaskanmu sampai seperti ini membuat tubuhmu seperti dipenuhi kupu-kupu, sedikit geli hingga membuatmu menggeliat dan bergesekan dengan tubuh mereka dari sisi depan maupun belakang tubuhmu. &#xA;&#xA;&#34;Kak... nghhh... aku mau... pipis...&#34; rintihmu. &#xA;&#xA;Tanpa membuang banyak waktu, Suguru dan Sukuna dengan kompaknya bergerak ke arah samping, ke tepi ranjang, lalu berdiri bersamaan hingga membuat tubuhmu benar-benar melayang tinggi dari pijakan bumi dalam gendongan mereka. &#xA;&#xA;&#34;Pipis aja, Sayang,&#34; ucap Suguru setelah berdiri agak jauh dari kasur. &#xA;&#xA;Tidak lama setelah ia berkata demikian, cairan hangat memancar dari uretramu hingga mengalir membasahi kaki Suguru dan Sukuna. &#xA;&#xA;&#34;Maafhhh... ahh.. hhh.. maafhh..&#34; cicitmu dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca. &#xA;&#xA;&#34;Cute banget, anjing!&#34; seru Sukuna yang penisnya makin terasa membesar di dalam lubang anusmu. &#xA;&#xA;&#34;Jangan pasang muka kaya gitu, Sayang..&#34; gumam Suguru yang sudah ingin memuncratkan cairan kental miliknya di dalam sana, hingga ia sodokkan penisnya dengan perlahan namun agak menyentak. &#xA;&#xA;Suguru menghentakkan pinggulnya sebelum mencabut keluar penisnya dan kemudian di susul oleh Sukuna yang juga mencabut miliknya setelah ejakulasi. &#xA;&#xA;Tubuhmu mulai limbung. Jika saja Sukuna tidak menahan punggungmu, mungkin kamu sudah terjatuh karena tanganmu sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk berpegangan pada bahu Suguru. &#xA;&#xA;Suguru melepas tangannya yang semula mencengkram kedua pahamu hingga meninggalkan bekas kemerahan di atasnya. Ia biarkan Sukuna menggendongmu dan kembali merebahkan tubuhmu di atas ranjang. &#xA;&#xA;Melihatmu yang tampak kepayahan, Suguru mengambil sebotol air mineral yang ada di atas meja dan membantumu untuk minum. &#xA;&#xA;&#34;Buat gua mana?&#34; tanya Sukuna yang dihadiahi tatapan tajam oleh Suguru. &#xA;&#xA;&#34;Lu siapa, kontol? Ambil sendiri, lah!&#34; sahutnya. &#xA;&#xA;&#34;Pelit banget, anjing!&#34; umpat Sukuna. &#xA;&#xA;Suguru mulai kelelahan, jika di malam sebelumnya ia tidak menghabiskan staminanya untuk menjantanimu semalaman suntuk, ia pasti sudah kembali menghujam lubang sempit milikmu yang masih berdenyut-denyut lapar itu. &#xA;&#xA;Ia duduk di tepi ranjang, lalu bersandar di atas tumpukan bantal dan guling milikmu untuk memulihkan energinya. Sedangkan Sukuna, penisnya sudah kembali menegang setelah melihat tubuhmu yang mengkilap dibanjiri keringat menggeliat lemah hingga membuat payudaramu bergetar indah, kejantanannya seakan siap untuk kembali bersenang-senang. &#xA;&#xA;&#34;Sug, ada kondom baru, gak?&#34; tanya Sukuna selepas mengikat kondom yang penuh dengan cairan mani miliknya yang semula ia kenakan. &#xA;&#xA;&#34;Gak modal lu,&#34; sahut Suguru. &#xA;&#xA;&#34;Mikir, anjing! Masa gua lagi bugil gini lari-lari ke kamar gua dulu buat ambil kondom? Bukannya lanjut ngentot, gua malah ditangkep warga!&#34; balas Sukuna. &#xA;&#xA;&#34;Tai!&#34; ujar Suguru yang terkekeh sembari melempar dua bungkus kondom untuknya. &#xA;&#xA;Sejujurnya kamu ingin tertawa mendengar ocehan mereka yang terdengar sangat akrab meski saling memaki. Namun tubuhmu terlampau lelah hingga tidak mampu bereaksi demikian, dan akhirnya kamu lebih memilih untuk fokus mengatur napasmu dan denyut jantungmu sendiri agar kembali stabil. &#xA;&#xA;&#34;Gak lanjut lu?&#34; tanya Sukuna yang kini tengah merobek sebungkus kondom baru dan memasangnya pada batang kejantanannya yang licin dengan mani. &#xA;&#xA;&#34;Lu dulu dah, takut encok gua,&#34; jawab Suguru. &#xA;&#xA;&#34;Oh iya, lu udah ngentot semaleman anjing! Kontol lu yang gak seberapa itu gak copot aja udah syukur.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bangsat lu, tukang nguping!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kedengeran ya, anjing! Sampe gua gak bisa tidur!&#34; keluh Sukuna. &#xA;&#xA;Tentu saja. Bukannya bersiap tidur, dia malah memainkan penisnya sendiri. Ia lakukan berbagai stimulasi pada penisnya sendiri seperti memijat, mengelus, dan menggosoknya dengan tangannya sendiri sambil mendengar desahan, erangan, dan suara erotis lainnya dari kamarmu. Ia bahkan berfantasi tengah menyodokmu hingga membuatmu memanggil namanya di sela-sela desahanmu. &#xA;&#xA;&#34;Ngocok kan lu?&#34; tebak Suguru dengan tingkat akurasi yang cukup sempurna. &#xA;&#xA;Sukuna tidak mau repot-repot menjawabnya. Ia memilih untuk kembali bersenang-senang dengan tubuhmu, dengan memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina yang sudah sejak beberapa malam lalu ia bayangkan betapa nikmatnya diapit olehmu. &#xA;&#xA;&#34;Suguru bangsat! Memek cewek lu enak banget!&#34; seru Sukuna yang mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, membuat suara derit kayu dan suara becek —dari kemaluanmu yang basah beradu dengan miliknya yang padat— terdengar memenuhi penjuru ruangan. &#xA;&#xA;Setiap sodokannya membuat tubuhmu berguncang hingga payudaramu seakan ikut melompat-lompat. Sukuna makin menyodok vaginamu dengan liar, cukup berhasil membuat tubuhmu kelimpungan. Pinggulmu bergerak-gerak tanpa arah bahkan sampai terangkat, membuat punggung dan kedua kakimu menopang bokongmu hingga tampak seperti jembatan. &#xA;&#xA;&#34;Ahh... please... gede banget...&#34; racaumu. &#xA;&#xA;Sukuna mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak diantara kalian berdua dan membisikkan namanya di telingamu, &#34;Sukuna.&#34; &#xA;&#xA;Benar, ia sangat ingin mendengar namanya kamu sebut kala ia menghujammu seperti sekarang ini. Sama seperti ketika kamu menyebut nama Suguru dengan suara lembut yang memikat seperti tadi. &#xA;&#xA;Sukuna mengecup lehermu yang basah, lalu menggigitnya hingga membuatmu memekik. Sungguh gila, dia bukan siapa-siapa tapi ingin meninggalkan bekas kepemilikannya di tempat-tempat yang semula sudah dijajaki oleh Suguru. &#xA;&#xA;&#34;Duh.. you drive me absolutely crazy,&#34; bisik Sukuna sembari mencium pipimu. &#xA;&#xA;Tanpa sadar, mulutmu terbuka seakan mendamba sebuah ciuman panjang darinya. Dan tentu saja, ia dengan senang hati memberikannya untukmu. Sebuah ciuman panjang yang panas dan mampu membuatmu hampir lupa caranya bernapas. &#xA;&#xA;Sukuna tampak begitu menikmati, bahkan lengan kekarnya dengan mudahnya mengangkat tubuhmu dari ranjang tanpa melepas penisnya maupun ciumannya. Lalu ia duduk di tepi ranjang dengan tubuhmu yang duduk di atas pangkal pahanya dan kedua lenganmu melingkar pada lehernya. &#xA;&#xA;Kabut cemburu dan kesal mulai merebak ke dalam hati Suguru kala melihatmu tampak begitu menikmati. Ia benar-benar cemburu melihatmu mengalungkan tangan pada lehernya ketika berciuman dengan Sukuna, ia tidak suka melihat pinggulmu bergerak naik turun seolah-olaah tubuhmu sangat menikmati dan jatuh cinta pada penis milik Sukuna yang hanya berukuran sedikit lebih besar darinya. Dia bahkan benci melihat tangan kekar Sukuna memeluk pinggangmu dengan posesif. Ia sangat cemburu! Itu semua adalah hal yang seharusnya kamu tujukan hanya kepadanya, hanya kepada Suguru seorang. Bukan malah kamu berikan juga kepada pria asing bernama Sukuna itu. &#xA;&#xA;Terlebih lagi, wajahmu yang tampak makin cantik meski dipenuhi oleh peluh dan juga saliva, menampilkan ekspresi yang sangat menggoda dan membuat suasana hati Suguru makin berkecamuk. Kamu menggigit kecil bagian bawah bibirmu sembari memejamkan mata ketika bokongmu bergerak naik turun diatas kejantanan milik Sukuna. &#xA;&#xA;Telapak tanganmu bersandar pada dada bidang Sukuna. Padat, kekar, hangat, basah oleh keringat, dan debaran jantungnya yang berdetak liar dapat kamu rasakan dalam tanganmu. &#xA;&#xA;Persetan dengan moralitas! Tubuhnya sangat atraktif hingga tanpa sadar membuat tubuhmu seperti dengan sengaja menggeliat di atas dadanya. Dan tanganmu dengan jahilnya mengelus-elus kedua puting kecilnya yang mengeras, dan sesekali menggaruk-garuk lembut dengan kukumu hingga membuat Sukuna mengeraskan rahangnya. &#xA;&#xA;Kamu penasaran, seperti apa rasanya jika puting susumu beradu dengan miliknya? Apakah akan terasa lebih enak? &#xA;&#xA;Untuk memuaskan rasa penasaranmu, tanganmu mulai memegang kedua payudaramu selagi Sukuna memegangi pinggulmu untuk membantumu bergerak naik turun seakan tengah menunggangi kuda. Setelahnya, kamu arahkan putingmu pada puting kecil miliknya dan menggesek-gesekkannya. &#xA;&#xA;Rasanya geli, tapi menciptakan sebuah adiksi yang unik pada tubuhmu. Kepalamu terasa merinding, dan dadamu makin membusung ketika rasa nikmat tidak mampu lagi kamu tahan. Segala tingkahmu barusan juga membuat Sukuna terangsang hingga ia hampir tidak bisa menahan ejakulasi. &#xA;&#xA;&#34;Ahh... Sukuna...&#34; desahmu keenakan sembari menggesek sebelah putingmu sendiri dengan miliknya, dan yang sebelahnya lagi kamu mainkan sendiri dengan jari tanganmu. &#xA;&#xA;&#34;Ah! Fuck!&#34; erang Sukuna ketika akhirnya ia mendengarmu memanggil namanya dengan nada sensual. &#xA;&#xA;Ia benar-benar tidak bisa menahan diri, ia kenyot sebelah payudaramu yang cabul, ia hisap kuat-kuat seakan setelahnya akan ada susu lezat yang keluar darinya, lalu kedua tangannya mencengkram pinggulmu dan menggerakkannya dengan tempo yang lebih cepat guna percepat Sukuna capai klimaks. Kamu yang lebih dulu capai, menggelinjang hebat hingga tubuhmu mengejang di atas pangkuannya. &#xA;&#xA;Menyaksikan itu semua sudah cukup membuat penis Suguru kembali bangkit dan berdenyut-denyut lapar. &#xA;&#xA;Setelah Sukuna capai klimaks, ia memelukmu sebelum kembali melepasmu di atas ranjang. Dan saat itu, Suguru menarik tanganmu hingga membuatmu merangkak mendekati penisnya yang sudah berdiri karenamu. &#xA;&#xA;Kamu menungging di depannya dengan mulut yang mengecup ujung penisnya. Aroma amis yang bercampur dengan sesuatu yang mirip seperti cairan pemutih itu membuat kepalamu sedikit pusing dan mual. Namun kamu berusaha menahan diri setelah Suguru berkata dengan nada serius, &#34;If you spit it out, I&#39;ll have to punish you.&#34; &#xA;&#xA;Senyuman telah pudar dari wajahnya, hal itu membuatmu tidak nyaman dan mendadak membuat kepalamu kembali berfungsi normal hingga mampu memikirkan Suguru yang suasana hatinya tampak berubah. &#xA;&#xA;Kamu bertanya-tanya apakah ia marah, atau hanya kelelahan saja? Tapi, jika ia benar marah, apa yang membuatnya marah? Dan jika ia kelelahan, tubuhmu bahkan berkali-kali lipat lebih lelah karena terus digempur oleh kedua pria itu tanpa adanya jeda yang cukup untukmu memulihkan diri. Oh ya, terima kasih atas insiatif kekasihmu yang tadi memberimu minum, jika tidak, mungkin tadi kamu sudah benar-benar ambruk karena lelah dan dehidrasi. Dan jika bukan keduanya, lalu apa? Mungkinkah ia cemburu atas ide gila yang ia cetuskan sendiri? &#xA;&#xA;Kamu mulai memasukkan penisnya ke dalam mulutmu. Besar sekali, benar-benar besar hingga membuat rahangmu sangat pegal dan mulai sakit, mustahil rasanya jika gigimu tidak akan menyentuhnya. &#xA;&#xA;&#34;Jangan kena gigi! Lidahnya dipake!&#34; titah Suguru. &#xA;&#xA;Tidak suka! Kamu tidak suka ini! &#xA;&#xA;Dimarahi olehnya malah membuat tubuhmu semakin panas. Bahkan ketika kamu memberikan kenikmatan pada penisnya dengan mulutmu, kamu malah dengan sengaja menggesekkan kedua puting susumu ka atas selimut lembab yang menjadi alas sekaligus saksi betapa liarnya kalian bercinta. &#xA;&#xA;Oh, sial. Melihat tubuhmu yang molek menungging sensual membuat Sukuna tidak tahan untuk kembali menyambar bokongmu dan kembali menjejalkan penisnya ke dalam vaginamu yang lagi-lagi mengeluarkan cairan kental berwarna bening hingga menetes-netes. Bagi Sukuna, itu adalah undangan terbuka untuk penisnya yang seperti tidak mengenal rasa puas. &#xA;&#xA;Hujaman demi hujaman yang kamu terima dari Sukuna membuat tubuhmu berguncang hingga mulutmu terasa makin sakit dan kebas karena penis Suguru yang berada di dalam mulutmu seperti ikut menyodok hingga hampir membuatmu ingin muntah dan kesulitan bernapas. &#xA;&#xA;Matamu mulai berkaca-kaca, bahkan air mata sudah mengalir dari sudut matamu, mengharap belas kasih dari pria di hadapanmu. Namun, bukannya menolong, Suguru malah memegangi kepalamu dan menggerakkan kepalamu secara ritmis sampai penisnya memuncratkan cairan putih yang terasa sedikit manis dan beraroma amis. Alih-alih menelan, kamu malah memuntahkannya sambil terbatuk-batuk karena hampir tersedak karenanya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu gak apa-apa, Sayang?&#34; tanya Suguru yang kini menangkup dagumu yang basah dengan spermanya. &#xA;&#xA;Kamu hanya mengangguk lemah, tidak sanggup lagi bersuara selain melenguh, mendesah, dan merintih. &#xA;&#xA;&#34;Sugus.. kalo gak pake kondom pasti lebih enak..&#34; ujar Sukuna dengan suara berat dan patah-patah sembari menghentakkan pinggulnya beberapa kali hingga wajahnya menampilkan ekspresi lega dan penuh nikmat. &#xA;&#xA;&#34;Suguru, bangsat!&#34; koreksinya. &#xA;&#xA;Tubuhmu ambruk dan terkulai lemas di hadapan kekasihmu. Napasmu masih tersengal-sengal, dan tubuhmu masih bergetar-getar, terlebih pinggulmu yang masih menggeliat dan berkedut hebat setelah digempur habis-habisan. Bahkan, sepertinya kamu sudah tidak merasakan persendianmu lagi saking lemasnya. Sisanya hanya mengandalkan reaksi murni dari tubuhmu sendiri, gerakan jujur yang sama sekali tidak kamu buat-buat bahkan kamu sadari. &#xA;&#xA;Begitu pula Sukuna yang mulai kelelahan hingga ikut merebahkan tubuhnya pada kasur milikmu yang berukuran sedang itu, lalu ia lepas kondom yang sejak tadi mengurung burungnya seperti sangkar dan melemparnya asal. Ia terlentang dengan penisnya yang tampak layu, tidak sebesar dan setegak sebelumnya. Mungkin, jika disentuh juga tidak akan sekeras tadi, melainkan sedikit lembek, basah, dan licin oleh sperma. &#xA;&#xA;Baru saja kamu bernapas lega karena berpikir kegiatan yang melelahkan ini telah berakhir. Suguru mulai menepuk-nepuk dan meremas bokongmu yang sekal. &#xA;&#xA;Suguru dengan egoisnya ingin sekali lagi melakukannya, berdua denganmu saja, tanpa Sukuna, tanpa embel-embel ingin membantumu mencari inspirasi. Ia ingin menikmati tubuhmu sendirian, ingin hilangkan bekas-bekas kenikmatan yang ditinggalkan oleh Sukuna pada tubuh elokmu dan menggantikannya dengan sesuatu yang baru dari Suguru. Karena kamu adalah miliknya. Milik Suguru yang tidak rela ia bagi dengan siapa pun. &#xA;&#xA;Tidak ada lagi kondom yang tersisa, sehingga ia masukkan begitu saja penisnya itu ke dalam. Dan ini adalah pertama kalinya ia melakukannya tanpa menggunakan kondom, sehingga ia sedikit merasa takjub ketika penisnya dapat merasakan lubang vaginamu yang basah dan hangat itu secara langsung. Bahkan pijatan-pijatan pada dinding lubang ajaib itu memberikan stimulus yang luar biasa padanya hingga membuatnya terpejam dan mengerang. &#xA;&#xA;&#34;Kak... udah... nghh...&#34; cicitmu. &#xA;&#xA;Suguru tersenyum tipis melihatmu memohon untuk berhenti, namun bokongmu masih bergetar-getar di hadapannya dan vaginamu masih terasa berkedut dan memijit penisnya. &#xA;&#xA;&#34;Udah apa, Sayang? Udah gak tahan mau diewe lagi? Hm? Mau disodok keras-keras lagi?&#34; tanyanya sembari menampar bokong sekalmu. &#xA;&#xA;Kamu memekik dan mulai menangis. Bukan, tamparannya tidaklah sakit meski suaranya terdengar cukup kencang. Tubuhmu hanya tidak tahan dengan rasa nikmat yang diberikan oleh Suguru. Tamparannya, omelannya, suara tegasnya, semuanya malah membuat libidomu kembali memuncak. &#xA;&#xA;Suguru mulai menggenjot bokongmu hingga membuat payudaramu yang menggantung indah berguncang dan melompat-lompat. Ah, pasti lebih enak jika sepasang tangan kekarnya memeganginya, menopangnya agar tidak melompat-lompat seperti ini. &#xA;&#xA;&#34;Jawab, Sayang,&#34; titahnya sembari menampar bokongmu lagi hingga meninggalkan bekas kemerahan seukuran telapak tangan. &#xA;&#xA;Kamu menggeleng pelan. Tanganmu gemetar, tidak kuat untuk menopang tubuhmu dalam posisi menungging seperti ini. &#xA;&#xA;Seolah sadar, Suguru menarik kedua tanganmu ke belakang dan memeganginya sambil menyodok lubang vaginamu makin kencang. &#xA;&#xA;&#34;Enak abis digenjot tetangga kamu?&#34; tanyanya lagi. &#xA;&#xA;Kamu yang dalam kondisi tidak mampu berpikir, menjawab asal, &#34;Nghh.. enakhh..&#34; &#xA;&#xA;Tubuhmu mengejang dan hampir menegak dengan mulut terbuka dan lidah menjulur ketika Suguru menghentakkan penisnya kuat-kuat hingga rasanya seperti menyundul ujung lubangmu. Sakit. Cukup sakit hingga membuat air mata mengucur dari mata sembabmu. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Sayang? Sakit?&#34; tanya Suguru setelah menarik tubuhmu hingga punggungmu menyentuh dada bidangnya yang licin. &#xA;&#xA;&#34;Iya... sakit...&#34; cicitmu. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, Sayang. Maaf udah bikin kamu kesakitan,&#34; bisiknya dengan nada bersalah karena sempat terbawa suasana dan sedikit emosi, lalu ia mencium pipi basahmu dan kamu mengangguk pelan menerima maafnya. &#xA;&#xA;&#34;Mau udahan aja?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;Kamu menggeleng lemah, &#34;Aku mau... Kak Sug...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mau apa? Hm?&#34; balasnya dengan jahil. &#xA;&#xA;&#34;Dikontolin... Kak Sug... hhh... jangan keluar.. di dalem...&#34; jawabmu terbata-bata dan susah payah. &#xA;&#xA;Suguru tersenyum gembira mendengarnya dan kembali melanjutkan genjotannya yang kian brutal sembari menampar-nampar bokongmu sesekali. &#xA;&#xA;&#34;Gimana ya kalo pembacamu tau penulisnya lagi ngewe bertiga sama pacar dan tetangganya?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;&#34;Ahhh.... nghhh... jangan,&#34; sahutmu. &#xA;&#xA;Suguru hanya tersenyum dan kembali fokus pada kegiatannya, tanpa memedulikan Sukuna yang tengah menyaksikanmu bercinta dengan Suguru, sembari tangannya mengocok penisnya sendiri yang sudah kembali bangkit. &#xA;&#xA;Sukuna mendekat, ia todongkan penisnya di hadapanmu. Tidak, ia tidak memintamu untuk memanjakannya dengan mulutmu, melainkan ia ingin rasakan kepala penisnya yang sensitif itu mencumbu puting susumu. &#xA;&#xA;Menyebalkan! Rasanya enak sekali! Sensasi hangat dan licin dari ujung penisnya yang masih menyisakan air mani bersentuhan dengan kuncup sensitifmu yang membengkak, ditambah dengan vaginamu yang masih dihujami dengan penis Suguru yang rasanya seperti menggila di dalam sana, benar-benar membuatmu hilang akal. &#xA;&#xA;Tanpa disangka, Sukuna meletakkan penisnya di bagian tengah dadamu. Tepatnya diantara kedua payudaramu yang melompat-lompat tiap kali Suguru menyodokkan penisnya ke dalam lubang sempit milikmu. Kemudian, ia genggam kedua payudaramu dengan tangan kekarnya yang licin oleh mani, lalu merapatkannya ke tengah dan mengapit penisnya yang sangat hangat di dadamu. &#xA;&#xA;Kamu pasrah, benar-benar pasrah ketika Sukuna menggerakkan pinggulnya dan membuat penisnya bergerak naik turun di dalam apitan payudaramu. &#xA;&#xA;&#34;Gila! Teteknya keliatan kecil tapi enak juga dipake begini!&#34; komentar Sukuna yang membuatmu malu. &#xA;&#xA;&#34;Hasil gua grepe tiap hari itu,&#34; sahut Suguru yang membuat Sukuna merasa iri. Ia membayangkan Suguru meremas-remas payudaramu, menjilati, dan menghisapnya seperti bayi setiap hari. Dia juga inginkan surgawi itu. &#xA;&#xA;Ah, Sukuna sudah tidak tahan lagi. Air maninya muncrat hingga mengenai wajah dan dadamu, lalu mengalir ke bawah hingga ke perutmu. Membuatmu lagi-lagi menggeliat namun Suguru lantas menampar bokongmu yang terlalu jujur hingga membuat jepitanmu pada penisnya makin terasa. &#xA;&#xA;&#34;Suka kamu digituin Sukuna?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;&#34;Nghh... mau... peju.. Kak Suguru juga..&#34; cicitmu, tidak peduli kalimat yang kamu lontarkan memiliki korelasi atau tidak dengan pertanyaannya. &#xA;&#xA;Tidak lama, cairan hangat dan lengket membasahi punggungmu setelah Suguru mencabut penisnya ketika ia akan ejakulasi. Kemudian Suguru melepaskan genggamannya pada pergelangan tanganmu perlahan-lahan hingga kamu jatuh menelungkup ke atas kasur dengan pelan. &#xA;&#xA;Suguru yang kelelahan segera merebahkan tubuhnya tepat di sebelahmu. Ia tidak peduli apa pun lagi. Dia hanya ingin istirahat. Terserah jika Sukuna yang sama lelahnya ikut mengambil posisi rebahan di sampingmu. Yang jelas, Suguru berniat akan mengusirnya setelah energinya pulih nanti. &#xA;&#xA;Sedangkan kamu, kamu hanya bisa pasrah. Rasanya lelah. Lelah. Lelah sekali. Dan ingin terpejam, tertidur pulas untuk waktu yang lama tanpa diganggu oleh apapun, termasuk oleh kedua pria yang kini mengapit tubuhmu dengan badan besar mereka, tertidur pulas di sebelah kanan dan kirimu sembari lengannya memeluk perutmu. &#xA;&#xA;Ah, menyebalkan! Lengan mereka terasa berat sekali. Rasanya sumpek, gerah, dan membuatmu tidak bisa leluasa bernapas. Walau begitu, kamu tetap terhanyut dalam tidur yang menenangkan karena rasa aman yang kedua pria itu berikan kala memelukmu dalam tidurnya, meski tidak terlalu nyaman. &#xA;&#xA;Kamu hanya berharap, saat terbangun nanti, otakmu masih mampu mengingat moment ini untuk memperbaiki tulisanmu agar dapat menciptakan suasana dan rasa yang cukup realistis. &#xA;&#xA;Dan semoga, tulisanmu dapat diterima dengan baik oleh para pembacamu, supaya kerja kerasmu pada hari ini tidak menjadi sia-sia. Meskipun kekasihmu sendiri sudah beberapa kali mengatakan bahwa, &#34;Kalo gak ada yang suka, gak masalah. Kamu masih punya aku, Sayang. Aku pembacamu nomor satu yang akan terus dukung kamu.&#34; &#xA;&#xA;Ya, semoga saja Suguru akan tetap menjadi pendukung setiamu sampai kapan pun. Meski mungkin nantinya kamu tidak lagi menulis. Dan ia akan tetap mendukung apapun yang kamu kerjakan.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  ©️ unatoshiru&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><strong><em>Suguru Geto x writer fem!reader x Sukuna Ryomen</em></strong></p>

<blockquote><p><strong><em>5,558 words</em></strong></p></blockquote>

<hr/>

<blockquote><p>⚠️ <strong>Tags:</strong> <strong><em>explicit sexual content, harsh words, adult language, NSFW, foreplay, mmf, threesome, rough sex, spanking, licking, biting, blowjob, double penetration, body fluids, squirting, etc (possible kink exploration)</em></strong></p></blockquote>

<hr/>



<p>Suara papan ketik yang kamu tekan terdengar seakan memenuhi penjuru ruangan, begitu jelas betapa sepinya suasana saat ini dibandingkan dengan semalam ketika Suguru dengan tanpa ampun menggagahimu.</p>

<p>Kali ini kamu lebih memilih untuk duduk bersila di lantai dan menggunakan meja lantai berukuran kecil guna menaruh laptop yang tengah kamu pakai untuk melanjutkan naskah ceritamu yang sempat mangkrak di bagian <em>draft.</em> Sedangkan Suguru, ia duduk tepat di belakangmu, membiarkan dirinya sebagai sandaran untukmu yang duduk diantara kedua pahanya. Tentu saja, tidak mungkin ia hanya diam menjadi sandaran. Tangan dan mulutnya tidak ada henti-hentinya menjahilimu seperti meraba-raba kulitmu dan mencium tengkukmu dengan dalih, <em>“Sebagai penulis, kamu harus bertahan di setiap situasi, Sayang.”</em></p>

<p>Suguru merangkul perutmu dengan posesif dan menaruh dagunya di bahumu. Kamu bisa merasakan deru napasnya yang menyapu kulit lehermu, dan tidak lama mulai terasa sesuatu yang hangat dan basah menempel diatasnya. Ia menjilati lehermu dan menghisapnya hingga meninggalkan bekas-bekas kemerahan di sana sambil berkata, “Ini punya Suguru.”</p>

<p>Kamu terkekeh pelan, merasa lucu dengan tingkahnya yang hari ini terlihat lebih <em>clingy</em> dan posesif daripada biasanya. Hingga membuatmu bertanya-tanya, hal apa yang membuatnya seperti ini padahal ia tahu jelas bahwa kamu adalah miliknya. Dan akan selalu menjadi miliknya satu-satunya.</p>

<p>“Kak, aku mau nulis dulu sebentar,” ujarmu.</p>

<p>“Nulis aja, aku gak ganggu,” balasnya sembari meraba-raba dadamu yang hanya berbalut <em>tanktop</em> dengan jarinya. Sungguh, itu adalah jawaban yang sangat bertentangan dengan tingkahnya.</p>

<p>“Kak, <em>please..”</em> pintamu.</p>

<p>“Kamu mau lanjut nulis yang ngewe bertiga itu?” tebaknya.</p>

<p>Tentu saja kamu terkejut, berarti ia diam-diam sudah membaca salah satu dari beberapa <em>draft</em> yang kamu tulis. Fantasi tentang dua pria dan satu wanita yang bercumbu di suatu malam yang panjang, tentunya pernah membayangi pikiranmu sehingga kamu langsung menuangkannya dalam bentuk tulisan. Namun, kamu tidak begitu yakin dengan apa yang kamu tulis, sebab kamu benar-benar menulis tanpa adanya pengalaman dan hanya berdasarkan fantasimu semata. Fantasi liar bahwa dua Suguru menggagahimu dengan nafsu yang luar biasa besar.</p>

<p>“Kamu baca <em>draft</em> ku lagi?”</p>

<p>“Iya, kamu kan udah ngizinin aku buat baca-baca dan kasih kamu masukan?” jawabnya.</p>

<p>Kamu terdiam dan tidak bisa menyanggahnya, karena kamu memang benar-benar melakukannya. Namun kamu tidak tahu bahwa dia juga akan serius dan terus membaca apa pun yang kamu tulis tanpa merasa jijik ataupun memandangnya rendah. Justru ia malah dengan senang hati membahasnya denganmu atau melakukan reka adegan seperti yang kamu tulis untuk membantumu menemukan suasana dan <em>feel</em> yang tepat dengan apa yang kamu tulis.</p>

<p>“Sayang, <em>are you want to actually try it yourself?”</em></p>

<p>Kamu sedikit terkejut dengan ucapannya. Tidak menyangka ia akan menanyaimu hal yang kamu sendiri tidak begitu yakin, apakah kamu ingin merasakannya sendiri atau akan membiarkannya terkubur dalam pikiranmu saja. Meski membayangkannya saja sudah cukup membuat vaginamu berkedut dan mendamba.</p>

<p>“Kak, <em>I&#39;m a writer after all. I have to put myself in my characters&#39; shoes and fully immerse myself into their experiences,”</em> balasmu.</p>

<p>Kamu kembali berbicara setelah jeda selama beberapa saat, <em>“But I don&#39;t know if I have the guts to actually do it in real life. It&#39;s just something I&#39;m exploring in my writing,</em> Kak.”</p>

<p>Suguru tidak lantas menyahuti ucapanmu, ia malah membenamkan wajahnya di ceruk lehermu dan tangannya mulai menangkup kedua payudaramu dan meremas-remasnya.</p>

<p><em>“But.. what if you had the chance to experience it for real,</em> Yang? <em>Wouldn&#39;t it be tempting and exciting?”</em> bisiknya sembari tangannya masih menjamah dadamu hingga membuat kedua putingmu tampak menojol dari balik <em>tanktop</em> ketat yang tengah kamu kenakan.</p>

<p>Bukannya menjawab, kamu malah melenguh pelan dan tubuhmu sedikit berjengit karena ulahnya. Tanganmu yang semula berada di atas papan ketik, kini beralih pada punggung tangan Suguru yang masih memainkan dadamu seenaknya sendiri.</p>

<p>Tidak mungkin seorang pencemburu sepertinya mengizinkan pria lain untuk ikut bercinta denganmu, bukan? Ya, benar. Apalagi seorang pria baik-baik sepertinya, benar-benar tidak mungkin berpikir demikian.</p>

<p>Kemudian ia memagut bibirmu, dan lidahnya mulai bergerak menjelajah ke dalam, yang tentu saja kamu terima dengan mulut terbuka. Tubuhmu mulai melemas dan sedikit panas, namun sebuah notifikasi pesan menginterupsi waktumu bermain lebih intim dengannya.</p>

<p>Suguru melepaskan ciumannya tanpa melepaskan rangkulannya sedikit pun dan memintamu untuk mengecek ponselmu yang baru saja berbunyi.</p>

<p>“Siapa, Yang?”</p>

<p>“Tetangga sebelah, katanya ada paket buat aku. Tapi.. seingetku, aku gak pesen apa-apa,” jawabmu dengan napas tersengal-sengal.</p>

<p>“Oh, tadi pagi aku pesen sesuatu. Pake <em>Same Day,</em> kirain bakal sore nyampenya,” sahutnya dengan tenang.</p>

<p>“Kak, Sukuna mau kesini..” ucapmu yang kemudian disusul dengan suara ketukan pada pintu kamarmu.</p>

<p>Mau tidak mau, kamu bangkit dari posisi dudukmu yang nyaman dalam rengkuhan hangat Suguru dengan malas dan berjalan mendekati pintu. <em>Merepotkan sekali memiliki tetangga yang keras kepala seperti Sukuna,</em> batinmu.</p>

<hr/>

<p>Sukuna berdiri di balik pintumu, menunggumu membukakan pintu dengan bermacam-macam pikiran. Terlebih kamarmu yang biasanya ia dengar ramai dengan suara-suara erotis, kini terbilang cukup sepi, bahkan kamu sendiri tidak kunjung keluar dari kamarmu meski sudah ia ketuk berkali-kali.</p>

<p>Namun, ketika ia hendak mengetuk pintumu sekali lagi, pintumu terbuka dan membuat jantung Sukuna yang sudah lama mati dengan cinta, kembali berdegup. Rona merah di wajahmu yang tampak malu-malu, mata indah yang tampak seperti kaca, rambut yang kamu tata dengan asal hingga helaiannya menutupi sebagian dahimu, leher yang menawan dengan bekas-bekas kemerahan yang menghiasi, <em>tanktop</em> yang sedikit merosot hingga membuat payudaramu tampak ingin keluar, dan... puting susumu yang begitu kentara hingga dapat membuat seorang Sukuna diam mematung di hadapanmu.</p>

<p>“Sukuna?” panggilmu, berusaha menyadarkan lamunannya.</p>

<p>Ia menjadi sedikit salah tingkah di depanmu dan segera saja ia menyodorkan paket yang ada di tangannya kepadamu. Dan tanpa sengaja, ujung paket berukuran tipis itu malah menggesek putingmu yang sudah mengeras hingga membuatmu mendesah dan sukses membuat milik Sukuna menegang hebat.</p>

<p>Tentu saja, kamu sendiri terkejut dengan tingkahmu sendiri hingga reflek menutup mulutmu sendiri dengan tangan. Malu, malu sekali. Rasanya kamu ingin membenamkan diri di dalam bagian terdalam bumi hingga tidak dapat ditemukan oleh siapapun lagi. Sedangkan Sukuna, matanya semakin terkunci padamu, memandangmu dengan nafsu menggebu yang selama ini ia tahan, dan tubuhnya benar-benar menginginkanmu. Sepertinya ia bahkan tidak lagi peduli dengan fakta bahwa kamu telah memiliki seorang kekasih.</p>

<p>Jika bukan karena kekasihmu, Suguru Geto, yang tiba-tiba menghampirimu dan meminta Sukuna untuk singgah, mungkin kamu tadi sudah menutup pintu dan menghindar dari Sukuna sejauh-jauhnya.</p>

<p>“Sayang, gak apa-apa kan kalo Sukuna mampir di sini dulu?” tanya Suguru dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.</p>

<p>Demi Tuhan, kamu tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran kekasihmu itu. Tunggu, apa dia serius dengan ucapannya tadi denganmu? Tidak. Tidak mungkin.</p>

<p>“Gak usah, gua langsung balik aja. Gua cuma mau nganter paket lu aja kok,” sanggah Sukuna, walau dalam hati ia sedikit menyesali ucapannya sendiri.</p>

<p>“Yakin lu mau balik dalam keadaan ngaceng begitu?” balas Suguru yang mendapat tatapan tajam dari Sukuna.</p>

<p>“Maksud lu apa?”</p>

<p>“Gak mau ngerasain ini?” ujar Suguru sembari meremas sebelah payudaramu di hadapan Sukuna yang urat di lehernya terlihat sedikit menegang, terlihat sekali ia mati-matian menahan nafsunya sendiri.</p>

<p>Kamu memekik pelan ketika Suguru kembali meremas-remas payudaramu. Dan beruntungnya, lokasi kamarmu dan Sukuna berada di lantai paling atas dan hanya dihuni oleh kalian berdua, sehingga tidak ada penghuni kost lain yang mendengar pembicaraan kalian.</p>

<p>Pikiranmu mulai tidak karuan, bahkan tubuhmu sendiri mulai sulit dikendalikan ketika berpikir bahwa dua pria di hadapanmu ini akan memangsamu di atas ranjang bersama-sama. Sial, tanpa sadar kamu merapatkan kedua pahamu karena memikirkan hal itu.</p>

<p>Melihat tubuhmu yang mulai menggeliat dalam pelukan Suguru dan mendengar suaran desahanmu yang menggelitik telinganya, Sukuna menyeringai, memamerkan gigi-giginya seperti predator yang bersiap untuk menerkam mangsanya. Tentu saja ia tidak akan repot-repot mencari alasan untuk menolak, karena hal ini lah yang ia tunggu-tunggu setelah beberapa kali hanya dapat mendengar betapa hebatnya kamu dan kekasihmu bercinta dari balik kamarnya.</p>

<p>“Gasss!” seru Sukuna yang melangkah masuk ke dalam kamarmu dan mengunci pintu, ia benar-benar sudah menyerahkan akal sehatnya pada nafsu.</p>

<p>Suguru yang mulanya merangkulmu, kini mendorong pelan tubuhmu ke atas ranjang. Membiarkanmu menatap dua pria berbadan kekar itu melepas pakaiannya, bersiap memangsamu hidup-hidup hingga kamu menangis dan memohon.</p>

<p>Ketika mereka mulai menurunkan celana, kamu hanya terpikirkan satu kata. <em>Mati.</em> Kamu mungkin akan mati jika kedua penis yang besar itu memasuki lubang senggamamu.</p>

<p>Jika sebelumnya kamu berpikir bahwa milik Suguru besar, maka milik Sukuna lebih besar lagi. Rasa merinding dan ngeri mulai menjalar ke seluruh tubuhmu ketika terpikirkan sebuah kemungkinan, bahwa bisa saja kedua penis itu akan merobek alat kelaminmu dan menciptakan rasa sakit melebihi saat pertama kali kamu melakukannya dengan Suguru.</p>

<p>Sukuna menghampirimu lebih dulu dengan penisnya yang setegak pedang, setebal tongkat kayu, berurat, berwarna lebih gelap dari milik Suguru, dan berdenyut-denyut seakan menggodamu untuk menyentuhnya.</p>

<p>Tanganmu menyambut godaan itu. Miliknya terasa hangat dan padat sekali di dalam genggamanmu, dan cairan kental sedikit membasahi ujung penisnya. Kamu tahu, dia pasti tidak sabar ingin menjejalkan miliknya dan bermain-main denganmu. Namun sebelum itu terjadi, Suguru mulai berbicara untuk memeringati.</p>

<p>“Sukuna, gua ajak lu kesini buat bantu cewek gua eksplorasi suasana dan <em>feel</em> dari tema yang lagi dia tulis. Jangan ngarep lebih, apalagi baper, dan lu wajib pake kondom!” ujarnya sembari melempar sebungkus kondom pada Sukuna.</p>

<p>“Hm? <em>Writer? Writer</em> bokep?” sahut Sukuna sembari menangkap lemparan dari Suguru dan beralih menatapmu dengan ekspresi terkejut. Sedangkan kamu malah memalingkan wajah dengan malu dan Suguru menanggapi dengan kekehan pelan.</p>

<p>“Gak usah ngeliatin gue begitu,” pintamu pada Sukuna.</p>

<p>“Kenapa? Bikin lu tambah sange?” balasnya.</p>

<p>“Gak! Gak mungkin gue sange sama cowok yang baru gue kenal!” sanggahmu. Alih-alih untuk meyakinkan kedua pria disana, sanggahanmu barusan malah lebih terasa seperti kamu yang sedang berusaha meyakinkan dirimu sendiri. Tidak mungkin kamu terangsang karena tubuh atletis ataupun penis besar milik pria yang tampak menyebalkan itu, tidak di hadapan kekasihmu sendiri.</p>

<p>Sukuna tertawa, kamu berkata demikian namun tanganmu masih saja memegangi kejantanannya yang kedutnya makin terasa seiring kamu membelainya.</p>

<p><em>“Your words say one thing, but your body tells a different story,”</em> ujarnya sembari menurunkan celana pendek yang kamu kenakan hingga menampilkan celana dalammu yang sudah terlihat sangat lembab.</p>

<p><em>“You can&#39;t deny that you&#39;re attracted to him,</em> Sayang. Belum diapa-apain aja kamu udah becek banget,” imbuh Suguru yang sama sekali tidak membantumu. Ia malah ikut menarik turun celana dalam yang kamu kenakan dan melepasnya bersamaan dengan celana pendek sepaha yang semula Sukuna turunkan dengan tangannya. Sungguh kerja sama yang menyebalkan!</p>

<p>Lebih gilanya lagi, seingatmu mereka berdua tidak saling mengenal, bahkan Sukuna sendiri tampaknya tidak tahu nama kekasihmu itu. Tetapi, ajaibnya mereka malah terlihat sekompak ini untuk membuat tubuhmu menggila dan mendambakan atensi dari mereka berdua.</p>

<p>Suguru mulai naik ke atas ranjang yang semakin terasa sempit karena kehadiran Sukuna. Ia mencium keningmu sebelum berbisik, <em>“Don&#39;t overthink it,</em> Sayang. <em>Just relax and let yourself enjoy the moment.”</em></p>

<p>Kemudian, ia memagut bibirmu. Melumatnya dengan lembut sebelum memadukan lidahnya denganmu seperti tarian sensual yang mempu membuat kepalamu seolah melebur dengan sensasi hangat dan mendebarkan. Tangannya yang terasa hangat membelai lembut perutmu, lalu merayap turun, turun, dan semakin turun hingga jarinya menyentuh klitorismu dan menggeseknya pelan, dan sesekali mencubitinya dengan lembut.</p>

<p>Begitu saja rasanya tubuhmu sudah mulai menggila. Ditambah lagi dengan Sukuna yang tiba-tiba menarik turun <em>tanktop</em> yang sudah benar-benar mengetat di dadamu, membebaskan kedua gundukan yang putingnya sudah mengucup keras. Tubuhmu menggelinjang hebat kala lidahnya bergerak-gerak liar di atas kuncup sensitifmu itu, sedangkan tangannya menggesek-gesek dan menarik-narik kuncup di sisi lain.</p>

<p>Kamu benar-benar tidak bisa berpikir rasional saat ini. Tubuhmu bertindak semaunya sendiri, pinggulmu sesekali terangkat dan menggeliat, jantungmu bertalu-talu yang bahkan debarannya terasa seperti menjalar hingga ke kepala, vaginamu berdenyut-denyut liar seakan tidak sabar untuk dihujam oleh penis-penis besar milik kedua pria itu, klitoris dan puting susumu yang dimainkan secara bersamaan mulai membengkak dan semakin membuatnya terasa lebih sensitif sehingga membuat cairan bening memancar keluar dari lubang kewanitaanmu dan membuat tangan milik Suguru basah.</p>

<p>Suguru lantas melepaskan ciumannya, napasmu tersengal-sengal seperti ikan yang terdampar di atas daratan, sehingga ia membiarkanmu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum ciumanmu kembali dicuri. Tidak, kali ini bukan Suguru yang mencurinya. Mulutnya tengah sibuk menciumi lehermu yang sudah basah dengan keringat, meninggalkan jejak-jejak kepemilikannya di atas bekas-bekas kemerahan dan gigitan yang semalam telah ia berikan. Ia ciumi lehermu, tulang selangka yang menurutnya seksi, dan berhenti pada dadamu. Dada sekal yang putingnya memerah dan membengkak, sebab semalaman Suguru menghisapnya kuat-kuat, dan sekarang... bahkan Sukuna tampaknya juga tertarik untuk menyiksa kedua payudaramu sama seperti halnya Suguru.</p>

<p>“Ini dilepas aja, ya? Ganggu. Apa mau gua robek?” tanya Sukuna sembari memegang <em>tanktop</em>-mu yang sudah memerosot hingga ke perut. Pakaian itu sepertinya benar-benar tidak ada lagi harga dirinya di situasi seperti ini.</p>

<p>Kamu hanya mengisyaratkan padanya untuk membantumu melepasnya. Ia mengangguk dan tangannya mulai menarik <em>tanktop</em>-mu itu naik ke atas, melewati kepala dan lenganmu yang kamu angkat. Lalu dengan kurang ajarnya ia membaui ketiakmu yang masih sensitif karena <em>waxing</em> yang kamu lakukan pada beberapa hari yang lalu. Tiupan dari mulutnya membuatmu kegelian, dan lidah hangatnya yang basah dengan saliva malah menjilati. Membuatmu tanpa sadar merapatkan kedua pahamu karena rasa geli yang menggelenyar di pangkal paha.</p>

<p>Dan kini, kamu sama bugilnya dengan kedua pria itu. Tidak ada sehelai pakaian pun yang menutupi bagian tubuhmu.</p>

<p>Sukuna berbisik di telingamu, membuatmu merinding hingga tubuhmu begetar. Tidak. Bukan rasa takut yang  menghantui atau mengintimidasi yang kamu rasa, melainkan rasa takut bahwa kamu akan menyukai suara beratnya yang terdengar penuh dengan nafsu itu menggema di telingamu yang memerah, <em>“You&#39;re so damn sexy.. just as I imagined.”</em></p>

<p>Wajahmu terasa menghangat, tidak, sebenarnya seluruh tubuhmu kini terasa panas hingga keringat merembes keluar dari kulitmu, dan kamu dapat memastikan betapa merahnya wajahmu saat ini tanpa harus repot-repot mengeceknya di depan cermin.</p>

<p>Kamu tidak tahu harus merespon pujian sensualnya itu seperti apa, selain dengan suara desahan yang keluar dari mulutmu kala Suguru memasukkan kedua jarinya ke dalam vaginamu yang sudah sangat basah dan berlendir. Pinggulmu menggeliat dan sedikit terangkat karena sensasi gila yang kamu rasakan ketika payudara kirimu yang dihisap kuat-kuat oleh Suguru dan yang sebelah kanannya diremas-remas oleh tangan kekar Sukuna, lidah Sukuna yang meliuk-liuk di dalam mulutmu setelah ia gigit lembut bibirmu, dan tangan Suguru yang tanpa belas kasih mengobok-obok lubang senggamamu dengan kedua jarinya secara bersamaan.</p>

<p>Tubuhmu bergetar hebat karenanya, entah sudah berapa kali cairan pelumas memancar dari kewanitaanmu sehingga tubuhmu sudah mulai melemas, meski vaginamu tampaknya masih cukup bersemangat untuk mengapit dan memijit. Beruntung, Suguru sudah melapisi kasurmu dengan dua lapis selimut tebal di atasnya, sehingga kamu tidak perlu khawatir akan membasahi dan mengotori kasurmu lagi. Alasannya, tentu saja karena pada hari sebelumnya ia memang berniat untuk menggagahimu sebanyak seratus kali selama libur pada <em>weekend</em> ini, jadi dia sudah melakukan banyak sekali persiapan. Bahkan dia sampai membelikanmu beberapa vitamin, memastikan ada sayuran di dalam menu makanmu, dan ia juga memastikan tubuhmu cukup bergerak meski hanya berjalan kaki minimal tiga puluh menit perhari. Tampaknya ia ingin staminamu meningkat selama diatas ranjang bersamanya.</p>

<p>Mulanya kamu hanya menganggapnya bercanda, tapi melihat keseriusannya membuatmu menjadi meragukan pendapatmu sendiri.</p>

<p>Sukuna bangkit dari posisinya, ia rengkuh pinggangmu, dan menarikmu dalam dekapannya. Ia posisikan tubuhmu agar bersandar pada dada bidangnya dan menghadap ke depan, menghadap ke arah Suguru yang tengah merobek bungkus kondom dengan giginya, bersiap untuk menghunuskan penisnya yang tebal itu ke dalam lubang vagina yang sebelumnya sudah ia persiapkan dengan jari-jarinya.</p>

<p>Tangan kekar Sukuna mulai menyentuh pahamu, lalu ia lebarkan ke samping dan membuat kewanitaanmu yang basah dengan lendir itu terekspos dengan sempurna. Tidak berhenti disitu, tangannya mulai bergerak ke atas, perlahan-lahan, dan berhenti tepat pada lubang vaginamu yang berkedut dan terlihat sudah sedikit memar akibat semalaman suntuk digagahi oleh kejantanan Suguru, lalu ia renggangkan lubang tersebut dengan kedua jarinya, seolah-olah membantu untuk menggoda kejantanan pria di hadapanmu agar segera menyumpal lubang elastis itu dengan penisnya.</p>

<p>“Udah ngangkang nih, Bos! Siap dientot!” ujar Sukuna.</p>

<p>Suguru sendiri sebenarnya tidak pernah mengira, bahkan ia sama sekali tidak pernah membayangkan dirinya akan bercinta denganmu bersama satu pria lain. Bahkan ia pun baru kali ini bertemu dengan pria itu, pria asing bernama Sukuna yang kini tengah merengkuh tubuhmu tanpa dihalangi oleh sehelai kain pun.</p>

<p>Tanpa menunggu lama, Suguru segera memasukkan penisnya yang sudah kembali merindukan pijatan-pijatan sensual yang diberikan oleh vaginamu. Ia mengerang lega ketika penisnya telah berhasil masuk, “Gila! Kamu udah semaleman dipake masih sempit aja, Yang.”</p>

<p>Tubuhmu mengejang dan menggeliat dalam dekapan Sukuna. Kamu semakin hilang akal ketika punggungmu yang sudah dibasahi peluh beradu dengan dada bidangnya yang terasa padat, jarinya menggesek-gesek klitorismu yang sudah membengkak kemerahan, sebelah tangannya memegangi payudaramu yang basah akibat peluh dan saliva dari kedua pria itu, dan lidahnya menari-nari pada daun telingamu. Sungguh stimulasi yang gila!</p>

<p>“Kak Sug.. nghh.. Kak Suguru..” rintihmu pelan, tidak sanggup menahan rangsangan sebesar itu. Mendengarnya, sang pemilik nama tersenyum senang karena namanya kamu sebut di sela-sela desahanmu.</p>

<p>Suguru menyugar rambut panjangnya yang sengaja ia gerai, mata sipitnya menatapmu dengan beragam pikiran cabul, dan seulas senyum masih bertengger di wajahnya yang berpeluh dan berona merah di kedua pipinya.</p>

<p>“Kenapa, Sayang? Keenakan?” tanyanya sembari menyodokmu dengan ritmis.</p>

<p>Hanya lenguhan yang kamu keluarkan, kamu tidak mampu menjawab karena mulutmu sibuk bergulat dengan lidah Sukuna.</p>

<p>Melihatmu yang tampak menikmati dan sibuk beradu lidah dengan pria lain, membuat Suguru merasa dilematis. Dadanya bergemuruh, tidak suka kamu menerima Sukuna dengan mudahnya. Kamu hanyalah miliknya. Milik Suguru satu-satunya.</p>

<p>Suguru mencengkram pinggangmu, membuat tubuhmu sedikit terangkat hingga melepaskan ciumanmu dengan Sukuna, dan sodokannya menjadi lebih keras dengan ritme yang cukup cepat.</p>

<p>Kamu tidak lagi didekap oleh Sukuna, melainkan oleh Suguru yang menopang tubuhnya dengan kedua lututnya di atas ranjang. Ia pegangi kedua pahamu yang melingkar di pinggulnya, dan tanganmu berpegangan pada bahunya yang lebar dan licin dengan keringat.</p>

<p>Tentu saja, Sukuna tidak akan diam saja. Ia benar-benar sosok pria yang mampu mengambil kesempatan dalam segala situasi. Ia mendekat dan memasukkan satu jarinya ke dalam lubang anusmu. Beruntung, vaginamu terus menerus menumpahkan cairan kental sehingga dapat Sukuna gunakan sebagai <em>lubricants</em> alami untuk melonggarkan anusmu. Lalu ia masukkan satu jarinya lagi. Dan satu lagi, hingga ia rasa lubang sempit itu dapat menerima penis besarnya yang sudah menegang sejak tadi.</p>

<p>Sejujurnya kamu tidak terlalu merasa, karena fokusmu kini adalah pada vaginamu yang seperti sedang dijajah oleh kejantanan Suguru. Kamu sendiri tidak begitu yakin seperti apa rasanya ketika jari-jari Sukuna meliuk-liuk di dalam anusmu karena hujaman dari Suguru terasa begitu mendominasi, selain perasaan seperti ada sesuatu yang mengganjal di rongga anusmu tentunya.</p>

<p>Setelah memastikan cukup longgar dan tidak ada penolakan darimu, Sukuna mulai memasukkan penis besarnya yang tentu saja sudah ia balut dengan kondom pemberian Suguru. Ia masukkan dengan perlahan-lahan agar kamu tidak kesakitan, dan sedikit demi sedikit hingga masuk seluruhnya.</p>

<p>Kamu menjerit, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Sukuna. Sedangkan Sukuna mengerang karena anusmu gila-gilaan menjepit miliknya, padahal ia baru berhasil memasukkan penisnya separuh saja.</p>

<p>“Akh! Robek! Nanti robek!” jeritmu sembari merangkul tubuh Suguru yang sedikit licin dibanjiri keringat.</p>

<p><em>“Shhhh.</em> Rileks, Sayang,” bisiknya dengan lembut.</p>

<p>“Gak bisa! Gak bisa! Gak muat!” racaumu.</p>

<p>Sukuna memegangi pinggulmu, berusaha fokus untuk memasukkan miliknya yang sedari tadi sudah tidak sabar untuk menunggu gilirannya.</p>

<p>“Anjing, sempit banget!” ujarnya sembari menggeram.</p>

<p>Ini gila. Sangat gila.</p>

<p>Dua pria berpenis besar ini benar-benar seperti tengah menjajah setiap lubang pada tubuhmu. Sungguh, melakukan <em>anal sex</em> tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranmu. Bahkan ide itu belum pernah sekalipun terbayangkan selama kamu menulis.</p>

<p>Setelah dirasa anusmu sudah dapat menerima penisnya, ia mulai menggerakkan pinggulnya seirama dengan gerakan Suguru yang tengah menyodok lubang bagian depan.</p>

<p>“Sugus.. memeknya pasti sempit banget ya?” tanya Sukuna</p>

<p>“Nama gua Suguru, goblok!” sahut Suguru.</p>

<p>“Oke, Sugulol. Suguru tolol,” balas Sukuna dengan tidak tahu malunya.</p>

<p>“Bacot lu, Sukuntol!” jawab Suguru, tidak terima dikatai tolol oleh Sukuna.</p>

<p>Sukuna tidak lagi menyahuti. Rahangnya mengeras, giginya terkatup rapat, dahinya berkerut, dan matanya terpejam. Ia merasa sesuatu akan muncrat dari penisnya sehingga ia hujam anusmu dengan tempo lebih cepat dari sebelumnya. Dan begitu pula dengan Suguru, mereka menggunakan tempo yang sama cepatnya demi capai klimaks yang akan membuat tubuh mereka seperti melayang dengan penuh kenikmatan duniawi.</p>

<p>Tubuhmu seperti melayang di udara, namun sejatinya kamu memang benar-benar seperti melayang karena tubuhmu diangkat dan diapit oleh kedua pria berpenis besar yang menopang tubuh mereka dengan kedua lutut di atas ranjang. Tidak ada hal lain yang dapat kamu dengar selain suara becek yang erotis, deru napas berat kedua pria yang tengah menggenjotmu dari depan dan belakang secara bersamaan, serangkaian erangan penuh nikmat dan nafsu memuncak dari mereka, ranjang kayu yang berderit-derit keras, dan detak jantungmu yang meledak-ledak tidak karuan.</p>

<p>“Akh! Kak! Pelan-pelan... udah.. Sukuna!” racaumu yang sudah kewalahan. Namun bukannya memelankan tempo, mereka malah makin menggempurmu dengan liar hingga tubuhmu mengejang dalam apitan tubuh berotot mereka, menengadah, mulut terbuka hingga lidah sedikit menjulur dan meneteskan saliva, bahkan kelopak matamu tidak sanggup menahan stimulasi yang begitu hebat sehingga sesekali terpejam menahan geli dan rasa nikmat yang sulit kamu gambarkan.</p>

<p>“Gimana, Sayang? Enak digenjot sama dua cowok?” tanya Suguru.</p>

<p>Kamu hanya menggumam tidak jelas hingga membuat Sukuna tertawa sembari menyampirkan rambutmu yang tergerai hingga leher dan bahumu yang mengkilap oleh keringat terekspos.</p>

<p>“Sampe merem melek gini masa gak enak?” sahut Sukuna yang kini tangannya memainkan payudaramu, menggenggamnya, meremas-remas dengan gemas, dan sesekali mencubit serta menarik puting susumu yang berkali-kali lipat lebih sensitif saat ini.</p>

<p>“Ahh... <em>stop</em>.. aku gak kuat..” cicitmu lirih dan terbata-bata.</p>

<p>“Gak bisa, Sayang. Memek kamu aja masih jepit-jepit minta digenjot sama kontolku,” balas Suguru yang sama sekali enggan untuk berhenti meski cairan hangat dari vaginamu sudah mengalir membasahi kedua paha hingga lututnya. Bahkan, saking banyaknya, cairan licin itu juga mengalir hingga ke lubang anusmu dan membuat Sukuna basah, meski tidak sebasah Suguru yang penisnya memang sedang berada di dalam liang vaginamu.</p>

<p>“Aduh, anjing! Gua genjot boolnya aja udah enak banget! Gua mau juga ngerasain jepitan memeknya si lonte ini!” seru Sukuna yang masih menggempur lubang pantatmu.</p>

<p>“Sayang? Kamu gak malu sampe dikatain lonte?” bisik Suguru dengan napas berat dan suara yang serak.</p>

<p>“Hm? Apa malah bangga dikatain lonte?” imbuhnya.</p>

<p>“Hngghh.. aku... ahh... bukan lonte...” jawabmu dengan susah payah hingga berlinangan air mata yang malah mendapat sambutan tawa renyah dari kedua pria itu. Kedua pria yang stamina dan nafsunya seperti monster.</p>

<p>“Iya.. kamu bukan lonte, Sayang. Kamu pacarnya Kak Suguru,” hibur Suguru sembari mengecup pipi dan kelopak matamu agar berhenti menangis.</p>

<p>“Lu pacar gua juga sekarang, nanti gua entot setiap hari,” sahut Sukuna sambil mencium bahumu dan dihadiahi tepukan keras pada dahinya oleh Suguru.</p>

<p>“Gak usah ngimpi lu, setan! Ngocok aja lu sendiri!” seru Suguru yang geram mendengar Sukuna tiba-tiba mengklaim dirimu adalah kekasihnya juga secara sepihak.</p>

<p>“Udah ngentot dahsyat gini masa gak lanjut, jing?” protes Sukuna.</p>

<p>Ah, diperebutkan oleh kedua pria bertubuh kekar dengan penis besar yang mampu memuaskanmu sampai seperti ini membuat tubuhmu seperti dipenuhi kupu-kupu, sedikit geli hingga membuatmu menggeliat dan bergesekan dengan tubuh mereka dari sisi depan maupun belakang tubuhmu.</p>

<p>“Kak... nghhh... aku mau... pipis...” rintihmu.</p>

<p>Tanpa membuang banyak waktu, Suguru dan Sukuna dengan kompaknya bergerak ke arah samping, ke tepi ranjang, lalu berdiri bersamaan hingga membuat tubuhmu benar-benar melayang tinggi dari pijakan bumi dalam gendongan mereka.</p>

<p>“Pipis aja, Sayang,” ucap Suguru setelah berdiri agak jauh dari kasur.</p>

<p>Tidak lama setelah ia berkata demikian, cairan hangat memancar dari uretramu hingga mengalir membasahi kaki Suguru dan Sukuna.</p>

<p>“Maafhhh... ahh.. hhh.. maafhh..” cicitmu dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca.</p>

<p><em>“Cute</em> banget, anjing!” seru Sukuna yang penisnya makin terasa membesar di dalam lubang anusmu.</p>

<p>“Jangan pasang muka kaya gitu, Sayang..” gumam Suguru yang sudah ingin memuncratkan cairan kental miliknya di dalam sana, hingga ia sodokkan penisnya dengan perlahan namun agak menyentak.</p>

<p>Suguru menghentakkan pinggulnya sebelum mencabut keluar penisnya dan kemudian di susul oleh Sukuna yang juga mencabut miliknya setelah ejakulasi.</p>

<p>Tubuhmu mulai limbung. Jika saja Sukuna tidak menahan punggungmu, mungkin kamu sudah terjatuh karena tanganmu sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk berpegangan pada bahu Suguru.</p>

<p>Suguru melepas tangannya yang semula mencengkram kedua pahamu hingga meninggalkan bekas kemerahan di atasnya. Ia biarkan Sukuna menggendongmu dan kembali merebahkan tubuhmu di atas ranjang.</p>

<p>Melihatmu yang tampak kepayahan, Suguru mengambil sebotol air mineral yang ada di atas meja dan membantumu untuk minum.</p>

<p>“Buat gua mana?” tanya Sukuna yang dihadiahi tatapan tajam oleh Suguru.</p>

<p>“Lu siapa, kontol? Ambil sendiri, lah!” sahutnya.</p>

<p>“Pelit banget, anjing!” umpat Sukuna.</p>

<p>Suguru mulai kelelahan, jika di malam sebelumnya ia tidak menghabiskan staminanya untuk menjantanimu semalaman suntuk, ia pasti sudah kembali menghujam lubang sempit milikmu yang masih berdenyut-denyut lapar itu.</p>

<p>Ia duduk di tepi ranjang, lalu bersandar di atas tumpukan bantal dan guling milikmu untuk memulihkan energinya. Sedangkan Sukuna, penisnya sudah kembali menegang setelah melihat tubuhmu yang mengkilap dibanjiri keringat menggeliat lemah hingga membuat payudaramu bergetar indah, kejantanannya seakan siap untuk kembali bersenang-senang.</p>

<p>“Sug, ada kondom baru, gak?” tanya Sukuna selepas mengikat kondom yang penuh dengan cairan mani miliknya yang semula ia kenakan.</p>

<p>“Gak modal lu,” sahut Suguru.</p>

<p>“Mikir, anjing! Masa gua lagi bugil gini lari-lari ke kamar gua dulu buat ambil kondom? Bukannya lanjut ngentot, gua malah ditangkep warga!” balas Sukuna.</p>

<p>“Tai!” ujar Suguru yang terkekeh sembari melempar dua bungkus kondom untuknya.</p>

<p>Sejujurnya kamu ingin tertawa mendengar ocehan mereka yang terdengar sangat akrab meski saling memaki. Namun tubuhmu terlampau lelah hingga tidak mampu bereaksi demikian, dan akhirnya kamu lebih memilih untuk fokus mengatur napasmu dan denyut jantungmu sendiri agar kembali stabil.</p>

<p>“Gak lanjut lu?” tanya Sukuna yang kini tengah merobek sebungkus kondom baru dan memasangnya pada batang kejantanannya yang licin dengan mani.</p>

<p>“Lu dulu dah, takut encok gua,” jawab Suguru.</p>

<p>“Oh iya, lu udah ngentot semaleman anjing! Kontol lu yang gak seberapa itu gak copot aja udah syukur.”</p>

<p>“Bangsat lu, tukang nguping!”</p>

<p>“Kedengeran ya, anjing! Sampe gua gak bisa tidur!” keluh Sukuna.</p>

<p>Tentu saja. Bukannya bersiap tidur, dia malah memainkan penisnya sendiri. Ia lakukan berbagai stimulasi pada penisnya sendiri seperti memijat, mengelus, dan menggosoknya dengan tangannya sendiri sambil mendengar desahan, erangan, dan suara erotis lainnya dari kamarmu. Ia bahkan berfantasi tengah menyodokmu hingga membuatmu memanggil namanya di sela-sela desahanmu.</p>

<p>“Ngocok kan lu?” tebak Suguru dengan tingkat akurasi yang cukup sempurna.</p>

<p>Sukuna tidak mau repot-repot menjawabnya. Ia memilih untuk kembali bersenang-senang dengan tubuhmu, dengan memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina yang sudah sejak beberapa malam lalu ia bayangkan betapa nikmatnya diapit olehmu.</p>

<p>“Suguru bangsat! Memek cewek lu enak banget!” seru Sukuna yang mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, membuat suara derit kayu dan suara becek —dari kemaluanmu yang basah beradu dengan miliknya yang padat— terdengar memenuhi penjuru ruangan.</p>

<p>Setiap sodokannya membuat tubuhmu berguncang hingga payudaramu seakan ikut melompat-lompat. Sukuna makin menyodok vaginamu dengan liar, cukup berhasil membuat tubuhmu kelimpungan. Pinggulmu bergerak-gerak tanpa arah bahkan sampai terangkat, membuat punggung dan kedua kakimu menopang bokongmu hingga tampak seperti jembatan.</p>

<p>“Ahh... <em>please...</em> gede banget...” racaumu.</p>

<p>Sukuna mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak diantara kalian berdua dan membisikkan namanya di telingamu, “Sukuna.”</p>

<p>Benar, ia sangat ingin mendengar namanya kamu sebut kala ia menghujammu seperti sekarang ini. Sama seperti ketika kamu menyebut nama Suguru dengan suara lembut yang memikat seperti tadi.</p>

<p>Sukuna mengecup lehermu yang basah, lalu menggigitnya hingga membuatmu memekik. Sungguh gila, dia bukan siapa-siapa tapi ingin meninggalkan bekas kepemilikannya di tempat-tempat yang semula sudah dijajaki oleh Suguru.</p>

<p>“Duh.. <em>you drive me absolutely crazy,”</em> bisik Sukuna sembari mencium pipimu.</p>

<p>Tanpa sadar, mulutmu terbuka seakan mendamba sebuah ciuman panjang darinya. Dan tentu saja, ia dengan senang hati memberikannya untukmu. Sebuah ciuman panjang yang panas dan mampu membuatmu hampir lupa caranya bernapas.</p>

<p>Sukuna tampak begitu menikmati, bahkan lengan kekarnya dengan mudahnya mengangkat tubuhmu dari ranjang tanpa melepas penisnya maupun ciumannya. Lalu ia duduk di tepi ranjang dengan tubuhmu yang duduk di atas pangkal pahanya dan kedua lenganmu melingkar pada lehernya.</p>

<p>Kabut cemburu dan kesal mulai merebak ke dalam hati Suguru kala melihatmu tampak begitu menikmati. Ia benar-benar cemburu melihatmu mengalungkan tangan pada lehernya ketika berciuman dengan Sukuna, ia tidak suka melihat pinggulmu bergerak naik turun seolah-olaah tubuhmu sangat menikmati dan jatuh cinta pada penis milik Sukuna yang hanya berukuran sedikit lebih besar darinya. Dia bahkan benci melihat tangan kekar Sukuna memeluk pinggangmu dengan posesif. Ia sangat cemburu! Itu semua adalah hal yang seharusnya kamu tujukan hanya kepadanya, hanya kepada Suguru seorang. Bukan malah kamu berikan juga kepada pria asing bernama Sukuna itu.</p>

<p>Terlebih lagi, wajahmu yang tampak makin cantik meski dipenuhi oleh peluh dan juga saliva, menampilkan ekspresi yang sangat menggoda dan membuat suasana hati Suguru makin berkecamuk. Kamu menggigit kecil bagian bawah bibirmu sembari memejamkan mata ketika bokongmu bergerak naik turun diatas kejantanan milik Sukuna.</p>

<p>Telapak tanganmu bersandar pada dada bidang Sukuna. Padat, kekar, hangat, basah oleh keringat, dan debaran jantungnya yang berdetak liar dapat kamu rasakan dalam tanganmu.</p>

<p>Persetan dengan moralitas! Tubuhnya sangat atraktif hingga tanpa sadar membuat tubuhmu seperti dengan sengaja menggeliat di atas dadanya. Dan tanganmu dengan jahilnya mengelus-elus kedua puting kecilnya yang mengeras, dan sesekali menggaruk-garuk lembut dengan kukumu hingga membuat Sukuna mengeraskan rahangnya.</p>

<p>Kamu penasaran, seperti apa rasanya jika puting susumu beradu dengan miliknya? Apakah akan terasa lebih enak?</p>

<p>Untuk memuaskan rasa penasaranmu, tanganmu mulai memegang kedua payudaramu selagi Sukuna memegangi pinggulmu untuk membantumu bergerak naik turun seakan tengah menunggangi kuda. Setelahnya, kamu arahkan putingmu pada puting kecil miliknya dan menggesek-gesekkannya.</p>

<p>Rasanya geli, tapi menciptakan sebuah adiksi yang unik pada tubuhmu. Kepalamu terasa merinding, dan dadamu makin membusung ketika rasa nikmat tidak mampu lagi kamu tahan. Segala tingkahmu barusan juga membuat Sukuna terangsang hingga ia hampir tidak bisa menahan ejakulasi.</p>

<p>“Ahh... Sukuna...” desahmu keenakan sembari menggesek sebelah putingmu sendiri dengan miliknya, dan yang sebelahnya lagi kamu mainkan sendiri dengan jari tanganmu.</p>

<p>“Ah! <em>Fuck!”</em> erang Sukuna ketika akhirnya ia mendengarmu memanggil namanya dengan nada sensual.</p>

<p>Ia benar-benar tidak bisa menahan diri, ia kenyot sebelah payudaramu yang cabul, ia hisap kuat-kuat seakan setelahnya akan ada susu lezat yang keluar darinya, lalu kedua tangannya mencengkram pinggulmu dan menggerakkannya dengan tempo yang lebih cepat guna percepat Sukuna capai klimaks. Kamu yang lebih dulu capai, menggelinjang hebat hingga tubuhmu mengejang di atas pangkuannya.</p>

<p>Menyaksikan itu semua sudah cukup membuat penis Suguru kembali bangkit dan berdenyut-denyut lapar.</p>

<p>Setelah Sukuna capai klimaks, ia memelukmu sebelum kembali melepasmu di atas ranjang. Dan saat itu, Suguru menarik tanganmu hingga membuatmu merangkak mendekati penisnya yang sudah berdiri karenamu.</p>

<p>Kamu menungging di depannya dengan mulut yang mengecup ujung penisnya. Aroma amis yang bercampur dengan sesuatu yang mirip seperti cairan pemutih itu membuat kepalamu sedikit pusing dan mual. Namun kamu berusaha menahan diri setelah Suguru berkata dengan nada serius, <em>“If you spit it out, I&#39;ll have to punish you.”</em></p>

<p>Senyuman telah pudar dari wajahnya, hal itu membuatmu tidak nyaman dan mendadak membuat kepalamu kembali berfungsi normal hingga mampu memikirkan Suguru yang suasana hatinya tampak berubah.</p>

<p>Kamu bertanya-tanya apakah ia marah, atau hanya kelelahan saja? Tapi, jika ia benar marah, apa yang membuatnya marah? Dan jika ia kelelahan, tubuhmu bahkan berkali-kali lipat lebih lelah karena terus digempur oleh kedua pria itu tanpa adanya jeda yang cukup untukmu memulihkan diri. Oh ya, terima kasih atas insiatif kekasihmu yang tadi memberimu minum, jika tidak, mungkin tadi kamu sudah benar-benar ambruk karena lelah dan dehidrasi. Dan jika bukan keduanya, lalu apa? Mungkinkah ia cemburu atas ide gila yang ia cetuskan sendiri?</p>

<p>Kamu mulai memasukkan penisnya ke dalam mulutmu. Besar sekali, benar-benar besar hingga membuat rahangmu sangat pegal dan mulai sakit, mustahil rasanya jika gigimu tidak akan menyentuhnya.</p>

<p>“Jangan kena gigi! Lidahnya dipake!” titah Suguru.</p>

<p>Tidak suka! Kamu tidak suka ini!</p>

<p>Dimarahi olehnya malah membuat tubuhmu semakin panas. Bahkan ketika kamu memberikan kenikmatan pada penisnya dengan mulutmu, kamu malah dengan sengaja menggesekkan kedua puting susumu ka atas selimut lembab yang menjadi alas sekaligus saksi betapa liarnya kalian bercinta.</p>

<p>Oh, sial. Melihat tubuhmu yang molek menungging sensual membuat Sukuna tidak tahan untuk kembali menyambar bokongmu dan kembali menjejalkan penisnya ke dalam vaginamu yang lagi-lagi mengeluarkan cairan kental berwarna bening hingga menetes-netes. Bagi Sukuna, itu adalah undangan terbuka untuk penisnya yang seperti tidak mengenal rasa puas.</p>

<p>Hujaman demi hujaman yang kamu terima dari Sukuna membuat tubuhmu berguncang hingga mulutmu terasa makin sakit dan kebas karena penis Suguru yang berada di dalam mulutmu seperti ikut menyodok hingga hampir membuatmu ingin muntah dan kesulitan bernapas.</p>

<p>Matamu mulai berkaca-kaca, bahkan air mata sudah mengalir dari sudut matamu, mengharap belas kasih dari pria di hadapanmu. Namun, bukannya menolong, Suguru malah memegangi kepalamu dan menggerakkan kepalamu secara ritmis sampai penisnya memuncratkan cairan putih yang terasa sedikit manis dan beraroma amis. Alih-alih menelan, kamu malah memuntahkannya sambil terbatuk-batuk karena hampir tersedak karenanya.</p>

<p>“Kamu gak apa-apa, Sayang?” tanya Suguru yang kini menangkup dagumu yang basah dengan spermanya.</p>

<p>Kamu hanya mengangguk lemah, tidak sanggup lagi bersuara selain melenguh, mendesah, dan merintih.</p>

<p>“Sugus.. kalo gak pake kondom pasti lebih enak..” ujar Sukuna dengan suara berat dan patah-patah sembari menghentakkan pinggulnya beberapa kali hingga wajahnya menampilkan ekspresi lega dan penuh nikmat.</p>

<p>“Suguru, bangsat!” koreksinya.</p>

<p>Tubuhmu ambruk dan terkulai lemas di hadapan kekasihmu. Napasmu masih tersengal-sengal, dan tubuhmu masih bergetar-getar, terlebih pinggulmu yang masih menggeliat dan berkedut hebat setelah digempur habis-habisan. Bahkan, sepertinya kamu sudah tidak merasakan persendianmu lagi saking lemasnya. Sisanya hanya mengandalkan reaksi murni dari tubuhmu sendiri, gerakan jujur yang sama sekali tidak kamu buat-buat bahkan kamu sadari.</p>

<p>Begitu pula Sukuna yang mulai kelelahan hingga ikut merebahkan tubuhnya pada kasur milikmu yang berukuran sedang itu, lalu ia lepas kondom yang sejak tadi mengurung burungnya seperti sangkar dan melemparnya asal. Ia terlentang dengan penisnya yang tampak layu, tidak sebesar dan setegak sebelumnya. Mungkin, jika disentuh juga tidak akan sekeras tadi, melainkan sedikit lembek, basah, dan licin oleh sperma.</p>

<p>Baru saja kamu bernapas lega karena berpikir kegiatan yang melelahkan ini telah berakhir. Suguru mulai menepuk-nepuk dan meremas bokongmu yang sekal.</p>

<p>Suguru dengan egoisnya ingin sekali lagi melakukannya, berdua denganmu saja, tanpa Sukuna, tanpa embel-embel ingin membantumu mencari inspirasi. Ia ingin menikmati tubuhmu sendirian, ingin hilangkan bekas-bekas kenikmatan yang ditinggalkan oleh Sukuna pada tubuh elokmu dan menggantikannya dengan sesuatu yang baru dari Suguru. Karena kamu adalah miliknya. Milik Suguru yang tidak rela ia bagi dengan siapa pun.</p>

<p>Tidak ada lagi kondom yang tersisa, sehingga ia masukkan begitu saja penisnya itu ke dalam. Dan ini adalah pertama kalinya ia melakukannya tanpa menggunakan kondom, sehingga ia sedikit merasa takjub ketika penisnya dapat merasakan lubang vaginamu yang basah dan hangat itu secara langsung. Bahkan pijatan-pijatan pada dinding lubang ajaib itu memberikan stimulus yang luar biasa padanya hingga membuatnya terpejam dan mengerang.</p>

<p>“Kak... udah... nghh...” cicitmu.</p>

<p>Suguru tersenyum tipis melihatmu memohon untuk berhenti, namun bokongmu masih bergetar-getar di hadapannya dan vaginamu masih terasa berkedut dan memijit penisnya.</p>

<p>“Udah apa, Sayang? Udah gak tahan mau diewe lagi? Hm? Mau disodok keras-keras lagi?” tanyanya sembari menampar bokong sekalmu.</p>

<p>Kamu memekik dan mulai menangis. Bukan, tamparannya tidaklah sakit meski suaranya terdengar cukup kencang. Tubuhmu hanya tidak tahan dengan rasa nikmat yang diberikan oleh Suguru. Tamparannya, omelannya, suara tegasnya, semuanya malah membuat libidomu kembali memuncak.</p>

<p>Suguru mulai menggenjot bokongmu hingga membuat payudaramu yang menggantung indah berguncang dan melompat-lompat. Ah, pasti lebih enak jika sepasang tangan kekarnya memeganginya, menopangnya agar tidak melompat-lompat seperti ini.</p>

<p>“Jawab, Sayang,” titahnya sembari menampar bokongmu lagi hingga meninggalkan bekas kemerahan seukuran telapak tangan.</p>

<p>Kamu menggeleng pelan. Tanganmu gemetar, tidak kuat untuk menopang tubuhmu dalam posisi menungging seperti ini.</p>

<p>Seolah sadar, Suguru menarik kedua tanganmu ke belakang dan memeganginya sambil menyodok lubang vaginamu makin kencang.</p>

<p>“Enak abis digenjot tetangga kamu?” tanyanya lagi.</p>

<p>Kamu yang dalam kondisi tidak mampu berpikir, menjawab asal, “Nghh.. enakhh..”</p>

<p>Tubuhmu mengejang dan hampir menegak dengan mulut terbuka dan lidah menjulur ketika Suguru menghentakkan penisnya kuat-kuat hingga rasanya seperti menyundul ujung lubangmu. Sakit. Cukup sakit hingga membuat air mata mengucur dari mata sembabmu.</p>

<p>“Kenapa, Sayang? Sakit?” tanya Suguru setelah menarik tubuhmu hingga punggungmu menyentuh dada bidangnya yang licin.</p>

<p>“Iya... sakit...” cicitmu.</p>

<p>“Maaf, Sayang. Maaf udah bikin kamu kesakitan,” bisiknya dengan nada bersalah karena sempat terbawa suasana dan sedikit emosi, lalu ia mencium pipi basahmu dan kamu mengangguk pelan menerima maafnya.</p>

<p>“Mau udahan aja?” tanyanya.</p>

<p>Kamu menggeleng lemah, “Aku mau... Kak Sug...”</p>

<p>“Mau apa? Hm?” balasnya dengan jahil.</p>

<p>“Dikontolin... Kak Sug... hhh... jangan keluar.. di dalem...” jawabmu terbata-bata dan susah payah.</p>

<p>Suguru tersenyum gembira mendengarnya dan kembali melanjutkan genjotannya yang kian brutal sembari menampar-nampar bokongmu sesekali.</p>

<p>“Gimana ya kalo pembacamu tau penulisnya lagi ngewe bertiga sama pacar dan tetangganya?” tanyanya.</p>

<p>“Ahhh.... nghhh... jangan,” sahutmu.</p>

<p>Suguru hanya tersenyum dan kembali fokus pada kegiatannya, tanpa memedulikan Sukuna yang tengah menyaksikanmu bercinta dengan Suguru, sembari tangannya mengocok penisnya sendiri yang sudah kembali bangkit.</p>

<p>Sukuna mendekat, ia todongkan penisnya di hadapanmu. Tidak, ia tidak memintamu untuk memanjakannya dengan mulutmu, melainkan ia ingin rasakan kepala penisnya yang sensitif itu mencumbu puting susumu.</p>

<p>Menyebalkan! Rasanya enak sekali! Sensasi hangat dan licin dari ujung penisnya yang masih menyisakan air mani bersentuhan dengan kuncup sensitifmu yang membengkak, ditambah dengan vaginamu yang masih dihujami dengan penis Suguru yang rasanya seperti menggila di dalam sana, benar-benar membuatmu hilang akal.</p>

<p>Tanpa disangka, Sukuna meletakkan penisnya di bagian tengah dadamu. Tepatnya diantara kedua payudaramu yang melompat-lompat tiap kali Suguru menyodokkan penisnya ke dalam lubang sempit milikmu. Kemudian, ia genggam kedua payudaramu dengan tangan kekarnya yang licin oleh mani, lalu merapatkannya ke tengah dan mengapit penisnya yang sangat hangat di dadamu.</p>

<p>Kamu pasrah, benar-benar pasrah ketika Sukuna menggerakkan pinggulnya dan membuat penisnya bergerak naik turun di dalam apitan payudaramu.</p>

<p>“Gila! Teteknya keliatan kecil tapi enak juga dipake begini!” komentar Sukuna yang membuatmu malu.</p>

<p>“Hasil gua grepe tiap hari itu,” sahut Suguru yang membuat Sukuna merasa iri. Ia membayangkan Suguru meremas-remas payudaramu, menjilati, dan menghisapnya seperti bayi setiap hari. Dia juga inginkan surgawi itu.</p>

<p>Ah, Sukuna sudah tidak tahan lagi. Air maninya muncrat hingga mengenai wajah dan dadamu, lalu mengalir ke bawah hingga ke perutmu. Membuatmu lagi-lagi menggeliat namun Suguru lantas menampar bokongmu yang terlalu jujur hingga membuat jepitanmu pada penisnya makin terasa.</p>

<p>“Suka kamu digituin Sukuna?” tanyanya.</p>

<p>“Nghh... mau... peju.. Kak Suguru juga..” cicitmu, tidak peduli kalimat yang kamu lontarkan memiliki korelasi atau tidak dengan pertanyaannya.</p>

<p>Tidak lama, cairan hangat dan lengket membasahi punggungmu setelah Suguru mencabut penisnya ketika ia akan ejakulasi. Kemudian Suguru melepaskan genggamannya pada pergelangan tanganmu perlahan-lahan hingga kamu jatuh menelungkup ke atas kasur dengan pelan.</p>

<p>Suguru yang kelelahan segera merebahkan tubuhnya tepat di sebelahmu. Ia tidak peduli apa pun lagi. Dia hanya ingin istirahat. Terserah jika Sukuna yang sama lelahnya ikut mengambil posisi rebahan di sampingmu. Yang jelas, Suguru berniat akan mengusirnya setelah energinya pulih nanti.</p>

<p>Sedangkan kamu, kamu hanya bisa pasrah. Rasanya lelah. Lelah. Lelah sekali. Dan ingin terpejam, tertidur pulas untuk waktu yang lama tanpa diganggu oleh apapun, termasuk oleh kedua pria yang kini mengapit tubuhmu dengan badan besar mereka, tertidur pulas di sebelah kanan dan kirimu sembari lengannya memeluk perutmu.</p>

<p>Ah, menyebalkan! Lengan mereka terasa berat sekali. Rasanya sumpek, gerah, dan membuatmu tidak bisa leluasa bernapas. Walau begitu, kamu tetap terhanyut dalam tidur yang menenangkan karena rasa aman yang kedua pria itu berikan kala memelukmu dalam tidurnya, meski tidak terlalu nyaman.</p>

<p>Kamu hanya berharap, saat terbangun nanti, otakmu masih mampu mengingat <em>moment</em> ini untuk memperbaiki tulisanmu agar dapat menciptakan suasana dan rasa yang cukup realistis.</p>

<p>Dan semoga, tulisanmu dapat diterima dengan baik oleh para pembacamu, supaya kerja kerasmu pada hari ini tidak menjadi sia-sia. Meskipun kekasihmu sendiri sudah beberapa kali mengatakan bahwa, <em>“Kalo gak ada yang suka, gak masalah. Kamu masih punya aku, Sayang. Aku pembacamu nomor satu yang akan terus dukung kamu.”</em></p>

<p>Ya, semoga saja Suguru akan tetap menjadi pendukung setiamu sampai kapan pun. Meski mungkin nantinya kamu tidak lagi menulis. Dan ia akan tetap mendukung apapun yang kamu kerjakan.</p>

<hr/>

<blockquote><p>©️ <strong><em>unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/writers-secret-2</guid>
      <pubDate>Sun, 16 Jun 2024 07:06:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Writer&#39;s Secret</title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/writers-secret?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Suguru Geto x writer fem!reader&#xA;---&#xA;  ⚠️ This story contains explicit and sexual material and is intended for adult readers only.&#xA;&#xA;---&#xA;!--more--&#xA;Hari demi hari berlalu seperti biasa, tidak ada perubahan berarti pada kekashmu, Suguru Geto. Kecuali ia menjadi lebih usil dan lebih sering menggodamu pasca ia mengetahui bahwa kamu adalah seorang penulis fiksi dewasa. &#xA;&#xA;Terkadang ia menggodamu seperti, bagaimana kamu bisa mendeskripsikan suasana dan rasanya bercinta padahal kamu sendiri belum pernah merasakannya, atau hal apa yang kamu pikirkan selama menulis, lalu dengan pedenya ia akan berasumsi bahwa kamu memfantasikan dirinya tiap kali kamu menulis. Terlalu percaya diri, sembrono, dan menyebalkan, karena ucapannya nyaris akurat. &#xA;&#xA;Tidak hanya itu, kini ia menjadi lebih sering mengunjungimu. Ingin menjadi penggemar dan supporter pribadimu yang nomor satu, katanya. Walau jujur saja, kehadirannya malah membuatmu kesulitan untuk fokus menulis. Memangnya siapa yang mampu fokus jika seorang pria setampan Suguru Geto melingkarkan lengannya di perutmu sembari menatapmu dalam-dalam dan menyunggingkan seulas senyum tipis yang begitu menawan? &#xA;&#xA;&#34;Kok kamu gak lanjutin nulisnya, Yang?&#34; tanya Suguru yang semakin merapatkan pelukannya. Sungguh pertanyaan yang tidak tahu malu. &#xA;&#xA;&#34;Gimana aku bisa nulis kalo kamu kaya gini, Kak?&#34; balasmu sambil menepuk-nepuk lengan kekarnya yang melingkar semakin erat di perutmu. &#xA;&#xA;Suguru hanya meringis lalu mencium pipimu sebelum beranjak dan berdiri di belakangmu. &#34;Yaudah, aku pindah deh. Di sini boleh?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Apaan? Itu mah kamu malah kaya pengawas ujian, Kak.&#34; &#xA;&#xA;Suguru berjalan ke sudut ruangan dan berdiri disana sembari memalingkan wajahnya. &#34;Yang, ini aku udah jauh banget loh. Aku gak bakal liatin kamu nulis.&#34; &#xA;&#xA;Melihat kelakuannya yang seperti itu membuatmu terpikirkan satu nama, Gojo Satoru. Sahabat dari kekasihmu yang memiliki tingkah laku yang unik. Terlampau unik. &#xA;&#xA;&#34;Kak, kurang-kurangin deh main sama Kak Gojo. Di sini aja, berdirinya jangan jauh-jauh,&#34; ujarmu sembari tertawa. &#xA;&#xA;&#34;Takut aku ketularan ubanan?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ngaco, ih! Ini yang aku takutin, kamu ketularan gak jelasnya kaya dia.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gak boleh gitu, Yang. Gitu-gitu dia temen aku, walau emang sedikit gak waras.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Wah, parah banget ngatain Kak Gojo! Aku aduin, ah!&#34; guraumu. &#xA;&#xA;Suguru tertawa dan kembali memintamu untuk melanjutkan naskah yang tengah kamu tulis, berusaha mengalihkan topik. Sebab ia tahu perdebatan ini tidak akan ada habisnya, justru malah akan semakin merembet apabila kamu benar-benar mengadukannya ke Gojo Satoru. Bisa-bisa ia akan datang menyusul dan mengganggu waktumu berdua dengan Suguru. Kamu hanya akan fokus dengan leluconnya, tingkahnya yang konyol, camilan yang ia bawakan, dan membiarkan Suguru tersenyum menahan kecemburuan. Ia benar-benar tidak menginginkan hal itu terulang kembali. &#xA;&#xA;&#34;Aku bingung mau nulis apa,&#34; keluhmu. &#xA;&#xA;Mendengar hal itu, Suguru mendadak mendapat sebuah ide. Tentu saja, ide yang sangat berguna untukmu, atau kira-kira begitulah menurutnya. &#xA;&#xA;&#34;Mau cari inspirasi dulu?&#34; tanyanya yang dihadiahi anggukan pelan darimu. &#xA;&#xA;&#34;Emang yang mau kamu tulis tentang apa?&#34; tanyanya lagi sembari berjalan mendekatimu. &#xA;&#xA;&#34;Nah, ini. Aku bingung, aku ada beberapa ide tapi gak tau mau eksekusi yang mana dulu dan mau ngetik apa tuh aku gak tau. Aku pusing, Kak,&#34; balasmu sembari menggerutu tanpa sadar. &#xA;&#xA;Suguru kembali berdiri di belakang kursimu, lalu memelukmu. &#34;Kamu lagi burnout, Sayang. Jangan dipaksain, nanti kamu malah stress.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tapi nanti jadi pada mikir kalo aku males gak sih, Kak? Soalnya aku jarang update.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gak, Sayang. Gak ada yang mikir kayak gitu, mereka pasti memaklumi karena kamu punya kesibukan lain. Percaya sama aku.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tapi aku pengen kaya penulis lain yang rajin banget update tulisan terbaru mereka,&#34; sanggahmu. &#xA;&#xA;&#34;Coba aku tanya, alasan kamu jarang nulis apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dibilang jarang nulis ya enggak juga. Aku tetep sempetin buat nulis kok, tapi gak aku post aja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kenapa gak kamu post?&#34; cecar Suguru yang kini menyandarkan kepalanya di bahumu. &#xA;&#xA;&#34;Aku ngerasa gak layak aja buat di-post. Gimana ya? Aku sendiri pas baca ulang tuh kurang suka sama apa yang aku tulis, gak mungkin kan aku nge-post apa yang aku sendiri gak suka? Aku mau kasih mereka yang terbaik,&#34; jawabmu yang menuai kekehan darinya. &#xA;&#xA;&#34;Sayang, kamu tuh terlalu perfeksionis. Kamu harus inget, gak ada yang perfect di dunia ini. Sesempurna apa pun yang kamu lihat, pasti selalu ada celah untuk kekurangannya. Dan kamu pun harus bisa nerima hal itu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya, Kak. Aku tau. Tapi aku gak bisa kalo aku sendiri gak merasakan apapun dari tulisanku sendiri. Kalo aku sendiri ngerasa &#39;flat&#39; dengan apa yang aku kerjain, gimana orang lain?&#34; &#xA;&#xA;Lagi-lagi Suguru tertawa, lalu ia kecup pucuk kepalamu sebelum kembali berbicara. &#34;Astaga, kamu ini kenapa hobi banget nambah-nambahin beban pikiran sendiri?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku tuh cuma—&#34; Suguru memotong ucapanmu dengan kecupan singkat pada bibirmu. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, aku gemas pengen cium kamu dari tadi,&#34; ujarnya, lalu kembali mencium bibirmu. &#xA;&#xA;Sungguh, ini adalah posisi berciuman paling canggung dan paling cepat membuatmu pegal menurutmu. Lehermu harus mendongak ke atas, seperti bayi burung yang mendapat makanan dari induknya. Namun, berkatnya itu kamu malah mendapat sebuah ide untuk menulis. &#xA;&#xA;&#34;Kak, kayaknya sekarang aku udah tau nanti mau nulis apa,&#34; ujarmu setelah Suguru melepas ciumannya. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa harus nanti? Sekarang aja, and I&#39;ll try to make your imagination into reality,&#34; balasnya dengan berbisik lembut di telingamu, membuatmu sedikit bergidik. &#xA;&#xA;Suguru berjalan dan berhenti tepat di sebelah kursi yang tengah kamu duduki. Tubuhnya ia condongkan lebih rendah, lebih rendah, dan lebih rendah lagi hingga bibir tipisnya kembali melumat bibirmu. &#xA;&#xA;Tangan besarnya yang kokoh bergerak dan menekan lembut punggungmu agar lebih dekat dengannya. Sedangkan kedua tanganmu menahan dadanya yang terasa berdebar-debar dan hangat. &#xA;&#xA;Bahaya. Otakmu sudah mengirim sinyal tanda bahaya jika kamu tidak menghentikannya. Namun syarafmu seolah tidak peduli dan lebih memilih untuk menikmati ciuman yang manis dan candu dari Suguru, lembut dan hangatnya setiap sentuhannya, aroma tubuhnya yang membuat fantasi liarmu makin gila, debaran jantungnya yang terasa begitu nyata di telapak tanganmu, deru napasnya yang patah-patah dan berat, dan suara miliknya yang menggelitik telinga dan perutmu. &#xA;&#xA;Suguru melepaskan ciumannya. Ia tersenyum tipis setelah melihat wajahmu yang merona karenanya. Baginya, kamu tampak cantik dan menarik. Membuatnya ingin lakukan hal lain yang lebih dari sekadar berciuman untuk dapat melihat ekspresi lain yang akan kamu tampilkan. &#xA;&#xA;&#34;As a writer, what do you imagine would happen next between the characters in this moment?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;Kamu terlihat ragu dan berpikir sejenak, tapi Suguru memintamu untuk lebih jujur dan terbuka padanya. Ia bahkan berkata, &#34;Aku gak akan nge-judge kamu. I&#39;m your fan, Sayang. Aku mau dengar apa pun yang ada di kepala kamu.&#34;&#xA;Meski malu, kamu akhirnya menjawab pertanyaannya dengan suara pelan namun masih dapat didengar jelas oleh Suguru. Tentu saja, jarak wajah kalian tidak lebih dari satu jengkal! &#xA;&#xA;&#34;I&#39;d like to see the characters explore their feelings, and... perhaps share a deeper emotional connection, Kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Okay, tell me more about it.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Di momen ini, aku mau tokoh utamanya nunjukin rasa cintanya ke pasangannya. Kalo ini gak bisa dipukul rata ya caranya harus kayak gimana, karena karakter setiap tokoh itu beda-beda dan pasti beda juga cara mereka nunjukin rasa cintanya. So, I&#39;ll let you show me how you&#39;ll treat me, Kak,&#34; jawabmu dengan lugas. &#xA;&#xA;Sesaat setelah kamu berkata demikian, Suguru tampak terkejut. Namun keterkejutannya itu kini berubah menjadi senyuman hangat yang mengembang di wajahnya. &#xA;&#xA;&#34;Is it okay if I do this?&#34; bisiknya sembari tangannya membelai lembut punggungmu dan bibirnya mengecup lehermu. &#xA;&#xA;Matamu terpejam akibat sensai geli yang disebabkan oleh sentuhan-sentuhannya, &#34;Mmm, ya..&#34; &#xA;&#xA;&#34;Geli?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;Kamu tersenyum malu-malu, &#34;Sedikit.&#34; &#xA;&#xA;Lidah Suguru yang terasa hangat mulai menjilati lehermu dan sesekali giginya menggigit lembut, meninggalkan bekas-bekas kemerahan diatas kulitmu. Jantungmu berdegup tidak karuan, rasa gelisah, takut, geli, senang, dan rasa bersemangat untuk menantikan adegan-adegan erotis bersamanya menjadi satu hingga membuat napasmu tersengal-sengal. &#xA;&#xA;Kamu menahan napas ketika tangannya dengan terampil mulai mengangkat kaos yang tengah kamu kenakan. Tubuhmu benar-benar merinding dan tidak tahu harus bersikap seperti apa. &#xA;&#xA;&#34;Apa karakter yang kamu tulis sekikuk dan sepemalu ini?&#34; tanya Suguru dengan kekehan yang sejak tadi ia tahan. &#xA;&#xA;&#34;Itu cuma imajinasiku. Kalo ini, aku baru pertama kali.. apalagi sama Kak Suguru.. aku malu,&#34; balasmu sembari memalingkan wajah yang sudah merah padam. &#xA;&#xA;&#34;Kamu tau gak? Semakin kamu malu-malu kayak gini, pikiranku malah makin gak waras,&#34; ucap Suguru yang kini mulai melepas kaos hitamnya dan membiarkan otot-otot pada perut, dada, dan lengannya untuk menggoda akal sehatmu. &#xA;&#xA;Suhu tubuhmu seakan meningkat dengan drastis, dadamu terasa sesak dan ingin rasanya bebas, matamu kesulitan untuk berkedip, detak jantungmu berdebar keras seakan ingin mendobrak keluar, napasmu patah-patah dan berat, bahkan kewanitaanmu di bawah sana berkedut-kedut seolah meminta untuk dijamah oleh daging tebal dan berurat milik seorang Suguru Geto seperti fantasimu selama ini. &#xA;&#xA;Tanpa sadar, tanganmu terulur dan hampir menyentuh resleting celananya. Namun, dengan cekatan ia segera menahan tanganmu. Wajahnya yang beberapa saat lalu tampak terkejut, kini tampak memerah dan tawa keluar dari mulutnya. &#xA;&#xA;&#34;My treat, Sayang. Just relax and let me take care of you,&#34; ujarnya lalu mengecup punggung tanganmu. Pria itu benar-benar tahu caranya membuatmu malu dan semakin berdebar-debar. &#xA;&#xA;Kaosmu yang semula ia angkat kini sudah kembali turun dan menutupi dada dan perutmu, sehingga Suguru membelai, meraba, dan meremas payudaramu yang masih tertutup kaos dan bra sembari mulutnya sibuk memberikan kesenangan untukmu hingga hampir membuatmu lupa caranya bernapas. &#xA;&#xA;Ia turunkan tali bra yang sedari tadi bertengger di bahumu, lalu ia tarik turun bramu hingga membuat dua buah bulatan kecil tampak menyembul seakan menginginkan atensi dari pria di hadapannya. Ia menunduk dan mengecup kedua bulatan kecil sensitif itu dari balik kaosmu. Hal itu membuatmu berpikir, ia bahkan belum menyentuhnya secara langsung tapi tubuhmu sudah mulai menggila. Bagaimana rasanya jika ia menyentuhnya, membelainya, mencubitnya, dan meremasnya dengan tangan kekarnya yang hangat? Dan seperti apa rasanya jika mulutnya yang hangat dan lidahnya yang sangat terampil itu menjilatinya, memilinnya, dan menghisapnya? &#xA;&#xA;Sungguh, memikirkannya saja sudah membuat vaginamu berkedut hebat, terasa panas, dan makin basah. &#xA;&#xA;Seolah tahu apa yang kamu pikirkan, ia tarik kaosmu keatas dan memintamu untuk menahannya. Kamu tampak malu-malu dan berkali-kali lipat lebih menggoda di matanya. Dua gundukan indah yang tampak bergerak naik turun secara ritmis, dua kuncup berwarna lebih gelap di tengahnya yang sudah menegang, wajah memerahmu yang tampak cantik meski tanpa riasan, tatapan matamu yang penuh nafsu menggebu, itu semua membuat Suguru hampir kehilangan akal sehatnya dan ingin menjejalkan kejantanannya yang sudah berereksi saat itu juga. Ingin rasanya ia mencumbumu hingga membuatmu menitikkan air mata dan memohon ampun, atau mungkin malah memohon untuk ia gagahi lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi. &#xA;&#xA;Suguru berlutut di hadapanmu yang duduk tegak dan sedikit tegang di atas kursi. Wajahnya mendekat, dan semakin dekat hingga hembusan napasnya membelai lembut kuncup payudaramu. &#xA;&#xA;Jantungmu nyaris melompat ketika lidahnya ia julurkan dan mulai membasahi permukaan gundukan lembut di dadamu itu. Ia gerakkan lidahnya memutari payudaramu hingga sekitar areolamu, dan tampaknya ia sengaja mengujimu. Bagaimana tidak? Ketika lidahnya hampir menyentuh putingmu, dan bahkan kamu sendiri sudah menahan napasmu, ia malah menjilati sisi payudaramu yang lain. &#xA;&#xA;Dan lagi-lagi, ketika hanya berjarak sedikit lagi lidahnya menyentuh putingmu, ia urungkan dan hanya meniupnya. Membuatmu hampir gila dan ingin memaksanya untuk menyentuhnya, dengan jarinya, lidahnya, dan juga mulutnya, atau bahkan penisnya yang tampak ingin sekali dibebaskan dari belenggu celana jeansnya yang menyiksa. Dan sialnya, Suguru tahu itu. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Sayang? Mau dijilat juga?&#34; tanyanya dengan senyum menggoda. &#xA;&#xA;&#34;Kak, please..&#34; cicitmu. &#xA;&#xA;&#34;Apa, Sayang? Mau dijilatin apa dicubitin tuh pentilnya?&#34; &#xA;&#xA;Sungguh pertanyaan gila yang seharusnya ia sendiri sudah tahu bahwa ia bisa saja melakukan keduanya. Tapi tentu saja, ia ingin menggodamu. Ingin tahu seberapa liarnya imajinasimu saat bersamanya. Dan kamu benar-benar terperangkap seperti anak domba yang tersesat dan percaya bahwa serigala yang ia temui adalah domba dewasa yang bisa ia percaya. &#xA;&#xA;&#34;Kalo kamu gak jawab, aku gak lanjutin,&#34; sambungnya lagi. &#xA;&#xA;&#34;Ini... ini dijilat. Yang ini... dicubit,&#34; jawabmu lirih sembari menunjuk payudaramu dengan tanganmu sendiri. Memalukan namun Suguru terlihat senang dan menikmatinya. &#xA;&#xA;&#34;Gak nyangka kamu sebinal ini, Sayang,&#34; ucap Suguru yang segera mengulum putingmu dengan lidahnya yang terasa hangat dan basah, menciptakan sensasi geli yang adiktif dan menyenangkan. Tidak hanya itu, sebelah tangannya kini menggesek-gesek putingmu yang sudah menegang di sisi lain, menariknya, dan mencubitnya hingga tubuhmu menggelinjang nikmat dan membuatmu mengerang. &#xA;&#xA;&#34;Yang? Kamu baru begini aja udah keluar?&#34; &#xA;&#xA;Kamu menggeleng lemah, &#34;Enggak!&#34; &#xA;&#xA;Tanpa bertele-tele, Suguru lantas menarik turun celana panjangmu dan menyisakan celana dalammu yang sudah basah dan berbau khas yang membuat Suguru ingin mendekatinya, menyentuhnya, dan bahkan ia ingin menjilatinya. Ingin merasakan setiap bagian dari tubuhmu dengan lidahnya. &#xA;&#xA;Tangannya kini menyentuh bagian bawahmu yang hanya berbalut celana dalam yang sudah lembab. Tidak, lebih tepatnya ia menggesek-gesekkan klitorismu yang sama tegangnya dengan puting susumu itu dengan jari tengahnya yang tebal. Kepalamu merinding, lubang vaginamu tidak berhenti untuk berkedut, malah kedutnya makin menggila seakan ia tengah kelaparan dan ingin segera dijejali oleh sesuatu yang panjang dan tebal. Sesuatu milik Suguru Geto. &#xA;&#xA;Dengan kurang ajarnya ia tarik turun satu-satunya kain yang menutupi klitorismu yang memerah itu, membuatmu salah tingkah sekaligus malu ketika ia dekatkan wajahnya hingga deru napasnya yang hangat dapat kamu rasakan diantara kedua pangkal pahamu. &#xA;&#xA;Pinggulmu benar-benar tidak tahu sopan santun, bergerak seenaknya dan bahkan punggungmu turut melengkung hingga membuat dadamu membusung ketika lidah Suguru menjamah klitorismu dan turun hingga lidahnya menjumpai lubang vaginamu yang masih berkedut dengan liarnya hingga cairan kental tidak henti-hentinya membanjiri. &#xA;&#xA;Posisi ini benar-benar tidak nyaman. Duduk menyamping dengan sandaran kursi di sebelahmu, sedangkan tubuhmu yang mulai lemas ingin sekali bersandar pada sesuatu agar tidak jatuh. Bahkan kamu tidak tahu harus menempatkan kedua tanganmu di mana untuk berpegangan, sehingga tanpa sadar kamu malah memegangi kepalanya dan sesekali meremas-remas rambutnya hingga kunciran yang semula ia kenakan terlepas dan membuat rambut panjangnya tergerai. &#xA;&#xA;&#34;Stop, kak! Kak.. please..&#34; cicitmu yang tidak ia gubris, justru lidahnya malah makin liar di bawah sana. &#xA;&#xA;&#34;Kak, aku mau keluar..&#34; ujarmu lagi sembari mencengkram bahunya yang sedikit licin karena keringat. &#xA;&#xA;Kali ini Suguru mengangkat wajahnya dan menatapmu sembari menyunggingkan senyum. Dia memang selalu saja tersenyum, meski tiap senyumnya memiliki makna yang berbeda-beda. Seperti saat ini, ia tersenyum jahil, &#34;Not now, Sayang. Tahan sebentar ya.&#34; &#xA;&#xA;Ia ciumi pipimu sebelum ia angkat tubuhmu yang baginya hanya seringan bulu angsa dan mendaratkan tubuhmu diatas kasur. Kini kamu mulai mempertanyakan dari mana keterampilan tangannya ini ia dapatkan, karena tangannya dengan lihainya berhasil menelanjangimu dengan sempurna tanpa kesulitan. Bahkan kini ia dengan cekatan membuka resleting celana jeansnya, melepas kancingnya, menurunkannya, dan melepas celana dalam warna kelabu miliknya hingga membuat penisnya yang tampak besar, berurat, dan berkedut itu berdiri kokoh di hadapanmu. &#xA;&#xA;Instingmu memaksamu untuk menyentuhnya. Ingin merasakan seperti apa miliknya di dalam genggamanmu. &#xA;&#xA;Suguru mulai naik ke atas ranjang, lagi-lagi ia berlutut, namun kali ini ia berlutut di dekat kepalamu hingga kamu mampu melihat miliknya yang menegang itu dengan sangat jelas. Insting dan akal sehatmu tidak lagi mampu berjalan senormal biasanya, kamu bahkan tidak bisa mencegah tanganmu yang kini meraih batang hangat miliknya itu. Membelainya, bahkan seluruh inderamu seakan ingin memenuhi rasa keingintahuannya pada alat kejantanannya itu. Bukan hanya terbawa suasana oleh nafsu yang memuncak, melainkan juga untuk referensimu dalam menulis. &#xA;&#xA;Sejenak kamu berpikir, seperti apa rasanya jika miliknya yang sebesar itu menyodok vaginamu? Apakah akan terasa sakit atau justru terasa nikmat? Bagaimana jika miliknya tidak muat dengan lubang sempit milikmu? Apakah kamu akan mati jika ia benar-benar memasukkannya dan menyodoknya dengan kencang? &#xA;&#xA;Gila. Sungguh gila. Jantungmu berdegup liar, tidak sabar untuk rasakan seperti apa dahsyatnya bercinta dengannya. Dengan Suguru yang kini penisnya berada dalam genggamanmu. &#xA;&#xA;&#34;Udah puas belum liatinnya?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;&#34;Gede banget, di mulutku aja kayaknya gak muat deh. Apalagi di sana?&#34; cicitmu yang masih memainkan penisnya, menaksir ukurannya dengan tanganmu. &#xA;&#xA;Kamu hampir saja ingin merasakan miliknya dengan lidah dan mulutmu, namun ia menahanmu dengan berkata, &#34;Just relax and let me take care of you, Sayang.&#34; &#xA;&#xA;Bukannya tidak ingin, ia hanya tidak sabar ingin menjejalkan kejantanannya itu ke dalam lubang milikku yang hangat dan basah itu. &#xA;&#xA;Kemudian ia menyobek bungkusan yang sedari tadi ia genggam, sebungkus lateks yang warnanya sedikit transparan, lalu menanyaimu yang masih tampak penasaran dengan miliknya yang sedari tadi kamu sentuh, &#34;Mau bantu pasang?&#34; &#xA;&#xA;Kamu meraihnya, mencoba merenggangkannya agar kondom itu dapat sepenuhnya menutupi permukaan penis besar Suguru. Entah apa yang ia rasakan kala tanganmu menyentuhnya, yang pasti wajahnya sedikit memerah, keringat mulai merembes dari kulitnya, dan bahkan suaranya pun terdengar lebih berat seiring deru napasnya yang tampak sama beratnya dengan suaranya. &#xA;&#xA;Setengah mati Suguru menahan dirinya untuk tidak tergesa-gesa, namun tampaknya kesabarannya telah menemui batasnya. Pasalnya kamu tidak kunjung selesai memasangkan kondom pada penisnya, tanganmu makin lama malah makin merangsang hawa nafsu yang sedari tadi ia tahan. Sehingga ia turut membantumu agar lebih cepat dan segera bergerak mendekati pangkal pahamu. &#xA;&#xA;Ia bentangkan pahamu hingga menampilkan kewanitaanmu yang sudah berlumuran mani. Ia sentuh salah satu lubangnya yang terlihat berdebar-debar layaknya jantung milikmu dan tersenyum jahil. &#xA;&#xA;&#34;Udah gak sabar ya pengen dijejelin?&#34; ujarnya dengan tawa. &#xA;&#xA;&#34;Hm? Jawab, Sayang,&#34; ujarnya lagi memintamu untuk merespon ucapannya. &#xA;&#xA;&#34;Kak.. langsung masukin aja— AKH! PELAN-PELAN!&#34; balasmu yang mendadak teriak kesakitan kala ia benar-benar menghujam vaginamu dengan miliknya, sesegera setelah kamu mengiyakan pertanyaannya barusan. &#xA;&#xA;&#34;Masih sakit? Mau berhenti dulu?&#34; tanyanya yang mulai khawatir melihatmu tampak kesakitan hingga air mata menggenang di pelupuk matamu. &#xA;&#xA;&#34;Sakit... tapi lanjutin aja, pelan-pelan..&#34; jawabmu sembari memegangi lengan kekarnya. &#xA;&#xA;Suguru kembali menekan masuk penisnya, alisnya sedikit tertaut merasakan betapa sempitnya milikmu itu hingga membuat miliknya yang besar itu sedikit kesulitan untuk masuk. Sesekali ia mengecup bibirmu, keningmu, pipimu, dan juga berbisik tepat di telingamu. &#xA;&#xA;&#34;Rileks, Sayang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kak, gak muat.. gak muat! Kak Suguru gede banget!&#34; &#xA;&#xA;Suguru tersenyum tipis melihatmu menggeliat di bawahnya. &#xA;&#xA;&#34;Muat, Sayang. Kamu rileks ya, biar gampang masuknya,&#34; bisiknya sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahimu yang mulai berkeringat. &#xA;&#xA;Sungguh, kamu tidak pernah membayangkan bahwa pengalaman bercinta akan sesakit ini. Mana rasa nikmat yang biasa dikatakan orang-orang? &#xA;&#xA;Namun, perlakuan Suguru yang manis. Suara beratnya yang berbisik di telingamu, bibirnya yang menciummu, dan tangannya yang menggenggam kedua tanganmu dengan erat, mulai dapat mendistraksi rasa sakit yang kamu rasa. Hingga akhirnya Suguru terdengar melepas napasnya dengan lega kala penisnya telah sepenuhnya masuk, ia tidak lantas nenggerakkan pinggulnya, melainkan mencium keningmu dan melumat bibirmu. Ia biarkan sejenak vaginamu untuk menerima dan membiasakan diri terhadap kehadiran penisnya yang kini bertengger di dalamnya. &#xA;&#xA;&#34;Masih terasa sakit gak?&#34; tanyanya sembari merapikan rambutmu. &#xA;&#xA;&#34;Gak terlalu, aku masih bisa tahan,&#34; jawabmu dengan napas terengah. &#xA;&#xA;&#34;Aku lanjut ya, Sayang,&#34; ucapnya yang menerima anggukan lemah darimu. &#xA;&#xA;Tangannya yang semula menggenggammu, kini beralih mencengkram pinggulmu guna memudahkannya untuk memacu penisnya bergerak memanjakanmu. Rasa merinding yang awalnya terasa di pucuk kepala, kini menjalar keseluruh tubuh hingga membuat tubuhmu bergetar hebat di bawah kuasa Suguru. Tubuhmu mulai menggelinjang, pikiranmu tidak karuan, bahkan ritme napasmu ikut berantakan seiring sodokan penisnya yang kian menggila. &#xA;&#xA;Kamu ingin memintanya untuk berhenti atau setidaknya mengurangi tempo dengan memanggil namanya. Namun tindakanmu itu malah membuatnya makin menggebu-gebu dan menyodokmu makin gila hingga terdengar suara becek yang memenuhi penjuru kamar kosmu. &#xA;&#xA;Dibanding rasa sakit yang tadi sempat kamu rasakan, sensasi ini tampaknya mampu membuatmu kecanduan. Sensasi merinding, geli, namun menyenangkan yang sulit dijelaskan. &#xA;&#xA;&#34;Enak, Sayang?&#34; tanyanya di sela-sela kegiatannya yang masih gila-gilaan menyodokmu. &#xA;&#xA;Kamu tidak mampu menjawab dengan kata-kata yang layak dan pantas. Hanya lenguhan, erangan, dan desahan yang keluar dari mulutmu yang basah dengan air liur yang bercampur milik Suguru. &#xA;&#xA;&#34;Gila, memek kamu enak banget, Sayang. Jepit-jepit terus, bikin aku mau keluar,&#34; ucapnya disertai erangan dan cengkraman yang terasa lebih erat pada pinggulmu. Tubuhmu mengejang singkat sebelum akhirnya terkulai lemas meski tetap gemetar. &#xA;&#xA;Ia mencabut penisnya. Sejenak kamu bernapas lega, berpikir bahwa ia akan menyudahi dan membiarkanmu istirahat, nyatanya ia tetap ingin bermain-main denganmu, dengan tubuhmu, dengan payudaramu yang kini lagi-lagi ia hisap dan cubiti. Ia mengistirahatkan penisnya namun tidak membiarkan tubuhmu yang terkulai barang sebentar saja? Untuk kali ini ia benar-benar egois! &#xA;&#xA;Kamu memejamkan matamu, tidak kuat dengan setiap rangsangan gila yang ia berikan. Bahkan tangannya pun turut andil memberikan kegilaan dengan memainkan lubang vaginamu dengan jari-jarinya yang tebal dan panjang. Jangan tanya sudah berapa kali vaginamu membanjiri dengan cairan kentalnya, sebab kasurmu kini sudah kuyup dengan lendir dan keringat yang bercampur antara milikmu dan Suguru. &#xA;&#xA;&#34;Enakan dikobelin pake tangan apa pake kontol?&#34; tanyanya dengan bibir yang berjarak tidak lebih dari satu sentimeter dari putingmu yang basah karena saliva miliknya, sisa-sisa bekas hisapannya barusan. &#xA;&#xA;Akal sehatmu yang sudah tidak terkendali membuatmu menjawab tanpa berpikir, &#34;Kontol gede Kak Sug..&#34; &#xA;&#xA;Tentu saja, jawabanmu barusan membuatnya meringis kemenangan. Lagi-lagi ia jantani lubang senggamamu dengan penisnya yang kembali mengeras, pria itu benar-benar tidak ingin membuang waktu. Bahkan ia tidak memberimu banyak waktu untuk istirahat. &#xA;&#xA;Kali ini tubuhmu benar-benar lepas kendali. Pinggulmu tidak bisa diam, sama halnya dengan otot-otot vaginamu yang terus menerus memijat penisnya tanpa henti, pinggulmu bergerak semaunya sendiri. Ia menciummu, melumat bibirmu entah yang keberapa kalinya, membuat dadamu bersentuhan dengan kulitnya yang sama-sama licin dengan keringat. Hangat, basah, dan nikmat, tubuhmu meliuk di bawahnya, di dalam dekapan lengan Suguru yang merangkul tubuhmu yang penuh keringat. &#xA;&#xA;Kamu tidak tahu kegiatan erotis ini akan berlangsung berapa lama, sebab Suguru tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti seolah ia telah menantikan momen ini begitu lama dan merasa sayang untuk berhenti cepat-cepat. Sedangkan kamu, tubuhmu sudah mulai kelelahan, hanya bergerak berdasarkan insting dan membiarkannya mengambil alih tubuhmu hingga nafsunya terpuasi. &#xA;&#xA;Pikiranmu juga tampaknya sudah sekacau kasurmu. Jangankan memikirkan inspirasi untuk melanjutkan tulisanmu yang sempat tersendat, mengingat caranya bernapas saja kamu sudah bersyukur selama menghadapi Suguru di ranjang seperti ini. Ia benar-benar seperti makhluk buas yang tamak, berhenti sejenak hanya untuk mencabut penisnya dari vaginamu, melepas kondomnya yang penuh, lalu ia semburkan sperma kental dari penisnya ke tubuhmu hingga wajahmu sedikit terciprat cairan beraroma tajam itu. Tidak berlangsung lama sampai ia selesai berganti dengan kondom baru dan kembali menusuk-nusuk lubang sensitif milikmu yang tampaknya sudah mulai menyesuaikan diri dengan ukuran miliknya yang besar itu, dengan posisi baru dan dengan berbagai pose gila yang bahkan kamu sendiri tidak bernah berpikir bahwa tubuhmu akan mampu berpose selentur itu. &#xA;&#xA;Tampaknya mengabadikan kegiatanmu bersamanya dalam sebuah karya tidaklah buruk, bukan? Benar, tidak buruk jika esok hari kamu masih mampu membuka mata dan masih sanggup memegang pena atau papan ketikmu usai malam yang terasa begitu panjang ini bersamanya.&#xA;&#xA;---&#xA;— Fin.&#xA;---&#xA;&#xA;  ©️ unatoshiru]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><strong><em>Suguru Geto x writer fem!reader</em></strong></p>

<hr/>

<blockquote><p>⚠️ <strong><em>This story contains explicit and sexual material and is intended for adult readers only.</em></strong></p></blockquote>

<hr/>



<p>Hari demi hari berlalu seperti biasa, tidak ada perubahan berarti pada kekashmu, Suguru Geto. Kecuali ia menjadi lebih usil dan lebih sering menggodamu pasca ia mengetahui bahwa kamu adalah seorang penulis fiksi dewasa.</p>

<p>Terkadang ia menggodamu seperti, bagaimana kamu bisa mendeskripsikan suasana dan rasanya bercinta padahal kamu sendiri belum pernah merasakannya, atau hal apa yang kamu pikirkan selama menulis, lalu dengan pedenya ia akan berasumsi bahwa kamu memfantasikan dirinya tiap kali kamu menulis. Terlalu percaya diri, sembrono, dan menyebalkan, karena ucapannya nyaris akurat.</p>

<p>Tidak hanya itu, kini ia menjadi lebih sering mengunjungimu. Ingin menjadi penggemar dan supporter pribadimu yang nomor satu, katanya. Walau jujur saja, kehadirannya malah membuatmu kesulitan untuk fokus menulis. Memangnya siapa yang mampu fokus jika seorang pria setampan Suguru Geto melingkarkan lengannya di perutmu sembari menatapmu dalam-dalam dan menyunggingkan seulas senyum tipis yang begitu menawan?</p>

<p>“Kok kamu gak lanjutin nulisnya, Yang?” tanya Suguru yang semakin merapatkan pelukannya. Sungguh pertanyaan yang tidak tahu malu.</p>

<p>“Gimana aku bisa nulis kalo kamu kaya gini, Kak?” balasmu sambil menepuk-nepuk lengan kekarnya yang melingkar semakin erat di perutmu.</p>

<p>Suguru hanya meringis lalu mencium pipimu sebelum beranjak dan berdiri di belakangmu. “Yaudah, aku pindah deh. Di sini boleh?”</p>

<p>“Apaan? Itu mah kamu malah kaya pengawas ujian, Kak.”</p>

<p>Suguru berjalan ke sudut ruangan dan berdiri disana sembari memalingkan wajahnya. “Yang, ini aku udah jauh banget loh. Aku gak bakal liatin kamu nulis.”</p>

<p>Melihat kelakuannya yang seperti itu membuatmu terpikirkan satu nama, Gojo Satoru. Sahabat dari kekasihmu yang memiliki tingkah laku yang unik. Terlampau unik.</p>

<p>“Kak, kurang-kurangin deh main sama Kak Gojo. Di sini aja, berdirinya jangan jauh-jauh,” ujarmu sembari tertawa.</p>

<p>“Takut aku ketularan ubanan?”</p>

<p>“Ngaco, ih! Ini yang aku takutin, kamu ketularan gak jelasnya kaya dia.”</p>

<p>“Gak boleh gitu, Yang. Gitu-gitu dia temen aku, walau emang sedikit gak waras.”</p>

<p>“Wah, parah banget ngatain Kak Gojo! Aku aduin, ah!” guraumu.</p>

<p>Suguru tertawa dan kembali memintamu untuk melanjutkan naskah yang tengah kamu tulis, berusaha mengalihkan topik. Sebab ia tahu perdebatan ini tidak akan ada habisnya, justru malah akan semakin merembet apabila kamu benar-benar mengadukannya ke Gojo Satoru. Bisa-bisa ia akan datang menyusul dan mengganggu waktumu berdua dengan Suguru. Kamu hanya akan fokus dengan leluconnya, tingkahnya yang konyol, camilan yang ia bawakan, dan membiarkan Suguru tersenyum menahan kecemburuan. Ia benar-benar tidak menginginkan hal itu terulang kembali.</p>

<p>“Aku bingung mau nulis apa,” keluhmu.</p>

<p>Mendengar hal itu, Suguru mendadak mendapat sebuah ide. Tentu saja, ide yang sangat berguna untukmu, atau kira-kira begitulah menurutnya.</p>

<p>“Mau cari inspirasi dulu?” tanyanya yang dihadiahi anggukan pelan darimu.</p>

<p>“Emang yang mau kamu tulis tentang apa?” tanyanya lagi sembari berjalan mendekatimu.</p>

<p>“Nah, ini. Aku bingung, aku ada beberapa ide tapi gak tau mau eksekusi yang mana dulu dan mau ngetik apa tuh aku gak tau. Aku pusing, Kak,” balasmu sembari menggerutu tanpa sadar.</p>

<p>Suguru kembali berdiri di belakang kursimu, lalu memelukmu. “Kamu lagi <em>burnout,</em> Sayang. Jangan dipaksain, nanti kamu malah <em>stress.</em>“</p>

<p>“Tapi nanti jadi pada mikir kalo aku males gak sih, Kak? Soalnya aku jarang update.”</p>

<p>“Gak, Sayang. Gak ada yang mikir kayak gitu, mereka pasti memaklumi karena kamu punya kesibukan lain. Percaya sama aku.”</p>

<p>“Tapi aku pengen kaya penulis lain yang rajin banget <em>update</em> tulisan terbaru mereka,” sanggahmu.</p>

<p>“Coba aku tanya, alasan kamu jarang nulis apa?”</p>

<p>“Dibilang jarang nulis ya enggak juga. Aku tetep sempetin buat nulis kok, tapi gak aku post aja.”</p>

<p>“Kenapa gak kamu <em>post</em>?” cecar Suguru yang kini menyandarkan kepalanya di bahumu.</p>

<p>“Aku ngerasa gak layak aja buat di-<em>post</em>. Gimana ya? Aku sendiri pas baca ulang tuh kurang suka sama apa yang aku tulis, gak mungkin kan aku nge-<em>post</em> apa yang aku sendiri gak suka? Aku mau kasih mereka yang terbaik,” jawabmu yang menuai kekehan darinya.</p>

<p>“Sayang, kamu tuh terlalu perfeksionis. Kamu harus inget, gak ada yang <em>perfect</em> di dunia ini. Sesempurna apa pun yang kamu lihat, pasti selalu ada celah untuk kekurangannya. Dan kamu pun harus bisa nerima hal itu.”</p>

<p>“Iya, Kak. Aku tau. Tapi aku gak bisa kalo aku sendiri gak merasakan apapun dari tulisanku sendiri. Kalo aku sendiri ngerasa <em>&#39;flat&#39;</em> dengan apa yang aku kerjain, gimana orang lain?”</p>

<p>Lagi-lagi Suguru tertawa, lalu ia kecup pucuk kepalamu sebelum kembali berbicara. “Astaga, kamu ini kenapa hobi banget nambah-nambahin beban pikiran sendiri?”</p>

<p>“Aku tuh cuma—” Suguru memotong ucapanmu dengan kecupan singkat pada bibirmu.</p>

<p>“Maaf, aku gemas pengen cium kamu dari tadi,” ujarnya, lalu kembali mencium bibirmu.</p>

<p>Sungguh, ini adalah posisi berciuman paling canggung dan paling cepat membuatmu pegal menurutmu. Lehermu harus mendongak ke atas, seperti bayi burung yang mendapat makanan dari induknya. Namun, berkatnya itu kamu malah mendapat sebuah ide untuk menulis.</p>

<p>“Kak, kayaknya sekarang aku udah tau nanti mau nulis apa,” ujarmu setelah Suguru melepas ciumannya.</p>

<p>“Kenapa harus nanti? Sekarang aja, <em>and I&#39;ll try to make your imagination into reality</em>,” balasnya dengan berbisik lembut di telingamu, membuatmu sedikit bergidik.</p>

<p>Suguru berjalan dan berhenti tepat di sebelah kursi yang tengah kamu duduki. Tubuhnya ia condongkan lebih rendah, lebih rendah, dan lebih rendah lagi hingga bibir tipisnya kembali melumat bibirmu.</p>

<p>Tangan besarnya yang kokoh bergerak dan menekan lembut punggungmu agar lebih dekat dengannya. Sedangkan kedua tanganmu menahan dadanya yang terasa berdebar-debar dan hangat.</p>

<p>Bahaya. Otakmu sudah mengirim sinyal tanda bahaya jika kamu tidak menghentikannya. Namun syarafmu seolah tidak peduli dan lebih memilih untuk menikmati ciuman yang manis dan candu dari Suguru, lembut dan hangatnya setiap sentuhannya, aroma tubuhnya yang membuat fantasi liarmu makin gila, debaran jantungnya yang terasa begitu nyata di telapak tanganmu, deru napasnya yang patah-patah dan berat, dan suara miliknya yang menggelitik telinga dan perutmu.</p>

<p>Suguru melepaskan ciumannya. Ia tersenyum tipis setelah melihat wajahmu yang merona karenanya. Baginya, kamu tampak cantik dan menarik. Membuatnya ingin lakukan hal lain yang lebih dari sekadar berciuman untuk dapat melihat ekspresi lain yang akan kamu tampilkan.</p>

<p><em>“As a writer, what do you imagine would happen next between the characters in this moment?”</em> tanyanya.</p>

<p>Kamu terlihat ragu dan berpikir sejenak, tapi Suguru memintamu untuk lebih jujur dan terbuka padanya. Ia bahkan berkata, “Aku gak akan nge-<em>judge</em> kamu. <em>I&#39;m your fan</em>, Sayang. Aku mau dengar apa pun yang ada di kepala kamu.”
Meski malu, kamu akhirnya menjawab pertanyaannya dengan suara pelan namun masih dapat didengar jelas oleh Suguru. Tentu saja, jarak wajah kalian tidak lebih dari satu jengkal!</p>

<p><em>“I&#39;d like to see the characters explore their feelings, and... perhaps share a deeper emotional connection,</em> Kak.”</p>

<p><em>“Okay, tell me more about it.”</em></p>

<p>“Di momen ini, aku mau tokoh utamanya nunjukin rasa cintanya ke pasangannya. Kalo ini gak bisa dipukul rata ya caranya harus kayak gimana, karena karakter setiap tokoh itu beda-beda dan pasti beda juga cara mereka nunjukin rasa cintanya. <em>So, I&#39;ll let you show me how you&#39;ll treat me,</em> Kak,” jawabmu dengan lugas.</p>

<p>Sesaat setelah kamu berkata demikian, Suguru tampak terkejut. Namun keterkejutannya itu kini berubah menjadi senyuman hangat yang mengembang di wajahnya.</p>

<p><em>“Is it okay if I do this?”</em> bisiknya sembari tangannya membelai lembut punggungmu dan bibirnya mengecup lehermu.</p>

<p>Matamu terpejam akibat sensai geli yang disebabkan oleh sentuhan-sentuhannya, “Mmm, ya..”</p>

<p>“Geli?” tanyanya.</p>

<p>Kamu tersenyum malu-malu, “Sedikit.”</p>

<p>Lidah Suguru yang terasa hangat mulai menjilati lehermu dan sesekali giginya menggigit lembut, meninggalkan bekas-bekas kemerahan diatas kulitmu. Jantungmu berdegup tidak karuan, rasa gelisah, takut, geli, senang, dan rasa bersemangat untuk menantikan adegan-adegan erotis bersamanya menjadi satu hingga membuat napasmu tersengal-sengal.</p>

<p>Kamu menahan napas ketika tangannya dengan terampil mulai mengangkat kaos yang tengah kamu kenakan. Tubuhmu benar-benar merinding dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.</p>

<p>“Apa karakter yang kamu tulis sekikuk dan sepemalu ini?” tanya Suguru dengan kekehan yang sejak tadi ia tahan.</p>

<p>“Itu cuma imajinasiku. Kalo ini, aku baru pertama kali.. apalagi sama Kak Suguru.. aku malu,” balasmu sembari memalingkan wajah yang sudah merah padam.</p>

<p>“Kamu tau gak? Semakin kamu malu-malu kayak gini, pikiranku malah makin gak waras,” ucap Suguru yang kini mulai melepas kaos hitamnya dan membiarkan otot-otot pada perut, dada, dan lengannya untuk menggoda akal sehatmu.</p>

<p>Suhu tubuhmu seakan meningkat dengan drastis, dadamu terasa sesak dan ingin rasanya bebas, matamu kesulitan untuk berkedip, detak jantungmu berdebar keras seakan ingin mendobrak keluar, napasmu patah-patah dan berat, bahkan kewanitaanmu di bawah sana berkedut-kedut seolah meminta untuk dijamah oleh daging tebal dan berurat milik seorang Suguru Geto seperti fantasimu selama ini.</p>

<p>Tanpa sadar, tanganmu terulur dan hampir menyentuh resleting celananya. Namun, dengan cekatan ia segera menahan tanganmu. Wajahnya yang beberapa saat lalu tampak terkejut, kini tampak memerah dan tawa keluar dari mulutnya.</p>

<p><em>“My treat,</em> Sayang. <em>Just relax and let me take care of you,”</em> ujarnya lalu mengecup punggung tanganmu. Pria itu benar-benar tahu caranya membuatmu malu dan semakin berdebar-debar.</p>

<p>Kaosmu yang semula ia angkat kini sudah kembali turun dan menutupi dada dan perutmu, sehingga Suguru membelai, meraba, dan meremas payudaramu yang masih tertutup kaos dan bra sembari mulutnya sibuk memberikan kesenangan untukmu hingga hampir membuatmu lupa caranya bernapas.</p>

<p>Ia turunkan tali bra yang sedari tadi bertengger di bahumu, lalu ia tarik turun bramu hingga membuat dua buah bulatan kecil tampak menyembul seakan menginginkan atensi dari pria di hadapannya. Ia menunduk dan mengecup kedua bulatan kecil sensitif itu dari balik kaosmu. Hal itu membuatmu berpikir, ia bahkan belum menyentuhnya secara langsung tapi tubuhmu sudah mulai menggila. Bagaimana rasanya jika ia menyentuhnya, membelainya, mencubitnya, dan meremasnya dengan tangan kekarnya yang hangat? Dan seperti apa rasanya jika mulutnya yang hangat dan lidahnya yang sangat terampil itu menjilatinya, memilinnya, dan menghisapnya?</p>

<p>Sungguh, memikirkannya saja sudah membuat vaginamu berkedut hebat, terasa panas, dan makin basah.</p>

<p>Seolah tahu apa yang kamu pikirkan, ia tarik kaosmu keatas dan memintamu untuk menahannya. Kamu tampak malu-malu dan berkali-kali lipat lebih menggoda di matanya. Dua gundukan indah yang tampak bergerak naik turun secara ritmis, dua kuncup berwarna lebih gelap di tengahnya yang sudah menegang, wajah memerahmu yang tampak cantik meski tanpa riasan, tatapan matamu yang penuh nafsu menggebu, itu semua membuat Suguru hampir kehilangan akal sehatnya dan ingin menjejalkan kejantanannya yang sudah berereksi saat itu juga. Ingin rasanya ia mencumbumu hingga membuatmu menitikkan air mata dan memohon ampun, atau mungkin malah memohon untuk ia gagahi lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.</p>

<p>Suguru berlutut di hadapanmu yang duduk tegak dan sedikit tegang di atas kursi. Wajahnya mendekat, dan semakin dekat hingga hembusan napasnya membelai lembut kuncup payudaramu.</p>

<p>Jantungmu nyaris melompat ketika lidahnya ia julurkan dan mulai membasahi permukaan gundukan lembut di dadamu itu. Ia gerakkan lidahnya memutari payudaramu hingga sekitar areolamu, dan tampaknya ia sengaja mengujimu. Bagaimana tidak? Ketika lidahnya hampir menyentuh putingmu, dan bahkan kamu sendiri sudah menahan napasmu, ia malah menjilati sisi payudaramu yang lain.</p>

<p>Dan lagi-lagi, ketika hanya berjarak sedikit lagi lidahnya menyentuh putingmu, ia urungkan dan hanya meniupnya. Membuatmu hampir gila dan ingin memaksanya untuk menyentuhnya, dengan jarinya, lidahnya, dan juga mulutnya, atau bahkan penisnya yang tampak ingin sekali dibebaskan dari belenggu celana jeansnya yang menyiksa. Dan sialnya, Suguru tahu itu.</p>

<p>“Kenapa, Sayang? Mau dijilat juga?” tanyanya dengan senyum menggoda.</p>

<p>“Kak, <em>please..”</em> cicitmu.</p>

<p>“Apa, Sayang? Mau dijilatin apa dicubitin tuh pentilnya?”</p>

<p>Sungguh pertanyaan gila yang seharusnya ia sendiri sudah tahu bahwa ia bisa saja melakukan keduanya. Tapi tentu saja, ia ingin menggodamu. Ingin tahu seberapa liarnya imajinasimu saat bersamanya. Dan kamu benar-benar terperangkap seperti anak domba yang tersesat dan percaya bahwa serigala yang ia temui adalah domba dewasa yang bisa ia percaya.</p>

<p>“Kalo kamu gak jawab, aku gak lanjutin,” sambungnya lagi.</p>

<p>“Ini... ini dijilat. Yang ini... dicubit,” jawabmu lirih sembari menunjuk payudaramu dengan tanganmu sendiri. Memalukan namun Suguru terlihat senang dan menikmatinya.</p>

<p>“Gak nyangka kamu sebinal ini, Sayang,” ucap Suguru yang segera mengulum putingmu dengan lidahnya yang terasa hangat dan basah, menciptakan sensasi geli yang adiktif dan menyenangkan. Tidak hanya itu, sebelah tangannya kini menggesek-gesek putingmu yang sudah menegang di sisi lain, menariknya, dan mencubitnya hingga tubuhmu menggelinjang nikmat dan membuatmu mengerang.</p>

<p>“Yang? Kamu baru begini aja udah keluar?”</p>

<p>Kamu menggeleng lemah, “Enggak!”</p>

<p>Tanpa bertele-tele, Suguru lantas menarik turun celana panjangmu dan menyisakan celana dalammu yang sudah basah dan berbau khas yang membuat Suguru ingin mendekatinya, menyentuhnya, dan bahkan ia ingin menjilatinya. Ingin merasakan setiap bagian dari tubuhmu dengan lidahnya.</p>

<p>Tangannya kini menyentuh bagian bawahmu yang hanya berbalut celana dalam yang sudah lembab. Tidak, lebih tepatnya ia menggesek-gesekkan klitorismu yang sama tegangnya dengan puting susumu itu dengan jari tengahnya yang tebal. Kepalamu merinding, lubang vaginamu tidak berhenti untuk berkedut, malah kedutnya makin menggila seakan ia tengah kelaparan dan ingin segera dijejali oleh sesuatu yang panjang dan tebal. Sesuatu milik Suguru Geto.</p>

<p>Dengan kurang ajarnya ia tarik turun satu-satunya kain yang menutupi klitorismu yang memerah itu, membuatmu salah tingkah sekaligus malu ketika ia dekatkan wajahnya hingga deru napasnya yang hangat dapat kamu rasakan diantara kedua pangkal pahamu.</p>

<p>Pinggulmu benar-benar tidak tahu sopan santun, bergerak seenaknya dan bahkan punggungmu turut melengkung hingga membuat dadamu membusung ketika lidah Suguru menjamah klitorismu dan turun hingga lidahnya menjumpai lubang vaginamu yang masih berkedut dengan liarnya hingga cairan kental tidak henti-hentinya membanjiri.</p>

<p>Posisi ini benar-benar tidak nyaman. Duduk menyamping dengan sandaran kursi di sebelahmu, sedangkan tubuhmu yang mulai lemas ingin sekali bersandar pada sesuatu agar tidak jatuh. Bahkan kamu tidak tahu harus menempatkan kedua tanganmu di mana untuk berpegangan, sehingga tanpa sadar kamu malah memegangi kepalanya dan sesekali meremas-remas rambutnya hingga kunciran yang semula ia kenakan terlepas dan membuat rambut panjangnya tergerai.</p>

<p><em>“Stop,</em> kak! Kak.. <em>please..”</em> cicitmu yang tidak ia gubris, justru lidahnya malah makin liar di bawah sana.</p>

<p>“Kak, aku mau keluar..” ujarmu lagi sembari mencengkram bahunya yang sedikit licin karena keringat.</p>

<p>Kali ini Suguru mengangkat wajahnya dan menatapmu sembari menyunggingkan senyum. Dia memang selalu saja tersenyum, meski tiap senyumnya memiliki makna yang berbeda-beda. Seperti saat ini, ia tersenyum jahil, <em>“Not now,</em> Sayang. Tahan sebentar ya.”</p>

<p>Ia ciumi pipimu sebelum ia angkat tubuhmu yang baginya hanya seringan bulu angsa dan mendaratkan tubuhmu diatas kasur. Kini kamu mulai mempertanyakan dari mana keterampilan tangannya ini ia dapatkan, karena tangannya dengan lihainya berhasil menelanjangimu dengan sempurna tanpa kesulitan. Bahkan kini ia dengan cekatan membuka resleting celana jeansnya, melepas kancingnya, menurunkannya, dan melepas celana dalam warna kelabu miliknya hingga membuat penisnya yang tampak besar, berurat, dan berkedut itu berdiri kokoh di hadapanmu.</p>

<p>Instingmu memaksamu untuk menyentuhnya. Ingin merasakan seperti apa miliknya di dalam genggamanmu.</p>

<p>Suguru mulai naik ke atas ranjang, lagi-lagi ia berlutut, namun kali ini ia berlutut di dekat kepalamu hingga kamu mampu melihat miliknya yang menegang itu dengan sangat jelas. Insting dan akal sehatmu tidak lagi mampu berjalan senormal biasanya, kamu bahkan tidak bisa mencegah tanganmu yang kini meraih batang hangat miliknya itu. Membelainya, bahkan seluruh inderamu seakan ingin memenuhi rasa keingintahuannya pada alat kejantanannya itu. Bukan hanya terbawa suasana oleh nafsu yang memuncak, melainkan juga untuk referensimu dalam menulis.</p>

<p>Sejenak kamu berpikir, seperti apa rasanya jika miliknya yang sebesar itu menyodok vaginamu? Apakah akan terasa sakit atau justru terasa nikmat? Bagaimana jika miliknya tidak muat dengan lubang sempit milikmu? Apakah kamu akan mati jika ia benar-benar memasukkannya dan menyodoknya dengan kencang?</p>

<p>Gila. Sungguh gila. Jantungmu berdegup liar, tidak sabar untuk rasakan seperti apa dahsyatnya bercinta dengannya. Dengan Suguru yang kini penisnya berada dalam genggamanmu.</p>

<p>“Udah puas belum liatinnya?” tanyanya.</p>

<p>“Gede banget, di mulutku aja kayaknya gak muat deh. Apalagi di sana?” cicitmu yang masih memainkan penisnya, menaksir ukurannya dengan tanganmu.</p>

<p>Kamu hampir saja ingin merasakan miliknya dengan lidah dan mulutmu, namun ia menahanmu dengan berkata, <em>“Just relax and let me take care of you,</em> Sayang.”</p>

<p>Bukannya tidak ingin, ia hanya tidak sabar ingin menjejalkan kejantanannya itu ke dalam lubang milikku yang hangat dan basah itu.</p>

<p>Kemudian ia menyobek bungkusan yang sedari tadi ia genggam, sebungkus lateks yang warnanya sedikit transparan, lalu menanyaimu yang masih tampak penasaran dengan miliknya yang sedari tadi kamu sentuh, “Mau bantu pasang?”</p>

<p>Kamu meraihnya, mencoba merenggangkannya agar kondom itu dapat sepenuhnya menutupi permukaan penis besar Suguru. Entah apa yang ia rasakan kala tanganmu menyentuhnya, yang pasti wajahnya sedikit memerah, keringat mulai merembes dari kulitnya, dan bahkan suaranya pun terdengar lebih berat seiring deru napasnya yang tampak sama beratnya dengan suaranya.</p>

<p>Setengah mati Suguru menahan dirinya untuk tidak tergesa-gesa, namun tampaknya kesabarannya telah menemui batasnya. Pasalnya kamu tidak kunjung selesai memasangkan kondom pada penisnya, tanganmu makin lama malah makin merangsang hawa nafsu yang sedari tadi ia tahan. Sehingga ia turut membantumu agar lebih cepat dan segera bergerak mendekati pangkal pahamu.</p>

<p>Ia bentangkan pahamu hingga menampilkan kewanitaanmu yang sudah berlumuran mani. Ia sentuh salah satu lubangnya yang terlihat berdebar-debar layaknya jantung milikmu dan tersenyum jahil.</p>

<p>“Udah gak sabar ya pengen dijejelin?” ujarnya dengan tawa.</p>

<p>“Hm? Jawab, Sayang,” ujarnya lagi memintamu untuk merespon ucapannya.</p>

<p>“Kak.. langsung masukin aja— AKH! PELAN-PELAN!” balasmu yang mendadak teriak kesakitan kala ia benar-benar menghujam vaginamu dengan miliknya, sesegera setelah kamu mengiyakan pertanyaannya barusan.</p>

<p>“Masih sakit? Mau berhenti dulu?” tanyanya yang mulai khawatir melihatmu tampak kesakitan hingga air mata menggenang di pelupuk matamu.</p>

<p>“Sakit... tapi lanjutin aja, pelan-pelan..” jawabmu sembari memegangi lengan kekarnya.</p>

<p>Suguru kembali menekan masuk penisnya, alisnya sedikit tertaut merasakan betapa sempitnya milikmu itu hingga membuat miliknya yang besar itu sedikit kesulitan untuk masuk. Sesekali ia mengecup bibirmu, keningmu, pipimu, dan juga berbisik tepat di telingamu.</p>

<p>“Rileks, Sayang.”</p>

<p>“Kak, gak muat.. gak muat! Kak Suguru gede banget!”</p>

<p>Suguru tersenyum tipis melihatmu menggeliat di bawahnya.</p>

<p>“Muat, Sayang. Kamu rileks ya, biar gampang masuknya,” bisiknya sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahimu yang mulai berkeringat.</p>

<p>Sungguh, kamu tidak pernah membayangkan bahwa pengalaman bercinta akan sesakit ini. Mana rasa nikmat yang biasa dikatakan orang-orang?</p>

<p>Namun, perlakuan Suguru yang manis. Suara beratnya yang berbisik di telingamu, bibirnya yang menciummu, dan tangannya yang menggenggam kedua tanganmu dengan erat, mulai dapat mendistraksi rasa sakit yang kamu rasa. Hingga akhirnya Suguru terdengar melepas napasnya dengan lega kala penisnya telah sepenuhnya masuk, ia tidak lantas nenggerakkan pinggulnya, melainkan mencium keningmu dan melumat bibirmu. Ia biarkan sejenak vaginamu untuk menerima dan membiasakan diri terhadap kehadiran penisnya yang kini bertengger di dalamnya.</p>

<p>“Masih terasa sakit gak?” tanyanya sembari merapikan rambutmu.</p>

<p>“Gak terlalu, aku masih bisa tahan,” jawabmu dengan napas terengah.</p>

<p>“Aku lanjut ya, Sayang,” ucapnya yang menerima anggukan lemah darimu.</p>

<p>Tangannya yang semula menggenggammu, kini beralih mencengkram pinggulmu guna memudahkannya untuk memacu penisnya bergerak memanjakanmu. Rasa merinding yang awalnya terasa di pucuk kepala, kini menjalar keseluruh tubuh hingga membuat tubuhmu bergetar hebat di bawah kuasa Suguru. Tubuhmu mulai menggelinjang, pikiranmu tidak karuan, bahkan ritme napasmu ikut berantakan seiring sodokan penisnya yang kian menggila.</p>

<p>Kamu ingin memintanya untuk berhenti atau setidaknya mengurangi tempo dengan memanggil namanya. Namun tindakanmu itu malah membuatnya makin menggebu-gebu dan menyodokmu makin gila hingga terdengar suara becek yang memenuhi penjuru kamar kosmu.</p>

<p>Dibanding rasa sakit yang tadi sempat kamu rasakan, sensasi ini tampaknya mampu membuatmu kecanduan. Sensasi merinding, geli, namun menyenangkan yang sulit dijelaskan.</p>

<p>“Enak, Sayang?” tanyanya di sela-sela kegiatannya yang masih gila-gilaan menyodokmu.</p>

<p>Kamu tidak mampu menjawab dengan kata-kata yang layak dan pantas. Hanya lenguhan, erangan, dan desahan yang keluar dari mulutmu yang basah dengan air liur yang bercampur milik Suguru.</p>

<p>“Gila, memek kamu enak banget, Sayang. Jepit-jepit terus, bikin aku mau keluar,” ucapnya disertai erangan dan cengkraman yang terasa lebih erat pada pinggulmu. Tubuhmu mengejang singkat sebelum akhirnya terkulai lemas meski tetap gemetar.</p>

<p>Ia mencabut penisnya. Sejenak kamu bernapas lega, berpikir bahwa ia akan menyudahi dan membiarkanmu istirahat, nyatanya ia tetap ingin bermain-main denganmu, dengan tubuhmu, dengan payudaramu yang kini lagi-lagi ia hisap dan cubiti. Ia mengistirahatkan penisnya namun tidak membiarkan tubuhmu yang terkulai barang sebentar saja? Untuk kali ini ia benar-benar egois!</p>

<p>Kamu memejamkan matamu, tidak kuat dengan setiap rangsangan gila yang ia berikan. Bahkan tangannya pun turut andil memberikan kegilaan dengan memainkan lubang vaginamu dengan jari-jarinya yang tebal dan panjang. Jangan tanya sudah berapa kali vaginamu membanjiri dengan cairan kentalnya, sebab kasurmu kini sudah kuyup dengan lendir dan keringat yang bercampur antara milikmu dan Suguru.</p>

<p>“Enakan dikobelin pake tangan apa pake kontol?” tanyanya dengan bibir yang berjarak tidak lebih dari satu sentimeter dari putingmu yang basah karena saliva miliknya, sisa-sisa bekas hisapannya barusan.</p>

<p>Akal sehatmu yang sudah tidak terkendali membuatmu menjawab tanpa berpikir, “Kontol gede Kak Sug..”</p>

<p>Tentu saja, jawabanmu barusan membuatnya meringis kemenangan. Lagi-lagi ia jantani lubang senggamamu dengan penisnya yang kembali mengeras, pria itu benar-benar tidak ingin membuang waktu. Bahkan ia tidak memberimu banyak waktu untuk istirahat.</p>

<p>Kali ini tubuhmu benar-benar lepas kendali. Pinggulmu tidak bisa diam, sama halnya dengan otot-otot vaginamu yang terus menerus memijat penisnya tanpa henti, pinggulmu bergerak semaunya sendiri. Ia menciummu, melumat bibirmu entah yang keberapa kalinya, membuat dadamu bersentuhan dengan kulitnya yang sama-sama licin dengan keringat. Hangat, basah, dan nikmat, tubuhmu meliuk di bawahnya, di dalam dekapan lengan Suguru yang merangkul tubuhmu yang penuh keringat.</p>

<p>Kamu tidak tahu kegiatan erotis ini akan berlangsung berapa lama, sebab Suguru tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti seolah ia telah menantikan momen ini begitu lama dan merasa sayang untuk berhenti cepat-cepat. Sedangkan kamu, tubuhmu sudah mulai kelelahan, hanya bergerak berdasarkan insting dan membiarkannya mengambil alih tubuhmu hingga nafsunya terpuasi.</p>

<p>Pikiranmu juga tampaknya sudah sekacau kasurmu. Jangankan memikirkan inspirasi untuk melanjutkan tulisanmu yang sempat tersendat, mengingat caranya bernapas saja kamu sudah bersyukur selama menghadapi Suguru di ranjang seperti ini. Ia benar-benar seperti makhluk buas yang tamak, berhenti sejenak hanya untuk mencabut penisnya dari vaginamu, melepas kondomnya yang penuh, lalu ia semburkan sperma kental dari penisnya ke tubuhmu hingga wajahmu sedikit terciprat cairan beraroma tajam itu. Tidak berlangsung lama sampai ia selesai berganti dengan kondom baru dan kembali menusuk-nusuk lubang sensitif milikmu yang tampaknya sudah mulai menyesuaikan diri dengan ukuran miliknya yang besar itu, dengan posisi baru dan dengan berbagai pose gila yang bahkan kamu sendiri tidak bernah berpikir bahwa tubuhmu akan mampu berpose selentur itu.</p>

<p>Tampaknya mengabadikan kegiatanmu bersamanya dalam sebuah karya tidaklah buruk, bukan? Benar, tidak buruk jika esok hari kamu masih mampu membuka mata dan masih sanggup memegang pena atau papan ketikmu usai malam yang terasa begitu panjang ini bersamanya.</p>

<hr/>

<p><strong><em>— Fin.</em></strong></p>

<hr/>

<blockquote><p><strong><em>©️ unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/writers-secret</guid>
      <pubDate>Fri, 07 Jun 2024 11:05:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Little Reward [Final] </title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/little-reward-final?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;  Shiu Kong x fem!reader&#xA;  ⚠️ heavy NSFW, explicit sexual content, age gap, dominance and submission dynamic, explicit language &#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Aroma rokok masih tercium meski Shiu Kong telah menghabiskan sepuntung rokok yang semula ia hisap sembari menunggumu. Mata sipitnya masih menatap tajam lelaki yang berusaha mendekatimu hingga membuatmu risih selama beberapa hari ini. &#xA;!--more--&#xA;&#34;Itu beruknya?&#34; tanyanya, membuatmu yang tengah memasang seat belt tertawa. &#xA;&#xA;&#34;Jahat banget dipanggilnya beruk,&#34; cibirmu meski kamu setuju dengan sebutan yang ia pilihkan untuk lelaki itu. &#xA;&#xA;&#34;Laki-laki kayak gitu gak masalah dipanggil beruk. Tinggal beruknya aja, sudi apa gak disamain sama mereka.&#34; &#xA;&#xA;Memang, usia tidak bisa bohong. Terkadang ia  berbicara seperti layaknya bapak-bapak yang sedang bergosip dengan kawan-kawannya. &#xA;&#xA;&#34;Iya, sih, Om Shiu dateng jemput gini aja dia masih ngeliatin.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh iya, kok tumben mau jemput gak bilang-bilang dulu?&#34; sambungmu. &#xA;&#xA;&#34;Gak boleh? Emang kamu gak kangen Om?&#34; balasnya sembari tersenyum jail. &#xA;&#xA;&#34;Gila! Kangen lah! Kangen banget!&#34; jawabmu menggebu-gebu hingga membuatnya tertawa. &#xA;&#xA;&#34;Come here and give me a kiss.&#34; &#xA;&#xA;Berciuman di tempat yang masih satu area dengan tempatmu menuntut ilmu bukanlah ide bagus. Tapi, bukankah ada segelintir muda-mudi yang bahkan lebih berani melakukannya di dalamnya? &#xA;&#xA;Mungkin tidak masalah memberinya kecupan singkat untuknya? &#xA;&#xA;Batinmu bergolak meski secara impulsif kamu telah mencondongkan tubuhmu dan membiarkan bibirmu menyentuh bibirnya yang masih menyunggingkan senyum. Walau semua kaca sudah tertutup rapat, ekspresi terkejut laki-laki yang semula mengikuti dan mengganggumu itu membuatmu yakin bahwa ia menyaksikan ciuman singkat yang kamu lakukan dengan Shiu Kong di dalam mobil. &#xA;&#xA;&#34;Good. Harusnya sekarang dia udah percaya kamu pacar Om,&#34; ujarnya sembari menepuk-nepuk kepalamu. &#xA;&#xA;Kamu hanya mengangguk setuju tanpa memikirkan kemungkinan lain, seperti gosip menyebalkan mengenai hubunganmu yang akan tersebar misalnya. Tapi kamu mengabaikan pikiran itu untuk sekarang dan mulai melontarkan sebuah pertanyaan padanya. Pertanyaan yang tentu saja sudah kamu ketahui jawabannya. &#xA;&#xA;&#34;Habis ini kita mau kemana?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Our favorite place. Lanjutin ciuman yang tadi.&#34; &#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Tidak ada aroma yang mampu membuatmu mabuk kepayang selain aroma tubuh Shiu Kong. Wangi woody yang maskulin dan dewasa, tobacco yang penuh tantangan menggairahkan, serta hint musky yang mendebarkan. &#xA;&#xA;Shiu Kong menghimpit tubuhmu yang sudah hampir tanpa busana, hanya bra dan celana dalam yang masih membelit tubuhmu. &#xA;&#xA;Ia tekan tubuhmu ke tembok hingga dada telanjangnya bersentuhan denganmu, lalu menciumimu berkali-kali seolah ia tidak akan pernah puas untuk itu. Tentu, kamu juga merasakan hal yang sama. Bagimu, apapun dengannya terasa candu. Sekali melakukannya, maka akan membuatmu menginginkannya lagi dan lagi. Lebih lama, lebih jauh, dan lebih intim lagi.&#xA;&#xA;Deru napasnya yang berat kini menyapu telingamu, membisikkan sesuatu dengan suara penuh nafsu, &#34;You&#39;re driving me crazy..&#34; &#xA;&#xA;Mulutnya yang terasa hangat menciumi lehermu dan meninggalkan jejak-jejak gigitan kecil diatasnya sebelum beranjak turun ke selangka dan berhenti di gundukan kenyal di dadamu. &#xA;&#xA;Dengan lihainya ia lepaskan kaitan bra yang melingkar di dadamu hingga menampilkan dua bukit kembar yang tampak menegang, seakan tengah menantikan afeksi yang akan diberikan oleh Shiu Kong padanya. &#xA;&#xA;Sungguh, rasanya gila. Setiap sentuhan yang ia berikan membuat tubuhmu menjadi sensitif, bahkan hanya sekadar hembusan napas yang ia tiupkan mampu membuat puting susumu mengeras. Entah karena tubuhmu yang lama tidak ia jamah, atau karena nafsu membuncah yang tidak lagi mampu kamu tahan ketika bersamanya.&#xA;&#xA;&#34;....and you&#39;re driving me wild, Om,&#34; bisikmu di sela-sela desahan ketika kumis tipis milik Shiu Kong menggesek putingmu saat ia mengecup areolamu sembari mencubit putingmu pada sisi sebelahnya. &#xA;&#xA;Shiu Kong tidak merespon, tapi kamu tahu ia cukup senang mendengarnya. Sebab, sepersekian detik setelahnya ia kulum payudaramu, lidahnya yang hangat mulai menari-nari menggoda putingmu yang mengeras, bahkan sesekali ia hisap putingmu kuat-kuat layaknya bayi yang mencari-cari air susu ibunya. &#xA;&#xA;Tangannya yang hangat menyentuh kulitmu, bergerak tanpa aturan dan ritme yang jelas. Yang mulanya menyentuh punggungmu, kemudian berpindah pada pinggangmu, lalu kembali naik keatas menyentuh payudaramu. Dan kini tangannya bergerak turun, turun menyentuh perutmu, dan masih kembali turun hingga tangannya menyelinap masuk kedalam celana dalammu yang sudah lembab. &#xA;&#xA;Tubuhmu menggelinjang hebat seakan menikmati semua atensi yang diberikan pria itu. Mulutnya yang hangat masih memainkan putingmu yang sudah tampak memerah, dan jarinya menggesek-gesek klitorismu, bahkan sesekali ia juga mencubitnya, membuat tubuhmu merinding seperti menahan kencing karenanya. &#xA;&#xA;Melihat tubuhmu yang gemetar hingga tidak mampu berdiri tegak, Shiu Kong membopongmu dan mendudukkanmu di tepi ranjang miliknya yang telah ditutupi selimut tebal berwarna abu cerah diatasnya. Kemudian ia lucuti celana dalammu yang telah basah dengan cairan bening kental yang keluar akibat sentuhan-sentuhan penuh hasrat yang ia berikan padamu. &#xA;&#xA;Napasmu yang memburu, suhu tubuhmu yang meninggi hingga membuatmu berpeluh, wajahmu yang menjadi semerah buah ceri, dan denyut jantungmu yang terdengar bertalu-talu seakan menjadikanmu tampak seperti wanita mesum ketika menyaksikan Shiu Kong melepas celana panjangnya dan menampilkan kejantanannya yang telah menegang. Bahkan, miliknya tampak berkedut-kedut seakan menggodamu untuk memainkan permainan yang berbahaya dengannya. &#xA;&#xA;Tubuhmu menggeliat ketika ia mulai menggesek-gesek penisnya pada klitorismu yang licin sembari memainkan kedua payudaramu. Pria ini tampaknya benar-benar ingin menyiksamu, belum apa-apa ia sudah menstimulasimu hingga membuat selimut tebal miliknya basah dengan lendir penuh nafsu milikmu. &#xA;&#xA;&#34;Om.. masukin..&#34; pintamu yang mulai hilang akal. &#xA;&#xA;&#34;Apa? Ngomong yang jelas,&#34; balasnya seraya menampilkan senyum pongah yang anehnya malah membuatmu makin menggebu alih-alih merasa sebal. &#xA;&#xA;&#34;Aku mau.. kontol Om yang gede itu-nghhh.. masuk ke sini..&#34; ucapmu susah payah karena Shiu Kong terus menstimulasi klitoris dan putingmu secara bersamaan. &#xA;&#xA;Kamu dapat melihatnya tersenyum puas sebelum ia lebarkan kedua pahamu dan memasukkan penisnya ke dalam vaginamu perlahan-lahan. &#xA;&#xA;&#34;Ahh- gede banget!! Om...&#34; racaumu. &#xA;&#xA;&#34;Sakit?&#34; tanyanya memastikan. &#xA;&#xA;Kamu mengangguk pelan tapi memintanya untuk tetap melanjutkan. &#xA;&#xA;Shiu Kong mendorong pinggulnya perlahan hingga penisnya hampir sepenuhnya masuk ke dalam lubang vaginamu yang sempit. Tubuhmu beringsut hingga terbaring, menahan rasa merinding yang mendera sekujur tubuh, dan hanya mampu menatap wajahnya yang tampak begitu menikmati keintiman ini. Ia tersenyum puas hingga menampilkan barisan giginya yang rapi ketika ia berhasil menjejalkan kejantanannya, kemudian ia pejamkan matanya sejenak seakan tengah menikmati pijatan-pijatan sensual pada penisnya ketika berada di dalam milikmu yang hangat dan memikat. &#xA;&#xA;Tidak lama, pinggulnya mulai bergerak ritmis maju dan mundur sembari lidahnya memainkan putingmu yang tampak membengkak akibat ulahnya yang sedari tadi tidak hentinya ia cubiti, pilin, tarik, dan bahkan ia hisap kuat-kuat. Tubuhmu menggelinjang hebat, bahkan sesekali tubuhmu melengkung dengan indah dibuatnya. &#xA;&#xA;Kini otakmu seakan tidak lagi berfungsi, semua beban pikiran yang selama ini memenuhi kepalamu rasanya seperti menguap begitu saja, tergantikan oleh sosok Shiu Kong yang tengah mengagahimu dengan penuh gairah, nafsu, dan cinta yang menggebu. &#xA;&#xA;&#34;Om belum keluar tapi kamu udah keluar berkali-kali?&#34; ejeknya. &#xA;&#xA;Kamu tidak membalasnya, sedangkan ia mulai memegangi pinggulmu dengan kedua tangannya, lalu menghujammu dengan tempo lebih cepat hingga desahan-desahan terus keluar dari tenggorokanmu. Pria itu benar-benar membuatmu hilang kendali. &#xA;&#xA;&#34;Saking enaknya genjotan Om, kamu sampe gak bisa ngomong?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku.. udah lama-nghh.. Om.. gak Om pake..&#34; racaumu. &#xA;&#xA;&#34;...ahh.. aku suka.. Om Shiu sayang-sayang.. nghhh- kayak gini..&#34; sambungmu dengan susah payah. &#xA;&#xA;&#34;I love.. you.. Om Shiu..&#34; ucapmu lagi yang membuatnya hampir mengeluarkan spermanya di dalam vaginamu jika saja ia tidak cepat-cepat menarik penisnya dan memuncratkan cairan semennya diatas perut dan payudaramu. &#xA;&#xA;&#34;I love you more, sayang..&#34; ujarnya sembari merapikan anak rambut yang menutupi wajahmu. Lalu sebuah ciuman hangat dan memabukkan lagi-lagi ia berikan padamu hingga membuat lidahmu turut bercinta dengannya. &#xA;&#xA;Selama berciuman, sebelah tangannya menggerayangi tubuhmu dan berhenti pada pahamu. Ia miringkan tubuhmu lalu ia angkat paha kirimu dan kembami ia jejalkan penisnya yang hangat dan berkedut-kedut itu ke dalam lubang senggamamu.&#xA;&#xA;Salah satu posisi favoritnya dalam bercinta adalah posisi tidur menyamping seperti ini. Selain tidak membuatnya cepat lelah, dalam posisi ini ia dapat memelukmu sembari menghujammu penuh nafsu dari belakang. &#xA;&#xA;Namun, posisi ini mampu membuat kewarasanmu hampir sirna. Bagaimana tidak? Jika vaginamu tengah digempur habis-habisan olehnya di bawah sana, sedangkan tangannya yang kekar dan hangat itu berbuat sama mesumnya dengannya seperti meremas payudaramu dan memainkan putingmu, kemudian turut merundung klitorismu yang sensitif, apakah kewarasanmu akan tetap bertahan kokoh? &#xA;&#xA;Tidak hanya itu, selain mengucapkan kata-kata manis sekaligus cabul, mulutnya pun turut memainkan peran sebagai penggoda yang sulit kamu lawan. Ia ciumi dan jilati telinga, leher, dan bahumu, bahkan ia tidak segan untuk sesekali menggigiti bagian-bagian itu seakan tengah menandai kepemilikannya agar tidak dicuri orang lain.&#xA;&#xA;Disaat kamu berpikir bahwa kamu akan dapat beristirahat setelah ia capai klimaksnya, ia berbisik padamu yang sudah lunglai dan tampak kacau dalam rengkuhannya. &#xA;&#xA;&#34;Sayang.. don&#39;t you want to claim your reward?&#34; tanyanya sembari menciumi bahumu yang tampak mengkilap karena keringat dan biasan cahaya lampu. &#xA;&#xA;&#34;Reward apa?&#34; balasmu dengan suara lirih. &#xA;&#xA;&#34;You on top. Inget?&#34; &#xA;&#xA;Jantungmu kembali berdegup kencang, wajahmu memanas, tidak menyangka bahwa ia masih mengingat permintaan konyolmu itu sebagai hadiah. Terlebih pada percobaan pertama kamu melakukannya, kamu malah dihadiahi ceramah yang cukup panjang olehnya. &#xA;&#xA;Meski tubuhmu lemas, bahkan lututmu rasanya masih gemetar, kamu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah lepas dari rangkulan Shiu Kong, kamu mulai bangkit dan duduk diatas perutnya yang berotot. &#xA;&#xA;&#34;Sekarang gantian aku yang muasin, Om,&#34; bisikmu seraya membelai lembut otot-otot di perutnya dan dadanya hingga membuatnya tampak bersemangat sampai-sampai mengeraskan rahangnya. &#xA;&#xA;Kamu angkat bokongmu sembari mengepaskannya dengan posisi penisnya yang sudah kembali berdiri setelah mendapat belaian darimu. &#xA;&#xA;Rasanya sangat berbeda dibandingkan dengan penisnya yang biasa menusuk kewanitaanmu lebih dulu. Kali ini kamu yang tampak liar seakan ingin menikmati penis besar milik Shiu Kong dengan tamak. &#xA;&#xA;&#34;Mau Om bantu masukin?&#34; tawarnya yang tentu saja kamu tolak mentah-mentah. &#xA;&#xA;&#34;Aku bisa sendiri,&#34; jawabmu yang tengah menurunkan pinggulmu perlahan-lahan. &#xA;&#xA;Sungguh gila, baru berusaha memasukkan penisnya saja vaginamu sudah berkedut hebat hingga meneteskan air liurnya. Bagaimana jika kamu mulai menggerakkan pinggulmu nanti? &#xA;&#xA;Setelah berhasil masuk sepenuhnya, kamu mulai menggerakkan pinggulmu perlahan-lahan. Kamu juga mencondongkan tubuhmu untuk menciumnya, dan mengambil kesempatan untuk membalas dendam dengan menjilati putingnya seperti yang ia lakukan padamu hingga membuatnya mengerang. &#xA;&#xA;&#34;Fuck! I can&#39;t handle this anymore!&#34; ujarnya yang tiba-tiba kedua tangannya mencengkram pinggulmu dan menggerakkan tubuhmu sesuai dengan kehendaknya. &#xA;&#xA;Kepalamu rasanya seolah meleleh, tubuhmu rasanya seperti melayang-layang dan terus bergerak seenaknya sendiri bahkan setelah Shiu tidak lagi mengendalikan pinggulmu. &#xA;&#xA;Shiu terus memandangi tubuhmu yang tampak elok, menggoda, dan menggairahkan diatasnya. Ia juga cukup menyukai bagaimana tanganmu yang menggenggam tangannya dengan erat untuk menopang tubuhmu agar tidak oleng. &#xA;&#xA;&#34;Om.. keluarnya di dalem.. aku safe day.. yahh-nnghh,&#34; racaumu tidak cukup jelas, namun masih dapat dimengerti olehnya. &#xA;&#xA;Tampaknya ini bukannya hanya sebuah reward untukmu, tapi juga untuknya yang kini kembali mendominasimu dengan mempercepat tempo gerakanmu hingga membuat tubuhmu luruh diatas dadanya setelah cairan kental hangat miliknya memenuhi vaginamu. &#xA;&#xA;&#34;I can&#39;t wait to try that amazing reward of yours again, sayang,&#34; ucapnya sembari mengecup pucuk kepalamu. &#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;—FIN &#xA;&#xA;---&#xA;  ©️unatoshiru&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<blockquote><p><strong><em>Shiu Kong x fem!reader</em></strong>
⚠️ <strong><em>heavy NSFW, explicit sexual content, age gap, dominance and submission dynamic, explicit language</em></strong></p></blockquote>

<hr/>

<p>Aroma rokok masih tercium meski Shiu Kong telah menghabiskan sepuntung rokok yang semula ia hisap sembari menunggumu. Mata sipitnya masih menatap tajam lelaki yang berusaha mendekatimu hingga membuatmu risih selama beberapa hari ini.

“Itu beruknya?” tanyanya, membuatmu yang tengah memasang <em>seat belt</em> tertawa.</p>

<p>“Jahat banget dipanggilnya beruk,” cibirmu meski kamu setuju dengan sebutan yang ia pilihkan untuk lelaki itu.</p>

<p>“Laki-laki kayak gitu gak masalah dipanggil beruk. Tinggal beruknya aja, sudi apa gak disamain sama mereka.”</p>

<p>Memang, usia tidak bisa bohong. Terkadang ia  berbicara seperti layaknya bapak-bapak yang sedang bergosip dengan kawan-kawannya.</p>

<p>“Iya, sih, Om Shiu dateng jemput gini aja dia masih ngeliatin.”</p>

<p>“Oh iya, kok tumben mau jemput gak bilang-bilang dulu?” sambungmu.</p>

<p>“Gak boleh? Emang kamu gak kangen Om?” balasnya sembari tersenyum jail.</p>

<p>“Gila! Kangen lah! Kangen banget!” jawabmu menggebu-gebu hingga membuatnya tertawa.</p>

<p><em>“Come here and give me a kiss.”</em></p>

<p>Berciuman di tempat yang masih satu area dengan tempatmu menuntut ilmu bukanlah ide bagus. Tapi, bukankah ada segelintir muda-mudi yang bahkan lebih berani melakukannya di dalamnya?</p>

<p>Mungkin tidak masalah memberinya kecupan singkat untuknya?</p>

<p>Batinmu bergolak meski secara impulsif kamu telah mencondongkan tubuhmu dan membiarkan bibirmu menyentuh bibirnya yang masih menyunggingkan senyum. Walau semua kaca sudah tertutup rapat, ekspresi terkejut laki-laki yang semula mengikuti dan mengganggumu itu membuatmu yakin bahwa ia menyaksikan ciuman singkat yang kamu lakukan dengan Shiu Kong di dalam mobil.</p>

<p>“<em>Good.</em> Harusnya sekarang dia udah percaya kamu pacar Om,” ujarnya sembari menepuk-nepuk kepalamu.</p>

<p>Kamu hanya mengangguk setuju tanpa memikirkan kemungkinan lain, seperti gosip menyebalkan mengenai hubunganmu yang akan tersebar misalnya. Tapi kamu mengabaikan pikiran itu untuk sekarang dan mulai melontarkan sebuah pertanyaan padanya. Pertanyaan yang tentu saja sudah kamu ketahui jawabannya.</p>

<p>“Habis ini kita mau kemana?”</p>

<p><em>“Our favorite place.</em> Lanjutin ciuman yang tadi.”</p>

<hr/>

<p>Tidak ada aroma yang mampu membuatmu mabuk kepayang selain aroma tubuh Shiu Kong. Wangi <em>woody</em> yang maskulin dan dewasa, <em>tobacco</em> yang penuh tantangan menggairahkan, serta <em>hint musky</em> yang mendebarkan.</p>

<p>Shiu Kong menghimpit tubuhmu yang sudah hampir tanpa busana, hanya bra dan celana dalam yang masih membelit tubuhmu.</p>

<p>Ia tekan tubuhmu ke tembok hingga dada telanjangnya bersentuhan denganmu, lalu menciumimu berkali-kali seolah ia tidak akan pernah puas untuk itu. Tentu, kamu juga merasakan hal yang sama. Bagimu, apapun dengannya terasa candu. Sekali melakukannya, maka akan membuatmu menginginkannya lagi dan lagi. Lebih lama, lebih jauh, dan lebih intim lagi.</p>

<p>Deru napasnya yang berat kini menyapu telingamu, membisikkan sesuatu dengan suara penuh nafsu, <em>“You&#39;re driving me crazy..”</em></p>

<p>Mulutnya yang terasa hangat menciumi lehermu dan meninggalkan jejak-jejak gigitan kecil diatasnya sebelum beranjak turun ke selangka dan berhenti di gundukan kenyal di dadamu.</p>

<p>Dengan lihainya ia lepaskan kaitan bra yang melingkar di dadamu hingga menampilkan dua bukit kembar yang tampak menegang, seakan tengah menantikan afeksi yang akan diberikan oleh Shiu Kong padanya.</p>

<p>Sungguh, rasanya gila. Setiap sentuhan yang ia berikan membuat tubuhmu menjadi sensitif, bahkan hanya sekadar hembusan napas yang ia tiupkan mampu membuat puting susumu mengeras. Entah karena tubuhmu yang lama tidak ia jamah, atau karena nafsu membuncah yang tidak lagi mampu kamu tahan ketika bersamanya.</p>

<p><em>”....and you&#39;re driving me wild,</em> Om,” bisikmu di sela-sela desahan ketika kumis tipis milik Shiu Kong menggesek putingmu saat ia mengecup areolamu sembari mencubit putingmu pada sisi sebelahnya.</p>

<p>Shiu Kong tidak merespon, tapi kamu tahu ia cukup senang mendengarnya. Sebab, sepersekian detik setelahnya ia kulum payudaramu, lidahnya yang hangat mulai menari-nari menggoda putingmu yang mengeras, bahkan sesekali ia hisap putingmu kuat-kuat layaknya bayi yang mencari-cari air susu ibunya.</p>

<p>Tangannya yang hangat menyentuh kulitmu, bergerak tanpa aturan dan ritme yang jelas. Yang mulanya menyentuh punggungmu, kemudian berpindah pada pinggangmu, lalu kembali naik keatas menyentuh payudaramu. Dan kini tangannya bergerak turun, turun menyentuh perutmu, dan masih kembali turun hingga tangannya menyelinap masuk kedalam celana dalammu yang sudah lembab.</p>

<p>Tubuhmu menggelinjang hebat seakan menikmati semua atensi yang diberikan pria itu. Mulutnya yang hangat masih memainkan putingmu yang sudah tampak memerah, dan jarinya menggesek-gesek klitorismu, bahkan sesekali ia juga mencubitnya, membuat tubuhmu merinding seperti menahan kencing karenanya.</p>

<p>Melihat tubuhmu yang gemetar hingga tidak mampu berdiri tegak, Shiu Kong membopongmu dan mendudukkanmu di tepi ranjang miliknya yang telah ditutupi selimut tebal berwarna abu cerah diatasnya. Kemudian ia lucuti celana dalammu yang telah basah dengan cairan bening kental yang keluar akibat sentuhan-sentuhan penuh hasrat yang ia berikan padamu.</p>

<p>Napasmu yang memburu, suhu tubuhmu yang meninggi hingga membuatmu berpeluh, wajahmu yang menjadi semerah buah ceri, dan denyut jantungmu yang terdengar bertalu-talu seakan menjadikanmu tampak seperti wanita mesum ketika menyaksikan Shiu Kong melepas celana panjangnya dan menampilkan kejantanannya yang telah menegang. Bahkan, miliknya tampak berkedut-kedut seakan menggodamu untuk memainkan permainan yang berbahaya dengannya.</p>

<p>Tubuhmu menggeliat ketika ia mulai menggesek-gesek penisnya pada klitorismu yang licin sembari memainkan kedua payudaramu. Pria ini tampaknya benar-benar ingin menyiksamu, belum apa-apa ia sudah menstimulasimu hingga membuat selimut tebal miliknya basah dengan lendir penuh nafsu milikmu.</p>

<p>“Om.. masukin..” pintamu yang mulai hilang akal.</p>

<p>“Apa? Ngomong yang jelas,” balasnya seraya menampilkan senyum pongah yang anehnya malah membuatmu makin menggebu alih-alih merasa sebal.</p>

<p>“Aku mau.. kontol Om yang gede itu-nghhh.. masuk ke sini..” ucapmu susah payah karena Shiu Kong terus menstimulasi klitoris dan putingmu secara bersamaan.</p>

<p>Kamu dapat melihatnya tersenyum puas sebelum ia lebarkan kedua pahamu dan memasukkan penisnya ke dalam vaginamu perlahan-lahan.</p>

<p>“Ahh- gede banget!! Om...” racaumu.</p>

<p>“Sakit?” tanyanya memastikan.</p>

<p>Kamu mengangguk pelan tapi memintanya untuk tetap melanjutkan.</p>

<p>Shiu Kong mendorong pinggulnya perlahan hingga penisnya hampir sepenuhnya masuk ke dalam lubang vaginamu yang sempit. Tubuhmu beringsut hingga terbaring, menahan rasa merinding yang mendera sekujur tubuh, dan hanya mampu menatap wajahnya yang tampak begitu menikmati keintiman ini. Ia tersenyum puas hingga menampilkan barisan giginya yang rapi ketika ia berhasil menjejalkan kejantanannya, kemudian ia pejamkan matanya sejenak seakan tengah menikmati pijatan-pijatan sensual pada penisnya ketika berada di dalam milikmu yang hangat dan memikat.</p>

<p>Tidak lama, pinggulnya mulai bergerak ritmis maju dan mundur sembari lidahnya memainkan putingmu yang tampak membengkak akibat ulahnya yang sedari tadi tidak hentinya ia cubiti, pilin, tarik, dan bahkan ia hisap kuat-kuat. Tubuhmu menggelinjang hebat, bahkan sesekali tubuhmu melengkung dengan indah dibuatnya.</p>

<p>Kini otakmu seakan tidak lagi berfungsi, semua beban pikiran yang selama ini memenuhi kepalamu rasanya seperti menguap begitu saja, tergantikan oleh sosok Shiu Kong yang tengah mengagahimu dengan penuh gairah, nafsu, dan cinta yang menggebu.</p>

<p>“Om belum keluar tapi kamu udah keluar berkali-kali?” ejeknya.</p>

<p>Kamu tidak membalasnya, sedangkan ia mulai memegangi pinggulmu dengan kedua tangannya, lalu menghujammu dengan tempo lebih cepat hingga desahan-desahan terus keluar dari tenggorokanmu. Pria itu benar-benar membuatmu hilang kendali.</p>

<p>“Saking enaknya genjotan Om, kamu sampe gak bisa ngomong?”</p>

<p>“Aku.. udah lama-nghh.. Om.. gak Om pake..” racaumu.</p>

<p>”...ahh.. aku suka.. Om Shiu sayang-sayang.. nghhh- kayak gini..” sambungmu dengan susah payah.</p>

<p>“<em>I love.. you..</em> Om Shiu..” ucapmu lagi yang membuatnya hampir mengeluarkan spermanya di dalam vaginamu jika saja ia tidak cepat-cepat menarik penisnya dan memuncratkan cairan semennya diatas perut dan payudaramu.</p>

<p>“<em>I love you more,</em> sayang..” ujarnya sembari merapikan anak rambut yang menutupi wajahmu. Lalu sebuah ciuman hangat dan memabukkan lagi-lagi ia berikan padamu hingga membuat lidahmu turut bercinta dengannya.</p>

<p>Selama berciuman, sebelah tangannya menggerayangi tubuhmu dan berhenti pada pahamu. Ia miringkan tubuhmu lalu ia angkat paha kirimu dan kembami ia jejalkan penisnya yang hangat dan berkedut-kedut itu ke dalam lubang senggamamu.</p>

<p>Salah satu posisi favoritnya dalam bercinta adalah posisi tidur menyamping seperti ini. Selain tidak membuatnya cepat lelah, dalam posisi ini ia dapat memelukmu sembari menghujammu penuh nafsu dari belakang.</p>

<p>Namun, posisi ini mampu membuat kewarasanmu hampir sirna. Bagaimana tidak? Jika vaginamu tengah digempur habis-habisan olehnya di bawah sana, sedangkan tangannya yang kekar dan hangat itu berbuat sama mesumnya dengannya seperti meremas payudaramu dan memainkan putingmu, kemudian turut merundung klitorismu yang sensitif, apakah kewarasanmu akan tetap bertahan kokoh?</p>

<p>Tidak hanya itu, selain mengucapkan kata-kata manis sekaligus cabul, mulutnya pun turut memainkan peran sebagai penggoda yang sulit kamu lawan. Ia ciumi dan jilati telinga, leher, dan bahumu, bahkan ia tidak segan untuk sesekali menggigiti bagian-bagian itu seakan tengah menandai kepemilikannya agar tidak dicuri orang lain.</p>

<p>Disaat kamu berpikir bahwa kamu akan dapat beristirahat setelah ia capai klimaksnya, ia berbisik padamu yang sudah lunglai dan tampak kacau dalam rengkuhannya.</p>

<p>“Sayang.. <em>don&#39;t you want to claim your reward?</em>” tanyanya sembari menciumi bahumu yang tampak mengkilap karena keringat dan biasan cahaya lampu.</p>

<p>“<em>Reward</em> apa?” balasmu dengan suara lirih.</p>

<p>“<em>You on top.</em> Inget?”</p>

<p>Jantungmu kembali berdegup kencang, wajahmu memanas, tidak menyangka bahwa ia masih mengingat permintaan konyolmu itu sebagai hadiah. Terlebih pada percobaan pertama kamu melakukannya, kamu malah dihadiahi ceramah yang cukup panjang olehnya.</p>

<p>Meski tubuhmu lemas, bahkan lututmu rasanya masih gemetar, kamu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah lepas dari rangkulan Shiu Kong, kamu mulai bangkit dan duduk diatas perutnya yang berotot.</p>

<p>“Sekarang gantian aku yang muasin, Om,” bisikmu seraya membelai lembut otot-otot di perutnya dan dadanya hingga membuatnya tampak bersemangat sampai-sampai mengeraskan rahangnya.</p>

<p>Kamu angkat bokongmu sembari mengepaskannya dengan posisi penisnya yang sudah kembali berdiri setelah mendapat belaian darimu.</p>

<p>Rasanya sangat berbeda dibandingkan dengan penisnya yang biasa menusuk kewanitaanmu lebih dulu. Kali ini kamu yang tampak liar seakan ingin menikmati penis besar milik Shiu Kong dengan tamak.</p>

<p>“Mau Om bantu masukin?” tawarnya yang tentu saja kamu tolak mentah-mentah.</p>

<p>“Aku bisa sendiri,” jawabmu yang tengah menurunkan pinggulmu perlahan-lahan.</p>

<p>Sungguh gila, baru berusaha memasukkan penisnya saja vaginamu sudah berkedut hebat hingga meneteskan air liurnya. Bagaimana jika kamu mulai menggerakkan pinggulmu nanti?</p>

<p>Setelah berhasil masuk sepenuhnya, kamu mulai menggerakkan pinggulmu perlahan-lahan. Kamu juga mencondongkan tubuhmu untuk menciumnya, dan mengambil kesempatan untuk membalas dendam dengan menjilati putingnya seperti yang ia lakukan padamu hingga membuatnya mengerang.</p>

<p><em>“Fuck! I can&#39;t handle this anymore!”</em> ujarnya yang tiba-tiba kedua tangannya mencengkram pinggulmu dan menggerakkan tubuhmu sesuai dengan kehendaknya.</p>

<p>Kepalamu rasanya seolah meleleh, tubuhmu rasanya seperti melayang-layang dan terus bergerak seenaknya sendiri bahkan setelah Shiu tidak lagi mengendalikan pinggulmu.</p>

<p>Shiu terus memandangi tubuhmu yang tampak elok, menggoda, dan menggairahkan diatasnya. Ia juga cukup menyukai bagaimana tanganmu yang menggenggam tangannya dengan erat untuk menopang tubuhmu agar tidak oleng.</p>

<p>“Om.. keluarnya di dalem.. aku <em>safe day</em>.. yahh-nnghh,” racaumu tidak cukup jelas, namun masih dapat dimengerti olehnya.</p>

<p>Tampaknya ini bukannya hanya sebuah <em>reward</em> untukmu, tapi juga untuknya yang kini kembali mendominasimu dengan mempercepat tempo gerakanmu hingga membuat tubuhmu luruh diatas dadanya setelah cairan kental hangat miliknya memenuhi vaginamu.</p>

<p><em>“I can&#39;t wait to try that amazing reward of yours again,</em> sayang,” ucapnya sembari mengecup pucuk kepalamu.</p>

<hr/>

<p><strong><em>—FIN</em></strong></p>

<hr/>

<blockquote><p><strong><em>©️unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/little-reward-final</guid>
      <pubDate>Sun, 21 Apr 2024 17:12:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Little Reward [Part. I]</title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/little-reward-part?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;  Shiu Kong x fem!reader&#xA;  ⚠️ slightly NSFW, age gap, fluff, cuddle&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;&#34;You sure?&#34; &#xA;!--more--&#xA;Sebuah keraguan terlontar dari mulut seorang pria yang usianya hampir menginjak kepala empat, Shiu Kong, setibanya ia dan dirimu di kediamannya. &#xA;&#xA;Sedangkan dirimu dengan penuh percaya diri berjinjit untuk merampas ciuman membara dari pria itu. Cukup singkat karena ia melepas ciuman itu untuk menarikmu dalam gendongannya, begitu tiba-tiba hingga membuat beberapa petal dari buket bunga mawar ungu yang sedari tadi kamu genggam berjatuhan. &#xA;&#xA;Mawar ungu adalah jenis bunga yang ia pilihkan untukmu. Warna yang cukup jarang tersedia di setiap toko bunga meski memiliki makna yang begitu cantik dan memesona. Namun tampaknya itu bukanlah masalah baginya, karena dia selalu dapat menemukan bunga itu untukmu. Hanya untukmu. &#xA;&#xA;&#34;Bunganya biar di sini aja, gak usah kamu bawa ke kamar,&#34; titahnya yang tentu saja kamu turuti, sebuket bunga cantik itu kamu letakkan di atas sofa yang masih terjangkau oleh tanganmu. &#xA;&#xA;Kemudian ia ciumi bibirmu, dan tanganmu yang bebas mulai mengalung pada lehernya. Menciptakan sensasi ciuman yang mengairahkan dan mampu memprovokasi tubuhmu untuk bertindak sensual dengan membuka kancing-kancing kemeja yang dikenakan oleh Shiu Kong, bahkan jemarimu tidak enggan untuk menyentuh dada bidangnya yang berotot. &#xA;&#xA;Sesampainya di kamar miliknya yang bernuansa krem dan abu-abu, ia lepaskan gendongannya dan meletakkan tubuhmu hingga terduduk di tepi ranjang. &#xA;&#xA;Semangatmu yang semula menggebu dan rasa percaya dirimu yang berpikir akan mampu mendominasi mulai kabur. Perasaan malu mulai menjalar hingga membuat kulitmu tampak merona. &#xA;&#xA;Shiu Kong tidak lagi berbicara, ia tengah sibuk melepas ikat pinggang yang membelitnya dan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sedangkan kamu mulai merasa gugup setengah mati, seperti kali pertama kamu bertemu dengannya. &#xA;&#xA;Kamu melirik ke arahnya yang kini tengah melepas pakaiannya dan menampilkan tubuhnya yang begitu menawan. Tubuhnya yang biasa tampak ramping dalam balutan kemeja dan jas, kini tampak gagah dan otot bisepnya terlihat jelas seakan baru saja terbebas dari pakaian yang menyesakkan. &#xA;&#xA;Wajahmu memanas dan hidungmu terasa sedikit pengar, rasanya seperti akan mimisan hanya karena melihat tubuhnya yang memesona tanpa balutan kain. &#xA;&#xA;Biasanya, setibanya di kamar, ia akan melepaskan pakaianmu sembari menghujammu dengan penuh nafsu. Mendominasimu hingga membuatmu tidak mampu memikirkan hal lain selain penisnya yang terasa sesak di dalam vaginamu. Namun, kali ini tampaknya ia benar-benar akan membiarkanmu untuk mendominasi seperti permintaanmu, sedangkan kamu malah bingung setengah mati. &#xA;&#xA;&#34;Om..&#34; cicitmu yang telah melepaskan hampir seluruh pakaianmu, kecuali tanktop dan bra yang masih melekat. &#xA;&#xA;&#34;Hm? Kamu mau om duduk atau tiduran?&#34; tanyanya sembari menampilkan senyum, yang menurutmu malah tampak mengejek. &#xA;&#xA;&#34;Tiduran aja,&#34; jawabmu. &#xA;&#xA;Shiu Kong mengangguk dan mulai terlentang di atas ranjang sesuai dengan ucapanmu. &#xA;&#xA;Sejujurnya kamu juga tidak tahu, baiknya harus dimulai dengan duduk atau terlentang. Namun berdasarkan yang kamu pelajari melalui rekaman video panas yang kamu peroleh dari sosial media, mereka melakukannya dengan terlentang. &#xA;&#xA;Segera saja kamu menyusulnya naik ke atas ranjang dan memposisikan bokongmu tepat di atas miliknya, yang tentu saja dihadiahi ekspresi terkejut dari Shiu Kong. &#xA;&#xA;&#34;Wait! Kamu gila? Mau langsung masukin gitu aja?&#34; ujarnya. &#xA;&#xA;&#34;Biasanya juga langsung masukin, kan?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Beda, sayang. Sekarang kamu tegang, belum distimulasi juga. Tadi cuma ciuman aja, kan?&#34; balasnya. &#xA;&#xA;Kamu dapat merasakan tangannya menyentuh area genitalmu, menggeseknya pelan lalu menunjukkan tangannya yang sedikit basah itu kepadamu. &#xA;&#xA;&#34;Nih liat, masih kurang basah. Bisa-bisa malah lecet kalo nekat masukin,&#34; ujarnya. &#xA;&#xA;&#34;Yang ngerasa sakit bukan cuma kamu, Om juga. Bukannya enak malah nyiksa,&#34; sambungnya. &#xA;&#xA;Kamu terduduk diatas perut sixpacknya, menunduk dan menutupi wajahmu dengan kedua tanganmu. Rasanya malu... dan sedih. Niat hati ingin mendominasi namun kamu malah menuai rentetan ceramah darinya. &#xA;&#xA;Melihat bahumu yang mulai bergetar, ia memegang pinggangmu lalu menarikmu dalam pelukannya sembari menepuk-nepuk punggungmu dengan sayang. &#xA;&#xA;&#34;Hey, kok nangis? Om gak marahin kamu,&#34; ujarnya. &#xA;&#xA;&#34;Malu,&#34; cicitmu. &#xA;&#xA;&#34;Aku pengen muasin Om, pengen coba hal baru biar Om Shiu gak bosen sama aku,&#34; sambungmu. &#xA;&#xA;&#34;Kok mikirnya gitu?&#34; &#xA;&#xA;Kamu bergeming tidak membalasnya. &#xA;&#xA;&#34;Sayang, Om sibuk kerja. Om gak akan ninggalin kamu. Selama kita gak ketemu, Om sering ngabarin kamu juga, kan?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Semua orang juga bilangnya begitu,&#34; balasmu sembari memeluknya walau posisi kalian berbaring tidak cukup nyaman. &#xA;&#xA;Shiu balas memelukmu dan membawamu dalam posisi miring untuk membuat posisi kalian lebih nyaman. &#xA;&#xA;Meski kamu tidak sering mengungkapkan, Shiu cukup tahu apa yang kamu pendam. Perasaan takut dan cemas akan ditinggalkan, pedihnya dilupakan, dan dinginnya kerinduan. &#xA;&#xA;Mungkin bagi sebagian orang, kamu tampak paranoid, sensitif, dan juga cengeng. Namun, di mata Shiu Kong, di mata pria yang selalu menatapmu dengan hangat dan memikat, hal-hal itu membuatmu tampak lebih manusiawi. Ia tahu, terlahir sebagai anak perempuan yang terlahir dari keluarga yang terbilang &#34;keras&#34;, tentu tidak mudah. Belum lagi kamu harus rela berjuang sendiri untuk mencari kehidupan yang layak di kota lain, demi dirimu sendiri, demi saudaramu yang selalu mendapat perhatian lebih dari keluargamu, demi mereka semua yang bahkan tidak peduli akan keadaanmu di rantauan. &#xA;&#xA;&#34;Kamu gak perlu mikir yang aneh-aneh, Om gak akan kemana-mana,&#34; ujarnya untuk menenangkanmu. &#xA;&#xA;&#34;Lagian Om biayain kuliah kamu biar nanti kamu bisa jadi asisten Om di kantor. Setiap hari jadi bisa ketemu,&#34; sambungnya yang berhasil membuatmu menatapnya. &#xA;&#xA;&#34;Emang bisa? Aku belum ada pengalaman di bidang itu,&#34; balasmu dengan serius. &#xA;&#xA;Shiu tersenyum simpul sembari membelai lembut pipimu, &#34;Sekarang kamu lagi ngumpulin pengalaman, sayang. Gak sadar?&#34; &#xA;&#xA;Kamu tampak bingung mendengar ucapannya. Memangnya apa yang kamu lakukan selain stress kuliah dan bemesraan dengannya? &#xA;&#xA;&#34;Sekarang kan aku lagi sama Om?&#34; balasmu. &#xA;&#xA;&#34;Iya, anggap aja ini sesi latihan kamu sebagai asisten pribadi Om,&#34; jawabnya. &#xA;&#xA;&#34;Ih, ini mah asisten plus plus!&#34; cibirmu yang menuai tawa darinya. &#xA;&#xA;&#34;Nah, mood kamu udah baikan. Mau lanjutin yang tadi? Atau mau gini aja?&#34; tawarnya. &#xA;&#xA;Posisi ini sudah terlanjur membuatmu nyaman hingga enggan beranjak. Tertidur dalam dekapan Shiu Kong yang bertelanjang dada, berceloteh ria dengannya, ditambah dengan belaian lembut tangannya yang sesekali membelai kepalamu dan punggungmu, benar-benar membuatmu nyaman. &#xA;&#xA;Kamu memeluknya erat sembari berbisik, &#34;Masih mau kangen-kangenan sama Om Shiu.&#34; &#xA;&#xA;Ia terkekeh pelan dan kembali membelai suraimu yang tampak berantakan. &#xA;&#xA;&#34;Hm, berarti reward-nya diganti ya. Kamu mau apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Om tau, gak? Bisa quality time berdua sama Om aja udah jadi hadiah buat aku,&#34; ujarmu. &#xA;&#xA;&#34;I can&#39;t believe how much I want to kiss you right now,&#34; balasnya. &#xA;&#xA;&#34;Kiss me then. Biasanya langsung c—&#34; ucapanmu dipotong oleh ciuman Shiu yang begitu intens hingga membuat lidahmu beradu dengannya. &#xA;&#xA;Sebelah tangannya menahan kepalamu agar dalam posisi yang pas saat berciuman. Sedangkan tanganmu bergerak-gerak membelai punggungnya yang telanjang, tengkuk, dan juga rambutnya. &#xA;&#xA;Shiu melepas ciumannya, membiarkanmu kembali menghirup oksigen yang semula berhamburan keluar dari paru-parumu. Kemudian ia kembali mengecup singkat bibirmu dan membawamu ke dalam pelukannya lagi. Menanyai keseharianmu selama tidak bersamanya, menceramahimu, beradu argumen denganmu, dan sesekali memberimu pujian untuk membangun rasa percaya dirimu. &#xA;&#xA;&#34;Om Shiu,&#34; panggilmu. &#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Boleh gak, kalo aku panggil &#39;Oppa&#39;? Om orang Korea, kan?&#34; &#xA;&#xA;Shiu tertawa mendengar permintaanmu, &#34;Daripada &#39;Oppa&#39;, malah lebih cocok dipanggil &#39;Ahjussi&#39;, kan? Om udah tua.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ahjuicy?&#34; godamu sembari menekan-nekan dadanya yang sekal dengan jari-jarimu. &#xA;&#xA;&#34;Sayang...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya, maaf.&#34; &#xA;&#xA;Perdebatan-perdebatan kecil itu berakhir denganmu yang tertidur pulas dalam pelukannya yang hangat dan menenangkan. Rasanya seperti sudah lama sekali kamu dapat merasakan tidur yang berkualitas, karena biasanya kamu kesulitan untuk tertidur, bahkan setelah rutinitas yang melelahkan, kamu masih sering terjaga hingga larut malam. Tidur pun biasanya bermimpi buruk seperti tengah bekerja atau dalam mata kuliah, sehingga saat bangun tidur, tubuhmu terasa kelelahan dan suasana hati yang buruk. &#xA;&#xA;Shiu Kong yang biasanya tampak waspada dan sedikit angkuh, kini tampak lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan ia turut memejamkan mata usai mengecup dahimu, lalu terlelap dengan tangannya yang masih melingkar di tubuhmu. Dia memang jarang mengungkapkan rasa sayangnya, malah ia cenderung usil dan sering kali mengejekmu. Namun, kamu dapat merasakan ketulusannya dari sikap dan tingkah lakunya seperti saat ini.&#xA;&#xA;---&#xA;  Little reward Part. I&#xA;  ©️ unatoshiru&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<blockquote><p><strong><em>Shiu Kong x fem!reader</em></strong>
<strong><em>⚠️ slightly NSFW, age gap, fluff, cuddle</em></strong></p></blockquote>

<hr/>

<p><em>“You sure?”</em>

Sebuah keraguan terlontar dari mulut seorang pria yang usianya hampir menginjak kepala empat, Shiu Kong, setibanya ia dan dirimu di kediamannya.</p>

<p>Sedangkan dirimu dengan penuh percaya diri berjinjit untuk merampas ciuman membara dari pria itu. Cukup singkat karena ia melepas ciuman itu untuk menarikmu dalam gendongannya, begitu tiba-tiba hingga membuat beberapa petal dari buket bunga mawar ungu yang sedari tadi kamu genggam berjatuhan.</p>

<p>Mawar ungu adalah jenis bunga yang ia pilihkan untukmu. Warna yang cukup jarang tersedia di setiap toko bunga meski memiliki makna yang begitu cantik dan memesona. Namun tampaknya itu bukanlah masalah baginya, karena dia selalu dapat menemukan bunga itu untukmu. Hanya untukmu.</p>

<p>“Bunganya biar di sini aja, gak usah kamu bawa ke kamar,” titahnya yang tentu saja kamu turuti, sebuket bunga cantik itu kamu letakkan di atas sofa yang masih terjangkau oleh tanganmu.</p>

<p>Kemudian ia ciumi bibirmu, dan tanganmu yang bebas mulai mengalung pada lehernya. Menciptakan sensasi ciuman yang mengairahkan dan mampu memprovokasi tubuhmu untuk bertindak sensual dengan membuka kancing-kancing kemeja yang dikenakan oleh Shiu Kong, bahkan jemarimu tidak enggan untuk menyentuh dada bidangnya yang berotot.</p>

<p>Sesampainya di kamar miliknya yang bernuansa krem dan abu-abu, ia lepaskan gendongannya dan meletakkan tubuhmu hingga terduduk di tepi ranjang.</p>

<p>Semangatmu yang semula menggebu dan rasa percaya dirimu yang berpikir akan mampu mendominasi mulai kabur. Perasaan malu mulai menjalar hingga membuat kulitmu tampak merona.</p>

<p>Shiu Kong tidak lagi berbicara, ia tengah sibuk melepas ikat pinggang yang membelitnya dan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sedangkan kamu mulai merasa gugup setengah mati, seperti kali pertama kamu bertemu dengannya.</p>

<p>Kamu melirik ke arahnya yang kini tengah melepas pakaiannya dan menampilkan tubuhnya yang begitu menawan. Tubuhnya yang biasa tampak ramping dalam balutan kemeja dan jas, kini tampak gagah dan otot bisepnya terlihat jelas seakan baru saja terbebas dari pakaian yang menyesakkan.</p>

<p>Wajahmu memanas dan hidungmu terasa sedikit pengar, rasanya seperti akan mimisan hanya karena melihat tubuhnya yang memesona tanpa balutan kain.</p>

<p>Biasanya, setibanya di kamar, ia akan melepaskan pakaianmu sembari menghujammu dengan penuh nafsu. Mendominasimu hingga membuatmu tidak mampu memikirkan hal lain selain penisnya yang terasa sesak di dalam vaginamu. Namun, kali ini tampaknya ia benar-benar akan membiarkanmu untuk mendominasi seperti permintaanmu, sedangkan kamu malah bingung setengah mati.</p>

<p>“Om..” cicitmu yang telah melepaskan hampir seluruh pakaianmu, kecuali tanktop dan bra yang masih melekat.</p>

<p>“Hm? Kamu mau om duduk atau tiduran?” tanyanya sembari menampilkan senyum, yang menurutmu malah tampak mengejek.</p>

<p>“Tiduran aja,” jawabmu.</p>

<p>Shiu Kong mengangguk dan mulai terlentang di atas ranjang sesuai dengan ucapanmu.</p>

<p>Sejujurnya kamu juga tidak tahu, baiknya harus dimulai dengan duduk atau terlentang. Namun berdasarkan yang kamu pelajari melalui rekaman video panas yang kamu peroleh dari sosial media, mereka melakukannya dengan terlentang.</p>

<p>Segera saja kamu menyusulnya naik ke atas ranjang dan memposisikan bokongmu tepat di atas miliknya, yang tentu saja dihadiahi ekspresi terkejut dari Shiu Kong.</p>

<p><em>“Wait!</em> Kamu gila? Mau langsung masukin gitu aja?” ujarnya.</p>

<p>“Biasanya juga langsung masukin, kan?”</p>

<p>“Beda, sayang. Sekarang kamu tegang, belum distimulasi juga. Tadi cuma ciuman aja, kan?” balasnya.</p>

<p>Kamu dapat merasakan tangannya menyentuh area genitalmu, menggeseknya pelan lalu menunjukkan tangannya yang sedikit basah itu kepadamu.</p>

<p>“Nih liat, masih kurang basah. Bisa-bisa malah lecet kalo nekat masukin,” ujarnya.</p>

<p>“Yang ngerasa sakit bukan cuma kamu, Om juga. Bukannya enak malah nyiksa,” sambungnya.</p>

<p>Kamu terduduk diatas perut <em>sixpacknya</em>, menunduk dan menutupi wajahmu dengan kedua tanganmu. Rasanya malu... dan sedih. Niat hati ingin mendominasi namun kamu malah menuai rentetan ceramah darinya.</p>

<p>Melihat bahumu yang mulai bergetar, ia memegang pinggangmu lalu menarikmu dalam pelukannya sembari menepuk-nepuk punggungmu dengan sayang.</p>

<p>“Hey, kok nangis? Om gak marahin kamu,” ujarnya.</p>

<p>“Malu,” cicitmu.</p>

<p>“Aku pengen muasin Om, pengen coba hal baru biar Om Shiu gak bosen sama aku,” sambungmu.</p>

<p>“Kok mikirnya gitu?”</p>

<p>Kamu bergeming tidak membalasnya.</p>

<p>“Sayang, Om sibuk kerja. Om gak akan ninggalin kamu. Selama kita gak ketemu, Om sering ngabarin kamu juga, kan?”</p>

<p>“Semua orang juga bilangnya begitu,” balasmu sembari memeluknya walau posisi kalian berbaring tidak cukup nyaman.</p>

<p>Shiu balas memelukmu dan membawamu dalam posisi miring untuk membuat posisi kalian lebih nyaman.</p>

<p>Meski kamu tidak sering mengungkapkan, Shiu cukup tahu apa yang kamu pendam. Perasaan takut dan cemas akan ditinggalkan, pedihnya dilupakan, dan dinginnya kerinduan.</p>

<p>Mungkin bagi sebagian orang, kamu tampak paranoid, sensitif, dan juga cengeng. Namun, di mata Shiu Kong, di mata pria yang selalu menatapmu dengan hangat dan memikat, hal-hal itu membuatmu tampak lebih manusiawi. Ia tahu, terlahir sebagai anak perempuan yang terlahir dari keluarga yang terbilang “keras”, tentu tidak mudah. Belum lagi kamu harus rela berjuang sendiri untuk mencari kehidupan yang layak di kota lain, demi dirimu sendiri, demi saudaramu yang selalu mendapat perhatian lebih dari keluargamu, demi mereka semua yang bahkan tidak peduli akan keadaanmu di rantauan.</p>

<p>“Kamu gak perlu mikir yang aneh-aneh, Om gak akan kemana-mana,” ujarnya untuk menenangkanmu.</p>

<p>“Lagian Om biayain kuliah kamu biar nanti kamu bisa jadi asisten Om di kantor. Setiap hari jadi bisa ketemu,” sambungnya yang berhasil membuatmu menatapnya.</p>

<p>“Emang bisa? Aku belum ada pengalaman di bidang itu,” balasmu dengan serius.</p>

<p>Shiu tersenyum simpul sembari membelai lembut pipimu, “Sekarang kamu lagi ngumpulin pengalaman, sayang. Gak sadar?”</p>

<p>Kamu tampak bingung mendengar ucapannya. Memangnya apa yang kamu lakukan selain stress kuliah dan bemesraan dengannya?</p>

<p>“Sekarang kan aku lagi sama Om?” balasmu.</p>

<p>“Iya, anggap aja ini sesi latihan kamu sebagai asisten pribadi Om,” jawabnya.</p>

<p>“Ih, ini mah asisten plus plus!” cibirmu yang menuai tawa darinya.</p>

<p>“Nah, <em>mood</em> kamu udah baikan. Mau lanjutin yang tadi? Atau mau gini aja?” tawarnya.</p>

<p>Posisi ini sudah terlanjur membuatmu nyaman hingga enggan beranjak. Tertidur dalam dekapan Shiu Kong yang bertelanjang dada, berceloteh ria dengannya, ditambah dengan belaian lembut tangannya yang sesekali membelai kepalamu dan punggungmu, benar-benar membuatmu nyaman.</p>

<p>Kamu memeluknya erat sembari berbisik, “Masih mau kangen-kangenan sama Om Shiu.”</p>

<p>Ia terkekeh pelan dan kembali membelai suraimu yang tampak berantakan.</p>

<p>“Hm, berarti <em>reward</em>-nya diganti ya. Kamu mau apa?”</p>

<p>“Om tau, gak? Bisa <em>quality time</em> berdua sama Om aja udah jadi hadiah buat aku,” ujarmu.</p>

<p><em>“I can&#39;t believe how much I want to kiss you right now,”</em> balasnya.</p>

<p><em>“Kiss me then.</em> Biasanya langsung c—” ucapanmu dipotong oleh ciuman Shiu yang begitu intens hingga membuat lidahmu beradu dengannya.</p>

<p>Sebelah tangannya menahan kepalamu agar dalam posisi yang pas saat berciuman. Sedangkan tanganmu bergerak-gerak membelai punggungnya yang telanjang, tengkuk, dan juga rambutnya.</p>

<p>Shiu melepas ciumannya, membiarkanmu kembali menghirup oksigen yang semula berhamburan keluar dari paru-parumu. Kemudian ia kembali mengecup singkat bibirmu dan membawamu ke dalam pelukannya lagi. Menanyai keseharianmu selama tidak bersamanya, menceramahimu, beradu argumen denganmu, dan sesekali memberimu pujian untuk membangun rasa percaya dirimu.</p>

<p>“Om Shiu,” panggilmu.</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“Boleh gak, kalo aku panggil <em>&#39;Oppa&#39;?</em> Om orang Korea, kan?”</p>

<p>Shiu tertawa mendengar permintaanmu, “Daripada <em>&#39;Oppa&#39;,</em> malah lebih cocok dipanggil <em>&#39;Ahjussi&#39;,</em> kan? Om udah tua.”</p>

<p><em>“Ahjuicy?”</em> godamu sembari menekan-nekan dadanya yang sekal dengan jari-jarimu.</p>

<p>“Sayang...”</p>

<p>“Iya, maaf.”</p>

<p>Perdebatan-perdebatan kecil itu berakhir denganmu yang tertidur pulas dalam pelukannya yang hangat dan menenangkan. Rasanya seperti sudah lama sekali kamu dapat merasakan tidur yang berkualitas, karena biasanya kamu kesulitan untuk tertidur, bahkan setelah rutinitas yang melelahkan, kamu masih sering terjaga hingga larut malam. Tidur pun biasanya bermimpi buruk seperti tengah bekerja atau dalam mata kuliah, sehingga saat bangun tidur, tubuhmu terasa kelelahan dan suasana hati yang buruk.</p>

<p>Shiu Kong yang biasanya tampak waspada dan sedikit angkuh, kini tampak lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan ia turut memejamkan mata usai mengecup dahimu, lalu terlelap dengan tangannya yang masih melingkar di tubuhmu. Dia memang jarang mengungkapkan rasa sayangnya, malah ia cenderung usil dan sering kali mengejekmu. Namun, kamu dapat merasakan ketulusannya dari sikap dan tingkah lakunya seperti saat ini.</p>

<hr/>

<blockquote><p><strong><em>Little reward Part. I</em></strong>
<strong><em>©️ unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/little-reward-part</guid>
      <pubDate>Sun, 14 Apr 2024 15:13:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Runaway </title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/runaway?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[--- &#xA;&#xA;Kamu berjalan tergesa-gesa dengan menenteng sebuah tas jinjing berukuran sedang, lalu menaiki sebuah taksi yang baru saja tiba. &#xA;!--more--&#xA;Kepalamu yang terasa berat dan berdenyut, menyandar pada sisi jendela dan menatap jalanan malam yang cukup ramai dengan kendaraan. Namun, pikiranmu justru menghambur pada sosok suamimu dan Toji Fushiguro. &#xA;&#xA;Pikiranmu kalut, keputusan untuk kabur dari rumah seperti ini juga bukanlah suatu keputusan yang telah dipikirkan secara matang. Kamu hanya memanfaatkan keadaan dimana suamimu saat ini tengah menghadiri pertemuan dengan para petinggi, sehingga kamu bisa pergi tanpa hambatan. Setidaknya begitu untuk saat ini, karena dia bisa saja bertindak nekat dengan mencari-cari alasan untuk pulang lebih awal dan menyeretmu kembali ke rumah jika ia berhasil menemukanmu. &#xA;&#xA;Untuk berjaga-jaga agar ia tidak dapat melacak keberadaanmu, kamu bahkan meninggalkan ponsel pemberiannya di rumah. Tentu saja kamu sudah menghapus segalanya, termasuk akun sosial mediamu yang biasa kamu gunakan untuk berkeluh kesah. Bisa mampus jika ia melihatnya. &#xA;&#xA;Kamu hanya berbekal beberapa potong pakaian, perhiasan milikmu, kartu ATM pribadi, dan uang tunai yang memang sengaja kamu simpan untuk keperluan atau situasi darurat —yang ternyata kamu gunakan untuk kabur dari suamimu sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Bu, mau dianter ke mana, ya?&#34; tanya supir taksi yang memecah keheningan. &#xA;&#xA;Sejujurnya kamu sendiri belum menentukan tujuan. Kamu hanya berpikir untuk segera pergi dari rumah dan menjauh dari Nanami Kento selagi bisa. &#xA;&#xA;Terbesit di kepalamu untuk menemui Toji, namun kamu urungkan. Kamu tidak ingin melibatkannya meski sangat ingin. Keraguan juga muncul di benakmu. Mungkin saja ia sudah mupakanmu setelah hubungan kalian terbongkar oleh suamimu. Terlebih kamu seolah menghilang setelahnya. Bisa saja ia berpikir bahwa kamu sudah berbaikan dan memulai lembaran baru dengan suamimu, sehingga ia memilih untuk mundur dan melupakanmu. Atau mungkin ia malah sudah menggantikanmu. &#xA;&#xA;Yang kamu inginkan saat ini hanyalah sebuah ketenangan dan kedamaian untuk memulihkan diri. Tubuhmu lelah secara fisik dan mental. Mungkin meninggalkan mereka berdua adalah yang terbaik untuk saat ini. &#xA;&#xA;&#34;Berhenti, Pak,&#34; ujarmu mendadak ketika melewati sebuah café yang tidak asing bagimu. &#xA;&#xA;Itu adalah sebuah tempat yang biasa kamu kunjungi dengan Toji Fushiguro. Bahkan setiap momennya masih kamu ingat dengan jelas, seperti di sudut mana kalian biasa duduk dan berbagi cerita, bagaimana ia akan mengenalkanmu sebagai kekasihnya di hadapan wanita yang berusaha mendekatinya, atau menu apa yang biasa kalian pesan untuk dinikmati bersama. &#xA;&#xA;Dirimu tergerak untuk memasuki café itu, ingin mencicip rasa manis yang biasa kamu pesan untuk terakhir kali. Menikmati saat-saat terakhir sebelum melepas semua kenangan dan pergi untuk menjajal kenangan baru di tempat lain. &#xA;&#xA;Tentu saja, kamu juga duduk di tempat yang sama seperti saat berkunjung dengan Toji. Yang berbeda kali ini adalah kamu hanya duduk seorang diri ditemani segelas minuman yang balok-balok esnya mulai mencair. Kamu termangu menatap jalanan yang dipenuhi kendaraan dan muda-mudi yang berlalu lalang, begitu nyaman hingga seseorang tiba-tiba menginterupsimu. &#xA;&#xA;Seseorang yang sejatinya memang kamu harapkan kehadirannya. &#xA;&#xA;Toji Fushiguro. &#xA;&#xA;&#34;Demi Tuhan, saya kira saya gak akan bisa lihat kamu lagi,&#34; ujarnya yang terdengar lega ketika melihatmu, seolah-olah ia telah menunggu kehadiranmu selama ini. &#xA;&#xA;Kamu menoleh sembari menyunggingkan senyum tipis, &#34;Aku kira juga begitu.&#34; &#xA;&#xA;Melihat wajahmu yang tampak kacau dengan wajah pucat, pipi kurus, mata sedikit membengkak dan merah, serta terdapat bekas luka yang masih merekah di bibir, tubuhnya menegang dan menatapmu penuh rasa khawatir. &#xA;&#xA;&#34;Aku kelihatan kaya mayat hidup, ya?&#34; tanyamu dengan kekehan kecil. &#xA;&#xA;&#34;Suamimu yang ngelakuin ini?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;Kamu hanya membuang muka menanggapinya, seolah enggan membicarakannya. &#xA;&#xA;Toji meraih tanganmu, lalu mengusap-usap punggung tanganmu dengan lembut, &#34;Suamimu tau kamu kesini?&#34; &#xA;&#xA;Kamu menggeleng. &#xA;&#xA;&#34;Kamu mau kemana?&#34; tanyanya lagi. &#xA;&#xA;Lagi-lagi kamu menggeleng, &#34;Mungkin ke tempat yang jauh? Aku cuma mau sembunyi dari dia.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dan saya bukan opsi tujuanmu?&#34; &#xA;&#xA;Kamu tertawa renyah, &#34;Kalau tujuanku ternyata udah dipenuhi orang lain, gimana?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gak mungkin! Satu-satunya yang saya mau masih kamu. Dan akan selalu kamu. Hampir setiap hari saya kesini buat mastiin kamu datang kesini atau gak,&#34; balas Toji sembari menggenggam tanganmu yang tampak lebih kurus. &#xA;&#xA;&#34;Kamu nungguin aku?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Saya selalu nunggu kamu,&#34; ucap Toji dengan sungguh-sungguh. &#xA;&#xA;&#34;Kalau gitu, bawa aku pergi.&#34; &#xA;&#xA;Toji tidak lekas menjawab. Matanya melihat sekeliling seolah memastikan tidak ada sepasang mata pun yang memerhatikan, lalu ia tarik tanganmu dan mencium punggung tanganmu sebelum membantumu beranjak dari tempatmu duduk. &#xA;&#xA;&#34;If protecting you makes me a criminal, then I will proudly become one&#34; bisiknya. &#xA;&#xA;&#34;And I&#39;m the partner of that criminal,&#34; sahutmu. &#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;&#34;Kamu tau? Tadinya saya berencana pergi ke luar negeri buat ngelupain kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hm, tapi kalau dipikir ulang, kayaknya lebih baik kalau perginya berdua sama kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku mau urus surat ceraiku dulu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nanti saya temani, ya.&#34; &#xA;&#xA;Entah mengapa berdua bersamanya membuatmu merasa lebih nyaman dan aman, hingga kamu berani mengecup singkat bibirnya. Bahkan Toji pun mampu dibuat kaget olehmu. &#xA;&#xA;Alih-alih membalas untuk menciummu seperti biasanya, ia malah memeluk tubuhmu dan mengecup pucuk kepalamu beberapa kali. &#xA;&#xA;&#34;Jangan menggoda saya sampai semua lukamu sembuh,&#34; ujarnya. &#xA;&#xA;&#34;Aku ga godain kamu!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Barusan kamu cium-cium saya. Kamu gak tau seberapa inginnya saya buat cium kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya, cium aja!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gak mau! Nanti lukamu gak sembuh-sembuh!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ini ga sakit!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu sariawan aja meringis terus, bohong kalo yang kaya gini kamu gak ngerasa sakit!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lama-lama terbiasa sama rasa sakitnya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu sekarang jadi masokis?&#34; &#xA;&#xA;&#34;ENGGAK!&#34; &#xA;&#xA;&#34;TERIMA KASIH, TUHAN..&#34; ucapnya sembari mengeratkan pelukannya. &#xA;&#xA;Takdir dan waktu selalu berjalan beriringan. Setiap pilihan yang kamu buat, pasti akan menuntunmu pada sebuah takdir sesuai dengan waktu yang takdir inginkan. &#xA;&#xA;Takdir bukanlah sosok yang kaku dan kolot, terkadang ia pun mampu diluluhkan dengan harapan dan tindakan yang berani. Meski tidak selalu baik, tapi setidaknya takdir tidak pernah mengolok pilihan apapun yang manusia buat. Takdir bahkan membiarkan setiap manusia untuk mencari dan menemukan akhir bahagia untuk mereka sendiri tanpa menghakimi. Seperti halnya dirimu yang memilih Toji sebagai akhir bahagiamu sendiri. &#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;—FIN &#xA;&#xA;---&#xA;  ©️unatoshiru&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Kamu berjalan tergesa-gesa dengan menenteng sebuah tas jinjing berukuran sedang, lalu menaiki sebuah taksi yang baru saja tiba.

Kepalamu yang terasa berat dan berdenyut, menyandar pada sisi jendela dan menatap jalanan malam yang cukup ramai dengan kendaraan. Namun, pikiranmu justru menghambur pada sosok suamimu dan Toji Fushiguro.</p>

<p>Pikiranmu kalut, keputusan untuk kabur dari rumah seperti ini juga bukanlah suatu keputusan yang telah dipikirkan secara matang. Kamu hanya memanfaatkan keadaan dimana suamimu saat ini tengah menghadiri pertemuan dengan para petinggi, sehingga kamu bisa pergi tanpa hambatan. Setidaknya begitu untuk saat ini, karena dia bisa saja bertindak nekat dengan mencari-cari alasan untuk pulang lebih awal dan menyeretmu kembali ke rumah jika ia berhasil menemukanmu.</p>

<p>Untuk berjaga-jaga agar ia tidak dapat melacak keberadaanmu, kamu bahkan meninggalkan ponsel pemberiannya di rumah. Tentu saja kamu sudah menghapus segalanya, termasuk akun sosial mediamu yang biasa kamu gunakan untuk berkeluh kesah. Bisa mampus jika ia melihatnya.</p>

<p>Kamu hanya berbekal beberapa potong pakaian, perhiasan milikmu, kartu ATM pribadi, dan uang tunai yang memang sengaja kamu simpan untuk keperluan atau situasi darurat —yang ternyata kamu gunakan untuk kabur dari suamimu sendiri.</p>

<p>“Bu, mau dianter ke mana, ya?” tanya supir taksi yang memecah keheningan.</p>

<p>Sejujurnya kamu sendiri belum menentukan tujuan. Kamu hanya berpikir untuk segera pergi dari rumah dan menjauh dari Nanami Kento selagi bisa.</p>

<p>Terbesit di kepalamu untuk menemui Toji, namun kamu urungkan. Kamu tidak ingin melibatkannya meski sangat ingin. Keraguan juga muncul di benakmu. Mungkin saja ia sudah mupakanmu setelah hubungan kalian terbongkar oleh suamimu. Terlebih kamu seolah menghilang setelahnya. Bisa saja ia berpikir bahwa kamu sudah berbaikan dan memulai lembaran baru dengan suamimu, sehingga ia memilih untuk mundur dan melupakanmu. Atau mungkin ia malah sudah menggantikanmu.</p>

<p>Yang kamu inginkan saat ini hanyalah sebuah ketenangan dan kedamaian untuk memulihkan diri. Tubuhmu lelah secara fisik dan mental. Mungkin meninggalkan mereka berdua adalah yang terbaik untuk saat ini.</p>

<p>“Berhenti, Pak,” ujarmu mendadak ketika melewati sebuah café yang tidak asing bagimu.</p>

<p>Itu adalah sebuah tempat yang biasa kamu kunjungi dengan Toji Fushiguro. Bahkan setiap momennya masih kamu ingat dengan jelas, seperti di sudut mana kalian biasa duduk dan berbagi cerita, bagaimana ia akan mengenalkanmu sebagai kekasihnya di hadapan wanita yang berusaha mendekatinya, atau menu apa yang biasa kalian pesan untuk dinikmati bersama.</p>

<p>Dirimu tergerak untuk memasuki café itu, ingin mencicip rasa manis yang biasa kamu pesan untuk terakhir kali. Menikmati saat-saat terakhir sebelum melepas semua kenangan dan pergi untuk menjajal kenangan baru di tempat lain.</p>

<p>Tentu saja, kamu juga duduk di tempat yang sama seperti saat berkunjung dengan Toji. Yang berbeda kali ini adalah kamu hanya duduk seorang diri ditemani segelas minuman yang balok-balok esnya mulai mencair. Kamu termangu menatap jalanan yang dipenuhi kendaraan dan muda-mudi yang berlalu lalang, begitu nyaman hingga seseorang tiba-tiba menginterupsimu.</p>

<p>Seseorang yang sejatinya memang kamu harapkan kehadirannya.</p>

<p>Toji Fushiguro.</p>

<p>“Demi Tuhan, saya kira saya gak akan bisa lihat kamu lagi,” ujarnya yang terdengar lega ketika melihatmu, seolah-olah ia telah menunggu kehadiranmu selama ini.</p>

<p>Kamu menoleh sembari menyunggingkan senyum tipis, “Aku kira juga begitu.”</p>

<p>Melihat wajahmu yang tampak kacau dengan wajah pucat, pipi kurus, mata sedikit membengkak dan merah, serta terdapat bekas luka yang masih merekah di bibir, tubuhnya menegang dan menatapmu penuh rasa khawatir.</p>

<p>“Aku kelihatan kaya mayat hidup, ya?” tanyamu dengan kekehan kecil.</p>

<p>“Suamimu yang ngelakuin ini?” tanyanya.</p>

<p>Kamu hanya membuang muka menanggapinya, seolah enggan membicarakannya.</p>

<p>Toji meraih tanganmu, lalu mengusap-usap punggung tanganmu dengan lembut, “Suamimu tau kamu kesini?”</p>

<p>Kamu menggeleng.</p>

<p>“Kamu mau kemana?” tanyanya lagi.</p>

<p>Lagi-lagi kamu menggeleng, “Mungkin ke tempat yang jauh? Aku cuma mau sembunyi dari dia.”</p>

<p>“Dan saya bukan opsi tujuanmu?”</p>

<p>Kamu tertawa renyah, “Kalau tujuanku ternyata udah dipenuhi orang lain, gimana?”</p>

<p>“Gak mungkin! Satu-satunya yang saya mau masih kamu. Dan akan selalu kamu. Hampir setiap hari saya kesini buat mastiin kamu datang kesini atau gak,” balas Toji sembari menggenggam tanganmu yang tampak lebih kurus.</p>

<p>“Kamu nungguin aku?”</p>

<p>“Saya selalu nunggu kamu,” ucap Toji dengan sungguh-sungguh.</p>

<p>“Kalau gitu, bawa aku pergi.”</p>

<p>Toji tidak lekas menjawab. Matanya melihat sekeliling seolah memastikan tidak ada sepasang mata pun yang memerhatikan, lalu ia tarik tanganmu dan mencium punggung tanganmu sebelum membantumu beranjak dari tempatmu duduk.</p>

<p><em>“If protecting you makes me a criminal, then I will proudly become one”</em> bisiknya.</p>

<p><em>“And I&#39;m the partner of that criminal,”</em> sahutmu.</p>

<hr/>

<p>“Kamu tau? Tadinya saya berencana pergi ke luar negeri buat ngelupain kamu.”</p>

<p>“Oh ya?”</p>

<p>“Hm, tapi kalau dipikir ulang, kayaknya lebih baik kalau perginya berdua sama kamu.”</p>

<p>“Aku mau urus surat ceraiku dulu.”</p>

<p>“Nanti saya temani, ya.”</p>

<p>Entah mengapa berdua bersamanya membuatmu merasa lebih nyaman dan aman, hingga kamu berani mengecup singkat bibirnya. Bahkan Toji pun mampu dibuat kaget olehmu.</p>

<p>Alih-alih membalas untuk menciummu seperti biasanya, ia malah memeluk tubuhmu dan mengecup pucuk kepalamu beberapa kali.</p>

<p>“Jangan menggoda saya sampai semua lukamu sembuh,” ujarnya.</p>

<p>“Aku ga godain kamu!”</p>

<p>“Barusan kamu cium-cium saya. Kamu gak tau seberapa inginnya saya buat cium kamu.”</p>

<p>“Ya, cium aja!”</p>

<p>“Gak mau! Nanti lukamu gak sembuh-sembuh!”</p>

<p>“Ini ga sakit!”</p>

<p>“Kamu sariawan aja meringis terus, bohong kalo yang kaya gini kamu gak ngerasa sakit!”</p>

<p>“Lama-lama terbiasa sama rasa sakitnya.”</p>

<p>“Kamu sekarang jadi masokis?”</p>

<p>“ENGGAK!”</p>

<p>“TERIMA KASIH, TUHAN..” ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.</p>

<p>Takdir dan waktu selalu berjalan beriringan. Setiap pilihan yang kamu buat, pasti akan menuntunmu pada sebuah takdir sesuai dengan waktu yang takdir inginkan.</p>

<p>Takdir bukanlah sosok yang kaku dan kolot, terkadang ia pun mampu diluluhkan dengan harapan dan tindakan yang berani. Meski tidak selalu baik, tapi setidaknya takdir tidak pernah mengolok pilihan apapun yang manusia buat. Takdir bahkan membiarkan setiap manusia untuk mencari dan menemukan akhir bahagia untuk mereka sendiri tanpa menghakimi. Seperti halnya dirimu yang memilih Toji sebagai akhir bahagiamu sendiri.</p>

<hr/>

<p><strong><em>—FIN</em></strong></p>

<hr/>

<blockquote><p><strong><em>©️unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/runaway</guid>
      <pubDate>Wed, 21 Feb 2024 15:27:12 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BITTERSWEET [final story] </title>
      <link>https://unatoshiru.writeas.com/bittersweet-final-story-h8pt?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Nanami Kento x fem!reader&#xA;  cw // nsfw , rough sex , biting , angry sex , married life , explicit sexual content , fingering , pain, spanking , hair pulling , blood , body fluids , cheating , lingerie &#xA;&#xA;---&#xA;⚠️  reading with your own risk. Not for minor. &#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Waktu berlalu begitu cepat kali ini. Denting-denting pada jam seputih gading yang bertengger di tembok juga mulai terdengar memuakkan hingga membuatmu merasa sedikit mual. Rasa gugup dan cemas tampaknya turut andil untuk menghukummu bersamaan dengan sang waktu yang seakan mencekikmu.&#xA;!--more--&#xA;Kamu merutuki kebodohan dan kecerobohanmu yang telah salah mengirimkan pesan dengan foto sensualmu yang mengenakan lingerie putih, hadiah dari seorang pria lain yang bernama Toji Fushiguro. Alih-alih mengirimkan kepada si pemberi hadiah, kamu malah mengirimnya kepada suamimu yang kini dalam perjalanan pulang. Tidak, dia bahkan sudah tiba sekarang. &#xA;&#xA;Tampaknya sang waktu benar-benar menghukummu, ia bahkan tidak ingin repot-repot memberimu kesempatan untuk memikirkan alasan-alasan logis yang mungkin saja akan ditanyakan oleh suamimu. &#xA;&#xA;Suamimu, Nanami Kento, berdiri di ambang pintu kamar. Menatapmu lekat-lekat, matanya tidak berpaling sedikitpun darimu yang tengah berjalan menghampirinya. Seolah memindai setiap inci tubuhmu dan menelanjanginya hanya dengan matanya yang tampak berkilat-kilat dan setajam belati. &#xA;&#xA;&#34;Saya kira kamu udah ganti pakaian?&#34; ujarnya yang masih saja menatapmu yang hanya berbalut lingerie putih tipis yang hampir mengekspos seluruh bagian tubuhmu. &#xA;&#xA;Daripada pakaian, lingerie ini lebih cocok disebut dengan hiasan yang akan memperindah tubuh pemakainya. Hiasan yang akan mengundang mata lapar dan membakar hasrat bagi siapapun yang melihatnya. Dan kamu berharap bahwa suamimu akan terpikat dan melupakan semua kecurigaannya terhadapmu. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa harus ganti? Aku beli ini kan buat nyenengin Mas,&#34; jawabmu, berharap ia akan mempercayai kebohonganmu. &#xA;&#xA;Dan tampaknya ia percaya, karena kedua tangannya kini sudah berada di pinggulmu. Ia ciumi bibirmu sekilas, lalu tangannya bergerak menyusuri punggung dan bokongmu. Sedangkan matanya yang sekelabu badai menatap kedua manik matamu, seakan mencari-cari kebohongan yang kamu sembunyikan rapat-rapat di dalamnya. Kebohongan yang sepahit racun mematikan namun semanis dan secandu rum dalam goblet-goblet cantik. Seberbahaya dan setajam belati yang siap menikammu, namun juga semenarik kristal-kristal indah yang berkelap-kelip. Seburuk dan seindah itu lah kebohonganmu. Atau begitulah menurutmu, seseorang yang selalu mendamba hal-hal manis yang rasanya mustahil akan kamu dapat dengan cara sederhana. &#xA;&#xA;Sesederhana dirimu yang mengharap bahwa suamimu akan menaruh atensinya padamu sepulangnya ia ke rumah, bukan malah menghabiskan hampir seluruh malam-malamnya berkutat dengan kertas-kertas memuakkan di meja kerjanya atau memilih golf di hari liburnya daripada bemesraan dan bergelung manja di kasur bersamamu. Namun, sepertinya malam ini harapanmu terwujud, mata tajamnya terkunci seluruhnya padamu. Pada tubuhmu yang berbalut kebohongan tipis berwarna putih. &#xA;&#xA;&#34;Malam ini saya akan melupakan semua pekerjaan dan mengurus ini,&#34; ujarnya sembari menepuk bokongmu yang sekal. Membuatmu memekik dan darahmu berdesir karenanya. &#xA;&#xA;Ia sesap kembali bibirmu, membuatmu mabuk kepayang sebelum akhirnya ia hantam dengan sebuah pertanyaan. &#34;Sepertinya saya harus berterima kasih juga ke temanmu itu. Omong-omong, siapa namanya?&#34; &#xA;&#xA;Jantungmu seakan melorot ke perut ketika ia tiba-tiba menanyakan itu. Darahmu yang mulanya berdesir-desir kini seolah mati dan membuat kulitmu yang tadinya memerah menjadi pucat. Menyajikan sebuah kegugupan yang sulit disembunyikan. &#xA;&#xA;Ia remas bokongmu seakan menuntutmu untuk segera memberinya jawaban yang pantas. &#xA;&#xA;&#34;Teman dekatku, Mas. Kamu belum pernah ketemu dia.&#34; &#xA;&#xA;Jawabanmu barusan membuat kedua garis alisnya naik dan sudut-sudut bibirnya terangkat hingga membentuk seulas senyum pongah yang membuatmu merasa tidak nyaman. &#xA;&#xA;&#34;Kalau gitu, telpon dia. Saya mau ucapin terima kasih ke dia,&#34; pintanya seraya mendekatkan bibirnya pada telingamu. &#34;Sekarang, sayang.&#34; Ia berbisik sebelum mengecup dan mengigit lembut daun telingamu. &#xA;&#xA;Keringat dingin mengalir membelah punggungmu. Kepalamu mendadak pening, bingung menyikapi permintaannya yang sungguh di luar prediksimu. Dan suara dering ponsel milikmu yang tiba-tiba terdengar seakan meneriakimu untuk memperingati bahwa hal buruk akan segera terjadi. &#xA;&#xA;Nanami meraih ponselmu yang tergeletak di atas nakas tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu mengarahkan layarnya yang bertuliskan Toji Fushiguro ke wajahmu, &#34;Apa ini teman yang kamu maksud, sayang?&#34; &#xA;&#xA;Napasmu tercekat. Pita suaramu seakan terikat dan sulit terurai hingga mulutmu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun, atau barangkali kamu memang tidak berencana menjawab karena tidak ada satu pun kata yang terlintas di pikiranmu untuk menjawabnya. &#xA;&#xA;&#34;Dari diammu, sepertinya benar?&#34; ucapnya sebelum ibu jarinya mengusap tombol hijau dan suara berat dari ujung sana terdengar. &#xA;&#xA;&#34;Halo, sayangku. Bajunya udah sampe? Pas gak ukurannya?&#34; ujar pria dari balik telepon. &#xA;&#xA;Pria bodoh, umpatmu dalam hati. Wajahmu memanas akibat menahan malu dan juga kemarahan karena sikapnya yang sangat bodoh dan sembrono. Tidak seharusnya ia menghubungimu, tidak saat Nanami Kento mencengkram erat pinggulmu. &#xA;&#xA;Kamu melirik suamimu hanya untuk mendapati tatapan tajamnya yang berkilat-kilat penuh kemarahan, rahangnya yang mengeras, dan urat-urat pada lehernya sedikit menonjol. Mendadak membuat kuduk halus di kulitmu meremang. &#xA;&#xA;&#34;Sayang?&#34; Panggil pria di seberang sana karena tidak kunjung mendengar suaramu. &#xA;&#xA;Tidak ingin membuat pria di seberang sana menunggu lama, Nanami Kento angkat suara, &#34;Terima kasih. Berkat Anda, istri saya hari ini terlihat sangat seksi saat menyambut saya pulang.&#34; &#xA;&#xA;Hening menyapa, pria diujung telepon sana tidak merespon. Barangkali terlampau kaget hingga tidak mampu menjawab sepatah kata. Sedangkan suamimu, tangannya yang bebas mulai bergerak turun dan menyelinap ke bagian paling sensitif pada tubuhmu. &#xA;&#xA;&#34;Ayo, istriku sayang, tunjukkan sopan santunmu. Beri dia ucapan terima kasih juga,&#34; ucap Nanami yang kini tengah menggesek-gesek klitorismu dengan jari-jarinya yang panjang dan tebal. Perlakuannya yang sangat tiba-tiba ini membuatmu tidak mampu menahan lenguhan. &#xA;&#xA;&#34;Jangan buat temanmu menunggu,&#34; ujarnya lagi. Namun kali ini kamu dapat merasakan jarinya masuk dan menekan-nekan bagian dalam vaginamu. Menciptakan sensasi merinding yang tampaknya akan membuatmu sinting. &#xA;&#xA;Kamu mendesah dan mengerang beberapa kali, napasmu terasa semakin berat, patah-patah, dan panas. &#34;Mas.. ah, terima kasih.. hadiahnya—&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dengar? Dia merasa sangat berterima kasih dan menikmati sentuhan saya. Seksi, kan? Tapi saya gak mau Anda dengar lebih dari ini,&#34; potong Nanami tepat sebelum ia melempar ponsel milikmu ke tembok dengan keras hingga membuatnya pecah dan terbelah, seperti hatimu saat ini. &#xA;&#xA;&#34;Jangan!&#34; &#xA;&#xA;Matamu membelalak, tidak percaya bahwa ia akan menghancurkan ponsel pribadimu. Ponsel yang di dalamnya menyimpan banyak rahasia maupun kenangan manis yang telah bertahun-tahun menemanimu. &#xA;&#xA;&#34;Mas, kamu udah gila ya?&#34; &#xA;&#xA;Kamu hendak menghampiri ponselmu yang terbelah-belah itu, namun Nanami lebih cepat menahanmu. Ia tahan pinggulmu dengan tangannya, lalu mendorongmu hingga telentang di atas kasur. Kemudian ia melepas ikat pinggangnya dan ikatan dasinya yang seharian ini membelit tubuhnya. &#xA;&#xA;Rasa takut mulai membanjirimu, lelaki itu tidak seperti sosok suami yang selama ini kamu kenal. Mata tajam yang biasanya memandang malas, kini penuh amarah dan nafsu. Nampak seperti mata predator yang menemukan mangsanya telentang tak berdaya di hadapannya. &#xA;&#xA;Ia genggam rambutmu dan menariknya hanya untuk memaksamu menatap matanya yang penuh amarah, &#34;Yang gila saya atau kamu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu anggap apa saya selama ini?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;Lidahmu kelu, namun emosimu mulai membludak sehingga air matamu turut meluap. &#xA;&#xA;&#34;Harusnya aku yang ngajuin pertanyaan itu, Mas! Apa pernah kamu menghargaiku sebagai seorang istri?&#34; balasmu dengan suara bergetar. &#xA;&#xA;&#34;Saya nafkahi kamu. Saya gak pernah batasi kamu. Saya selalu penuhi kebutuhan kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tapi apa pernah kamu penuhi kebutuhan batinku, Mas? Pernah kamu luangin waktu buat ngobrol sama aku? Pernah kamu dukung aku? Pernah kamu sediakan bahu di saat aku ambruk karena merasa terpuruk dalam usahaku? Apa pernah kamu menemaniku, Mas?&#34; &#xA;&#xA;Nanami membisu, mulutnya terkatup rapat dan rahangnya mengeras. &#xA;&#xA;&#34;Gak pernah, Mas. Bahkan menghabiskan waktu berdua sama aku adalah opsimu paling akhir.&#34; &#xA;&#xA;Tangismu kian deras hingga matamu menjadi buram dan mulai terpejam untuk menahannya agar tidak terus menerus mengalir. Dan disaat bersamaan, bibirmu yang bergetar mendadak terasa hangat. &#xA;&#xA;Nanami memberimu sebuah ciuman panjang. Ciuman menggebu yang bercitakan rasa manis darah, pahitnya kebohongan, dan perihnya penyesalan. Ciuman yang menyakitkan hingga kamu dapat merasakan gigi-giginya menggigiti bibirmu hingga berdarah-darah. &#xA;&#xA;&#34;Bukan berarti kamu boleh mencari laki-laki lain untuk penuhi kekosongan batinmu,&#34; ujarnya selepas menciummu dengan kasar. Bahkan sisa-sisa darah yang mengucur dari bibirmu tampak terpoles pada bibirnya juga. &#xA;&#xA;&#34;Memangnya siapa yang bikin aku sekosong ini? Kamu sendiri, Mas!&#34; bantahmu, tetap berusaha mendebatnya meski bibirmu terasa nyeri. &#xA;&#xA;&#34;Setidaknya kamu harus punya harga diri! Mau ditaruh di mana wajah saya kalau kolega saya tau istri saya main api dengan laki-laki lain?&#34; &#xA;&#xA;Tangannya masih menggenggam rambutmu, kali ini tarikannya makin kuat hingga rasanya kulit kepalamu akan terlepas. &#34;Sudah sejauh apa hubungan kalian?&#34; &#xA;&#xA;Nanami menatapmu dengan hina, sedangkan kamu memandanginya dengan tatapan menghamba. Air matamu kembali mengucur dan tenggorokanmu tercekat. Sebagian dirimu tahu bahwa hubunganmu dengan Toji adalah sebuah kesalahan. Namun sebagian yang lain merasa bahwa suamimu turut andil di dalamnya. Jika saja ia memperlakukanmu dengan baik dan menunjukkan rasa sayangnya kepadamu, tidak akan ada Toji dalam rumah tangga kalian. Benar-benar hina, bahkan di saat-saat seperti ini kamu masih memikirkan Toji. Membayangkan dirinya akan menggila melihatmu diperlakukan seperti ini. Mendekapmu lalu membawamu pergi. &#xA;&#xA;&#34;Apa gigitan ini membuatmu bisu?&#34; tanyanya sembari mengelap darah yang menetes dari bibirmu dengan ibu jarinya. &#xA;&#xA;Kemudian ia dekatkan bibirnya tepat ke telingamu dan berbisik, &#34;Baik, saya akan cek sendiri.&#34; &#xA;&#xA;Ia gigit daun telingamu, lalu bibirnya merayap turun dan berhenti di lehermu. &#34;Apa dia melakukan ini?&#34; tanyanya sebelum bibirnya mengecup dan lidahnya menjilati lehermu, kemudian ia tutup dengan gigitan yang keras hingga membuatmu memekik. &#xA;&#xA;&#34;Hngghh... Mas, sakit...&#34; keluhmu yang tentu saja tidak ia hiraukan. Alih-alih berhenti, ia malah semakin banyak meninggalkan jejak-jejak kepemilikannya dan bekas-bekas gigitan sepanjang leher hingga turun ke bukit kembarmu. &#xA;&#xA;Ia pilin-pilin salah satu ujungnya yang sudah mengeras dengan sebelah tangannya, dan salah satu ujungnya yang lain ia hisap dan lumati dengan mulutnya yang hangat, lalu mengakhirinya dengan gigitan yang lagi-lagi membuatmu menjerit. Sedangkan tangannya yang lain sibuk di bawah sana, jari-jarinya yang tebal dan panjang bergerak-gerak dan menekan-nekan bagian dalam liang vaginamu sembari menggesek-gesek klitorismu dengan jarinya. &#xA;&#xA;&#34;Oh? Dia juga melakukan ini?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;&#34;Mas.. nggak— hhngghh.. Mas..&#34; rintihmu dengan suara patah-patah sembari memegangi kedua lengannya, berharap ia akan berhenti. &#xA;&#xA;Namun, sayangnya ia malah mengikat kedua tanganmu dengan dasi yang semula ia pakai, lalu menahan lenganmu diatas kepalamu. Kemudian ia jejalkan miliknya yang sudah berereksi ke dalam lubang senggamamu dengan kasar. &#xA;&#xA;&#34;Sial! Benar-benar menjijikkan!&#34; umpatnya sembari menyodok bagian terdalam liang kewanitaanmu. &#xA;&#xA;Pikiranmu saat ini sama kacaunya dengan penampilanmu saat ini. Tubuh penuh dengan keringat dan mani, wajah memerah dengan air mata yang masih membanjiri dan sedikit darah yang masih merembes keluar dari bekas gigitan suamimu tepat pada bagian bawah bibirmu dan beberapa bagian di leher dan bahumu. Bahkan lingerie putih yang semula membalut tubuhmu dengan rapih, kini benar-benar tampak seperti sampah. Beberapa bagiannya telah robek dan merosot hingga menampilkan tubuhmu yang tampak elok di bawah sorotan lampu yang temaram. &#xA;&#xA;Dulu, berkali-kali dirimu mendamba suamimu akan menggagahimu semalaman suntuk dengan penuh cinta dan kenikmatan. Namun, kali ini yang kamu rasakan hanyalah perlakuan yang didominasi dengan rasa sakit dibanding rasa nikmat. Tanpa cinta, melainkan amarah. &#xA;&#xA;&#34;Mas.. stop— nghh... Mas..&#34; &#xA;&#xA;Nanami membisu. Alih-alih berhenti, ia malah mengubah posisimu yang semula telentang menjadi telungkup dan kembali menyodok. &#xA;&#xA;Tubuhmu menggelinjang hebat. Sensasi gila ketika kedua payudaramu yang sensitif bergesekan dengan sprei lembut yang basah dan lubang vaginamu yang dijajahi dengan rakus oleh daging tebal yang berkedut milik suamimu secara bersamaan benar-benar membuatmu hilang akal. &#xA;&#xA;Berkali-kali kamu memohon ampun, dan berkali-kali pula ia tampar bokongmu yang sudah memar. Ia bahkan tetap menusuk kewanitaanmu dengan penisnya yang tampak begitu kokoh dan membesar seiring desah dan rintihmu keluar, meski tubuhmu melemas usai mencapai klimaks beberapa kali dan menjadi semakin sensitif. &#xA;&#xA;&#34;Saya gak akan berhenti sebelum puas hukum kamu,&#34; ujarnya sembari menampar bokongmu. Kali ini lebih keras dari yang sebelumnya. &#xA;&#xA;&#34;Mas.. hngggh.. udah.. maaf—nghhh.. mau pipis..&#34; racaumu susah payah. &#xA;&#xA;Tentu saja, Nanami tidak mengindahkan permintaanmu. Sepertinya ia juga tidak ambil pusing jika kamu benar-benar melakukannya. Sebab, kasur yang kini kalian tempati sudah kotor dengan cairan lengket milikmu dan Nanami yang sudah menyatu. Jadi, pikirnya tidak masalah jika dikotori dengan yang lain lagi. &#xA;&#xA;Tubuhmu mulai meronta, sedangkan Nanami menahanmu dengan cara mengalungkan lengannya yang kekar di lehermu. Tidak hanya membuatmu kesulitan bergerak, namun juga membuat kesulitan bernapas. Lalu ia gigiti bahumu dan remas payudaramu kuat-kuat dengan tangannya yang lain seiring makin cepatnya tempo hujaman penisnya pada vaginamu. Geraman dan erangan terlontar darinya bersamaan dengan rasa hangat yang memenuhi lubang senggamamu dan keluarnya air kencing yang tidak lagi mampu kamu tahan. &#xA;&#xA;Seketika tubuhmu terkulai lemas usai ia cabut penisnya darimu, meski tampaknya vaginamu masih bergerak ritmis dan enggan ditinggalkan olehnya. Kepalamu seolah melayang-layang, matamu juga masih mengabur akibat terlalu banyak air mata yang mencelos keluar. Kamu hanya bisa pasrah ketika Nanami membebaskan tubuhmu dari lingerie yang masih membelit dengan merobeknya. &#xA;&#xA;Kata gila tampaknya kurang tepat untuk menggambarkannya, mungkin kata monster terdengar lebih cocok untuknya pada saat ini. &#xA;&#xA;Ia miringkan tubuhmu, lalu mengangkat pahamu lebih tinggi. Kemudian ia jejali vaginamu dengan penisnya. Suaramu yang kian melemah memohonnya untuk berhenti benar-benar tidak ia gubris.Tanganmu bahkan tidak mampu lagi menggenggam kain sprei yang sudah basah itu. &#xA;&#xA;Melihatmu yang kepayahan, tangan kekarnya menggerayangi payudaramu. Ia usap beberapa kali sebelum mencubit kuat-kuat pucuknya. Kemudian ia condongkan kepalanya untuk berbisik, &#34;Saya akan berhenti kalau kamu setuju untuk berhenti bekerja.&#34; &#xA;&#xA;Sungguh pria yang culas. Penisnya terus menusuk kewanitaanmu dengan tempo lebih cepat, tangannya yang sebelah menampar-nampar bokongmu yang rasanya sudah hampir kebas saking memarnya, sedangkan tangannya yang lain mencubit dan menarik-narik puting payudaramu. Ia jelas-jelas memaksamu untuk setuju dengan apapun yang ia mau. &#xA;&#xA;&#34;Apa jawabanmu?&#34; tanyanya dengan napas tersengal dan suara yang dalam. &#xA;&#xA;Kamu melenguh dan merintih, mati-matian berusaha mengucapkan sepatah kata. Otakmu kali ini rasanya benar-benar tumpul sehingga tidak mampu memikirkan kata selain iya. &#xA;&#xA;&#34;Iyahh.. mas—ngghh.. udah.. stophh..&#34; &#xA;&#xA;Seulas senyum terukir di bibirnya sebelum ia lumati bibirmu. Lalu tangannya kembali meremas-remas gundukan kenyal di dadamu yang licin. &#xA;&#xA;&#34;Sayangku.. itu jawaban yang bagus,&#34; ujarnya bersamaan dengan mengucurnya cairan hangat miliknya yang lagi-lagi memenuhi vaginamu. &#xA;&#xA;Nanami sama lemasnya denganmu. Tubuhnya limbung menindihmu, deru napasnya yang hangat dan patah-patah menggelitik lehermu. Kamu tidak bergeming, kelelahan yang amat dahsyat membuat matamu perlahan terpejam, tidak lagi peduli bahwa ia memelukmu begitu erat dan intim, tanpa terhalang oleh sehelai benang pun. &#xA;&#xA;&#34;Saya sayang kamu..&#34; bisiknya yang masih samar-samar terdengar olehmu yang mulai terlelap. &#xA;&#xA;Lalu dengan sisa-sisa tenaganya, ia angkat tubuhmu dan membawamu dalam gendongannya menuju kamar tamu untuk beristirahat. Tentu, ia tidak akan membiarkanmu tertidur di atas kasur yang basah kuyup dengan bermacam-macam cairan kotor. Bahkan dia sendiri pun tidak sudi tertidur di atasnya. Perihal kasur, ponselmu yang rusak, dan perusahaan yang kamu rintis akan ia urus besok. Malam ini ia ingin habiskan waktunya untukmu, memelukmu erat agar kamu dapat melupakan laki-laki kurang ajar bernama Toji Fushiguro itu.&#xA;&#xA;---&#xA;  BITTERSWEET [final story]&#xA;  ©️unatoshiru]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong><em>Nanami Kento x fem!reader</em></strong>
<strong><em>cw // nsfw , rough sex , biting , angry sex , married life , explicit sexual content , fingering , pain, spanking , hair pulling , blood , body fluids , cheating , lingerie</em></strong></p></blockquote>

<hr/>

<p>⚠️  <strong>reading with your own risk. Not for minor.</strong></p>

<hr/>

<p>Waktu berlalu begitu cepat kali ini. Denting-denting pada jam seputih gading yang bertengger di tembok juga mulai terdengar memuakkan hingga membuatmu merasa sedikit mual. Rasa gugup dan cemas tampaknya turut andil untuk menghukummu bersamaan dengan sang waktu yang seakan mencekikmu.

Kamu merutuki kebodohan dan kecerobohanmu yang telah salah mengirimkan pesan dengan foto sensualmu yang mengenakan lingerie putih, hadiah dari seorang pria lain yang bernama Toji Fushiguro. Alih-alih mengirimkan kepada si pemberi hadiah, kamu malah mengirimnya kepada suamimu yang kini dalam perjalanan pulang. Tidak, dia bahkan sudah tiba sekarang.</p>

<p>Tampaknya sang waktu benar-benar menghukummu, ia bahkan tidak ingin repot-repot memberimu kesempatan untuk memikirkan alasan-alasan logis yang mungkin saja akan ditanyakan oleh suamimu.</p>

<p>Suamimu, Nanami Kento, berdiri di ambang pintu kamar. Menatapmu lekat-lekat, matanya tidak berpaling sedikitpun darimu yang tengah berjalan menghampirinya. Seolah memindai setiap inci tubuhmu dan menelanjanginya hanya dengan matanya yang tampak berkilat-kilat dan setajam belati.</p>

<p>“Saya kira kamu udah ganti pakaian?” ujarnya yang masih saja menatapmu yang hanya berbalut <em>lingerie</em> putih tipis yang hampir mengekspos seluruh bagian tubuhmu.</p>

<p>Daripada pakaian, lingerie ini lebih cocok disebut dengan hiasan yang akan memperindah tubuh pemakainya. Hiasan yang akan mengundang mata lapar dan membakar hasrat bagi siapapun yang melihatnya. Dan kamu berharap bahwa suamimu akan terpikat dan melupakan semua kecurigaannya terhadapmu.</p>

<p>“Kenapa harus ganti? Aku beli ini kan buat nyenengin Mas,” jawabmu, berharap ia akan mempercayai kebohonganmu.</p>

<p>Dan tampaknya ia percaya, karena kedua tangannya kini sudah berada di pinggulmu. Ia ciumi bibirmu sekilas, lalu tangannya bergerak menyusuri punggung dan bokongmu. Sedangkan matanya yang sekelabu badai menatap kedua manik matamu, seakan mencari-cari kebohongan yang kamu sembunyikan rapat-rapat di dalamnya. Kebohongan yang sepahit racun mematikan namun semanis dan secandu <em>rum</em> dalam goblet-goblet cantik. Seberbahaya dan setajam belati yang siap menikammu, namun juga semenarik kristal-kristal indah yang berkelap-kelip. Seburuk dan seindah itu lah kebohonganmu. Atau begitulah menurutmu, seseorang yang selalu mendamba hal-hal manis yang rasanya mustahil akan kamu dapat dengan cara sederhana.</p>

<p>Sesederhana dirimu yang mengharap bahwa suamimu akan menaruh atensinya padamu sepulangnya ia ke rumah, bukan malah menghabiskan hampir seluruh malam-malamnya berkutat dengan kertas-kertas memuakkan di meja kerjanya atau memilih golf di hari liburnya daripada bemesraan dan bergelung manja di kasur bersamamu. Namun, sepertinya malam ini harapanmu terwujud, mata tajamnya terkunci seluruhnya padamu. Pada tubuhmu yang berbalut kebohongan tipis berwarna putih.</p>

<p>“Malam ini saya akan melupakan semua pekerjaan dan mengurus ini,” ujarnya sembari menepuk bokongmu yang sekal. Membuatmu memekik dan darahmu berdesir karenanya.</p>

<p>Ia sesap kembali bibirmu, membuatmu mabuk kepayang sebelum akhirnya ia hantam dengan sebuah pertanyaan. “Sepertinya saya harus berterima kasih juga ke temanmu itu. Omong-omong, siapa namanya?”</p>

<p>Jantungmu seakan melorot ke perut ketika ia tiba-tiba menanyakan itu. Darahmu yang mulanya berdesir-desir kini seolah mati dan membuat kulitmu yang tadinya memerah menjadi pucat. Menyajikan sebuah kegugupan yang sulit disembunyikan.</p>

<p>Ia remas bokongmu seakan menuntutmu untuk segera memberinya jawaban yang pantas.</p>

<p>“Teman dekatku, Mas. Kamu belum pernah ketemu dia.”</p>

<p>Jawabanmu barusan membuat kedua garis alisnya naik dan sudut-sudut bibirnya terangkat hingga membentuk seulas senyum pongah yang membuatmu merasa tidak nyaman.</p>

<p>“Kalau gitu, telpon dia. Saya mau ucapin terima kasih ke dia,” pintanya seraya mendekatkan bibirnya pada telingamu. “Sekarang, sayang.” Ia berbisik sebelum mengecup dan mengigit lembut daun telingamu.</p>

<p>Keringat dingin mengalir membelah punggungmu. Kepalamu mendadak pening, bingung menyikapi permintaannya yang sungguh di luar prediksimu. Dan suara dering ponsel milikmu yang tiba-tiba terdengar seakan meneriakimu untuk memperingati bahwa hal buruk akan segera terjadi.</p>

<p>Nanami meraih ponselmu yang tergeletak di atas nakas tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu mengarahkan layarnya yang bertuliskan Toji Fushiguro ke wajahmu, “Apa ini teman yang kamu maksud, sayang?”</p>

<p>Napasmu tercekat. Pita suaramu seakan terikat dan sulit terurai hingga mulutmu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun, atau barangkali kamu memang tidak berencana menjawab karena tidak ada satu pun kata yang terlintas di pikiranmu untuk menjawabnya.</p>

<p>“Dari diammu, sepertinya benar?” ucapnya sebelum ibu jarinya mengusap tombol hijau dan suara berat dari ujung sana terdengar.</p>

<p>“Halo, sayangku. Bajunya udah sampe? Pas gak ukurannya?” ujar pria dari balik telepon.</p>

<p>Pria bodoh, umpatmu dalam hati. Wajahmu memanas akibat menahan malu dan juga kemarahan karena sikapnya yang sangat bodoh dan sembrono. Tidak seharusnya ia menghubungimu, tidak saat Nanami Kento mencengkram erat pinggulmu.</p>

<p>Kamu melirik suamimu hanya untuk mendapati tatapan tajamnya yang berkilat-kilat penuh kemarahan, rahangnya yang mengeras, dan urat-urat pada lehernya sedikit menonjol. Mendadak membuat kuduk halus di kulitmu meremang.</p>

<p>“Sayang?” Panggil pria di seberang sana karena tidak kunjung mendengar suaramu.</p>

<p>Tidak ingin membuat pria di seberang sana menunggu lama, Nanami Kento angkat suara, “Terima kasih. Berkat Anda, istri saya hari ini terlihat sangat seksi saat menyambut saya pulang.”</p>

<p>Hening menyapa, pria diujung telepon sana tidak merespon. Barangkali terlampau kaget hingga tidak mampu menjawab sepatah kata. Sedangkan suamimu, tangannya yang bebas mulai bergerak turun dan menyelinap ke bagian paling sensitif pada tubuhmu.</p>

<p>“Ayo, istriku sayang, tunjukkan sopan santunmu. Beri dia ucapan terima kasih juga,” ucap Nanami yang kini tengah menggesek-gesek klitorismu dengan jari-jarinya yang panjang dan tebal. Perlakuannya yang sangat tiba-tiba ini membuatmu tidak mampu menahan lenguhan.</p>

<p>“Jangan buat temanmu menunggu,” ujarnya lagi. Namun kali ini kamu dapat merasakan jarinya masuk dan menekan-nekan bagian dalam vaginamu. Menciptakan sensasi merinding yang tampaknya akan membuatmu sinting.</p>

<p>Kamu mendesah dan mengerang beberapa kali, napasmu terasa semakin berat, patah-patah, dan panas. “Mas.. ah, terima kasih.. hadiahnya—”</p>

<p>“Dengar? Dia merasa sangat berterima kasih dan menikmati sentuhan saya. Seksi, kan? Tapi saya gak mau Anda dengar lebih dari ini,” potong Nanami tepat sebelum ia melempar ponsel milikmu ke tembok dengan keras hingga membuatnya pecah dan terbelah, seperti hatimu saat ini.</p>

<p>“Jangan!”</p>

<p>Matamu membelalak, tidak percaya bahwa ia akan menghancurkan ponsel pribadimu. Ponsel yang di dalamnya menyimpan banyak rahasia maupun kenangan manis yang telah bertahun-tahun menemanimu.</p>

<p>“Mas, kamu udah gila ya?”</p>

<p>Kamu hendak menghampiri ponselmu yang terbelah-belah itu, namun Nanami lebih cepat menahanmu. Ia tahan pinggulmu dengan tangannya, lalu mendorongmu hingga telentang di atas kasur. Kemudian ia melepas ikat pinggangnya dan ikatan dasinya yang seharian ini membelit tubuhnya.</p>

<p>Rasa takut mulai membanjirimu, lelaki itu tidak seperti sosok suami yang selama ini kamu kenal. Mata tajam yang biasanya memandang malas, kini penuh amarah dan nafsu. Nampak seperti mata predator yang menemukan mangsanya telentang tak berdaya di hadapannya.</p>

<p>Ia genggam rambutmu dan menariknya hanya untuk memaksamu menatap matanya yang penuh amarah, “Yang gila saya atau kamu?”</p>

<p>“Kamu anggap apa saya selama ini?” tanyanya.</p>

<p>Lidahmu kelu, namun emosimu mulai membludak sehingga air matamu turut meluap.</p>

<p>“Harusnya aku yang ngajuin pertanyaan itu, Mas! Apa pernah kamu menghargaiku sebagai seorang istri?” balasmu dengan suara bergetar.</p>

<p>“Saya nafkahi kamu. Saya gak pernah batasi kamu. Saya selalu penuhi kebutuhan kamu.”</p>

<p>“Tapi apa pernah kamu penuhi kebutuhan batinku, Mas? Pernah kamu luangin waktu buat ngobrol sama aku? Pernah kamu dukung aku? Pernah kamu sediakan bahu di saat aku ambruk karena merasa terpuruk dalam usahaku? Apa pernah kamu menemaniku, Mas?”</p>

<p>Nanami membisu, mulutnya terkatup rapat dan rahangnya mengeras.</p>

<p>“Gak pernah, Mas. Bahkan menghabiskan waktu berdua sama aku adalah opsimu paling akhir.”</p>

<p>Tangismu kian deras hingga matamu menjadi buram dan mulai terpejam untuk menahannya agar tidak terus menerus mengalir. Dan disaat bersamaan, bibirmu yang bergetar mendadak terasa hangat.</p>

<p>Nanami memberimu sebuah ciuman panjang. Ciuman menggebu yang bercitakan rasa manis darah, pahitnya kebohongan, dan perihnya penyesalan. Ciuman yang menyakitkan hingga kamu dapat merasakan gigi-giginya menggigiti bibirmu hingga berdarah-darah.</p>

<p>“Bukan berarti kamu boleh mencari laki-laki lain untuk penuhi kekosongan batinmu,” ujarnya selepas menciummu dengan kasar. Bahkan sisa-sisa darah yang mengucur dari bibirmu tampak terpoles pada bibirnya juga.</p>

<p>“Memangnya siapa yang bikin aku sekosong ini? Kamu sendiri, Mas!” bantahmu, tetap berusaha mendebatnya meski bibirmu terasa nyeri.</p>

<p>“Setidaknya kamu harus punya harga diri! Mau ditaruh di mana wajah saya kalau kolega saya tau istri saya main api dengan laki-laki lain?”</p>

<p>Tangannya masih menggenggam rambutmu, kali ini tarikannya makin kuat hingga rasanya kulit kepalamu akan terlepas. “Sudah sejauh apa hubungan kalian?”</p>

<p>Nanami menatapmu dengan hina, sedangkan kamu memandanginya dengan tatapan menghamba. Air matamu kembali mengucur dan tenggorokanmu tercekat. Sebagian dirimu tahu bahwa hubunganmu dengan Toji adalah sebuah kesalahan. Namun sebagian yang lain merasa bahwa suamimu turut andil di dalamnya. Jika saja ia memperlakukanmu dengan baik dan menunjukkan rasa sayangnya kepadamu, tidak akan ada Toji dalam rumah tangga kalian. Benar-benar hina, bahkan di saat-saat seperti ini kamu masih memikirkan Toji. Membayangkan dirinya akan menggila melihatmu diperlakukan seperti ini. Mendekapmu lalu membawamu pergi.</p>

<p>“Apa gigitan ini membuatmu bisu?” tanyanya sembari mengelap darah yang menetes dari bibirmu dengan ibu jarinya.</p>

<p>Kemudian ia dekatkan bibirnya tepat ke telingamu dan berbisik, “Baik, saya akan cek sendiri.”</p>

<p>Ia gigit daun telingamu, lalu bibirnya merayap turun dan berhenti di lehermu. “Apa dia melakukan ini?” tanyanya sebelum bibirnya mengecup dan lidahnya menjilati lehermu, kemudian ia tutup dengan gigitan yang keras hingga membuatmu memekik.</p>

<p>“Hngghh... Mas, sakit...” keluhmu yang tentu saja tidak ia hiraukan. Alih-alih berhenti, ia malah semakin banyak meninggalkan jejak-jejak kepemilikannya dan bekas-bekas gigitan sepanjang leher hingga turun ke bukit kembarmu.</p>

<p>Ia pilin-pilin salah satu ujungnya yang sudah mengeras dengan sebelah tangannya, dan salah satu ujungnya yang lain ia hisap dan lumati dengan mulutnya yang hangat, lalu mengakhirinya dengan gigitan yang lagi-lagi membuatmu menjerit. Sedangkan tangannya yang lain sibuk di bawah sana, jari-jarinya yang tebal dan panjang bergerak-gerak dan menekan-nekan bagian dalam liang vaginamu sembari menggesek-gesek klitorismu dengan jarinya.</p>

<p>“Oh? Dia juga melakukan ini?” tanyanya.</p>

<p>“Mas.. nggak— hhngghh.. Mas..” rintihmu dengan suara patah-patah sembari memegangi kedua lengannya, berharap ia akan berhenti.</p>

<p>Namun, sayangnya ia malah mengikat kedua tanganmu dengan dasi yang semula ia pakai, lalu menahan lenganmu diatas kepalamu. Kemudian ia jejalkan miliknya yang sudah berereksi ke dalam lubang senggamamu dengan kasar.</p>

<p>“Sial! Benar-benar menjijikkan!” umpatnya sembari menyodok bagian terdalam liang kewanitaanmu.</p>

<p>Pikiranmu saat ini sama kacaunya dengan penampilanmu saat ini. Tubuh penuh dengan keringat dan mani, wajah memerah dengan air mata yang masih membanjiri dan sedikit darah yang masih merembes keluar dari bekas gigitan suamimu tepat pada bagian bawah bibirmu dan beberapa bagian di leher dan bahumu. Bahkan lingerie putih yang semula membalut tubuhmu dengan rapih, kini benar-benar tampak seperti sampah. Beberapa bagiannya telah robek dan merosot hingga menampilkan tubuhmu yang tampak elok di bawah sorotan lampu yang temaram.</p>

<p>Dulu, berkali-kali dirimu mendamba suamimu akan menggagahimu semalaman suntuk dengan penuh cinta dan kenikmatan. Namun, kali ini yang kamu rasakan hanyalah perlakuan yang didominasi dengan rasa sakit dibanding rasa nikmat. Tanpa cinta, melainkan amarah.</p>

<p>“Mas.. stop— nghh... Mas..”</p>

<p>Nanami membisu. Alih-alih berhenti, ia malah mengubah posisimu yang semula telentang menjadi telungkup dan kembali menyodok.</p>

<p>Tubuhmu menggelinjang hebat. Sensasi gila ketika kedua payudaramu yang sensitif bergesekan dengan sprei lembut yang basah dan lubang vaginamu yang dijajahi dengan rakus oleh daging tebal yang berkedut milik suamimu secara bersamaan benar-benar membuatmu hilang akal.</p>

<p>Berkali-kali kamu memohon ampun, dan berkali-kali pula ia tampar bokongmu yang sudah memar. Ia bahkan tetap menusuk kewanitaanmu dengan penisnya yang tampak begitu kokoh dan membesar seiring desah dan rintihmu keluar, meski tubuhmu melemas usai mencapai klimaks beberapa kali dan menjadi semakin sensitif.</p>

<p>“Saya gak akan berhenti sebelum puas hukum kamu,” ujarnya sembari menampar bokongmu. Kali ini lebih keras dari yang sebelumnya.</p>

<p>“Mas.. hngggh.. udah.. maaf—nghhh.. mau pipis..” racaumu susah payah.</p>

<p>Tentu saja, Nanami tidak mengindahkan permintaanmu. Sepertinya ia juga tidak ambil pusing jika kamu benar-benar melakukannya. Sebab, kasur yang kini kalian tempati sudah kotor dengan cairan lengket milikmu dan Nanami yang sudah menyatu. Jadi, pikirnya tidak masalah jika dikotori dengan yang lain lagi.</p>

<p>Tubuhmu mulai meronta, sedangkan Nanami menahanmu dengan cara mengalungkan lengannya yang kekar di lehermu. Tidak hanya membuatmu kesulitan bergerak, namun juga membuat kesulitan bernapas. Lalu ia gigiti bahumu dan remas payudaramu kuat-kuat dengan tangannya yang lain seiring makin cepatnya tempo hujaman penisnya pada vaginamu. Geraman dan erangan terlontar darinya bersamaan dengan rasa hangat yang memenuhi lubang senggamamu dan keluarnya air kencing yang tidak lagi mampu kamu tahan.</p>

<p>Seketika tubuhmu terkulai lemas usai ia cabut penisnya darimu, meski tampaknya vaginamu masih bergerak ritmis dan enggan ditinggalkan olehnya. Kepalamu seolah melayang-layang, matamu juga masih mengabur akibat terlalu banyak air mata yang mencelos keluar. Kamu hanya bisa pasrah ketika Nanami membebaskan tubuhmu dari lingerie yang masih membelit dengan merobeknya.</p>

<p>Kata gila tampaknya kurang tepat untuk menggambarkannya, mungkin kata monster terdengar lebih cocok untuknya pada saat ini.</p>

<p>Ia miringkan tubuhmu, lalu mengangkat pahamu lebih tinggi. Kemudian ia jejali vaginamu dengan penisnya. Suaramu yang kian melemah memohonnya untuk berhenti benar-benar tidak ia gubris.Tanganmu bahkan tidak mampu lagi menggenggam kain sprei yang sudah basah itu.</p>

<p>Melihatmu yang kepayahan, tangan kekarnya menggerayangi payudaramu. Ia usap beberapa kali sebelum mencubit kuat-kuat pucuknya. Kemudian ia condongkan kepalanya untuk berbisik, “Saya akan berhenti kalau kamu setuju untuk berhenti bekerja.”</p>

<p>Sungguh pria yang culas. Penisnya terus menusuk kewanitaanmu dengan tempo lebih cepat, tangannya yang sebelah menampar-nampar bokongmu yang rasanya sudah hampir kebas saking memarnya, sedangkan tangannya yang lain mencubit dan menarik-narik puting payudaramu. Ia jelas-jelas memaksamu untuk setuju dengan apapun yang ia mau.</p>

<p>“Apa jawabanmu?” tanyanya dengan napas tersengal dan suara yang dalam.</p>

<p>Kamu melenguh dan merintih, mati-matian berusaha mengucapkan sepatah kata. Otakmu kali ini rasanya benar-benar tumpul sehingga tidak mampu memikirkan kata selain iya.</p>

<p>“Iyahh.. mas—ngghh.. udah.. stophh..”</p>

<p>Seulas senyum terukir di bibirnya sebelum ia lumati bibirmu. Lalu tangannya kembali meremas-remas gundukan kenyal di dadamu yang licin.</p>

<p>“Sayangku.. itu jawaban yang bagus,” ujarnya bersamaan dengan mengucurnya cairan hangat miliknya yang lagi-lagi memenuhi vaginamu.</p>

<p>Nanami sama lemasnya denganmu. Tubuhnya limbung menindihmu, deru napasnya yang hangat dan patah-patah menggelitik lehermu. Kamu tidak bergeming, kelelahan yang amat dahsyat membuat matamu perlahan terpejam, tidak lagi peduli bahwa ia memelukmu begitu erat dan intim, tanpa terhalang oleh sehelai benang pun.</p>

<p>“Saya sayang kamu..” bisiknya yang masih samar-samar terdengar olehmu yang mulai terlelap.</p>

<p>Lalu dengan sisa-sisa tenaganya, ia angkat tubuhmu dan membawamu dalam gendongannya menuju kamar tamu untuk beristirahat. Tentu, ia tidak akan membiarkanmu tertidur di atas kasur yang basah kuyup dengan bermacam-macam cairan kotor. Bahkan dia sendiri pun tidak sudi tertidur di atasnya. Perihal kasur, ponselmu yang rusak, dan perusahaan yang kamu rintis akan ia urus besok. Malam ini ia ingin habiskan waktunya untukmu, memelukmu erat agar kamu dapat melupakan laki-laki kurang ajar bernama Toji Fushiguro itu.</p>

<hr/>

<blockquote><p><strong><em>BITTERSWEET [final story]</em></strong>
<strong><em>©️unatoshiru</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://unatoshiru.writeas.com/bittersweet-final-story-h8pt</guid>
      <pubDate>Mon, 12 Feb 2024 13:05:12 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>